
Sekretaris May turun dari dalam mobil. Nampak pintu mobil sudah terbuka. Pintu itu dibukakan dari arah luar. Saat pintu mobil itu terbuka, nampak lobi kantor yang megah. Terdapat dua buah pintu kaca yang besar. Di pintu itu ada tulisan besar berwarna abu-abu 'Welcome to Valko Infinity Ava Company'. Kakiku entah mengapa ingin segera melangkah keluar. Kemegahan gedung itu membuatku segera ingin melihatnya lebih jelas.
"ADUH!!!" terdengar teriakan.
"EH!" aku baru sadar. Jika di pangkuanku ada Valko yang masih tertidur.
Mata Valko langsung terbuka begitu saja. Duh, gimana nih, wajah Valko nampak cemberut! Kurasa dia marah karena terbangun tiba-tiba.
"Hubby, maafkan aku!" aku langsung mencoba merayu Valko. Ini pertama kalinya aku datang ke kantor. Hariku bisa rusak jika sampai Valko marah.
"Gedungmu membuatku terperangah. Aku sampai tak sadar....ehm...aku lupa jika ada kau yang tidur di pangkuanku...." mungkin ini nekat tapi aku mencobanya. Kepala Valko kutidurkan kembali di pangkuanku. Kuelus-elus kepala itu.
"Maaf, Hubby. Jangan marah, ya. Aku sungguh tak berniat jahil kepadamu. Kau memang hebat, bisa membangun perusahaan sebesar ini. Suamiku memang hebat! Hubby memang hebat!" aku mencoba merayu Valko agar tak marah dengan memujinya. Jujur saja, kata-kata 'suamiku' membuat mulutku terasa geli.
"Ehm...." sahut Valko singkat. Kurasa dia baru mengumpulkan kesadarannya. Tanganku masih sibuk mengelus-elus kepalanya.
Merepotkan juga punya pasangan posesif tapi pemarah seperti ini. Valko sudah membuka matanya. Sekali, dia mengucek-kucek matanya.
"Ayo, turun!" ucap Valko sambil merapikan kunciran rambut serta jasnya.
Aku segera mengambil tas laptop, map berisi draft pra proposal skripsiku serta buku-buku untuk membuat proposalku. Yah, beginilah perjuangan seorang pejuang skripsi yang sudah menikah tapi belum wisuda. Jika aku sudah wisuda pasti sekarang aku tinggal rebahan saja saat dibawa Valko ke kantor seperti saat ini. Uh! Penampilanku seperti mahasiswa magang saja. Bawa laptop juga buku-buku materi kuliah. Jauh dari kesan istri CEO yang kalo di film-film itu hanya membawa tas selempang atau bekal makan siang untuk si suami.
"Dimana Valko?!" aku terkejut.
Valko dan Sekretaris May sudah menghilang begitu saja. Kok cepet banget sih, dia hilangnya? 😢 Aku pun memasuki lobi kantor itu. Kucoba menelepon Valko, dia tidak menjawab. Kucoba menelepon Sekretaris May, dia juga tak menjawab. Lebih baik aku bertanya saja pada karyawan di sini.
"Permisi, kantor CEO perusahaan ini ada dimana?" tanyaku pada resepsionis wanita yang ada di lobi.
"Mbak anak magang, ya?" ucap resepsionis itu."
"Eh?" aku tertegun. Apa penampilanku benar-benar seperti seorang anak magang? Aku memang hanya memakai kemeja warna pink dengan rok coklat muda. "Saya...." aku hendak menjawab.
"Aduh, akhirnya datang juga!" seseorang langsung menyeret tanganku. Dia seorang pria bertubuh tambun. Pria ini memakai kemeja warna hitam.
"Kamu kok bisa telat, sih! Kamu tahu nggak banyak yang mau magang di perusahaan ini, tahu!" pria ini langsung memarahiku.
"Tapi, saya bukan anak magang...." aku berusaha menjelaskan.
"Sudah, sudah, aku tak mungkin salah. Penampilan sepertimu pasti adalah seorang anak magang!" pria ini menyeretku dengan kasar. "Sudah ada setumpuk pekerjaan menununggumu! Jadi, cepatlah!" pria ini menyeretku masuk ke sebuah lift.
__ADS_1
"Tapi, saya bukan anak magang!" aku masih terus mencoba menjelaskan.
"Aku tak mungkin salah! Hanya ada satu anak magang yang diterima di divisi ini. Pasti itu kamu!" ucap pria ini. "Anak magang itu berambut panjang dengan kawat gigi. Itu pasti kamu! Aku tak mungkin salah mengenali meski sedang tak memakai kacamata!" celetuk orang ini.
Jadi, orang ini salah mengenaliku karena matanya bermasalah tapi dia sedang tak memakai kacamata? Duh, Valko! Kenapa kau belum mencariku juga, sih? 😢 Apa kau lupa jika membawa istrimu ke kantor? 😭
Lift ini terbuka. Nampak sebuah ruangan bersekat-sekat putih dan berdinding kaca. Di pintu ruangan ini ada tulisan 'Divisi Advertisement'. Advertisement berarti iklan dong! Aku kan tak tahu apa-apa tentang periklanan.
"Ayo, cepat! Selesaikan poster untuk rapat satu jam lagi!" perintah pria itu. Dia membuatku duduk di salah satu meja kerja di ruangan itu. Di hadapanku sudah ada seperangkat komputer serta pentab.
"Cepat! Buat poster untuk iklan! Kau jurusan Desain Komunikasi Visual, kan? Hal seperti ini mudah untukmu! Ini yang perlu ditulis di poster itu!" perintah pria ini sambil menyerahkan sebuah kertas. "Selesaikan dalam waktu satu jam!" perintahnya. WHAT? Desain dalam waktu satu jam? 😦 Mana cukup! 😣
"Tuan!" teriakku kencang. "Saya bukan anak magang! Saya istri Valko!" teriakku kencang. Para pegawai di ruangan ini tertegun. Mereka menatap ke arahku.
"Hahaha!" para karyawan ini justru tertawa.
"Hey, anak magang! Jangan sembarangan jika bercanda! Kau bisa kena masalah!" celetuk seorang pegawai wanita berambut pendek.
"Iya, mana mungkin istri Tuan Valko, CEO perusahaan ini berpakaian sederhana seperti seorang mahasiswa...hahaha...itu tidak mungkin!" celetuk pegawai pria berkepala botak.
"Atau jangan-jangan kau tak bisa apa-apa, ya? Kau masuk ke sini karena orang dalam, ya?" celetuk seorang pegawai pria berkacamata.
Aku segera duduk di meja kerja itu. Kubaca isi kertas itu. Astaga, kalian menyerahkan hal sepenting ini pada seorang anak magang? 😟
Ini adalah poster lauching produk terbaru perusahaan ini. Produk itu berupa sebuah produk game dengan teknologi Augmented Reality.
Aku memang jurusan manajemen tapi aku juga bisa mendesain poster. Aku belajar secara otodidak saat ada di UKM Teater. Di UKM itu jika mau pentas tentu harus membuat poster. Agar menghemat biaya setiap anggota UKM Teater diwajibkan bisa mendesain poster secara digital. Aku juga bisa menggambar dengan pentab. Usaha butikku membuatku belajar secara otodidak agar bisa menggambar desain secara digital.
Aku paling tak suka jika ada orang yang merendahkanku. Jika kau berani merendahkanku akan kusumpal mulutmu dengan prestasiku. Aku segera mendesain poster sesuai dengan kriteria yang tertera pada secarik kertas itu. Logo untuk game dan desain produk susah tersimpan di komputer ini ternyata. Ini lebih memudahkanku.
"Sudah selesai!" ucapku. Aku menyelesaikannya kurang dari satu jam.
"Bagus juga hasil kerjamu, Anak Magang!" ucap pria tambun yang menyeretku tadi. Dia sekarang memakai kartu identitas dengan nama 'Tommy'. Pak Tommy, aku akan mengingat namamu.
"Gawat! Gawat! Gawat!" teriak seseorang. Dia adalah pegawai wanita berambut pendek yang menertawakanku tadi.
"Ada apa?" tanya Pak Tommy.
"Pak, gawat....Tuan....." ucap wanita ini.
__ADS_1
"Kenapa ribut sekali di sini!" nampak suara dingin yang familiar di telingaku. Akhirnya, Valko datang. Dia sudah ada di pintu ruangan ini.
"Valko!" aku langsung berlari ke arahnya. Aku tak pernah sesenang ini ketika melihatnya. Dia langsung kupeluk begitu saja.
"Bagaimana bisa kau bisa ada di sini? Aku mencarimu daritadi, tahu!" ucap Valko.
"Aku tersasar, Hubby," aku sengaja memberi penekanan pada kata-kata 'Hubby'. "Ehm...maaf sudah membuatmu khawatir. Aku terlalu terlena saat melihat kemegahan kantormu. Suamiku memang hebat, kau bisa membangun perusahaan sebesar ini...." Valko kupeluk dengan manja.
"Ya, aku memang hebat!" sahut Valko dengan percaya diri. Kurasa dia senang mendengar pujian dariku.
"Tuan!" Pak Tommy mendekatiku. "Senang bisa bertemu dengan istri Anda...." ucap Pak Tommy. Keringat dingin nampak menetes dari wajahnya. Hihihi, salah sendiri tidak mau mempercayai ucapanku 😂.
"Ehm...terima kasih sudah menjaganya..." Valko menggandeng tanganku. Tunggu, aku takkan membiarkan perlakuan yang sudah kuterima lolos dengan mudah.
"Tunggu, Valko!" aku melepaskan gandengan tangannya. Aku bergegas kembali ke meja kerja itu lagi. Valko diikuti Sekretaris May masuk ke ruangan ini.
"Ada apa? Aku harus segera meeting. Aku bisa mengajakmu berkeliling nanti setelah meeting...."
"Kau harus melihat hasil karyaku, Hubby," aku menunjukkan hasil desain di layar komputer.
"Desain? Desain apa ini?" Valko mengamati desain di layar komputer itu. "Apa ini, Zeta? Kau disuruh membuat desain untuk peluncuran produk baru! Kekonyolan macam apa ini?!" Valko mulai terlihat marah.
"Hubby, jangan marah. Aku hanya mematuhi perintah pegawaimu. Dia mengiraku anak magang, yah, mungkin karena penampilanku sederhana...." ucapku lirih. BRAK!!! Valko menggebrak meja.
"Kalian menyuruh anak magang menangani poster untuk peluncuran produk baru!" teriak Valko. "Kekonyolan macam apa ini! Untuk apa aku mempekerjakan kalian! Hal sepenting ini diberikan pada anak magang!" nampak para pegawai itu ketakutan. "Aku tak peduli! Segera perbaiki kesalahan ini sebelum meeting dimulai! Jika tidak, kalian akan menerima akibatnya!"
Valko menggandengku tanganku. Sebelum pergi tentu saja aku menghapus desain yang sudah kubuat. Aku tidak dendam karena kesalahpahaman tadi. Aku dendam karena ketidakbenaran penanganan pekerjaan di divisi ini. Dan tentu saja...untuk memberi pelajaran pada para pegawai agar tidak menilai seseorang dari penampilan luarnya.
Valko menggandengku keluar dari ruangan itu. Kurasa aku akan dibawa ke ruangannya. Barang-barangku sudah dibawakan oleh pengawal Valko. Kutatap para pegawai divisi ini, makanya don't judge a book by it cover! 😂
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1