
Kurasa mulai sekarang aku harus membiasakan perubahan dalam hidupku. Aku sekarang sudah menikah, benar-benar memiliki hubungan antara dua insan yang bersatu dalam ikatan sakral. Sekarang, bisa dibilang lembaran baru hubunganku dan Valko. Tapi...kenapa semakin hari dia semakin lengket padaku seperti perangko sih? 😣
Saat akan mandi, Valko menggendongku ke kamar mandi. Aku sengaja membawa selimut sampai ke kamar mandi. Saat mandi, dia tetap berada di sudut kamar mandi. Matanya terus menatap tajam setiap gerakanku. Selesai mandi, aku memakai baju handuk (bathrobe) lalu keluar dari kamar mandi untuk berganti pakaian untuk ke kampus. Kali ini, aku sengaja berjalan keluar dari bathtub terlebih dahulu sebelum Valko mengangkat tubuhku ke gendongannya. Aku ingin memperlihatkan padanya jika luka di kakiku sudah sembuh.
Valko tetap ada di sisiku. Dia berdiri, menyandar di sisi dinding dekat meja rias di kamar ini. Kedua tangannya menyilang di dada. Matanya seakan tak berkedip, terus menatapku. Tak bisakah aku memiliki waktu untuk sendiri sebentar saja sekarang? 😭 Lebih baik dia sedikit kasar kepadaku seperti dulu, daripada lembut tapi sangat posesif seperti ini.
"Tak bisakah kau meninggalkanku sejenak, Hubby?" kubujuk Valko. Tolonglah Valko! 😣 Aku butuh waktu sendirian saat ini.
"Kenapa? Kau malu?" Valko justru semakin tajam menatapku.
"Ehm...aku perlu waktu...untuk menenangkan diri sebelum ehm...bimbingan...." sahutku asal.
"Baiklah, baik! Karena kau akan bimbingan, aku akan memberimu waktu sendirian untuk menenangkan diri," Valko berbalik. Dia berjalan melangkah, langkah kakinya terdengar hingga keluar kamar. Syukurlah, akhirnya aku bisa memiliki waktu sendirian. Aku hendak keluar kamar untuk kembali ke kamarku.
"Kau mau kemana, Tupai?" tanya Valko. Dia ternyata masih ada di depan kamar.
"Ehm...pakaianku kan masih ada di kamar yang lain...." sahutku. Seingatku pakaianku masih ada di dalam koper di kamar lain.
"Pakaianmu sudah ditata di kamarku! Coba buka lemari putih di sana!" Valko menatap ke arah dalam. "Lemari warna abu-abu itu milikku sedangkan yang warna putih punyamu! Kau akan selalu menemaniku setiap malam, Sayang!" Valko membelai daguku. Kalimat Valko terdengar seperti ancaman bagiku daripada kata-kata mesra. Suaranya dingin dan intonasinya meninggi.
"Sudah sana, cepat berdandanlah!" ucap Valko. Dia benar-benar ada di luar kamar sekarang.
Akhirnya aku memiliki waktu sendirian. Kugunakan waktu ini sebaik mungkin untuk memakai pakaian. Aku memilih kemeja warna softpink dan rok kain hitam. Rambutku kukuncir. Make up flawless kupilih untuk riasan kali ini. Diriki aneh sekali, padahal aku sudah pernah bermain di bawah selimut dan mandi bersama Valko lebih dari satu kali. Tapi tetap saja aku merasa geli jika Valko terus menatapku apalagi saat aku ingin berganti pakaian atau mandi.
Astaga, kulihat ke area leherku. Bekas ulah Valko semalam nampak nyata di leherku. Aku harus menutupi hal ini, ini hal yang bisa memancing perhatian publik. Leherku kuolesi foundation, setelah foundation kering kucoba mencari syal atau apapun yang bisa menutupi area leherku di lemari.
"HATCHU!" terdengar suara bersin. Aku spontan menengok ke belakang. Nampak Valko bersandar di gawang pintu kamar.
"VALKO!" aku tak percaya ini.
"Kau...kau...kau...." aku tergagap karena terkejut. Jadi, daritadi dia ada di sana? Dia terus-menerus menatapku? Astaga! Aku malu! 😭
__ADS_1
"Aku terus di sini! Aku memang bilang akan meninggalkanmu sendirian di dalam kamar tapi aku tak bilang pergi ke tempat lain kan?!" sahut Valko. Sudahlah, lagipula dia adah suamiku bukan orang lain.
"Ayo, sarapan!" aku berusaha melupakan kejadian ini. Sesuatu teringat di kepalaku. "Astaga! Aku belum nge-print bahan untuk bimbingan nanti!" kulihat jam di smartphone-ku. "Gawat! Fotokopian mana buka jam segini!" ucapku panik. Ini masih jam 6 pagi, fotokopian belum buka.
"Aku sudah mencetaknya untukmu tadi!" Valko masuk ke dalam kamar. Dia menyerahkan map plastik bening kepadaku. Kubuka map itu, nampak draft pra proposalku yang baru dan draft pra proposal lamaku.
"Syukurlah!" kupeluk map itu.
"Ck! Apa kau kira di rumahku tak ada printer! Uangku lebih dari cukup untuk membeli sebuah pabrik penghasil mesin printer, Tupai!" celetuk Valko. Benar, bodohnya aku! Valko kan orang kaya raya, barang seperti printer pasti dia punyalah.
"Ayo, berangkat!" perintah Valko. "Kampusmu lumayan jauh, butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke sana tepat waktu! Ini!" Valko melemparkan sebuah tas selempang warna hitam padaku. Tas itu berukuran cukup besar, tali selempangnya berupa rantai yang berwarna kuning keemasan. Astaga, ini tas branded mahal dari luar negeri itu. Harganya bisa mencapai jutaan rupiah.
"Ayo, cepat! Kita turun!" perintah Valko lagi. Aku pun mengikuti Valko dari arah belakang.
Valko kemarin memberiku smartphone mahal, sekarang dia memberiku sebuah tas mahal. Ehm...meski cara memberinya tak romantis bahkan terkesan kasar tapi aku tak bisa menampik jika aku menyukai benda-benda ini.
Nampak sebuah mobil sedan warna hitam sudah terparkir di depan rumah. Di depan dan belakang, ada mobil hitam, kurasa itu mobil pengawal Valko. Pintu mobil sedan itu sudah terbuka. Aku pun masuk ke dalamnya.
"Ayo kita pergi honeymoon, Zeta!" ucap Valko. Kedua tangannya mencengkeram tubuhku. Bibirnya terus menyerang pipiku.
Valko! Apa kau belum puas bermain tadi malam? 😣 Pagi ini kau agresif sekali
, sih! 😣 Dia terus menciumi area kepalaku serta menghirup-hirup rambutku. Tubuhku juga dicengkeram semakin kuat.
"Apa ini, Tupai!" tangan Valko menarik syal warna biru dongker yang menutupi area leherku. "Kau sedang sakit? Kenapa kau tak bilang?" Valko meletakkan tangannya di dahiku. Aku tak sakit Valko! Aku harus memakai syal karena ulahmu, tahu! 😭
"Hubby!" panggilku untuk mengalihkan pembicaraan. "Apa kita bisa mampir sarapan dulu?" tanyaku sambil tersenyum.
"Benar, saat bimbingan perutmu tak boleh kosong. May, mana sarapan pagi ini?!" teriak Valko. Duh, tak bisakah kau berkata dengan suara pelan saja? Telingaku bisa rusak nanti.
"Ini, Tuan!" Sekretaris May menyerahkan suatu tas. Valko membuka tas itu, di dalamnya ada berbagai macam roti dan dua kotak susu putih. Aku hendak meraih salah satu roti.
__ADS_1
"Aku akan menyuapimu, Tupai Kecilku!" Valko mengambil hand sanitizer. Tangannya mulai mencuil roti itu. Cuilan roti itu hendak disuapkan ke mulutku.
Sudahlah, terima saja. Valko kan berniat baik. Aku sudah membuka mulutku lebar-lebar. HAP! Roti itu justru masuk ke mulut Valko.
Aku masih berprasangka positif, mungkin Valko juga ingin makan. Kubuka mulutku lebar-lebar lagi saat tangan Valko yang berisi cuilan roti terlihat kembali datang ke mulutku. HAP! Valko kembali mengarahkan tangan itu ke mulutnya.
"Hahaha! Kau mudah sekali tertipu, Tupai!" ejek Valko.
Jahatnya! 😢 Valko ternyata tetap saja jahil padaku. Sudahlah lebih baik aku makan roti sendiri saja. Kuambil roti dari tas itu, kubuka plastik pembungkusnya. Aku mulai menikmati roti itu sambil membuka map bening berisi draft pra proposalku. Kubaca draft pra praposal itu sambil makan roti. Kurasa Valko mengerti pada hal yang kulakukan jadi dia tak menggangguku.
Sopir mobil ini keterampilan mengemudinya patut diacungi jempol. Dia menjalankan mobil ini dengan cepat tapi aku tak merasakan ada pengereman mendadak satu kali pun. Aku sudah ingat kembali isi dua draft pra proposal itu. Draft itu kembali kumasukkan ke dalam map lalu kuletakkan di dalam tas.
Kurasa masih ada waktu untuk minum sekotak susu putih itu. Valko juga terlihat tengah asyik meminumnya sambil bersandar dan menatap ke arah jendela. Rasa susu putih yang enak, aku menikmati minum susu ini lewat sedotan Mulutku penuh dengan susu, tapi di saat bersamaan tiba-tiba aku ingin bersin. Tahan Zeta! Tahan! Telan dulu susu di mulutmu baru bersin.
"Hey, Tupai!" panggil Valko.
Aku tak menyahut karena menahan bersin. Aduh, pinggangku tiba-tiba berasa geli karena ditusuk oleh jari tangan Valko.
"HATCHU!" aku tak lagi bisa menahan bersinku karena geli. Otomatis cairan susu itu menyembur dari mulut dan hidungku.
"TUPAI!" teriak Valko. Astaga, aku tak tahu jika cairan susu itu menyembur dan mengenai wajah Valko. "Kau sengaja menyemburku dengan susu!" Valko mencengkeram daguku. Wajahnya nampak murka.
Ampun! 😭 Aku benar-benar tak sengaja Valko! 😭 Kenapa sih aku selalu apes? 😢
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍