
"Rasakan itu! Hahaha!" Valko tertawa. "Ini! Rasakan!" Valko kembali melempar pasir basah ke arahku. Jika begini kurasa dia sudah benar-benar melupakan ketakutannya pada pantai. Ombak datang menerjang ke arahku dan Valko. Aku hendak berdiri.
"Valko! Hentikan!" teriakku. Valko justru terus mencipratkan air ke arahku tanpa henti. Kuarahkan kedua tanganku ke arah depan untuk melindungi diriku dari cipratan air itu.
"Hahaha!" Valko tertawa. "Rasakan ini! Ini!" teriaknya. Kedua tangannya terus menerus mencipratkan air ke arahku.
"Valko! Hentikan! Aku sudah basah kuyup!" protesku.
"Baiklah," ucap Valko.
Akhirnya cipratan air itu berhenti. Valko mendekat ke arahku. Syukurlah, wajahnya nampak tak takut lagi pada pantai.
"Kejutan!" teriak Valko. Kedua tangannya yang ada di belakang punggungnya tiba-tiba diarahkan ke arah wajahku.
"VALKO!!!" teriakku kencang. Valko justru menjahiliku. Dia mengoleskan pasir yang basah ke wajah dan rambutku. "KAU MENYEBALKAN!" teriakku kesal.
"Hahaha! Kau nampak cantik, Zeta, hahaha!" ejek Valko.
"Awas kau!" teriakku.
"Ayo tangkap aku jika kau bisa, hahaha!" teriak Valko sambil berlari semakin cepat menjauh dariku.
Sial! Dia berlari cepat sekali, lama-lama aku capek mengejarnya. Suatu ide terlintas di kepalaku.
"Aduh!" ucapku. Kujatuhkan diriku di atas pasir. Kali ini posisinya terjatuh le arah depan seolah tersandung.
"ZETA!" teriak Valko. "Zeta!" panggil Valko sambil berlari ke arahku. Dia hendak menolongku untuk bangkit berdiri. Hihihi, rasakan pembalasanku.
"Kena kau!" teriakku. Langsung kuusapkan pasir basar ke arah wajah dan rambut Valko. "Hahaha! Kau kena, Valko! Hahaha!"
"Kau curang! Kau menipuku!" ucap Valko sambil membersihkan pasir di wajahnya. "Rasakan ini!" Valko membuatku terbaring di atas pasir.
__ADS_1
"Hentikan! Hentikan! Geli! Geli!" ucapku saat Valko memggelitiki tubuhku. "Ampun! Ampun! Aku menyerah!" ucapku pasrah.
"Sudah, ayo bangun!" ucap Valko sambil mengulurkan kedua tangannya untuk menolongku berdiri.
Astaga! Begitu aku berdiri dia langsung menciumku.
"Terima kasih, Zeta," bisik Valko sambil memelukku. "Untuk pertama kalinya aku merasa bahagia lagi saat mengunjungi pantai," ucap Valko. Hatiku merasa hangat mendengar hal itu. "Sudah, ayo minggir. Ombak semakin kencang," Valko menggandeng tanganku.
"Valko, dimana ini? Ehm, apa ini tempat ehm mamamu...." tanyaku dengan hati-hati.
"Bukan, ini bukan tempat itu. Ini adalah pantai yang menjadi salah satu usaha keluargaku. Meski bukan tempat itu, tapi tetap saja rasa takutku muncul saat mendengar deburan ombak. Tapi, jangan khawatir. Sekarang, ketakutanku cukup berkurang," ucap Valko. Nampak Sekretaris May bersama seorang pria berjalan ke arahku dan Valko.
"Tuan Muda, suatu kehormatan bisa bertemu Anda," sapa pria itu. Dia mengenakan tuxedo hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu hitam.
"Ehm, apa kau yang ditugaskan di sini oleh kakekku?" tanya Valko.
"Benar, Tuan. Perkenalkan saya Ari, saya ditugaskan oleh Tuan Fajar Hutama untuk menjadi manajer tempat ini," ucap pria itu sambil sedikit membungkuk.
Valko melepas sepatunya yang basah. Sepatu itu ditenteng dengan tangan kirinya. Kulepas juga sepatuku yang basah. Kutenteng sepatu itu dengan tangan kananku.
"WOW!!!!" ucapku takjub.
Nampak sebuah bangunan berwarna putih yang sangat megah. Bangunan itu berada tepat di pinggir pantai. Bangunan itu memiliki beberapa tingkatan. Nampak tulisan yang tercetak tebal berwarna emas di depan bagian depan bangunan itu. Tulisan itu berbunyi "Parken's Hotel'.
"Parken? Apa artinya?" tanyaku penasaran.
"Parken adalah singkatan dari Parama dan Kenrick. Nama kedua orang tua Tuan Muda Valko, Nona," jawab Pak Ari. Valko nampak berhenti di depan pintu hotel itu.
"Jadi ini usaha yang paling diimpikan oleh Mama. Sebuah hotel di tepi pantai. Mama, impianmu sudah terwujud sekarang," ucap Valko sambil memandangi bangunan itu. "Ayo, masuk!" ucap Valko sambil kembali memggandeng tanganku.
Pintu masuk hotel itu terbuat dari kaca. Nampak bayangan diriku dan Valko di pintu kaca itu. Astaga! Berantakan sekali. Air menetes dari tubuhku dan Valko.
__ADS_1
"Hubby," panggilku sambil berhenti melangkah.
"Ada apa, Zeta? Kenapa berhenti?" tanya Valko sambil menatapku.
"Ehm, kita basah kuyup dan penuh pasir. Aku takut jika masuk nanti mengotori hotel," jawabku.
"Ck! Hanya itu saja? Sudah, masuk saja. Hal remeh seperti itu tak perlu kau pikirkan!" Valko langsung menarik tanganku masuk ke dalam.
Nampak bagian dalam hotel ini sungguh megah. Lantainya saja terbuat dari batu marmer warna putih susu. Berbagai ornamen menghiasi langit-langit hotel. Aku tetap saja merasa tak enak. Lantai hotel jadi kotor karena pasir dan tetesan air.
"Selamat datang, Tuan, Nona," nampak dua orang wanita berpakaian seragam warna putih menyambut kami. Salah seorang dari mereka membawakan dua buah cangkir yang berada di atas nampan. "Silahkan menikmati minuman herbal tradisional khas hotel ini, Tuan, Nona," ucap staf itu.
"Boleh," sahutku sambil menerima cangkir itu. Kuminum minuman itu sedikit. "Wah, rasanya manis, tak pahit. Aku suka!" pujiku sambil meletakjan kembali cangkir itu ke nampan.
"Terima kasih atas pujian Anda, Nona," ucap Pak Ari.
"Dimana kamarku? Aku ingin segera mandi!" ucap Valko.
"Kamar Anda ada di lantai atas, Tuan. Mari saya antar," ajak Pak Ari. Aku dan Valko mengikuti Pak Ari. Dia mengajakku dan Valko menaiki sebuah lift. "Sudah sampai, Tuan," ucap Pak Ari saat pintu lift itu terbuka. Nampak beberapa pintu kamar berwarna coklat. "Ini kamar Anda dan Nona, Tuan. Silahkan masuk," ucap Pak Ari sambil membuka pintu kamar itu.
"Wah! Megah sekali!" ucapku takjub.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Zeta dan Valko bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
__ADS_1
Thank you 😍