
"Cepat masuk ke kamar mandi!" perintah Valko. Aku pun menurut saja, jangan sampai dia melihat tubuhku yang berharga. Aku takkan rela! "Siapkan air mandi untukku!" perintahnya. Aku akan mulai menyalakan air shower. BRUK!!! Pakaian berupa kemeja putih dan celana kain putih metalik dilemparka ke arahku. Aduh, jangan sampai mataku yang murni ini ternoda. Aku langsung memalingkan muka saat Valko akan memasuki bathtub. "Apa yang kau lihat, Tupai? Cepat nyalakan shower-nya!" teriaknya kencang.
"I...i...ya, Tuan...." aku segera menyalakan air mandi. Bagaimana ini? Aku tak mau mataku dan tubuhku yang berharga ternoda sekarang. "Ambilkan aku sabun dan shampo! Cepat!" ia melirikku dengan tatapan liciknya. "Setelah itu masuklah ke dalam bak, Tupai Kecil! Temani tuanmu ini mandi, aku akan berbaik hati membersihkan luka akibat penyakit kulit di tubuhmu!"
"Ba...ik...Tu...an..." jawabku lirih. Sesuatu ide terlintas di pikiranku. "AAAA!!!" teriakku kencang. "KECOA!!! KECOA!!! aku berpura-pura berteriak sehisteris mungkin. "AAAA!!!! KECOA!!!" aku pura-pura berlari dan...."AAA!!!" BRUK!!! GUBRAK!!! Aku pura-pura jatuh terpeleset.
"Apa yang terjadi?" terdengar suara Valko. "Tupai, bangun! Bangun Tupai!" Valko kurasa sudah mendekatiku. Suaranya terdengar sangat jelas. Aku takkan membuka mataku sampai dokter datang. "Sial! Gadis lemah! Sungguh merepotkan!" saat kuintip Valko nampak keluar dari kamar mandi. Dia sudah memakai bathrobe. Jangan panggil aku ratu akting kampus, jika hal seperti ini saja tak berhasil kulakukan. "Dasar merepotkan!" kurasakan tubuhku terangkat. Astaga, Valko menggendongku, aku tetap berpura-pura pingsan. Dia mengangkatku hingga ke atas ranjang. "May! May!" teriaknya kencang. Saat kuintip nampak Sekretaris May sudah datang bersama seorang dokter pria yang usianya sudah cukup uzur. Rambutnya sudah memutih seluruhnya.
"Tuan, ada apa?" Sekretaris May nampak panik.
"Suruh pelayan membersihkan kamar mandi! Jika perlu bongkar seluruh bagiannya! Tupai baru saja jatuh terpeset ketakutan karena kecoa!" kurasakan Valko duduk di tepi tempat tidur. "Dokter, cepat periksa Tupai Jelek ini!"
__ADS_1
"I...i...ya, Tuan..." jawab Dokter itu. Gawat, jika aku benar-benar diperiksa maka aku akan ketahuan. Zeta, segera laksanakan akting kedua! Perintahku pada diriku sendiri.
"Ehm...." aku berpura-pura sadar dengan membuka mata sedikit demi sedikit. "Tu...an...." ucapku lirih sambil berusaha bangkit. "Apa yang terjadi?" aku pura-pura bingung.
"Kau...." ucap Valko.
DRET!!! DRET!!! DRET!!! tiba-tiba ada panggilan telepon dari smartphone Valko. Aku tak mempedulikan panggila itu. Tapi, kurasa itu soal urusan kantor. "Bibi Ann!" teriak Valko kencang. Wanita tambun paruh baya dengan seragam maid segera masuk ke kamar. Kurasa dia salah satu pelayan di rumah ini.
"I...i...ya, Tuan..." jawabnya terlihat takut.
"Paham, Tuan!" jawab Bibi Ann.
__ADS_1
"Kau sudah memeriksa dan memberi obat untuk Si Tupai, Dokter?" tanya Valko sambil berkacak pinggang.
"Su...dah, Tuan," sahut Dokter itu. Valko bersama Dokter dan Sekretaris May pergi begitu saja. HAH!!! Aku menghela napas. Tak sia-sia aku mengikuti organisasi teater ketika di kampus. Akhirnya aku sudah terbebas sementara dari Valko, Si Serigala Playboy itu. Baru saja aku menghela napas lega....
"Nona, segeralah berdandan. Tuan Valko akan membawa Anda pergi!" Sekretaris May kembali memasuki kamarku. Astaga, mengapa Valko ingin mengajakku pergi? Apa yang ingin dia lakukan padaku? 😢
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍