Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 127 - Yacht


__ADS_3

Mobil ini terus berjalan menyusuri jalanan tepi pantai. Lautan yang biru yang indah dan memesona nampak dari jendela mobil. Seperti biasanya, Valko berbaring di pangkuanku. Dia tidak tertidur kali ini, matanya sibuk menperhatikan layar smartphone. Aku bersyukur dia sudah melupakan masalah tadi.


Mobil terus melaju. Valko masih saja sibuk bermain smartphone. Apa dia sebenarnya masih marah padaku? Aku tak suka didiamkan seperti ini. Mungkin aku terlalu overthinking. Bisa saja dia sibuk membalas chat dari rekan bisnisnya. Mobil terus melaju, nampak sebuah dermaga di tepi pantai. Ada banyak kapal pesiar berwarna putih di sana. Astaga, itu kan Luxury Yacht. Itu kapal pesiar mewah yang sering kulihat di vlog-vlog artis.


"Wow!" ucapku takjub. Kepalaku semakin menempel di dekat kaca jendela mobil. Mataku seolah tak bisa berkedip mengamati kapal-kapal itu.


"Sepertinya sudah sampai," terdengar suara Valko.


"Heh?" ucapku sambil menatap ke arah Valko. Valko nampak berbalik menatapku. Dia menyimpan smartphone-nya di saku jasnya.


"Jika terdengar suara kekagumanmu itu pertanda sudah sampai di dermaga," ucap Valko.


Mobil ini berhenti tak jauh dari dermaga. Pintu mobil dibukakan dari arah luar. Valko segera bangun dan berdiri. Kacamata hitam dipakainya. Dia lalu mengulurkan tangan kanannya kepadaku dari arah luar. Hihihi, aku suka diperlakukan seperti ini.

__ADS_1


"Kapal sudah siap berlayar, Tuan," lapor Sekretaris May.


"Ehm," sahut Valko singkat.


Valko menggandengku berjalan ke arah dermaga. Nampak suatu kapal pesiar berwarna putih. Kapal itu sepertinya memiliki dua tingkatan. Astaga, mimpi apa ya aku semalam. Bisa diajak naik kapal pesiar mewah seperti ini.


"Selamat datang, Tuan," nampak seorang pria berpakaian jas rapi menyambutku dan Valko. "Kapal sudah siap berlayar, Tuan," ucap pria itu lagi. "Silahkan," pria itu menuntunku dan Valko masuk ke dalam kapal.


"Wow! Kapalnya indah sekali!" ucapku takjub. Semakin mendekat, kapal itu nampak semakin terlihat megah. "Masuknya sebelah mana?" ucapku sambil menghentikan langkahku.


Rupanya pintu masuknya dari sebelah belakang kapal. Ada tangga menuju ke arah ruangan kapal. Saat memasuki kapal itu, mataku langsung takjub.


Nampak sebuah ruangan yang nampak mewah. Ruangan itu bernuansa putih. Di bagian depan nampak dua orang nakhoda yang sudah siap menjalankan kapal. Di belakang ruang nakhoda itu ada terdapat tempat duduk. Tempat duduk itu berupa sofa-sofa berwarna putih yang saling berhadapan.

__ADS_1


"Wow!" ucapku takjub. Aku langsung melangkah menuju ke arah ruang nakhoda itu.


"Nona," ucap dua orang nakhoda itu. Mereka langsung menunduk saat aku mendekat. Keduanya tak berani menatapku. Aku tak mempedulikan hal itu. Rasa penasaran yang lebih besar membuatku cuek.


"Wah, canggih sekali!" mataku terkagum-kagum saat melihat kemudi serta berbagai macam tombol yang ada di ruang kemudi itu. "Wah, pemandangan di depan sana nampak dari sini," kuarahkan pandanganku ke arah kaca jendela di bagian depan ruang kemudi itu.


"Ah," tangan kananku terasa ditarik secara mendadak. Ternyata itu Valko. Dia menarik tanganku.


"Zeta! Ayo, duduk! Biarkan mereka menjalankan tugasnya!" ucap Valko.


"Wah, ada dapur kecil juga, ya!" langkahku terhenti.


Ternyata di ruangan itu selain terdapat ruang kemudi kapal juga terdapat semacam dapur kecil. Dapur kecil itu dilengkapi dengan kulkas, penggorengan, wastafel, kompor listrik dan juga oven. Seorang pria lengkap dengan seragam khas koki nampak siaga di dapur itu.

__ADS_1


"Ayo duduk, Zeta!" Valko menarik tanganku lagi. "Berangkat sekarang!" perintah Valko.


__ADS_2