
"TUPAI!" teriak Valko. Astaga, aku tak tahu jika cairan susu itu menyembur dan mengenai wajah Valko. "Kau sengaja menyemburku dengan susu!" Valko mencengkeram daguku. Wajahnya nampak murka.
Ampun! 😭 Aku benar-benar tak sengaja Valko! 😭 Kenapa sih aku selalu apes? 😢
"Maafkan aku...." aku langsung mengambil tisu yang tergantung di balik kursi depan. Tisu itu langsung kuarahkan ke muka Valko. "Maafkan aku!" ucapku sambil menyeka cairan susu di wajah Valko. "Aku menahan bersin tadi...." ucapku lagi.
Tapi jika dipikir lucu juga apesku kali ini. Aku memang menyembur wajah Valko tapi anggap saja ini balasan untuk keisengan Valko padaku 😂.
"Huh!" Valko mengambil lebih banyak tisu lagi. "Wajahku jadi lengket, tahu!" ucap Valko dengan ketus, wajahnya masih saja cemberut.
"Hubby, jangan marah!" kupeluk tubuh Valko. "Aku benar-benar tak sengaja tadi," ucapku memelas.
"Ehm...." sahut Valko. "Ck! Jika tidak sedang menuju ke kampusmu sudah kubuat perhitungan denganmu di dalam kamar, Zeta!" Valko menatapku tajam.
Astaga, Valko sekarang jika aku melakukan kesalahan, aku harus menebusnya di dalam kamar? 😦 Pinggangku masih sakit akibat ulahmu kemarin, tahu! 😣
"Kita sudah sampai, Tuan, Nona...." terdengar suara Sekretaris May.
Nampak mobil memasuki area Universitas XXX. Pintu gerbang depan merupakan pintu masuk menuju Rektorat. Sebuah air mancur dua belas tingkat berbentuk bulat menyambut kedatangan setiap orang yang datang. Nampak berdiri dengan gagah gedung tingkat 12 dengan tulisan besar berwarna biru "Rektorat Universitas XXX".
"Apa itu Tupai?" Valko menatap keluar jendela. "Kenapa wajahmu ada di sana?!" Valko menatap dengan tatapan tak suka.
Di dekat halaman air mancur itu ada papan reklame. Salah satunya menampilkan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Teater. Di poster itu berisi penerimaan anggota baru UKM Teater tingkat universitas, di sana ada wajahku yang terpampang dengan jelas memakai midi dress warna biru tua. Itu fotoku saat memerankan tokoh gadis yang cintanya tak berbalas di dalam drama teater. Drama itu menjadi juara I lomba teater tingkat nasional di berbagai kejuaraan saat periode keikutsertaanku.
Teater menjadi salah satu UKM unggulan penyumbang prestasi bagi universitas ini. Aku merasa bangga dan bersyukur, setidaknya aku punya sedikit kelebihan di bidang seni di samping otakku yang tidak pintar-pintar amat.
"Ehm...itu memang aku,Valko," kepalaku menatap papan reklame itu. "Ehm...aku cukup dipercaya di UKM Teater. Yah, cukup sering mendapat peran utama tokoh protagonis. Drama teater itu menjuarai cukup banyak kejuaraan tingkat nasional. Jadi, ya maklum kalo fotoku dipajang, hehehe...." aku tertawa.
"Ehm!" Valko mencengkeram daguku. "Aku tak suka jika istriku jadi bahan tontonan orang lain! Jika ada permintaan foto seperti itu lagi, tolak saja! Kau paham, Tupai!" ucap Valko dengan nada meninggi.
Valko, itu kan foto sebelum aku menikah denganmu. Mana aku tahu kelak akan dijadikan poster untuk dipajang di papan reklame. Kau pencemburu sekali sih! Aku pun hanya menggangguk-angguk.
Mobil ini semakin memasuki area universitas ini. Nampak fakultas tercintaku dengan gedung tingkat 10 berwarna hijau tua. Hijau tua adalah warna ciri khas Fakultas Ekonomi di universitas ini. Gedung itu dikelilingi oleh taman yang memiliki banyak pohon. Di beberapa sudut taman nampak panel surya bertebaran.
Ya, universitasku sudah mencoba menerapkan energi terbarukan dengan memakai panel surya sebagai penyuplai separuh kebutuhan energi listrik. Mobil ini memasuki area parkir untuk mahasiwa yang tersedia di belakang gedung hijau tua itu.
"Kita sudah sampai, Tuan, Nona," ucap Sekretaris May. Pintu nampak terbuka dari arah luar.
"Kawal dari jauh, May! Jika tak ada bahaya yang serius, jangan mendekat!" perintah Valko. Dia menguncir rambutnya lalu memakai kacamata hitam.
"Baik, Tuan," sahut Sekretaris May.
Aku dan Valko pun melangkah turun dari mobil. Nampak mobil-mobil terparkir di halaman parkir ini. Selain mobil ada juga sepeda motor serta sepeda biasa.
"Cepat jalan, Tupai!" perintah Valko.
Aku pun melangkah di depan. Valko mengikutiku di belakang. Dia seperti pengawal yang garang tapi memiliki aura pemikat. Aku merasa gadis-gadis yang mungkin adek tingkat mencuri-curi pandang ke arahnya.
__ADS_1
"Kakak itu ganteng banget, sih!" terdengar celetukan seorang wanita yang berbisik di kuping temannya yang sedang berjalan di seberang sana.
"Kayaknya dia tajir deh. Kayaknya nggak punya gandengan tuh! Coba deh loe pura-pura nabrak terus kenalan," bisik temannya.
Wanita itu tiba-tiba berjalan tergesa-gesa. BRUK!!! Dia menabrakkan dirinya ke arah Valko.
"Kau tidak apa-apa?" Valko mendekati wanita itu.
"Kakiku...." ucap wanita itu sambil memegangi pergelangan kakinya.
Huh! Kalian mau menggunakan trik ala-ala sinetron pada Valko! 😡 Takkan kubiarkan itu terjadi. Jika kalian mau akting, lihat dulu aktingku ini!
"Aduh, Dek!" aku mendekati wanita itu. "Maafkan Hubby-ku ya!" dia kutatap dengan tajam. Wajah wanita itu langsung pucat. "Dia baru pertama kali ke sini. Biar aku lihat kakimu!" aku langsung melepas sepatunya. "Aku bisa memijat kok, ibuku pernah mengajariku!" aku tersenyum. Rasakan ini wanita genit.
"AH! AH!" teriak wanita itu. Kau baru saja terjatuh kan? Aku akan memberimu pijatan yang akan selalu kau ingat.
"Apa kakimu sudah terasa baikan?" tanya Valko.
"Sudah, sudah, Kak!" ucap wanita itu sambil buru-buru mengemasi buku-bukunya.
"Kenapa kau tak pernah memijatku, Zeta?" tanya Valko. "Aku tak tahu jika kau pandai memijat. Gadis itu kakinya langsung sembuh seketika, meski masih terlihat sedikit pincang," celetuk Valko. Aku menahan tawaku. Gadis itu jadi seperti itu karena kuberi pelajaran, Valko.
"Aku akan memijatmu, jika ada waktu!" kugandeng tangan kanan Valko. Jangan sampai ada gadis genit yang menggodanya lagi. Saat memasuki gedung, nampak suasana masih sepi.
"Ada di lantai berapa ruang dosen pembimbingmu?" tanya Valko saat sudah masuk ke dalam lift.
"Ada di lantai lima," ucapku sambil menekan tombol lift itu.
"Jangan takut!" Valko membelai kepalaku. "Aku ada di sini menemanimu. Kau sudah berusaha, Zeta. Jika aku bisa melewatinya, kau pasti juga bisa!" Valko sedikit tersenyum.
Entah mengapa hatiku jadi hangat dan tak lagi khawatir. Kulangkahkan kakiku dengan mantap menuju ruang dosen itu. Pintu coklat muda itu terbuka.
"Permisi...." ucapku sambil menatap ke arah pojok. Meja Bu Tya ada di pojokan sebelah kanan.
"Ah, kau, Tata!" suara itu membuat bulu kudukku merinding.
Nampak seorang wanita dengan rambut hitam bercampur putih yang disanggul ke arah belakang. Kacamata bulat yang besar terpasang di wajahnya. Tatapannya serius nan membius. Aura ketegasan sudah terasa dari tatapannya.
"Kamu mau bimbingan, ya? Sini, duduk!" ucap Bu Tya. Aku pun duduk di kursi di depan mejanya. "Mana kamu?" tanyanya to the point.
"I...ni, Bu," kuserahkan dua buah draft itu. "Ini judul lama saya dan ehm...ini judul cadangan saya...."
"Bagus, kamu sadar sendiri jika judulmu memang mainstream!" celetuk Bu Tya.
Beliau membaca draft pra proposalku dengan teliti. Aduh, dicorat-coret, pasti nanti ganti judul lagi nih. Sudahlah, setidaknya aku sudah berusaha.
"Tata!" panggil Bu Tya. Duh, pasti aku diomelin lagi nih! 😣
__ADS_1
"I...i...ya, Bu...." sahutku pelan.
"Yang ini, saya acc...." ucap Bu Tya. Acc? Acc? Itu kata-kata yang membuat telingaku bergetar, rasanya seperti menang undian.
"Yang benar, Bu? Judul saya di acc?" aku tak percaya.
"Iya, benar. Ini, buat bab 1 sampai bab 3, ya! Saya tunggu!" Bu Tya menyerahkan draft pra proposalku. Aku tak peduli judul mana ya di acc. Yang penting aku sudah dapat judul.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih!" aku menyalami tangan Bu Tya. Akhirnya! 😭 Aku sudah dapat judul skripsi.
"Sudah, sana segera cari bahan referensi di perpus!" perintah Bu Tya.
"Baik, Bu! Baik!" aku berdiri.
Kulihat judul yang di acc, ternyata itu judul yang kubuat bersama Valko waktu itu. Memang di draft itu ada banyak coretan. Tapi, ada tulisan "ACC" itu yang paling penting. Ini sangat berharga! 😍
Aku harus menyimpan harta karun ini. Bagi pejuang skripsi yang judulnya sudah ditolak berulang-kali sepertiku, dapat acc (accept) atau penerimaan judul oleh dosen pembimbing rasanya seperti mendapat kemenangan dalam undian lotre.
"Bagaimana?" terdengar suara Valko. Wajahnya nampak tak tenang meski tertutup kacamata hitam. Dia ada di depan pintu ruang dosen itu. Jadi, dia juga ikut khawatir saat menungguku.
"Judulku di acc! Judulku di acc!" teriakku gembira sambil berlari ke arah Valko.
"Judulmu di acc?" sahut Valko. Aku menggangguk-angguk ceria.
"Iya, benar! Langsung disuruh buat proposal!" aku memeluk Valko. Entah mengapa aku merasa pencapaianku ini karena bantuan darinya. "Terima kasih, Valko!" aku langsung mengecup pipi kanannya.
"Ze...ta...." Valko tertegun saat menerima kecupan dariku. Tubuh Valko kupeluk kembali.
"Terima kasih, Hubby!" ucapku lagi. "Ini semua berkat bantuanmu!" kupeluk Valko semakin erat.
"Ehm...apa kau berarti aku boleh meminta sesuatu sebagai balas jasa?" ucap Valko.
Huh? 😑 Valko, kau tak ikhlas membantu istrimu sendiri ya? 😑 Sudahlah, aku tak mau merusak perasaan bahagiaku ini. Kuturuti saja permintaannya.
"Kau mau minta apa?" tanyaku sambil melepas pelukanku dan menatap ke arah matanya.
"Aku ingin...." ucap Valko. Dia nampak berpikir.
"Dilarang ribut di sini!" nampak seorang pria keluar dari ruamg dosen. Astaga, lebih baik, aku dan Valko pindah ke tempat lain dulu.
"Maaf, Pak!" ucapku sambil menarik tangan Valko. Kugandeng dia menuju ke arah lift. Valko, terima kasih! 😍 Bimbingan hari ini sukses karena bantuanmu juga.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍