
"AAAA!!!!" terdengar teriakan. "BAGAIMANA BISA KAU DI SINI?" saat kubuka mataku, nampak Valko menangis histeris. Dia terus menyentuh nisan bertuliskan nama sahabatku. Astaga, apa yang terjadi? Mengapa Valko menangis histeris saat melihat makam sahabatku? 😯 Aku bingung dengan apa yang terjadi. Valko terus menangis histeris. Apa dia mengenal sahabatku? Dia terlihat sangat sedih dan terpukul. Kepalanya bahkan sampai bersandar pada batu nisan yang tertulis nama sahabatku.
"Tu...an...." kusentuh bahunya. Kupanggil dia dengan lembut. Apa yang harus kukatakan? Situasi ini aneh dan membingungkan. "Ehm...tenanglah, Tuan..." ucapku lembut. Valko nampak berusaha mengendalikan dirinya.
"Apa hubunganmu dengan Viorella, Tupai?" ucapnya lirih sambil membelai nisan sahabatku.
"Dia sahabatku, Tuan. Ehm...dia sudah kuanggap kakakku sendiri," kujawab pertanyaan Valko. "Kak Vio meninggal beberapa tahun yang lalu karena terserang kanker...."
"Kanker?" Valko mencengkeram bahuku. Matanya nampak melotot. "Vio terkena kanker?"
"Tuan, apa hubunganmu dengan Kak Vio? Tuan mengenal Kak Vio?"
"Aku kekasihnya...."
"Ke...ka...sih?" kali ini giliranku yang tertegun.
Tidak mungkin, tidak mungkin Kak Vio memiliki kekasih seperti Valko. Dari cerita Kak Vio, kekasih Kak Vio itu lembut dan baik meski aku belum pernah melihat wajahnya. Tunggu, mungkin saja ini hanya kesamaan nama saja. Jika Valko bisa menemukan kekasihnya yang juga bernama Viorella dan mereka bisa bersatu maka itu akan menjadi kesempatan bagiku untuk bebas. Lebih baik kutunjukkan foto Kak Vio pada Valko. "Tuan, tenanglah. Bisa saja ini hanya kesamaan nama saja...."
"Aku tak bodoh, Tupai. Tanggal lahir sabahatmu sama dengan tanggal lahir Viorella, kekasihku."
"Ehm...Tupai ini masih memiliki foto Kak Vio. Tuan bisa melihatnya untuk memastikannya terlebih dahulu," kubuka smartphone-ku lalu kubuka galeri fotoku. Kucari foto Kak Vio saat dia masih memiliki rambut. "Ini foto Kak Vio yang kumaksud, Tuan...." kutunjukkan foto itu kepada Valko.
"Ini...." Valko terlihat tertegun. BRAK!!! Smartphone-ku terjatuh. BRUK!!!
"Valko!" teriakku spontan. "Valko! Valko!" segera kuangkat kepalanya. Astaga, dia pingsan. Itu berarti kemungkinan besar Viorella yang kami maksud sama. Kenapa takdir bisa bersinggungan seperti ini? Sekarang aku menjadi istri dari kekasih sahabatku sendiri. "Valko! Valko!" dia tak juga sadar. Segera kutelepon Sekretaris May. "Pak May, cepat kemari! Tuan Valko pingsan!" teriakku panik.
"Tuan Valko!" terdengar teriakan panik. "Astaga, apa yang terjadi, Nona? Bagaimana Tuan Valko bisa pingsan?" tanya Sekretaris May. Dia datang diikuti beberapa pengawal.
"Ceritanya panjang. Cepat tolong dia!" sahutku panik. Pengawal itu segera menngangkat tubuh Valko. Tubuh Valko diangkat keluar dari area pemakaman. Aku mengikuti dari belakang. Ambulan? Sejak kapan ada ambulan di sini? Pasti Sekretaris May yang memanggil ambulan ini. Tubuh Valko dimasukkan dalam ambulan itu. Aku turut masuk ke sana bersama Sekretaris May.
"Cepat! Pergi ke rumah sakit!" teriak Sekretaris May.
__ADS_1
Rumah sakit? Ehm...bukankah itu berlebihan. Valko hanya pingsan saja, tak terluka parah. Tak berselang lama, mobil berhenti. Kurasa sudah sampai di rumah sakit. Astaga, banyak dokter dan perawat langsung mengelilingi Valko setelah dikeluarkan dari ambulans. Dia seperti korban kecelakaan parah saja. Aku hanya mengikuti di belakang dengan tenang. Untuk apa panik? Valko hanya pingsan saja.
"Mari, Nona!" ajak Sekretaris May, kuikuti dia dengan santuy. Astaga, ini terlalu berlebihan. Valko dibawa ke sebuah ruang perawatan VIP. Beberapa dokter berjaga di sana. "Bagaimana keadaan Tuan Muda?"
"Kami masih melakukan observasi pada kondisinya. Tenang, Sekretaris May, kami sudah memberikan perawatan padanya. Jika ada apa-apa panggil kami kembali," ucap salah seorang dokter itu. Para dokter keluar dari ruangan ini. Kurasa mereka tak ingin mengecewakan usaha Sekretaris May.
"Tolong jaga Tuan Muda, Nona. Saya undur diri terlebih dahulu," Sekretaris May berlalu pergi.
Astaga, Valko! Kau hanya pingsan saja. Mengapa kepalamu sampai diperban seperti korban tabrak lari. Bajunya juga sudah diganti dengan baju pasien warna hijau tua. Sudahlah lebih baik kutunggui Valko sambil bermain game.
"Ehm..." terdengar suara yang familiar di telingaku. Mata itu mulai terbuka sedikit demi sedikit.
"Tuan, Anda sudah sadar?" tanyaku lirih.
"Dimana aku?" Valko berusaha duduk di ranjang. "Dimana ini?" ia menatap ke arahku.
"Ini di rumah sakit, Tuan. Anda pingsan tadi...ehm...Sekretaris May membawa Anda kemari," aku agak bingung apa yang harus kulakukan. Kejadian ini sungguh kebetulan yang aneh. Mata Valko nampak sangat terpukul. Raut wajah kesedihan sangat jelas terpencar, aura angkuh dan sombong yang biasa terlihat seolah padam. Aku jadi merasa simpati padanya. "Tu...an...." kusentuh bahunya sambil duduk di tepi ranjang itu. "TUAN!" dia langsung menarikku untuk berbaring. Tubuhku dipeluk dengan sangat erat. Kepalanya seakan disembunyikan di dekapanku. Kurasa dia menangis karena syok. "Jika kau ingin menangis, menangislah, Valko!" ucapku lirih. "Aku ada di sini menemanimu!"
"Tenanglah, Valko...." ucapku lirih. "Kak Vio memang sengaja bersembunyi. Dia tak ingin Pangeran Bulan sedih karena melihatnya sakit...." kuceritakan yang kuketahui.
"Pangeran Bulan?" Serigala ini tertegun. Dia menatapku tajam. "Bagaimana kau bisa memgetahuinya, Tupai? Sejauh mana kau kenal Vio?"
"Mamaku dan ibu Kak Vio adalah sahabat dekat. Aku dan Kak Vio kenal sejak kecil, kami akrab seperti kakak beradik. Aku biasa dipanggil Via oleh Kak Vio. Kami seperti anak kembar Vio dan Via..."
"Kau Via, Putri Pohon itu?" aku menggangguk. "Via sering bercerita jika dia memiliki sahabat dekat seperti saudara bernama Via, Si Putri Pohon. Sahabat kecil itu sudah dianggapnya sebagai adik."
"Itu julukan dari Kak Vio karena hobi anehku yang suka memanjat pohon. Aku dan Kak Vio semakin dekat lagi saat Kak Vio terserang kanker. Kak Vio dan mamanya sengaja pindah rumah untuk menenangkan diri. Rumahnya ada di desa yang jauh di atas bukit. Saat perlu kontrol ke rumah sakit, Kak Vio dan mamanya pergi ke kota. Mamaku adalah salah satu dokter yang menangani Kak Vio. Aku sering ikut Mama mengunjungi Kak Vio untuk menghibur dan menjenguknya ketika di dia sedang rumah. Kak Vio hanya selisih satu tahun lebih muda darimu kan? Kalian seangkatan ketika kuliah dulu. Disela-sela kunjunganku, dia sering bercerita tentang kekasihnya yang tampan seperti bulan. Selalu penuh senyum bersinar seperti cahaya rembulan. Kekasihnya dijuluki Pangeran Bulan dan Kak Vio adalah Putri Bintang. Kak Vio sebenarnya kecewa karna Pangeran Bulan menghilang tanpa pamit...."
"Aku memang pria yang kejam...." aduh, aku salah bicara nih. Valko malah menangis lagi.
"Jangan menyalahkan dirimu terus-menerus, Valko. Kak Vio memang sedikit kecewa tapi dia juga bersyukur dan bahagia karena di saat terakhirnya Sang Pangeran tak perlu bersedih saat melihatnya pergi dari dunia ini..." kuhapus air mata Valko.
__ADS_1
"Kemana kekuarganya Vio? Kenapa aku tak bisa melacaknya hingga sekarang?"
"Mama Kak Vio meninggal beberapa bulan kemudian setelah Kak Vio meningal, Valko. Makam Kak Vio dan Mamanya dirawat oleh Mamaku. Setiap ulang tahun Kak Vio aku selalu mengirim doa untuknya dan mamanya. Kak Vio suka dengan bunga lavender dan marah merah. Warna kesukaannya ungu lavender. Dia bilang...." aku mulai menangis. "Dia...bilang...padaku...jangan pernah lupakan Kakak Via. Jika kakak ulang tahun jangan lupa kunjungi makan kakak ya...pakai baju ungu lavender...warna baju kembar kesukaan kita dulu..." kurasa kini giliranku yang menitikkan air mata karena teringat kenangan itu. Aku berusaha mengendalikan diriku agar tak menangis berlebihan.
"Aku ingin pulang ke rumahmu, Tupai. Ayo kita pulang," sahut Valko lirih. Aku hanya menggangguk. Selama perjalanan pulang, Valko diam saja. Tatapannya kosong. Dia berbaring di pangkuanku sambil terus memandangi jendela. Sesampainya di rumah, dia langsung menarikku menuju kamar. Dia memelukku dengan erat dan bersembunyi di dekapanku lagi. Kurasa dia memang benar-benar Pangeran Bulan Kak Vio.
***
"Tuan..." panggilku lagi. Dia sudah dua hari ini menolak makan. Valko tak berbicara apa pun, dia hanya menangis sambil memelukku hingga tertidur. Saat dia tidur aku selalu pergi untuk makan dan mandi. "Tuan, ayo makanlah sesuatu...." bujukku. Dia benar-benar tak makan dan mandi selama dua hari ini. Makanlah sesuatu...ya...." kucoba menyuapkan roti ke mulutnya. Aku tak tahu apa yang di pikirannya. Tapi tatapannya aneh, dia seperti memandangku dengan tatapan yang berbeda. "Ayo makan, Tuan..." suapanku diterima. Dia tetap memandangiku. Aku masih saja berbaring sambil menyuapinya. Weekend teraneh dalam hidupku. Ternyata aku adalah istri dari kekasih sahabatku sendiri. Apa yang bisa kulakukan? Kadang memang dunia ini sempit, mungkin sesempit butiran debu.
"Zeta..." panggil Valko. Jujur, aku masih kaget jika dia memanggilku dengan namaku.
"Iya, Tuan...." jawabku sambil menahan suapanku.
"Apa kau menyukaiku?" tanyanya lirih. WHAT? Apa maksud dari pertanyaannya? 😦
"Apa maksud, Tuan? Bukankah kita sudah menikah?" aku tak bisa menjawab jika sebenarnya aku membencinya dan ingin lepas darinya.
"Vio sudah tiada, aku tak bisa terus terjebak masa lalu. Aku ingin melanjutkan hidupku," ia menatapku. "Jawab aku, Zeta. Bagaimana jika aku ingin memilikimu seutuhnya?" tanyanya lirih. Matanya menatapku dalam.
Astaga, ini tak pernah kupikirkan sebelumnya. Apa maksud perkataanmu, Valko? Bagaimana aku harus menjawabmu? 😣
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1