
Kubuka mataku perlahan-lahan. Nampak Valko sudah tertidur di sampingku. Matanya nampak bengkak karena menangis. Tanganku merapikan rambutnya yang panjang itu. Dia menangis sepanjang sisa hari ini. Bahkan untuk makan malam dan mandi pun tak sempat.
Valko, dulu kukira kau keras dan galak, ternyata kau juga punya ya sisi yang rapuh sekali. Kugerakkan tubuhku, duh pegal juga tiduran sambil dipeluk dalam waktu yang lama. Sesampainya di rumah tadi, Valko langsung mengajakku ke kamarnya. Seperti saat kehilangan Kak Vio, dia terus menangis sambil menyandar di dadaku. Akhirnya sekarang tangisan itu berhenti juga.
"Ehm...." terdengar suara Valko.
"Aduh...." baru saja aku ingin membalik badan dia sudah memelukku erat lagi. Kuelus-elis kepala Valko dengan tangan kiriku, tangan kananku berusaha mengambil smartphone-ku yang tergeletak di laci dekat tempat tidur. Ada chat dari Mama rupanya.
Mama : Tata, kamu kemana sih, Sayang? Kok ngilang gitu aja? 😦
Mama : Keadaan suami kamu gimana? Kalian udah pulang ya?
Mama : Bapak ini habis kalian tinggal terus kusuruh tiduran lagi. Ta, Bapak ini namanya Kenrick Wijaya.
Kenrick Wijaya? Tanganku bergetar saat membaca chat itu. Nampak sebuah gambar kartu identitas usang yang dikirim Mama. Benar, nampak nama Kenrick Wijaya.
Mama : Mama sudah mengirim kartu identitas itu ke kakeknya Valko. Kakek dan neneknya Valko tadi udah ke sini, Sayang.
Nampak Mama mengirim gambar kakek dan nenek Valko dari jalur ayah. Keduanya nampak memeluk Pak Tua itu dengan erat. Jika sudah seperti orang itu benar-benar ayahnya Valko. Berarti Pak Tua itu mertuaku? 😮 Aku sudah diselamatkan oleh mertuaku sendiri! Tapi, bagaimana Tuan Kenrick bisa berada di sini? Dia menghilang kemana selama belasan tahun ini? Berbagai pertanyaan memenuhi kepalaku.
Mama : Ta, besok kamu kemari ya! Jenguk mertuamu, jangan ajak Valko dulu nggak papa. Mama sudah tahu ceritanya dari neneknya Valko. Kurasa Valko mengalami trauma masa kecil yang mendalam. Kamu bisa kan kemari? Sekalian mampir ke rumah, Mama kangen tahu 😢 kamu tuh udah lama nggak pernah lagi maen ke rumah😢....
"EH!" teriakku karena kaget. Kepala Valko tiba-tiba muncul tepat di depan wajahku. Matanya yang sembap nampak terbuka lebar. "Valko!" ucapku. "Kau memgagetkanku!" protesku.
__ADS_1
"Aku tak suka diduakan dengan benda kotak!" ucap Valko. Valko meraih smartphone-ku. Dia menaruhnya di laci di belakangnya. Valko menatapku tajam.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku sambil membelai kepalanya.
"Kau chat dengan siapa?" tanya Valko sambil cemberut. Duh, dia cemburu nih.
"Dengan mamaku, Hubby," sahutku. "Bagaimana keadaanmu?" tanyaku lagi.
"Aku tak suka diduakan dengan benda kotak itu!" sahut Valko. Kepalanya kembali bersembunyi di dekapanku. "Hubby, kau marah? Maaf, aku hanya membuka chat dari mamaku. Bagaimana keadaanmu? Kau ingin makan, Hubby?"
"Papa pasti membenciku....." sahut Valko. "Dia pasti membenciku...." ucap Valko. "Aku tak mau bertemu dengannya lagi....dia pasti akan memukulku lagi...." Valko memelukku semakin erat. Kurasa ini bukan saat yang tepat untuk membahas pertemuan Tuan Kenrick dan kakek Valko.
"Ehm...waktu sudah berlalu, Hubby, ayahmu pasti sudah berubah....." ucapku sambil mengelus-elus kepala Valko.
"Papa membenciku! Dia membenciku! Jangan bahas dirinya lagi! Itu membuka masa laluku yang suram...." Valko menyembunyikan kepalanya di dekapanku lagi. "Aku ingin melupakan semuanya. Aku hanya ingin membangun hidupku denganmu Zeta. Aku ingin memulai hidupku di dunia kecil milik kita. Masa laluku suram. Penuh liku dan rintangan curam. Tapi saat bersamamu aku merasa tenteram dan tak ingin lagi mengingat lembaran yang buram," ucap Valko. Kata-kata itu membuatku tak berani lagi membahas tentang ayah Valko.
"Iya, Hubby, Taeyang akan di sini! Taeyang akan menemanimu. Kau tak perlu khawatir ya," ucapku sambil membelai kepala Valko. "Kau ingin makan? Kau belum makan malam tadi," tanyaku.
"Ehm...tidak...aku ingin tidur saja," sahut Valko. "Anggap hari ini tak terjadi hal itu," ucap Valko. "Aku ingin segera pergi ke kantor lagi dan memulai hari baru. Kau harus ikut dan menemaniku!" perintah Valko. Duh, padahal besok aku ingin bertemu dengan Pak Tua itu dan Mama.
"Hubby, ehm...bolehkah besok aku pergi saat siang hari?" tanyaku lirih.
"Tak boleh! Kau harus menemaniku seharian!" Valko menatapku tajam.
__ADS_1
"Ehm...Hubby, please ijinkan aku ya. Ijinkan Taeyang pergi sebentar saja. Aku janji akan membawa banyak pengawal dan takkan nakal."
"Kau ingin menemui siapa?" tanya Valko. Duh, kok suaranya seram sih.
"Menemui Mama, aku sudah lama tak pulang ke rumah. Ehm...dia besok mungkin bisa libur sebentar karena tak ada shift jaga," sahutku lirih. "Aku janji takkan sampai malam. Sebelum kau pulang, aku sudah kembali ke kantormu. Sebagai gantinya aku akan melakukan apa pun perintahmu!" ucapku sambil menatap mata Valko.
"EH!" Valko langsung menciumku begitu saja. Dia sudah berada di atas tubuhku. Valko sudah melepas dasi dan kemejanya.
"Aku ingin pembayaran saat ini, Taeyang! Kau tak boleh protes!" Valko mulai melucuti pakaianku. Valko, jadi jika aku ingin sesuatu aku harus membayarnya dengan cara seperti ini ya sekarang? 😧
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah
Untuk vote tinggal pencet tombol 'Vote' di halaman sampul novel 😄
Thank you 😍
________________________________________
Masa laluku suram. Penuh liku dan rintangan curam. Tapi saat bersamamu aku merasa tenteram dan tak ingin lagi mengingat lembaran yang buram
__ADS_1
(M. T. Cahyani - Istri CEO Muda_2020)