
Valko, jika kau yang jadi instrukturnya, aku tak keberatan! 😍 Valko berdiri dan menghadap ke arahku. Dia memegang pipi kananku. Matanya menatap mataku.
"Kuharap kau tak keberatan untuk olahraga bersamaku setiap weekend, Zeta. Kuharap kau tak kecewa, mungkin ini di luar ekspektasimu. Aku tak mengajakmu pergi ke tempat yang mungkin dianggap romantis tapi justru ke tempat gym. Aku mengajakmu kemari karena aku sayang padamu," Valko mencium dahiku. Oh Valko, aku sama sekali tak keberatan. Hatiku berasa hangat sekarang! 😍
"Ini salah satu usaha yang bisa kulakukan untuk menjagamu, Zeta. Ini usahaku untuk menjaga kesehatan kita. Aku berusaha agar kita bisa menua bersama. Kuharap kau bisa selalu ada di sampingku. Harta dan tahta seolah tak berharga jika kau tak bersamaku," Valko memelukku. Oh, Valko, kau membuatku berasa melayang. Kenapa sih mulutmu manis sekali! 😍 "Sudah, sekarang ayo kita mulai olahraga!" ucap Valko sambil melepaskan pelukannya dari tubuhku.
Di ruang gym ini ada cermin yang menempel di dinding. Diriku dan Valko nampak di cermin itu. Di sudut ruangan ada alat pemutar musik berupa speaker. Valko mendekat ke arah speaker itu. Tangannya sibuk mengutak atik alat itu.
Ah, Valko kenapa sih kau terlihat makin memesona. Entah mengapa aku ingin mengambil foto Valko. Kukeluarkan smartphone dari saku celana training-ku. Kok aku deg-degan, sih?😶 Dia kan suamiku. Jika aku memotretnya tak masalah, kan? Foto diam-diam aja, ah! 😆 Kutekan tombol pada smartphone itu. Sial! Flash-nya menyala! 😣
"Apa yang kau lakukan, Zeta?" Valko mendekat ke arahku. Sial! Aku ketahuan! 😣
"Ehm...aku...aku...." aku harus menjawab apa. Valko mengambil smartphone dari tanganku. Duh, kameranya belum kututup.
"Oh, kau ingin memotretku rupanya. Padahal kau bisa melihatku setiap hari, tapi rupanya itu belum memuaskanmu, ya. Sampai-sampai harus memotret diam-diam. Rupanya kau sangat terpesona padaku ya, Sayang," Valko mencolek daguku. Ih, apaan sih! Aku jadi tambah deg-degan.
"Tak usah malu-malu kucing. Sini, bilang saja jika kau ingin foto!" Valko mengangkat smartphone itu ke atas. Pada layar smartphone itu nampak kamera depan. Valko membuatku bersandar di dadanya. Ah, aku jadi deg-degan.
"Lihat ke atas, Zeta!" ucap Valko. Dia mencium pipiku tepat saat kamera itu menangkap gambar. Valko melepas pelukannya, dia mengarahkan smartphone itu ke arahnya. Astaga, Valko rupanya kau narsis juga ya. "Ini, aku sudah memberimu foto diriku yang memesona ini!" Valko mengembalikan smartphone itu padaku. Astaga, dia mengambil banyak sekali foto. Bikin penuh memori saja, tapi ehm...aku tak keberatan kok! 😍
"Sudah, ayo kita mulai senam!" ucap Valko.
Musik bernuansa enerjik yang diputar dengan suara keras mulai terdengar. Valko mulai mempimpin gerakan senam. Dia bergerak lincah sekali. Gerakannya seperti instruktur senam profesional.
__ADS_1
"Satu...dua...tiga...." ucap Valko sambil memimpin gerakan. "Semangat, Zeta!" ucap Valko.
Mataku amat betah menatap ke arah Valko. Dia terlihat cool dan makin memesona saat memperagakan gerakan senam. Hihihi, kurasa mataku mendapat banyak asupan pemandangan yang indah sekarang. Ini amat menyenangkan. Tempo musik mulai semakin cepat. Gerakan yang diperagakan Valko semakin lincah dan cepat. Mataku seakan tak berkedip dan terus mengarah ke arah Valko. Dia semakin nampak memesona. Kuikuti gerakan Valko sebisaku.
"AAA!!!" teriakku. BRUK!!! Tiba-tiba saja aku terjatuh. Tubuhku tertelungkup di lantai.
"Zeta!" teriak Valko. "Kau kenapa?" dia langsung menggendong tubuhku. Valko duduk di sudut ruangan. Aku ada di pangkuannya sekarang. "Apa yang terjadi padamu? Bagian mana yang sakit?" ucap Valko dengan panik. Dia meneliti seluruh bagian tubuhku. "Ayo, kita ke rumah sakit!" ucap Valko.
"Tak perlu!" sahutku. "Aku baik-baik saja. Tak perlu ke rumah sakit, Hubby," ucapku lagi.
"Tapi, kau tadi jatuh hingga menimbulkan suara keras. Bagaimana kau bisa jatuh?" tanya Valko. Duh, bagaimana nih. Aku kan jatuh karena tali sepatuku sebelah kanan lepas. Hal itu tak kusadari karena terlalu fokus menatap Valko.
"Ehm...ta...li se...patuku...le...pas...." sahutku.
"Bukan itu...ehm...." sahutku.
"Lalu, kenapa kau bisa jatuh? Apa yang kau pikirkan, hah? Apa ada masalah yang sebenarnya membebanimu?"
"Tidak! Aku tak ada masalah, Valko...."
"Lalu, apa? Cepat, katakan padaku, Zeta...." desak Valko.
"Aku jatuh karena kau...." sahutku lirih. Aku tak berani menatap ke arah Valko.
__ADS_1
"Hah, karenaku? Apa maksudmu?" tanya Valko lagi. "Kau tak suka olahraga bersamaku? Apa aku terlalu membebanimu?"
"Tidak! Tidak! Aku suka kau ajak olahraga...."
"Kau tak suka tempat ini?" tanya Valko lagi.
"Bukan! Bukan!" sahutku lagi.
"Lalu, apa? Jangan berbelit-belit, Zeta. Cepat katakan!" desak Valko. Valko menatapku tajam.
"Ehm...karena...." ucapku ragu. Jika aku mengatakan ini memalukan tidak, sih? 😣
"Cepat, jawab! Zeta! Jangan bungkam!" desak Valko lagi.
"Kau terlalu memesona hingga aku tak bisa berkedip agar bisa menatapmu terus-menerus, Valko!" ucapku kencang.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍