
Mobil ini terus melaju menembus jalanan yang sedang dilanda hujan gerimis. Dua mobil di depan dan belakaang mobil ini terus mengawal dengan setia. Valko seperti biasa, dia tertidur dengan kepala menyandar di pangkuanku. Matanya terpejam seolah tanpa beban. Aku tetap saja merasa dia lebih manis saat tertidur seperti ini. Tangan kananku membelai rambut panjang Valko yang terurai. Di dalam hidupku aku ta pernah menyangka akan dijodohkan dengan makhluk yang hobi tidur seperti ini. Tapi, biarlah dia tidur. Itu akan membuatku bisa memiliki me time sejenak.
"Kita sudah sampai, Tuan," ucap Sekretaris May. Valko tak menyahut, dia kurasa benar-benar tertidur pulas.
"Biar aku yang membangunkannya, Pak May," sahutku. "Anda dan Pak Sopir keluar saja." Sekretaris May dan Pak Sopir keluar dari mobil.
Hihihi, aku sedang tak ingin bersikap baik padanya. Sedikit jahil sesekali boleh kan 😆. Kuguncang-guncangkan kakiku sekeras mungkin.
"VALKO! BANGUN! BANGUN! VALKO! BANGUN! ADA KEBAKARAN! KEBAKARAN!" teriakku kencang sambil menggerak-gerakkan kakiku. "KEBAKARAN, VALKO! KEBAKARAN! CEPAT, BANGUN!" teriakku kencang.
"HAH! MANA! MANA?!" Valko langsung bangun seketika. Dia membuka matanya yang masih terlihat memerah. Pandangannya masih bingung, dia melirik ke segala arah.
"Pfft!" aku berusaha menahan tawaku. "Hahaha!" tawaku akhirnya tak bisa kubendung. Melakukan prank pada Valko ternyata menyenangkan.
"TUPAI!" teriak Valko kencang.
"Ampun! Ampun! Hentikan!" Valko menggelitiki perutku. Tubuhku pasrah terbaring di atas kursi. "Hentikan!
"Rasakan ini!" Valko melepaskan kedua sepatuku. "AH! AH! AMPUN!" teriakku kencang. Telapak kakiku digelitiki tanpa ampun. Napasku terengah-engah akhirnya gelitikan itu berhenti.
"Cepat keluar!" ucap Valko sambil membenahi kunciran rambutnya serta merapikan pakaiannya. Dia sudah keluar dari dalam mobil.
Aku pun membenahi rambutku serta memakai kembali sepatuku. Tak lupa kubawa tas selempangku. Saat aku keluar dari mobil, nampak suatu bangunan megah berwarna putih. Nampak pemandangan pengunjung yang ramai ada di dalam sana, itu terlihat dari pintu dan jendela kaca yang bening itu. Ada banyak sofa berwarna coklat muda tertata rapi di dalam sana. Kurasa ini sejenis cafe.
Astaga, jiwa missqueen-ku meronta. Di tempat parkir cafe ini nampak berbagai mobil mewah yang harganya selangit. Berarti teman-teman Valko juga orang kaya raya nih. Valko berjalan dengan santai di depanku.
"Silahkan Tuan," seorang pegawai restoran berseragam merah membukakan pintu kaca itu.
"Ehm...." sahut Valko.
Mata para pengunjung menatap ke arahku dan Valko. Duh, aku jadi canggung nih. Aku nggak kenal siapa pun di sini. Ada sebuah panggung kecil di tengah area ini. Di background panggung itu ada tulisan 'Reuni Kelas Manajemen B Universitas XYZ Angkatan 20XX'.
"Hey, Valko!" panggil seseorang. Nampak seorang pria jangkung berjas abu-abu. Dia juga berambut panjang sebahu.
"Baik, Bro!" Valko langsung memeluk dan menyalami orang itu.
"Hey, Bro!" sapa seorang pria lagi. Dia memakai jas warna coklat dipadukan dengan celana jeans warna biru dongker. Rambutnya juga panjang terkuncir di belakang. Apa dua orang ini teman segeng Valko hingga sekarang? 😮 Gaya rambut mereka nampak mirip.
"Hey, Bro!" Valko menyalami orang berjas coklat itu.
"Lama nggak ketemu, Bro!" ucap pria berjas abu-abu itu. "Wah, mainan baru, ya?" celetuk orang itu. Mainan? Aku ini istri Valko, tahu! 😡
"Aku...." Valko menahan saat aku hendak berbicara. Dia memberi isyarat lewat tatapan matanya.
"Dia bukan mainanku, Kawan. Dia istriku, namanya Zeta Belvia Nugraha. Kau bisa memanggilnya Tata atau Zeta...." ucap Valko.
"ISTRI?" teriak kedua orang ini. Mereka saling berpandangan.
"Loe beneran udah married?" ucap pria berjas coklat itu. Matanya melotot karena terkejut.
"KAPAN, BRO?!" pria berjas abu-abu itu mengguncang-guncang tubuh Valko. "Kok loe nggak ngasih kabar, sih? Tega banget loe, Bro! Loe anggap gue dan Tyo apaan? Katanya kita udah loe anggap saudara sendiri! Loe married nggak ngasih kabar kita?!" ucap pria berjas abu-abu lagi. Oh, jadi pria berjas coklat itu namanya Tyo.
"Maaf, Bro...." ucap Valko sambil memegangi bahu pria berjas abu-abu ini. "Ceritanya panjang banget. Ini menyangkut masalah keluarga gue. Gue harap loe dan Ricko mengerti," sahut Valko lirih. Oh jadi, pria berjas abu-abu ini namanya Ricko.
"Terus Vio gimana? Bukannya cinta loe cuma buat Vio!" ucap pria bernama Tyo itu.
"Vio sudah meninggal...." ucap Valko lirih. Raut wajahnya persis sama seperti waktu di makam itu.
"Apa? Vio udah meninggal?!" teriak Tyo dan Ricko bersamaan.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" tanya Tyo.
"Kapan Vio meninggal?" tanya Ricko. Vallko tiba-tiba menarik pinggangku. Kepalanya dengan manja bersandar di bahu kananku.
"Zeta, bisa kau menceritakan kisah itu kepada kedua sahabatku...." ucap Valko lirih. "Aku belum sempat mengabari keduanya tentang apa yang terjadi selama ini...." nada bicara Valko nampak menyimpan raut wajah kesedihan. Dia benar-benar bersandar di bahu kananku. Valko, kau benar-benar merasa sesak, ya? Tatapan matanya nampak menahan rasa duka yang mungkin terbuka kembali.
"Tentu...." ucapku sambil membelai kepala Valko.
"Ayo, duduk di sini...." ajak Tyo. Aku, Valko dan dua orang itu duduk di sofa yang saling berhadapan.
"Jadi, ceritanya...," aku pun mulai menceritakan segala hal yang kuketahui.
Valko hanya diam saja, dia terus memeluk erat pinggangku. Wajahnya bersembunyi di belakang bahuku. Kurasa dia menahan rasa duka yang kembali terbuka itu.
"Ehm...begitulah ceritanya....." ucapku dengan canggung.
"Itu ceritaku, Bro!" terdengar suara Valko. "Mulai sekarang tolong jangan bahas tentang Vio lagi. Dia sudah tenang di sisi Sang Pencipta...." Valko bangkit dan kembali duduk tegak.
"Maaf, Bro...." ucap Tyo dan Ricko bersamaan.
"Gue nggak tahu kalo...." ucap Ricko. Dia terlihat ikut bersedih.
"Sudahlah, gue nggak mau bahas itu lagi!" sahut Valko. "Udah, karena gue nggak ngundang kalian waktu acara nikahan gue. Acara kali ini gue yang traktir deh!"
"Wah, asyik!" teriak Tyo. Mata para pengunjung menatap ke arah Tyo. "Gaes! Silahkan makan sepuasnya! Nanti Valko yang bayar!" teriak Tyo.
"Valko udah married, Gaes! Dia traktir buat ngerayain married-nya!" teriak Ricko.
"Ditraktir?" seru pengunjung yang kurasa adalah teman-teman Valko.
"Ayo, pesan lagi! Ayo, pesan lagi!" mereka sibuk membuka-buka daftar menu.
"Acaranya udah dimulai daritadi. Gue kira loe nggak dateng!" sahut Ricko.
"Yang penting gue udah dateng kan!" jawab Valko santai. "Hey, ada meja billiard di pojokan sana!" Valko nampak menatap ke arah pojok ruangan. "Gue tantang loe maen billiard lagi kayak dulu!"
"Siapa takut!" celetuk Tyo dan Ricko bersamaan.
Valko dan kedua orang ini pun pergi menuju meja billiard itu. Valko mulai bermain dengan menyodok bola di area hijau itu dengan tongkat kayu yang panjang. Dia tertawa bersama kedua orang itu. Biarlah dia bersenang-senang.
"A...wa...a...wa....wa...." terdengar suara mendekat.
Ternyata ada seorang anak perempuan seusia balita. Dia nampak berjalan sambil sesekali meraba-raba. Tangannya meraba pinggiran sofa tempatku duduk. Anak perempuan ini lucu sekali dia memakai gaun pink dengan dua kunciran rambut.
"A...wa...a...wa...wa...." ucap anak ini. Dia baru belajar bicara kurasa.
"Adek, siapa namamu?" aku berjongkok di dekat anak ini.
"Sasa!" nampak seorang wanita mendekatinya. Dia menggendong anak kecil ini. Oh, jadi, nama anak ini Sasa.
"Syukurlah, akhirnya ketemu!" terdengar suara wanita lain lagi. Wanita yang ini memakai kacamata tebal berbentuk bulat.
"Makasih,ya. Udah jaga anak saya, Sasa," ucap perempuan yang kurasa ibu anak kecil itu.
"Iya, Sasa nggak mengganggu kok, Kak...." jawabku.
"Jangan panggil Kak, kenalin aku Vina," ucap ibu anak kecil itu. Dia mengulurkan tangannya padaku.
"Saya Zeta...." aku menjabat tangan orang ini.
__ADS_1
"Oh, Zeta. Nama yang bagus. Kenalin aku Hana," sahut wanita berkacamata itu. Dia bergantian mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menjabat tangan itu.
"Kalo boleh tahu kamu datang ke sini sama siapa?" tanya Vina.
"Saya ke sini dengan Valko...ehm...saya istrinya Valko...." ucapku lirih.
"Ya ampun, kamu istrinya Valko?" tanya Hana. Aku pun menggangguk.
"Akhirnya, kepala geng Vatyoko menikah juga!" celetuk Vina.
"Geng Vatyoko?" aku tertegun.
"Itu singkatan dari Valko, Tyo, Ricko!" sahut Hana.
"Ketiganya bisa dibilang tuan muda kaya yang banyak diincar di angkatan kami, Dek. Apalagi Valko, ehm...dia fansnya menumpuk-numpuk...." celetuk Vina. "Sapa sih yang nggak mau sama pria pinter, tajir dan ganteng kayak Valko. Banyak cewek yang nekat nembak dan deketin dia....."
"Termasuk loe, Vin....hahaha," celetuk Hana.
"Hush! Diam loe!" Vina terlihat salah tingkah. "Itu dulu! Gue udah move on tahu! Nih, gue udah nikah dan punya anak!"
"Oh ya, Dek Zeta, kamu ngalami teror nggak?" tanya Hana. Teror? Kok, dia tahu sih kalo aku pernah diteror.
"Hush! Han, jangan nakut-nakutin Zeta. Kasihan! lagian kan itu masa lalu!" sahut Vina.
Masa lalu? Apa maksudnya? 😮 Aku justru semakin penasaran.
"Apa maksudnya? Teror apa yang dimaksud?" tanyaku.
"Nggak usah dipikirin. Itu cuma gosip di masa lalu aja, kok. Jadi, dulu tuh gini....ehm...ada gosip yang bilang kalo pacarnya Valko yang kalo nggak salah namanya Vio sering kena teror nggak jelas gitu. Sampai sekarang nggak keungkap siapa pelakunya. Teror paling parah yang dialami Vio itu, dia pernah ditemuin kekunci di kamar mandi kampus. Katanya sih dia pingsan terus tahu-tahu waktu sadar tangan sama kakinya udah keiket. Dia kekunci di kamar mandi semaleman," ucap Vina.
Kenapa Kak Vio tak pernah menceritakan hal ini padaku, ya? 😮
"Itu bukan yang paling parah. Paling parah itu katanya Vio menghilang gara-gara kena penyakit kiriman dari si peneror itu...." celetuk Hana.
"Eh, iya, itu yang paling parah. Gosipnya sih Vio hilang soalnya kena penyakit aneh gitu...." celetuk Vina.
BRAK!!! Terdengar meja digebrak dengan keras. Suasana hening seketika. Jantungku rasanya terlempar keluar karena kaget.
"Hua! Hua!" anak kecil digendongan Vina menangis karena kaget kurasa.
"JANGAN PERNAH MENJELEK-JELEKKAN VIO!" teriak Valko.
BRAK!!! Tangan Valko menggebrak meja itu lagi.
"VIO SUDAH TENANG DI ALAM SANA! JANGAN PERNAH MENYEBARKAN GOSIP TENTANG DIA!" teriak Valko lagi. "JAGA MULUTMU ATAU KAU AKAN BERURUSAN DENGANKU!" Valko menunjuk ke arah Vina.
"Va...val...ko...." ucapku kaget.
Valko tiba-tiba saja menggandeng tangan kananku. Dia menyeretku keluar dari gedung ini. Wajahnya nampak sangat murka.
Pertanyaan kembali muncul di pikiranku. Apakah peneror yang menerorku dan meneror Kak Vio adalah orang yang sama? Kenapa Kak Vio tak pernah menceritakan hal ini?
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍