Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 19 - Ingin Liburan....


__ADS_3

Motor ini masih melaju kencang. Aku tak tahu kemana dia membawaku, aku belum pernah lewat atau pergi ke daerah ini. Kurasa ini mulai memasuki pinggiran kota. BRUM!!! Valko semakin membuat jantungku ingin meloncat keluar. Dia membawaku menaiki kelokan tajam dengan kecepatan tinggi. Kelokan ini mengarah ke atas, menaiki pegunungan. Jalan berkelok-kelok terus terlihat. Valko, sebenarnya kemana kau membawaku pergi? 😢


Sejujurnya aku tak suka pergi dengan Valko. Jika boleh memilih aku lebih suka jika dia diam di rumah dan menjadikanku bantal tidurnya. Saat dia terlelap, aku bisa menikmati hidup normalku sejenak. Motor ini terus melewati jalan pegunungan berkelok. Hawa sejuk mulai terasa. Ehm...mungkin ini ada di dataran tinggi.


WOW! Pemandangan di kiri-kanan jalan mulai berubah dari rumah-rumah penduduk menjadi hamparan kebun teh yang terhampar luas. Hamparan kebun teh itu seperti permadani hijau yang menyejukkan mata. Nampak para pemetik teh sedang memetik daun-daun teh itu. Mereka memakai caping bundar besar. Tak lupa keranjang besar dibawa di punggung mereka. Apa Valko benar-benar mengajakku bulan madu? Sudahlah lupakan kekhawatiran sejenak terhadap ancaman pemangsaan oleh Serigala ini. Aku ingin menikmati pemoandangan indah kebun teh ini sejenak. Hawa sejuk angin yang semilir di tambah pemandangan indah ini membuatku merasa senang. Kubuka kaca helmku, kulepas genggaman tanganku di pinggang Valko. Kurentangkan kedua tanganku sambil memejamkan mata.


"I'M FREE!!!!" teriakku kencang. Aku tak peduli, ini naluri alamiahku merasakan kesenangan ini. Biarkan beban hidupku lepas sejenak.


CRIT!!!! Tiba-tiba rem dimainkan kembali. Tubuhku tentu saja langsung terhuyung ke depan. Hiks, Serigala Gila! 😣 Jantungku rasanya mau lepas dari tempatnya akibat hal ini. Kedua tanganku menempel kembali ke pinggang Valko.


"Apa yang kau lakukan, Tupai?" celetuk Valko. "Kau membuatku malu!" kurasa dia marah.


HUH! Aku tak peduli! Aku hanya ingin melepas beban hidupku sejenak, tahu! Motor ini terus melaju, aku sangat menikmati pemandangan di kiri dan kanan jalan. Selain kebun teh, ada juga kebun sayuran dan buah-buahan. Kurasa aku sedang berada di daerah perkebunan dataran tinggi. Semilir angin semakin lama semakin membuatku mengantuk. Kusandarkan kepalaku ke punggung Valko. Masa bodohlah jika nanti dia berteriak.


"Ehm...." kubuat tubuhku rileks dan kupejamkan mataku.


"Tupai! Bangun,Tupai!" terdengar suara membangunkanku. "Tupai! Ayo, bangun!" suara itu terus terdengar diikuti dengan tepukan ringan di tubuhku. Kubuka mataku perlahan-lahan. Saat kusadar, helmku sudah terlepas. Motor itu sudah tak melaju lagi. Di dekatku nampak pemandangan orang berbaris.


Astaga! Dimana ini? Orang-orang itu melihat ke arahku. Ternyata aku benar-benar tertidur dan menempel di punggung Valko. Aku malu! 😣


"Kita sudah sampai, Tupai. Ayo, bangun! Jangan menempel di punggungku terus! Kau membuatku malu!" ucap Valko. Aku pun melepas genggaman tanganku dan turun dari motor. WOW! Dimana ini? 😮


Di hadapanku nampak sebuah rumah besar tingkat dua. Rumah itu bercat putih dengan atap berwarna coklat kayu. Ada sebuah teras yang terbuat dari kayu di depan rumah itu. Pintu, gawang pintu dan gawang jendela semuanya berwarna coklat tua mengkilap. Di sebelah rumah besar itu ada sebuah tempat pengumpulan daun teh. Orang-orang yang berbaris tadi adalah para pemetik daun teh. Mereka menyetorkan hasil petikannya. Ehm...apa ini usaha lain yang dimiliki Valko? Saat aku berbalik ke arah belakang ternyata di seberang rumah ini ada kebun teh yang menghampar luas.


"Parrel, cucuku!" terdengar suara memanggil. Aku berbalik ke arah suara itu. Nampak seorang wanita tua berambut putih tersanggul ke belakang. Wajahnya tetap terlihat segar meski nampak keriput. Dia memeluk Valko.


"Apa Parrel ada di sini?" nampak seorang kakek tua menghampiri kami. Kakek itu sudah botak. Kumisnya nampak sudah memutih. Dia berjalan agak membungkuk dibantu sebuah tongkat perak.


"Opa, Oma!" sapa Valko. Oh, ternyata mereka kakek dan nenek Valko. Aku pun mendekat ke arah mereka.


"Oh, siapa ini?" tanya nenek itu. Dia bukan Pio, yang dulu pernah kau bawa kemari...." ucap nenek itu. Apa Pio yang dimaksud adalah Kak Vio? Jadi, Kak Vio pernah diajak kemari.


"Dia bukan Vio. Dia Tupai Kecil!" ucap Vio. HUH! Tak bisakah kau mengenalkanku dengan nama? "Dia bantal tidur sekaligus istriku. Kakek Wijaya yang menikahkanku dengannya, Oma."


"Oh, kau istri Parrel?" kakek itu mendekatiku. "Selamat datang di rumah kami, Cu. Maaf tak bisa hadir di pernikahanmu. Maklum, orang tua ini sudah rentan sakit...."


"Opa sakit ketika pernikahanmu, Cu...." nenek itu mendekatiku. "Oh, kau manis dan cantik! Pantas Parrel betah tidur denganmu...." nenek itu tertawa. Aku sedikit geli mendengar hal ini. Ehm...bagaimana aku harus memanggil mereka?


"Nyonya, Tuan!" ucapku sambil menyalami keduanya.


"Aduh, Cu. Jangan panggil Nyonya dan Tuan!" protes kakek itu. "Panggil saja aku Opa Dedy dan istriku Oma Wulan, Cu. Parrel pasti terlalu keras padamu! Maklum ya dia kurang belaian. Terima kasih kau sudah tahan banting padanya, hehehe. Oh ya, siapa namamu, Cu?"

__ADS_1


"Saya Zeta, Opa. Zeta Belvia Nugraha...." sahutku lirih.


"Namamu sulit juga, Cu. Nama anak-anak sekarang susah diucap lidah kampung. Ijinkan kami memanggilmu Tata, ya, Cu." ucap nenek.


"Iya, tak apa-apa, Oma. Saya biasa dipanggil Tata juga, hehehe," aku merasa keduanya ramah dan baik. Tak seperti Valko yang pemarah dan kasar itu.


"Ayo, masuk, Cu. Si May sudah mengabari kalau kau dan Parrel mau datang. Kamar kalian sudah dipersiapkan, hehehe," nenek dan kakek itu mengajak kami masuk ke dalam rumah.


Wow! Nuansa rumah ini putih dan coklat. Furniturnya sebagian besar dari kayu yang divernis sehingga berwarna coklat tua. Dindingnya berwarna putih. Lantainya kurasa dari batu marmer putih.


"Ini, Bi Ella!" ucap Valko. Nampak seorang wanita paruh baya. Dia memakai seragam maid warna hitam. Keren! Bahkan di desa seperti ini pelayannya tetap harus memakai seragam maid. Keluarga Valko memang keluarga yang kaya raya. "Jika kau perlu apa-apa bilang saja padanya," Valko menatapku. "Bi, antarkan Tupai ini ke kamarku. Temani dia di sana!"


"Iya, Tuan Muda," sahut Bi Ella.


"Kau duluan saja, Tupai. Aku akan menemui seseorang bersama nenek dan kakek di sini." aku pun menggangguk. Bi Ella menuntunku memasuki rumah itu. HEH?! Apa ini sebuah lift?


"Silahkan, Nona," Bi Ella mengajakku masuk ke lift itu. Lift itu bernuansa perak. Dindingnya dilapisi kaca. Lantainya dilapisi logam perak. Lift ini mulai naik ke atas. "Sudah sampai, Nona," Bi Ella menuntunku masuk ke kamar.


WOW! Mewahnya! Kamar ini bernuansa putih nan elegan. Perabotannya bernuansa abu-abu muda. Ada sebuah pintu kaca besar di salah satu sisi kamar itu. Pemandangan pegunungan yang asri nan hijau nampak dari sini. Pintu itu bisa terbuka dengan digeser. Pintu ini membatasi kamar dengan sebuah balkon. Balkon itu cukup luas, terdapat sebuah meja dan dua buah kursi santai. Kurasa kursi ini untuk bersantai sambil menikmati pemandangan ini. Kududukkan diriku di kursi itu. HAH! Nyaman sekali! 😍 Aku tak tahu urusan apa yang membuat Serigala itu membawaku kemari, tapi sepertinya aku ingin menjadikan momen ini sebagai momen liburan untuk diriku sendiri. Aku harus memaksa Serigala itu mengajakku berkeliling daerah ini! 😆


"Nona, jika Anda ingin berenang, ada kolam renang di sebelah sini!" Bi Ella menuntunku menuju ke samping kiri balkon. Ada sebuah tangga untuk naik ke ruang yang lebih tinggi.


Astaga! Ada sebuah kolam renang berbentuk kotak dengan air segar nan jernih. Kolam itu langsung menghadap ke arah pemandangan berupa hamparan perkebunan nan hijau. Fix! Ini tempat yang tepat untuk liburan! 😄 Kurebahkan badanku di ranjang kamar itu. Mengapa Valko belum kemari?


"Kak Varrel! Aku senang kau datang kemari!" nampak suara seorang wanita. Aku mengintip sedikit dari jendela. Nampak Valko sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita. Wanita itu berpakaian seksi. Dia memakai celana jeans pendek hingga pahanya terlihat. Kemeja yang dipakai ya warna merah lengan panjang. Kemeja itu ditali di bagian perut hingga pusarnya terlihat. Make up-nya bold nan cetar. Lipstick merah darah dan eyeliner tebal menjadi kekuatannya. Hidungnya di tindik. Rambutnya panjang terkepang satu ke belakang. "Aku sudah lama menunggumu kembali!" dia berani memegang tangan kiri Valko lalu menempelkannya di pipi kanannya.


Aku mencium bau-bau calon orang ketiga. Ini kesempatan bagus! 😆 Dia bisa menjadi alasanku untuk berpisah dengan Valko. Tunggu! Tapi aku sedang ingin berlibur di tempat ini. Aku benar-benar ingin liburan. Valko mungkin menyebalkan tapi dia adalah pemandu yang tepat dan dompet berjalan untukku. Aku tak bisa melepaskannya saat ini. Pelakor! Kau datang di saat yang tidak tepat! HUH! Aku sedang ingin liburan! Jadi, jangan rebut Serigala Jelek itu sekarang! Kau harus berhadapan denganku, wahai Nenek Sihir Merah! 😤


"Aku sudah menikah, Vita," ucap Valko sambil melepaskan pegangan tangan nenek sihir itu.


"Bi, siapa itu Vita?" bisiku pada Bi Ella.


"Nona Vita adalah anak dari rekan bisnis Tuan Dedy. Beliau adalah teman akrab Tuan Muda ketika masih kecil dan tinggal di sini, Nona. Orang tua Nona Vita sudah meninggal akibat bencana tanah longsor beberapa tahun lalu. Nona Vita sudah dianggap cucu sendiri oleh Tuan dan Nyonya. Nona Vita tinggal tak jauh dari sini. Beliau adalah pewaris tunggal kebun sayur terluas di daerah ini, Non." jawab Bi Ella. Oh, jadi Nenek Sihir itu adalah teman akrab Valko. Kurasa dia memiliki perasaan suka pada Valko.


"Kak Varrel, aku tak bermaksud apa pun. Aku hanya ingin kita mengenang saat kau ada di sini!" Nenek Sihir itu berani memegang tangan kiri Valko lagi. "Ayo, kita jalan-jalan lagi dengan mobil jip!" ia tersenyum. HUH! Senyum murahan. Tunggu, jika Nenek Sihir ini mengajak Valko jalan-jalan maka waktu liburanku akan berkurang! 😐 Aku tak mau menunggu! 😤 Aku ingin jalan-jalan hari ini! "Ayo, Kak! Kau menikah hanya karena perintah kakekmu dari jalur ayahmu kan? Pasti berat menjalaninya," Nenek Sihir itu sudah menggenggam tangan kiri Valko. "Ayo, jalan-jalan sebentar saja denganku. Lupakan sejenak istri jelekmu itu!" ucapya berani.


Istri jelek?! 😠 Aku tak jelek! Dasar Nenek Sihir menyebalkan! 😠 Namaku Zeta yang berarti mawar, aku cantik dan manis sejak lahir! Kau saja yang norak, jelek dan ganjen! 😠 Aku harus mengusirnya sekarang! 😡


"Serigala Tersayang!" aku keluar tanpa basa basi. Langsung kepeluk pinggang Valko dengan erat sambil duduk di sebelah kanannya. Kusandarkan kepalaku dengan manja. Valko sendiri yang bilang jika dia adalah Serigala Muda dari Keluarga Wijaya, aku tak salah kan berarti memanggilnya Serigala? 😂 Nenek Sihir itu tertegun melihatku. Valko justru biasa saja. Ekspresinya dingin dan datar. "Kau ada di sini rupanya?" ucapku dengan manja.


"Ehm..." sahut Valko.

__ADS_1


"Kenalkan, aku Vita Setyawan. Aku teman akrab Kak Varrel. Ehm..." dia menatapku dengan tatapan aneh nan menusuk.


"Kau bisa memanggilku Tupai Kecil...." ucapku manja. Valko nampak tertegun dan menatapku. "Itu nama spesial dari Tuan Serigalaku Tersayang!" pamerku dengan bangga. HUH! Aku takkan kalah darimu pelakor jelek! 😡


"Kak, ayo kita pergi jalan-jalan naik mobil jip!" Nenek Sihir itu tetap ngotot pada kemauannya. Dasar tak tahu malu! 😡 Aku sudah di sini! Kau masih ingin mengajak Valko pergi! 😠


"Serigala Tersayang!" ucapku dengan manja tapi bernada protes. "Kau tega meninggalkan Tupai Kecil yang lemah ini?" raut wajahku memelas. "Kau bilang kau ingin mengajakku bulan madu! Kau bilang takkan membiarkanku sendiri meski hanya sedetik saja! Apa kau tega membiarkanku sendiri?" kucengkeram bahu Valko semakin erat. Nenek Sihir itu menatapku tajam, setajam silet.


"Aku hanya ingin mengajak Kak Varrel jalan-jalan. Kak Varrel pasti rindu berjalan-jalan di sekitar sini. Iya, kan Kak?" tanya Nenek Sihir Merah itu.


Jika Valko menjawab iya maka gagal sudah usahaku. Valko diam saja. Aku sudah sejauh ini takkan kubiarkan dia pergi. Rasakan jurus andalanku ini, Nenek Sihir Jelek! Mungkin ini jurus gila tapi ini pasti ampuh! Tanpa pikir panjang MUACH!!! Kucium pipi kiri Valko hingga lipstick pinkku menempel di pipinya. Liburanku jauh lebih penting! Tak ada yang boleh menggangguku, termasuk pelakor sekalipun! Nenek Sihir Merah itu tertegun melihat kenekatanku. Valko juga tak kalah tertegun. Pipinya memerah sekarang. Dia tak berani menatap ke arahku.


"Ehm...itu hukuman karena meninggalkanku sendiri tadi. Jika kau ingin pergi maka pergilah, Tuanku Serigala Tersayang. Tupai ini takkan menghalangimu. Aku akan setia menunggumu di kamar sebagai bantal tidurmu saat tidur siang nanti! Saat kau kembali pasti akan kubuat kau tak berdaya seperti biasanya!" ucapku dengan nada pamer nan manja.


Tak berdaya mungkin bisa menimbulkan banyak tebakan di pikiran orang yang mendengarnya. Tapi tak berdaya yang kumaksud adalah ketika Serigala itu menjadi jinak dan tertidur pulas. Hihihi, biarkan saja Nenek Sihir Merah itu berpikir bahwa Valko kucabik-cabik hingga tak berdaya.


"Aku pergi dulu, Serigalaku Tersayang. Sebenarnya Tupai ini menantikan jalan-jalan denganmu...." ucapku manja ditambah nada kecewa.


Aku rasanya puas! Biarlah bibirku pernah mencium Valko, toh hanya cium di pipi bukan bibir. Lagi pula itu juga tak secara langsung tapi dibatasi lipstick. Apa bedanya adegan tadi dengan cium dahi yang biasa kulakukan? Sama-sama kecupan palsu yang tak spesial. Lebih baik aku kembali ke kamar di lantai 3 itu.


Tunggu! Aku sudah mencium pipi Serigala itu. Ehm...aku baru saja memantik api. Oh tidak, dia bisa terpacu untuk memangsaku. Lebih baik aku berpura-pura tidur. Kubaringkan diriku di ranjang. Kubungkus seluruh tubuhku dengan selimut tebal. Kupejamkan mataku. Ranjang ini empuk dan nyaman, aku suka. Terdengar langkah kaki, pasti itu Valko. Segera aku berakting berpura-pura tidur sealami mungkin. Valko duduk di tepi ranjang, bekas cap itu masih ada di pipinya. Dia memandangku sejenak.


"Ehm...." kurasakan dia memeluk tubuhku. Kepalanya bersembunyi di dekapanku. Aku pura-pura terbangun.


"Tuan...." panggilku lirih. Valko sudah terbaring di sampingku.


"Kau semakin berani dan lihai, Tupai...." ucapnya sambil memelukku erat.


"Apa maksud Tuan?" aku pura-pura bodoh. Tanganku mulai membelai kepala dan tubuhnya seperti biasanya. "Tupai ini hanya ingin jalan-jalan dengan Tuan...." ucapku manja bercampur nada sedih. "Tuan kan janji takkan meninggalkan Tupai ini meski hanya sedetik saja...apa Tuan sudah lupa? Tuan bilang tadi pagi jika Tuan paham pada kode Tupai ini...."


"Ehm...." dengus Valko. "Akan kubawa kau jalan-jalan setelah aku istirahat. Jadi, tutup mulutmu yang berisik itu!" Valko mulai tertidur pulas.


Hihihi, kurasa rencanaku berhasil! 😆 Ehm, kemana ya Valko akan membawaku jalan-jalan? Aku tak sabar menantikannya 😆 Tak ada yang boleh mengganggu liburanku di sini. 😤


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2