Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episide 124 - Wahana....


__ADS_3

"Jadi dari mana kita akan mulai?" tanya Valko sambil menatap ke arah Pak Ari.


"Mari mulai dari wahana hiburan yang tersedia di hotel ini, Tuan," sahut Pak Ari.


Valko berjalan di depan bersama Pak Ari. Oh, jadi tugas yang diberikan oleh Kakek Fajar adalah meninjau hotel ini. Aku tidak mau mengganggu jadi lebih baik kuamati saja dari belakang. Hotel ini tetap saja membuatku takjub. Tak hanya bangunan luarnya saja yang megah tetapi bagian dalam juga tak berhenti membuat mataku terpana. Ukiran-ukiran yang ads di langit-langit hotel sangat indah. Aku berasa menabrak sesuatu.


"Aduh!" ucapku sambil memegangi dahiku. Ternyata aku menabrak punggung Valko. Baru beberapa langkah, ternyata Valko menghentikan langkahnya.


"Ck! Perhatikan langkahmu, Zeta. Baru saja aku lengah sedikit mengawasimu kau sudah menabrak sesuatu. Aku tahu jika kau terpesona padaku, Sayang. Tapi, tetaplah fokus, " ucap Valko dengan percaya diri.


Valko, kau terlalu percaya diri, tahu. Sudahlah, lupakan.


"May! Awasi, Zeta! Jangan sampai lepas dari pengawasanmu. Jika sampai dia terjatuh atau lecet sedikit saja. Kau akan menanggung akibatnya!" perintah Valko.


"Baik, Tuan," sahut Sekretaris May.


Valko memang berlebihan, tapi aku suka diperhatikan seperti ini. Valko kembali melangkah bersama Pak Ari.


"Mari, Nona," ajak Sekretaris May. Aku pun kembali melangkah.


"Ini area hiburan pertama yang tersedia, Tuan," terdengar suara Pak Ari.


Nampak sebuah taman bunga yang luas. Taman itu dipenuhi berbagai macam bunga yang indah. Terdapat juga banyak tanaman hijau yang rimbun. Di taman itu terdapat berbagai macam burung. Terdapat tulisan di pintu masuk taman itu. Tulisan itu berbunyi 'Parken Birds Park'.


"Wah, tamannya indah sekali!" ucapku takjub. Kakiku terus melangkah melewati jalan setapak yang terbuat dari campuran semen serta batu-batu berwarna putih.


"Selamat datang, Tuan," sapa seorang pria berpakaian seragam coklat. "Perkenalkan saya Rian, kepala pengelola taman ini."


"Ehm, baiklah. Tunjukkan padaku sisi-sisi menarik wahana hiburan ini, Rian," sahut Valko. Dia berjalan di depan sana ditemana oleh Pak Ari dan juga Pak Rian.

__ADS_1


"Pak May, burung-burungnya apakah sudah jinak?" tanyaku sambil menatap ke arah kumpulan burung di dekatku. Mereka nampak bertengger di dahan pohon buatan. Warnanya macam-macam, ada kuning, hijau muda hingga biru.


"Anda ingin menyentuh mereka, Nona?" tanya Pak May.


"Apakah boleh?" tanyaku balik.


"Tentu saja, Nona," sahut Pak May. Dia memanggil seorang wanita berpakaian serba coklat. Wanita itu mengambil sebuah Burung Lovebird berwarna kuning. Burung itu sangat imut.


"Silahkan, Nona," ucap wanita itu sambil menyerahkan burung kecil itu kepadaku.


"Ah, dia tak menggigit kan?" sahutku sambil mengulurkan tanganku.


"Tidak, Nona. Dia sudah jinak," sahut wanita itu.


Ada untungnya juga memakai pakaian lengan panjang. Burung kecil itu bisa bertengger di pergelangan tanganku. Aku tak perlu takut kaki burung itu bergesekan langsung dengan kulitku.


"Wah, dia lucu dan manis sekali!" ucapku sambil mencoba mengelus burung mungil itu. Burung mungil itu nampak tak keberatan saat kuelus kepalanya. "Pak May!" panggilku. "Tolong foto aku dengan Si Imut ini!" pintaku sambil menatap ke arah Sekretaris May.


"Kau," celetuk Sekretaris May sambil melambaikan tangan ke arah wanita itu. "Gantikan aku memotret Nona Zeta," perintahnya. "Maaf, Nona, saya ijin pergi ke kamar mandi," ucap Sekretaris May. Aku pun menggangguk.


"Ayo, lanjutkan fotonya!" pintaku sambil memasang gaya sedang mengelus burung kecil itu.


"Belvi!" terdengar panggilan seorang.


Nampak seorang pria berpakaian jas warna abu-abu datang ke arahku. Dia berkulit sawo matang, matanya sipit, hidungnya mancung. Dia bertubuh jangkung.


"Kamu Belvi kan?" ucap pria itu.


Panggilan itu tak asing, Belvi memang salah satu nama panggilanku. Belvi berasal dari kata Belvia. Tunggu, hanya ada satu orang yang menyebutku begitu. Belvi adalah panggilan dari mantan pacarku ketika kelas 2 SMA. Hubungan itu kandas di tengah jalan karena mantanku harus pindah keluar kota mengikuti orang tuanya.

__ADS_1


"Davin!" teriakku terkejut. "Kamu Davin, ya?" tanyaku balik.


"Iya, aku Davin. Wah, lama tak berjumpa!" ucap Davin. Dia mendekat ke arahku. "Aku nggak nyangka kita bisa ketemuan di tempat seperti ini. Kamu ngapain di sini, Bel? Oh, kamu baru jadi model buat promosi taman ini, ya? Aku dapat info kalau model yang lama cancel karena berhalangan. Tak kusangka model pengantinya itu kamu!" ucap Davin.


Astaga, dia benar-benar Davin. Kok dunia ini kecil sekali, sih.


"Ehm...sebenarnya...." aku sedang memikirkan kata-kata yang pas untuk menjelaskannya.


"Kamu memang model profesional. Sebelum aku datang melakukan tugasku, kamu sudah mencoba berpose dibantu karyawan di sini. Eh, ayo kita foto bareng," ucap Davin. Dia langsung merangkul leherku begitu saja.


"Vin, maaf. Aku nggak bisa," ucapku sambil berusaha melepaskan rangkulan Davin.


Astaga! Jik Valko tahu dia bisa mengamuk nih! 😣


"Ah, nggak papa. Nanti fotonya buat promosi bisa cepat kok. Ayo, kita foto bareng dulu! Kalo nanti fotonya takutnya jadi lupa," sahut Davin. Dia sudah merangkul leherku dengan erat. "Sudah, santai saja, Belvi!" ucap Davin. Dia mengarahkan layar smartphone-nya ke arahku dan dia. "Satu...dua...."


"LANCANG!!!" terdengar teriakan menakutkan.


Astaga! Kapan Valko ada di sini! Raut wajahnya nampak murka. Dia langsung menarik kerah baju Davin.


"BERANINYA KAU MENYENTUH ISTRIKU!" teriak Valko lagi.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Zeta dan Valko bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍


__ADS_2