
Apa ya kejutan yang disiapkan? Ini masih pagi jadi tak mungkin ada dinner romantis. Apa mungkin ini sarapan romantis? Tapi...tadi kan sudah sarapan. Aku mencium berbagai aroma yang wangi dari segala arah.
"Kau bisa membuka matamu sekarang!" perintah Valko, kubuka mataku.
"WOW!" aku sungguh kagum pada kejutannya.
Kami ada di tengah-tengah padang bunga warna-warni. Bunga itu nampak sangat indah. Kurasa ini padang bunga yang membentuk tulisan 'PARAMA GARDEN' itu. Di sini amat sepi, tak ada pengunjung lain yang datang kemari.
"Tuan, photographer sudah siap!" ucap Sekretaris May. Dia mendekat diikuti beberapa orang pria yang membawa kamera beresolusi tinggi dan peralatan foto lainnya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" aku heran. "Kau ingin berfoto di padang bunga ini...denganku?" aku mencoba menebak.
"Iya, aku ingin berfoto di sini bersamamu," ucap Valko.
"Tapi...kau sudah berfoto denganku saat pernikahan kita!" balasku. Dia ingin foto lagi? Bukankah itu agak ehm...menghamburkan waktu dan biaya.
"Aku ingin berfoto lagi. Foto waktu itu jelek dan tidak bagus untuk dipajang. Aku ingin foto di sini seperti orang tuaku. Aku ingin foto yang bagus dan menawan sehingga keren saat dipajang di rumah. Sudah, ayo kita mulai pemotretannya!"
Valko masih tetap menggendongku. Dia terus mengoceh tentang pose yang diinginkannya. Pose pertama adalah pose Valko sedang menggendongku. Aku hanya menurut saja.
"Valko, kau mau apa?" Valko sudah menempelkan bibirnya ke mulutku.
"Aku ingin foto yang romantis! Jadi, diamlah!" perintahnya.
__ADS_1
Astaga, dia ingin berpose menciumku sambil menggendongku. Valko! 😣 Ini di depan banyak orang, tahu! Ck! Dia tak hanya berpose tapi kurasa benar-benar melakukan ciuman padaku.
Valko terus memintaku berpose ini dan itu. Cium pipi, cium dahi, memeluk dari belakang, memeluk dari depan, memangkuku dan pose-pose lain yang menurutnya romantis. Jujur, aku lelah dan bosan, tapi saat melihat kegembiraan di mata dingin Valko ehm...aku jadi tak tega untuk merusaknya.
"Valko!" panggilku. "Ehm...aku ingin berpose...." aku sebenarnya ingin melakukan satu pose yang menurutku sangat romantis dan belum dilakukan.
"Kau ingin pose seperti apa?" tanya Valko. Aku membisikan ideku ke telinganya. "Baiklah, jika itu yang kau inginkan."
Seekor kuda putih yang pernah kutunggangi benar-benar dibawa kemari. Aku ingin mengukir kenangan dengan berpose di atas kuda ini sendirian. Hihihi, akhirnya impianku terwujud 😄. Aku selalu ingin difoto memakai gaun sambil naik seekor kuda putih seperti putri di negeri dongeng.
"Valko, ayo naik!" pintaku.
Entah mengapa aku ingin foto berdua dengan Valko di atas kuda putih ini. Aku pun foto bersama Valko, dia tetap saja agresif. Foto di atas kuda diambil berkali-kali juga. Cium pipi, cium bibir, cium dahi dan memeluk dari arah belakang, posenya sama seperti tadi.
"Valko, bukankah posenya sama? Kita sudah berfoto berulang kali...." ucapku lembut.
"Tapi, kan pemandangannya berbeda! Aku ingin di setiap sudut taman ini ada kenangan yang diambil. Dari kemarin, aku belum berfoto bersamamu," sahut Valko. Benar juga, dari kemarin aku belum sempat berfoto dengan Valko. Ya sudahlah, aku menurut saja. "Aku juga ingin foto di tempat lain!" ucap Valko.
"Baik, Tuan," sahut Sekretaris May.
Astaga, ini malah seperti foto untuk pre-wedding saja. Aku dan Valko berfoto di berbagai tempat yang pernah kami kunjungi beberapa hari ini. Mulai dari cat cafe, kandang kuda, pabrik pemerahan susu sapi, restoran tempat makan siang bahkan sampai ke helipad waktu itu. Beberapa kali riasanku sempat diperbarui atas perintah Valko. Padahal menurutku make up-nya masih bagus.
"Aku puas, Zeta!" Valko memeluk tubuhku yang ada di atas pangkuannya. Matanya memancarkan aura kegembiraan. Ya sudahlah, yang penting dia merasa gembira.
__ADS_1
"Tuan, foto sudah dicetak sesuai perintah Anda," sahut Sekretaris May.
"Bagus!" ucap Valko. "Tupai, sekarang aku benar-benar akan mengajakmu pergi ke tempat yang spesial!"
"Pergi?" aku tertegun karena bingung. "Kukira taman bunga itu, tempat yang kau maksud," aku menatap Valko.
"Bukan, tempat ini lebih istimewa dari taman bunga itu," Valko nampak mengeluarkan sapu tangan hitam dari saku jasnya. Dia mengikatkan sapu tangan itu ke wajahku, tepat di kedua mataku.
"Apa yang kau lakukan? Aku bisa memejamkan mataku," protesku.
"Aku tak ingin kau mengintip kali ini! Jadi, jangan protes!" Valko menggendongku lagi.
Aku merasa bahwa aku duduk di suatu kursi yang terpasang sabuk pengaman. Telingaku kurasa dipasangi semacam headphone. Valko kurasa membawaku terbang dengan helikopter lagi. Dia ingin membawaku kemana lagi sih? 😯
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1