
"Ehm..." kurasakan ada sesuatu yang bergerak di belakangku. Tunggu, apa itu Valko? Tak mungkin, dia tak mungkin pulang secepat ini. Dia tak mungkin masuk, pintunya kukunci dari dalam. Atau jangan-jangan itu hantu? "Tupai, jangan marah. Ayolah, aku juga ingin makan cream soup. Aku juga ingin tidur nyenyak sambil kau belai!" nampak suara memohon yang kukenali. "Ayolah, Tupai! Berbaliklah, jangan marah padaku....." terdengar suara Valko yang terus memohon. Hihihi, aku tak tahu jika strategiku berhasil sampai sejauh ini 😆.
Tunggu, pintu kamar ini kan kukunci bagaimana caranya dia masuk? Ehm...mungkin saja dia punya kunci cadangannya. Tubuhku sudah kubungkus dengan selimut tebal rangkap dua. Selimut putih itu menyelimuti seluruh tubuhku, hanya terlihat kepala dan tanganku saja. Aku berbaring menghadap ke arah tembok. Mungkin wujudku sekarang seperti kepompong kupu-kupu. Aku sebenarnya merasakan bahwa Valko memeluk tubuhku dari arah belakang. Tapi aku sengaja cuek terhadapnya. Aku dengar jelas panggilannya tapi aku pura-pura tak dengar. Jika dia protes, telingaku kan sedang memakai headset 😆.
"Tupai...ayolah, apa kau sudah tidur, Tupai?" Valko terus memanggilku. "Hey, ayolah. Aku tak jadi makan di restoran tadi. Aku hanya bertemu sebentar tadi di restoran, lalu pulang ke rumah. Kusuruh Vita dan asistenku. mengurus sisanya. Tupai, apa kau marah? Ayo, bangun!" selimutku terus ditarik-tarik. "Ayolah, bangun. Aku lapar sekarang! Aku ingin makan cream soup...." ia terus saja merajuk. "Ayolah, jangan marah. Jika kau ingin pergi ke restoran, aku akan mengajakmu ke restoran paling mewah besok. Ayolah, sekarang berbaliklah....." aku tetap cuek padanya. "Kau tak tidur kan? Hey, ayo bangunlah! Keluarlah dari kepompong selimutmu!" selimutku terus ditarik-tarik. Aku tetap cuek, mataku sibuk menonton reality show korea yang melibatkan idolaku sebagai peserta sambil menunggu jam update drama korea favoritku. BRUK!!! Tubuhku tiba-tiba saja ditimpa.
"AAAA!!!!" teriakku spontan. Dasar Serigala Gila!😡 Dia sekarang menindih tubuhku. Smartphone-ku terhempas dari genggaman tanganku. "Apa yang kau lakukan?" aku menatap wajahnya. Muka Valko nampak cemberut, ekspresinya lebih mirip anak kecil laki-laki yang merajuk minta mainan. Dia memaksa untuk berbaring sampingku, tepat di depanku yang menghadap tembok.
"Aku ingin makan cream soup...." ucapnya dengan muka cemberut. "Ayo, bangun!" dia menarik-narik selimutku. "Keluarlah dari kepompongmu, Tupai! Ayo, masak untukku!"
"Bahannya habis, Tuan!" sahutku bohong. Sebenarnya masih ada tapi aku ingin mempermainkan Valko. "Ini sudah malam, besok saja ya!"
"Akan kusuruh June mencarinya sampai dapat. Ayo, bangun! Aku lapar! Ayo, masak untukku. Aku rindu makan cream soup...." ia terus merajuk. "Ayolah, Tupai!" ucapnya sambil berbaring di samping tubuhku. Kedua tangannya masih saja mencengkeram tubuhku.
"Besok saja, ya!" aku menolak. Aku malas untuk bangun dan memasak kembali.
"Ehm...." dia masih saja merajuk. Mukanya terlihat cemberut. KRUK!!! Terdengar suara bunyi perut yang keras. Apa dia benar-benar kelaparan?
__ADS_1
"Tuan, kau benar-benar lapar?" aku menatap ke arahnya.
"Ehm...aku tak makan apa pun tadi di restoran...." sahutnya lirih.
"Baiklah, aku akan memasak untukmu. Aku baru ingat jika tadi ada sisa sedikit bahan...." ucapku sambil membelai kepala Valko dengan lembut. "Turunlah dari tubuhku, Tuan. Gantilah pakaianmu dengan piyama. Aku akan memasak cream soup untukmu...."
"Kau memang Tupai yang baik!" dia memelukku sambil mencium pipiku. Valko pun segera bangkit dan berjalan keluar dari kamar ini. Dia terlihat senang sekali.
Memasak cream soup membutuhkan kesabaran dan ketelitian yang cukup tinggi. Proses paling sulit adalah memastikan bahwa kuahnya bisa terbentuk dengan baik. Aku terus mengaduk cream soup itu.
"AAAA!!!!" aku terkejut tiba-tiba saja ada yang memeluk pinggangku dari arah belakang. KLONTANG! Panci berisi cream soup panas itu jatuh ke lantai.
"Sakit!" teriakku spontan.
Kuah cream soup yang panas itu mengenai telapak kaki kananku. Aku berbalik ke arah sosok yang memelukku. Nampak sosok itu tercegang. Dia tertegun dengan tatapan kosong.
"DASAR CEROBOH!" teriakku. Aku kesal padanya, apakah dia tak bisa mengenali keadaan? Apakah dia tak bisa berpikir bahwa memasak itu butuh konsentrasi! Apakah dia tak bisa berhenti untuk menyentuhku sejenak? Lihat akibat dari sentuhan konyolnya, telapak kakiku melepuh.
__ADS_1
"KAU SENGAJA INGIN MEMBUNUHKU? HAH?! KAU SENGAJA INGIN AKU CELAKA, VALKO?!" teriakku dengan kencang sambil menunjuk ke arahnya.
"Ada apa ini?" terdengar suara. "Astaga, apa yang terjadi?" nampak Oma Wulan masuk ke dalam dapur. "Parrel...." Oma Wulan justru mendekati Valko. Apakah dia tak tahu jika yang terluka itu aku? "Tenanglah, Nak....."
"Aku memang pembunuh!" teriak Valko. Dia tiba-tiba saja menangis. "AKU MEMANG PEMBAWA CELAKA!" teriaknya kencang sambil menangis.
BRAK! Pintu dapur di banting. Valko tiba-tiba saja berlari sambil menangis. Apa yang terjadi? Mengapa dia seolah-olah begitu rapuh? Dia seolah-olah begitu terluka. Bukankah seharusnya dia biasa saja saat mendengar bentakanku? Aku kan pernah membentaknya dulu 😯.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1