
"Apa kau akan terus memelukku seperti ini?" tanya Valko.
Aku tak mempedulikan pertanyaannya. Apa ini hal yang aneh? Bukankah dulu aku juga sering melakukan ini.
"Memangnya kenapa? Ini kan bukan pertama kalinya aku memelukmu! Kau juga sering melakukannya. Nyaman tahu!"
"Emm ... baiklah. Senyamanmu saja. Padahal dulu kau menendangku saat ...."
"Shut!" kutekan bibirnya dengan jari telunjukku. "Itu kan masa lalu!"
"Ya, ya, baiklah-baik. Aku takkan membahasnya lagi." Valko mengelus-elus kepalaku. "Apa anakku perempuan ya?" ucapnya tiba-tiba.
"Bagaimana bisa kau berkata begitu? Dia masih sangat kecil! Tahu!"
"Kau jadi sangat manja, Zeta!"
"Itu alasan yang tidak ilmiah!" sahutku. "Tapi jika dia perempuan .... Ah! Aku akan punya teman shopping! Fangirling-an! Aku akan punya teman nonton drama! Dia bisa kudandani dengan cantik! Ah! Pasti sangat menyenangkan! Ah! Mungkinkah suatu saat kita bisa nonton konser bersama?"
"Hah! K-pop lagi!" sahut Valko sambil menghela napas. "Tak bisakah kau membicarakan hal lain? Bagaimana jika dia ternyata laki-laki?"
"Tak masalah, Nak. Jangan khawatir. Kau mau perempuan atau laki-laki," tanganku tanpa sadar mengelus perutku. Rasanya lucu. Padahal kemarin aku merasa belum siap menerima hal ini, tapi entah kenapa sekarang justru merasa antusias.
"Kau bisa jadi fanboy. Bahkan jika kau ingin jadi idol, Mama akan mendukungmu! Kita tetap bisa nonton konser bersama! Ah! Tak sabar rasanya!" teriakku. Valko hanya menghela napas sambil geleng-geleng kepala.
"Kau ingin anak kita jadi idol?" Valko menatapku.
"Memangnya kenapa? Jika itu cita-citanya kenapa tidak! Semua orang bisa jadi idol K-pop! Asal mau berusaha keras!"
"Ck! Lalu siapa yang meneruskan bisnis keluarga kita? Keluargamu dan keluargaku sama-sama punya perusahaan. Harus ada yang mengurusnya dan mewarisinya! Apalagi aku anak tunggal! Perusahaan Papa dan kakek pasti juga akan jatuh kepada anak kita kelak! Aku tak mau jika dia jadi idol!" Valko menatapku dengan tatapan tajam.
"Ih, kenapa sih! Cuma angan-angan juga! Kau menyebalkan!" posisi dudukku kugeser menjauhi Valko. Tatapan mataku kuarahkan ke arah jendela mobil. Kedua tanganku terlipat.
Aku kan cuma berangan-angan saja. Anak ini bahkan masih sangat kecil. Kenapa dia menanggapinya dengan sangat serius dan ketus. Menyebalkan!
"Tuan, Nyonya, kita sudah sampai." terdengar suara Pak Sopir.
"Zeta ...." panggil Valko. Aku tetap membuang muka. Jangam harap aku mau menoleh ke arahmu, Valko. "Zeta .... ayolah! Kau benar-benar marah ya?"
"Menurutmu?" jawabku ketus tanpa menoleh ke arah Valko.
"Baiklah, aku minta maaf, Sayang. Aku salah ...."
"Huh!" aku tak menjawab ucapan Valko. Aku takkan membiarkannya lolos semudah itu.
"Sayangku, Zeta. Ayolah jangan marah. Maafkan aku. Aku mengaku. Ayo, jangan marah lagi. Jika kau marah kasihan nanti si kecil yang ada di perutmu." bujuk Valko. Benar juga, aku harus menjaga emosiku tetap stabil.
"Baiklah, ayo turun!" tangan kananku sudah siap membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Tunggu! Aku akan membukanya!" perintah Valko.
Pintu mobil terbuka dari arah luar. Valko memegang tanganku saat kuturun dari mobil. Sebuah kursi roda sudah disiapkan di dekat mobil. Astaga! Aku masih kuat berjalan. Tak perlu naik benda itu.
"Aku masih kuat berjalan, Valko! Biarkan aku berjalan sendi ... ri ..."
Mataku menangkap suatu pemandangan yang mengagetkan. Astaga, dimana ini? Ini bukan salon. Valko membohongiku. Rupanya pagi ini, dia tak membawaku ke salon. Mobil yang kutumpangi berhenti di sebuah halaman rumput hijau yang sangat luas. Air mancur berbentuk bulat dengan lima tingkat seolah menyambut setiap orang yang datang. Air mancur itu berada tepat di halaman rumput hijau itu. Mumgkin halaman ini lebih tepat disebut sebagai taman.
"Dimana ini? Besar sekali!"
Mataku takjub. Ada sebuah rumah yang megah dengan pilar-pilar nan kokoh tepat di hadapanku. Rumah itu bergaya Eropa. Catnya berwarna putih. Ada barisan orang dengan jas dan seragam warna hitam yang seolah menyambut kedatanganku.
"Kau suka? Selamat datang di rumah baru!" Valko mencium pipi kananku.
"Rumah baru?" aku tertegun. "Hah? Maksudmu kita pindah? Tapi ... tapi ... rumah yang dulu ...."
"Rumah itu terlalu kecil. Jaraknya juga jauh dari rumah Papa, kakek dan nenek. Aku ingin lebih dekat dengan Papa mulai sekarang. Papa tinggal dengan kakek dan nenek. Rumahnya tepat di sebelah rumah ini. Lagipula rumah yang dulu terlalu kecil. Aku bahkan tidak memberimu kamar yang layak, Zeta."
"Hah?" aku semakin tertegun.
Apa maksud Valko? Kamar yang kutempati sangat layak huni menurut standarku. Perabotnya bagus dan kokoh. Bahkan tak ada setitik debu pun di kamarku.
Dua buah pintu yang besar dan kokoh terbuka. Nampak sebuah ruang tamu yang megah. Perabotnya dicat kuning keemasan. Lantai ruang tamu itu dilapisi marmer warna putih nan mengkilap. Sofanya kokoh dan megah. Warnanya coklat kemerahan. Ada sebuah lampu gantung yang terbuat dari kaca. Lampu gantung kuning keemasan itu tergantung di tengah ruangan.
"Kau suka? Bagaimana menurutmu?" tanya Valko. Aku hanya menggangguk-angguk. Rumah ini membuatku terkejut.
"Ayo, kutunjukkan lantai atas!" Valko mendorong kursi roda yang kududuki ke dalam sebuah lift.
"Wow! Cantik sekali!" kakiku langsung melangkah turun dari kursi roda. "Hah? Apa ini? Album? DVD konser?! Lightstick?! Ah!" teriakku tak percaya. Ada sebuah lemari kaca di ruangan itu. Semua album, DVD konser, lightstick, berbagai macam boneka pajangan bahkan seasons greeting dari semua boyband dan girlband yang kuidokalakan ada di sana. Semuanya masih baru dan tersegel dalam plastik. "Aku bahkan tak punya koleksi selengkap ini!"
"Apa kau masih marah padaku sekarang? Kau boleh memiliki dan mengoleksinya tapi jangan pernah mencium fotonya lagi! Atau akan kubuang ..." ujar Valko. Tanpa pikir panjang, langsung kubungkam ucapannya dengan satu kecupan. "Ck! Kurasa sekarang aku tahu cara membujukmu jika kau sedang merajuk."
"Wah, apa ini?"
Mataku menatap ke sudut ruangan lainnya. Ada sebuah meja kerja lengkap dengan seperabgkat komputer dan tablet berukuran besar. Di dekatnya ada mesin jahit dan dua buah manekin tanpa kepala. Di meja kerja itu juga sudah tersedia buku sketsa dan berbagai peralatan gambar.
"Apa ini untukku?"
"Tentu!" Valko memelukku dari arah belakang. "Kau ingin jadi fashion designer kan? Aku akan selalh mendukungmu. Zeta dan Valko itu satu. Cita-citamu adalah impian yang berharga untukku juga."
Oh, Valko. Kenapa kau sangat manis sih? Aku jadi ingin menangis kan. Air mataku menetes.
"Kau menangis? Kenapa?"
"Bukan ... ini ..."
"Jangan khawatir, Zeta. Aku tak melupakan bagian itu!" Valko membuka suatu pintu. Dia menarik tanganku memasuki ruangan itu.
__ADS_1
"Astaga! Apa ini?"
Nampak sebuah meja rias besar berwarna putih lengkap dengan sebuah kaca yang besar. Berbagai macam kosmetik dari beragam brand tersedia dengan lengkap di meja itu. Aku merasa seperti berada di toko kosmetik mini.
"Nah, ini khusus untukmu, My Queen!" ucap Valko.
"Wow! Aku pernah punya yang seperti ini seumur hidupku ...."
Ruangan itu penuh dengan berbagai macam pakaian dan gaun yang indah. Semua terpajang rapi dalam lemari kaca. Berbagai macam tas dari berbagai brand mahal internasional juga terpajang rapi. Tas-tas itu sebagian besar berwarna pink dan hitam.
"Kau suka warna pink kan? Aku sengaja membeli warna pink. Tapi warna hitam juga bagus dipakai saat kau bosan. Jika ada yang kau ingin beli. Beli saja. Masih ada tempat yang luas untuk menyimpannya. Oh ya, untuk perhiasannya. Aku tak tahu seperti apa seleramu. Ehm ... jadi kubeli sedikit dulu."
Valko, kau menganggap ini sedikit? Ada satu lemari kaca penuh perhiasan. Perhiasan itu berhiaskan mutiara dan berlian. Keluargaku tak sekaya keluarga Valko. Jujur aku merasa agak canggung melihat semua ini.
"Oh ya, Valko ...."
"Tenang, Zeta. Tentu aku tak melupakan hal itu!" Valko menggandeng tanganku keluar dari ruangan itu. Dia mendudukkanku kembali ke kursi roda. Dia membawaku ke sebuah ruangan.
"Hah? Apa ini kamar anak kita?" tanyaku. Valko menggangguk.
Nampak sebuah kamar bercat putih. Lantainya dilapisi marmer warna cokelat susu. Perabotannya sebagian besar berwarna coklat muda. Baru ada sebuah ranjang bayi dan lemari di kamar itu.
"Kita belum tahu, dia perempuan atau laki-laki. Jadi ... akh memilih warna netral. Kau suka pink dan aku suka abu-abu. Jika digabungkan mungkin jadi warna coklat. Apa pun yang dua inginkan kelak. Kuharap dia bisa tumbuh sehat dan terlahir sempurna." Valko menyentuh perutku.
"Ya, entah idol atau pebisnis. Apa pun itu kita akan selalu mendukungnya."
"Benar, aku merasa beruntung memilikimu dan dia, Zeta." Valko memelukku.
Ini kejutan yang menyenangkan. Rumah masa depan. Tunggu, tapi ini bukan pengalih perhatian kan? Apa Valko sengaja mengalihkan perhatianku. Tujuan awal pagi ini kan bukan kemari.
"Valko!" panggilku. Kulepaskan pelukanku. Kutatap matanya. "Kau tak melupakan tujuan awal kita pagi ini kan, Sayang?" kuingatkan dirinya.
"Ck! Ingatanmu ternyata sangat tajam, Zeta. Baiklah, ayo kita pergi ke salon! Aku akan mengecat rambutku seperti kemauanmu!"
Hihihi, aku takkan mudah dikelabui seperti ini.
___________________________________________
Halo reader 😄
Maaf baru bisa update 😭
Author baru bisa wisuda kemarin akhir Februari
Terima kasih untuk semua reader yang sudah mendoakan kesuksesan dan kelancaran author dalam menyelesaikan skripsi 😍
Terima kasih bagi para reader yang sudah setia membaca karya author hingga sejauh ini 😍
__ADS_1
Mohon doanya ya semoga author bisa segera mendapatkan pekerjaan di dunia nyata 😄
Novel ini belum mau tamat tapi jika kelak dibuat seasons 2 apakah para reader setuju? 😄