
Valko benar-benar meninggalkanku di dalam kamar ini. Ketika aku mengintip sedikit dari pintu kamar ini, nampak beberapa pengawal wanita di tempatkan di ruangan ini. Mereka berdiri seperti sebuah pagar saja. Kacamata hitam serta seragam serba hitam yang mereka pakai menambah kesan mistrius dan ngeri. Sudahlah, mereka hanya menuruti perintah Valko saja. Jangan menyulitkan mereka, merekan kan di sini mencari uang untuk keluarganya. Kututup pintu putih itu. Berada di kamar ini, rasanya seperti di rumah bukan di kantor.
Kunyalakan AC di kamar ini. Ada wifi tidak ya di sini? Kubuka menyalakan tombol wifi pada smartphone-ku. Ternyata ada, lumayanlah bisa menghemat kuota internet. Biarpun diberi kartu warna emas oleh Valko tapi aku tak boleh boros. Cari uang kan susah! 😤
Kunyalakan laptopku, waktunya mengerjakan bab 1 dari proposalku. Tak lupa kucolokan earphone ke laptopku. Aku suka mendengarkan lagu-lagu K-Pop dari para idolaku. Ini membuatku lebih semangat ketika bekerja. Baiklah, ayo mulai....
Aku mulai mengetik 'BAB 1 PENDAHULUAN' lalu kutekan tombol Enter. Kuketik lagi 'A. Latar Belakang Masalah'. Aku harus nulis apa ya? Ah, coba copy paste dari draft pra-proposal dulu. Nanti ditambah-tambahi saja. Kulakukan copas dari latar belakang draft pra- proposalku. Kubaca lagi paragraf-paragraf dalam latar belakang itu. Otakku mulai bekerja untuk menambahkan kata-kata serta melakukan revisi pada latar belakang itu. Aku mulai mengetik dengan semangat.
"Taeyang!" terdengar teriakan dari arah pintu.
"Valko!" ucapku kaget. Nampak Valko masuk ke dalam kamar ini.
"Aku merindukanmu!" dia langsung mengangkat tubuhku ke atas ranjang. Kok dia sudah kembali sih? Ini jam berapa? 😮
"Hubby," panggilku. "Kenapa kau sudah kembali?"
"Apa maksudmu? Meeting-ku sudah selesai. Ini sudah jam makan siang," Valko menarik tubuhku agar menghadap ke arahnya. "Aku ingin tidur siang," tangan Valko memeluk tubuhku semakin erat.
Astaga, sudah jam makan siang? Padahal aku baru dapat mengetik beberapa kalimat. Waktu memang terasa singkat saat mengerjakan skripsi. Tunggu, Bab 1-ku belum ku-save! Aku langsung bangun dan berlari ke arah meja kerja. Syukurlah, file-nya tidak hilang.
"Ada apa sih? Kau membuatku kaget!" Valko sudah bergelayut manja di punggungku.
"Aku belum menyimpan pekerjaanku," ucapku sambil menekan save di dokumen itu."Untunglah, sudah tersimpan...Eh!" Valko langsung menarikku lagi ke atas ranjang. Dia memeluk tubuhku seperti sebuah guling. Jas serta sepatu dilemparkannya ke sembarang arah. Apa dia ingin bermain lagi di atas ranjang? 😨 Tapi ini kan di kantor! 😦
"Hubby, ini di kantor...ehm...kita lakukan saat di rumah saja ya," ucapku lirih.
"Apa yang kau pikirkan? Aku hanya ingin tidur siang! Meeting itu membuat kepalaku pusing. Biarkan aku istirahat sebentar!" Valko memelukku semakin erat. Kepalanya menyandar di dadaku. Kakiku sudah tertindih oleh kedua kakinya.
"Kau tidak makan siang?" tanyaku sambil membelai kepala Valko.
"Waktu istirahat di kantorku 1, 5 jam. Aku biasanya menggunakan satu jam untuk tidur siang, sisanya untuk makan siang. Aku bisa makan dengan cepat...." sahut Valko. "Zeta, kenapa, ya, aku selalu merasa nyaman saat memelukmu. Aku merasa seperti ada di pelukan mendiang ibuku. Rasanya nyaman dan menenangkan. Aku jadi bisa terlelap tidur tanpa rasa takut akibat trauma masa kecilku. Kau tahu, setelah menikah denganmu, aku tak perlu lagi minum obat tidur. Hoahm!" Valko menguap. Valko, kau merasa seperti itu, ya? Entah mengapa hatiku merasa hangat saat mendengar Valko berkata hal ini. "Mana belaianmu? Aku sudah memanjakanmu semalam!" protes Valko.
"Iya, aku tak lupa, Hubby," aku mulai membelai tubuh dan kepala Valko.
Valko benar-benar memejamkan matanya. Wajahnya nampak tenang, dia tidur seperti bayi. Nampaknya ini akan jadi rutinitas baru dalam hidupku. Jika Valko membawaku terus ke kantor, sepertinya setiap siang hari aku harus menemaninya tidur siang.
__ADS_1
Kuamati wajah Valko, dia hebat bisa menjadi pimpinan dari perusahaan sebesar ini. Meski pun kaya tapi bisa dibilang dia berjalan sendirian selama ini. Kasih sayang dari kakek dan nenek Valko mungkin besar, tapi tetap saja berbeda rasanya dengan kasih sayang ayah dan ibu kandung. Apalagi Valko anak tunggal, dia tak memiliki saudara untuk berbagi beban hidup.
"Terima kasih, Hubby. Kau hebat sudah bisa melangkah sejauh ini," ucapku sambil mengecup dahi Valko. "Hoahm!" aku menguap. Rasa mengantuk itu menular dari Valko kepadaku. Mataku tak bisa kutahan lagi untuk terpejam.
Mataku terbuka, hidungku mencium bau yang terasa sedap. Kurasa ini bau masakan. Kubuka mataku perlahan-lahan. Selimut tebal sudah menyelimuti tubuhku.
"Kau sudah bangun, Taeyang...." terdengar suara dari tepi tempat tidur.
Nampak Valko sedang sibuk makan. Ada garpu dan sendok di kedua tangannya. Aku mengucek-ucek mataku sambil bangun. KRUK!!! Terdengar suara nyaring dari perutku. Perutku tercinta, tak bisakah kau tak berbunyi nyaring? Itu memalukan, tahu! Valko menatap ke arahku.
"Aku tak melupakanmu," Valko mendekat ke arahku sambil membawa piring. "Ayo, makan!" tangan Valko sudah mengarah ke depan mulutku.
Kulihat masakan itu, gado-gado rupanya. Kuterima suapan itu. Kenapa rasa gado-gado ini familiar, ya. Sepertinya ini salah satu rasa makanan favoritku.
"Aku sedang mencoba masakan lokal. Ternyata enak juga, tak kalah dengan masakan western," ucap Valko sambil melahap makanan itu lagi.
Astaga, aku makan dengan sendok yang sama dengan Valko! Sudahlah, ini bukan yang pertama kalinya. Tak usah lebay! Valko menyuapiku lagi.
"Ini gado-gado dekat kampusku, ya?" aku mulai ingat. Tak mungkin salah, ini adalah rasa gado-gado legendaris di dekat kampusku.
"Sepertinya kau sudah ingat!" Valko melahap masakan itu lagi. "Ini makanan favoritmu kan? Kau sering mampir ke warung ini...."
"Aku kan sudah pernah bilang bahwa aku menyelidikimu jauh sebelum kita menikah," sahut Valko dengan santai. Astaga, Valko menyelidiki sampai sedetail itu? Tunggu, tapi mengapa dia tak tahu tentang Kak Vio? 😯
"Jika kau sudah menyelidiki latar belakangku, mengapa kau tak tahu tentang hubunganku dan Kak Vio?"
"Aku hanya menyelidiki latar belakang hidupmu beberapa bulan sebelum kita menikah, Zeta. Mana aku tahu jika di masa lalu kau punya hubungan dengan Kak Vio."
Valko beranjak bangkit. Dia mengambil sesuatu dari dalam kulkas. Kenapa aku baru sadar ya jika di dalam sini ada kulkas berwarna pink? Valko nampak menggenggam sebuah cup minuman yang familiar bagiku. Tunggu, itu kan Thai Tea favoritku. Itu Thai Tea yang juga ada di dekat kampusku.
"Ternyata lidahmu punya selera yang bagus, Zeta. Aku juga suka rasa Thai Tea ini," sahut Valko sambil menyedot Thai Tea dari cup itu. Aku sudah lama tak minum Thai Tea itu. Kutatap Thai Tea itu seperti melihat harta karun yang hilang. "Ehm...rasanya enak sekali. Rasanya aku tak bisa berhenti meminumnya...." Valko sepertinya sengaja memamerkan minuman itu. Nampaknya dia tahu jika aku sudah lama tidak meminum Thai Tea itu.
"Hubby...." panggilku manja. "Ehm...bolehkan aku mencicipinya?" aku tersenyum ke arah Valko.
"Thai Tea ini enak sekali. Aku susah payah meminta May untuk membelikannya. Ini minuman yang berharga," Valko justru menyedot minuman itu semakin cepat. "Ah! Segar sekali! Enaknya!" ucap Valko. Kurasa dia sengaja memprovokasiku.
__ADS_1
"Sudahlah, lupakan!" aku membuang muka.
SRUT! SRUT! Sial! Valko justru menyedot Thai Tea itu dengan keras hingga bersuara.
"Ah! Rasanya enak sekali!" Valko mendekat ke arahku. "Masih separuh, kau yakin tak mau?"
"Tidak, aku tak haus!" ucapku sambil membuang muka.
"Ya sudah, padahal ini enak sekali," Valko melanjutkan meminum Thai Tea itu. Kenapa sih minuman berwarna oranye itu seakan-akan memanggilku untuk meminumnya. "Aku belum puas! Oh ya, aku kan masih punya satu cup lagi!" Valko membuka pintu kulkas itu lagi. Nampak satu cup Thai Tea yang masih utuh.
"Valko...." aku tak bisa menahan diriku lagi dari godaan Thai Tea itu. Tenggorokanku berasa kering seakan-akan sangat ingin meminum Thai Tea itu. "Hubby, bolehkah cup yang itu ehm...untukku...? Taeyang haus....."
"Katamu kau tidak mau, ini minuman yang enak," Valko menyedot minuman Thai Tea itu. "Ah! Rasanya segar sekali! Oh ya, ini kan Thai Tea yang amat laris. Jam segini pasti sudah habis."
Mata Valko berkilau licik. Sial! Kurasa dia sengaja menjahiliku. Tapi, aku ingin meminum Thai Tea itu. Aku sudah lama tidak meminumnya.
"Kau benar-benar ingin minum ini?" Valko mengarahkan cup Thai Tea itu ke hadapanku.
"Iya, Hubby...." sahutku. Mataku tak bisa kukendalikan. Cup Thai Tea itu seakan-akan seperti harta karun yang amat berharga.
"Kalau begitu ini!" Valko menyerahkan Thai Tea itu ke arahku. Aku hendak memegang cup Thai Tea itu. "Eits, tidak semudah itu! Sebelum itu!" Valko menunjuk ke arah bibirnya.
Astaga, Valko! Untuk satu cup Thai Tea aku harus menciummu terlebih dahulu? Sudahlah, lakukan saja. Kucium bibir Valko. Mataku terpejam saat melakukannya.
"Sudah! Aku sudah melakukan perintahmu," celetukku. "Sekarang, berikan...." aku meminta Thai Tea itu.
SRUT!!! Tiba-tiba saja Valko sudah menyedot habis Thai Tea itu.
"Ah! Segarnya!" ucap Valko. Thai Tea-ku! 😭
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍