Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 38 - Giliran....


__ADS_3

Sudahlah, tak usah pedulikan ejekannya. Kepalaku kembali bersembunyi di dada Valko. Ehm...aku suka aroma parfum di tubuhnya. Wangi tapi tetap maskulin.


"Hey...." ucap Valko.


"Jangan ganggu aku!" teriakku ketus.


"Aku tak mau mengganggumu...ayo tukar posisi. Kakimu yang luka bisa tertindih jika kau ada di sebelah kiriku," ucap Valko lirih.


Benar, juga! Aku lupa kakiku kan sedang sakit. Ck! Jika tak sengaja tertindih kakiku sendiri kan pasti sakit.


"Kau yang pindah!" sahutku.


"Ehm...." Valko pindah berbaring di sebelah kiriku. Aku langsung kembali bersembunyi di dekapannya lagi. "Ck! Hari ini kau sensitif dan agresif sekali," Valko menyelimuti tubuh kami berdua. "Hey!" protes Valko. Kurasa ia tak nyaman kupeluk seperti guling. Kakiku menindih kakinya.


"Jangan protes! Kau pikir seperti apa sikapmu saat tidur setiap hari? Kau juga memelukku seperti guling, tahu! Sekarang giliranku! Jadi, diamlah!" aku tak peduli jika Valko tak nyaman. Aku hanya ingin nyaman di saat hujan deras penuh petir seperti ini.


"Valko...." panggilku lirih.


"Ada apa? Aku sudah kau peluk hingga tak mungkin berpindah...." sahutnya.


"Puk! Puk!" pintaku. "Puk, puk, aku!"


"Ha? Puk, puk?" Valko kurasa tak mengerti. "Kau ingin apa sebenarnya?"


"Tepuk-tepuk punggungku pelan-pelan..." ucapku sambil mendongak menatap ke arahnya. Cepat lakukan!" perintahku tak sabar. "Ehm....cepat!" perintahku lagi.


Biarlah aku merengek dengan manja dan lebay seperti anak kecil. Aku hanya ingin tidur siang dengan nyaman saat hujan deras berangin kencang seperti saat ini. Bisa kurasakan tangan kiri Valko memeluk tubuhku. Tangan kanannya sibuk menepuk-nepuk punggungku dengan lembut dan perlahan-lahan.


"Kau tak pernah melakukan 'puk,puk' padaku saat tidur malam," ucap Valko.

__ADS_1


"Kau kan sudah kubelai dan kumanjakan dengan mulut mungilku. Apa masih kurang?"


"Aku ingin coba yang lain, aku juga ingin di 'puk, puk'," sahut Valko.


"Iya, nanti malam jika tak hujan giliranmu dimanja...." balasku.


Tunggu, mengapa sekarang aku jadi yang mengatur giliran dengan Valko? Bukanlah aku tak suka memeluknya dan bersentuhan dengannya dulu? Mengapa sekarang aku jadi terkesan agresif sih? Sudahlah, pikirkan itu nanti. Yang penting sekarang aku nyaman dan tenang.


"Kenapa sekarang jadi kau yang mengatur gilirannya, Tupai? Seharusnya...." Valko hendak berbicara. "AU! Sakit!" teriaknya. Kucubit perutnya dengan tangan kananku.


"Diam! Aku hanya ingin tidur dengan nyaman saat hujan deras disertai petir seperti ini!" protesku. Aku kembali memeluk Valko dengan erat.


"Iya, iya," Valko kembali memelukku dan menepuk-nepuk punggungku. "Hey, Tupai...." ucap Valko.


"Apa?" sahutku tanpa menatapnya balik.


"Mengapa kau sangat takut pada petir?" tanya Valko.


"Oh, begitu...aku bisa paham rasanya...itu sama seperti diriku yang merasa khawatir dan ketakutan tak jelas setiap malam karena pernah mengalami kejadian mengerikan di masa kecil...." suara Valko nampak bergetar. "Sudah, tidurlah..." Valko memelukku lebih erat.


"Puk, puk!" perintahku padanya.


"Ehm...." Valko kembali menepuk-nepuk punggungku dengan lembut dan perlahan-lahan.


Kupejamkan mataku kembali. Di luar hujan deras disertai petir dan angin kencang. Aku merasa nyaman dan aman ada di pelukan Valko. Entah ada apa dengan diriku yang sekarang ini. Aku sendiri juga bingung. Tapi mau bagaimana lagi, nampaknya aku mulai nyaman dengan sentuhan Valko seperti saat ini. Badan Valko enak dipeluk, tubuhnya terasa hangat. Aku merasa tenteram seperti saat berada di pelukan Mama. Apalagi dia tak menolak saat kusuruh melakukan 'puk, puk'. Itu kebiasaan yang biasa dilakukan Mama untuk menidurkanku di saat aku kecil. Ehm...atau saat aku sedang takit petir seperti saat ini.


"Kau sudah bangun?" nampak suara lirih membangunkanku. Suara itu diikuti dengan belaian lembut di kepalaku. "Nampaknya kau sudah bangun...aku mandi dulu ya...." suara itu perlahan meninggalkanku.


Aku kembali menggeliat, kesadaranku belum pulih seutuhnya. Kurasa ini sudah sore atau mungkin saat senja. Valko tak lagi ada di sampingku, kurasa dia sedang mandi.

__ADS_1


"HOAHM!" kurenggangkan otot-ototku sambil menguap.


Kurasa hujan sudah berhenti, meski masih terdengar bunyi rintik-rintik gerimis. CLAP! Astaga, apa yang terjadi lampu tiba-tiba saja mati! 😭


CLAP! Lampu itu kembali menyala. Jangan....jangan...aku mulai ketakutan. Jangan...jangan...ada hantu.


"AAAA!!!" teriakku ketakutan. Aku berlari ke arah kamar mandi sambil membawa selimut. Kakiku yang sedang terluka tak kupedulikan. "VALKO!" teriakku sambil memegang engsel pintu. Pintu dengan mudah terbuka. Syukurlah tidak dikunci. Aku segera masuk ke kamar mandi itu. "VALKO!" teriakku panik.


"Ada apa?" nampak Valko sedang berada di dalam bak mandi. Tanpa pikir panjang aku masuk ke dalam bak mandi itu.


"Aku takut! Takut!" teriakku sambil memeluk tubuhnya. "Ada hantu! Hantu! Lampunya mati dan menyala sendiri!"


"Tenanglah, itu tadi efek mati lampu. Lampunya mati sebentar karena efek dari aliran listrik yang mati. Lampunya kembali menyala karena ada genset otomatis yang menyuplai listrik saat aliran listrik terputus. Tak ada hantu, semuanya aman," aku sedikit tenang mendengar penjelasan Valko. Aku sedikit lega mendengar hal itu. "Hey, Tupai," panggil Valko.


"Apa?" aku menatap ke arahnya sambil melepas pelukanku.


"Kau sedang modus agar bisa mandi bersamaku, ya?"


"Apa maksudmu? Aku benar-benar ketakutan, tahu!" protesku.


"Dan aku benar-benar sedang mandi, Tupai Kecilku," Valko membalik tubuhku ke arah depan.


Tunggu, dia sedang mandi?! Sedang mandi? HUA! Mengapa aku bisa lupa hal ini! Ini sama saja menyerahkan diriku ke sarang maut serigala! 😭


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2