Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 13 - Ganti atau Dimangsa


__ADS_3

"HENTIKAN, TUPAI!" terdengar teriakan. "APA YANG KAU LAKUKAN?" Valko terlihat marah. Kemurkaan sangat jelas tergambar di wajahnya. Aku kan hanya berfoto saja. Apa ada yang salah? Mengapa dia marah? "DASAR CEROBOH!!!!" teriaknya sambil melepas jas hitamnya. "Apa otakmu sudah tak waras? Kau membiarkan tubuhmu diumbar begitu saja!" ia menutupi tubuhku dengan jas itu. Valko, apa maksudmu? Kata-kata 'membiarkan tubuhmu diumbar begitu saja' terus tergiang di telingaku. Aku rasa gaun yang kupakai masih dalam tahap normal. "Kau tutup matamu!" raung Valko sambil menunjuk ke arah Ogi. Ogi memilih menghadap ke belakang sambil menutup matanya. Kulihat kakinya gemetar ketakutan. Aku harus menghentikan kegilaan Valko.


"Tuan...." tangan kanan Valko kugenggam. "Tupai ini hanya berfoto untuk produk usaha milikku untuk di upload di website dan sosial media...." ucapku memelas.


"JUSTRU ITU MASALAHNYA!" teriak Valko sambil berkacak pinggang. "AKU TAK INGIN TUPAIKU DILIHAT SEMBARANG ORANG!" ia menunjuk ke arahku. Mata dingin Valko menatapku tajam. Hiks, dia menakutkan sekali 😢. Mengapa seolah-olah aku baru saja berbuat suatu ke salahan besar? "CEPAT GANTI PAKAIANMU, TUPAI!" ia mencengkeram daguku. Aura mengerikan kurasakan. HUH! Aku takkan kalah denganmu Valko!


"VALKO!" teriakku. Takkan kubiarkan Valko berbuat di luar batas. Jari telunjuk kananku menunjuk tepat ke arah wajahnya. "Aku hanya menjadi model untuk produkku sendiri! Jangan menggangguku!" teriakku. Mungkin ini gila. Aku seperti seekor Tupai Kecil yang protes pada Serigala Gila yang bisa mencabik-cabikku kapan saja. HUH! Tapi aku Tupai yang berani! Aku akan bertempur dengannya. "Sakit, Valko!" Valko tiba-tiba menarik tanganku dan memutarnya ke belakang. Saat gerakanku terkunci, tubuhku langsung diangkat ke gendongannya.


"MAY!" teriak Valko. "Panggil model dan fotografer profesional! Suruh mereka datang dalam setengah jam!" perintahnya. Tunggu, kemana Valko ingin membawaku pergi? Dia hendak membawaku ke lantai atas? Apa yang ingin dilakukannya? Alam khayalku mulai terbang melayang kemana-mana.


"Tu...an...." panggilku lirih. "Ehm...Tupai...ini...ehm...minta...maaf...." ucapku dengan nada memohon. Lebih baik aku mengalah daripada Valko bertindak lebih jauh lagi. Valko menatapku dengan tatapan tajam.


"Ganti bajumu sekarang atau aku akan...." Valko merendahkan kepalanya. "Atau aku akan memangsamu sekarang juga!" bisikan lirih yang berasa mengerikan untukku. Aku tak mau menjadi mangsa Serigala ini sekarang.


"Iya, Tuan. Iya," sahutku cepat. "Tupai ini akan menurut pada perintah Tuan...." ucapku sambil turun dari gendongan Valko. Segera kulari ke kamar mandi dan mengganti pakaianku dengan kemeja dan rok kain hitam tadi. Saat aku keluar dari kamar mandi, ruangan belakang ini nampak sepi.


Kemana Ogi dan Della? Kakiku melangkah menuju ke ruang lobi dan display pakaian di depan. Astaga, mengapa sekarang dia yang mendominasi? Dia duduk di sofa putih itu dengan angkuh seolah-olah adalah seorang raja. Ogi dan Della hanya tertunduk mematung. Diantara ketiganya masih ada percakapan tapi aku tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Selain mereka bertiga, ada sekitar 5 orang lain selain Sekretaris May. Lima orang itu terdiri dari 2 wanita cantik putih semampai dan 3 orang pria.


"Kalian sudah dengar konsep lauching produk gaun ini?" ucap Valko lantang.


"Iya, Tuan. Kami mengerti. Jangan khawatir, tim kami akan menyelesaikannya dengan cepat. Kami pasti akan memberikan hasil yang luar biasa dan memuaskan!" sahut seorang pria yang nampak membawa tas berisi kamera.


"Kalau begitu cepat lakukan!" perintah Valko lagi. Apa yang harus kulakulan sekarang? Ancaman Valko tak berani membuatku protes. "Ehm..." dengusnya saat dia menyadari kehadiranku. "Cepat kemari, Tupai!" aku pun berjalan ke arahnya. "Biar mereka yang menyelesaikan projek kecilmu ini. Aku yang membayar mereka! Lain kali, mintalah ijin dulu padaku sebelum bertindak! Kau mengerti Tupai?!" raung Valko.


"Ehm...i...ya, Tu...an...." jawabku lirih sambil menunduk. Hiks, mengapa sekarang dia ikut campur terlalu dalam di hidupku? Aku kan hanya bantal tidur baginya bukan istri dalam posisi sesungguhnya.


"Duduklah di sini, Tupai!" aku pun menurutinya. "Katakan padaku, selain skripsi apalagi kegiatanmu?"


"Ehm...selain skripsi...ehm...saya mengelola usaha ini, Tuan. Saya biasanya menghabiskan waktu di sini sejak semester tujuh ini. Saya jarang main ke kampus jika tidak untuk bimbingan atau keperluan organisasi...." aku menjawab dengan sejujur mungkin.


"MAY!" teriak Valko lagi. "Suruh orang untuk mendesain ruko di kawasan kompleks kantor pusat seperti butik ini dan pindahkan barang-barang ini ke sana secepatnya!"


"Tu...an...." astaga, dia ingin memindahkan butikku ke dalam kompleks kantornya? Bukankah itu sama saja mengurungku meski di luar rumah. Valko mencengkeram daguku lagi.

__ADS_1


"Tupai, apa kau ingat? Di perjanjian pra-nikah kau harus selalu mementingkanku di atas urusan lainnya. Kau adalah bantal tidurku. Jadi, kau harus selalu berada dalam pengawasanku. Jangan protes! Aku sudah berbaik hati memberikan tempat bermain untukmu di dalam kawasan kantor pusatku! Kau mengerti?" ia menatapku tajam.


"I...ya, Tu...an...." jawabku lirih. Sial, sekarang dia menggunakan perjanjian pra-nikah sebagai alat untuk membela diri. Aku tak bisa lagi berkutik sekarang. Dalam perjanjian itu aku memang diberi kebebasan meneruskan kuliah dan mengembangkan minatku tapi aku harus tetap memprioritaskan Valko di atas urusan lainnya.


"Bagus, sekarang duduklah dengan tenang bersama teman-temanmu. Kau boleh mempersiapkan sistem untuk lauching produkmu!" cengkeraman di daguku di lepaskan. Aku pun beranjak menuju meja kerja di ruang display itu. Ogi dan Della mengikutiku.


"Gaes, maaf ya...ehm...malah jadi begini...." aku merasa tak enak hati pada keduanya.


"Nggak papa, Ta. Ini malah bagus buat perkembangan usaha kita. Loe tahu nggak kompleks kantor pusat milik Tuan Valko itu ramai dan gede. Banyak konsumen potensial di sana. Udah loe nurut aja, Ta. Anggap aja ini rejeki nomplok buat usaha kita!" bisik Ogi.


"Iya, Ta. Gue nggak keberatan kok kita pindah. Anggap aja ini bantuan dari suami loe buat istri tercintanya," bisik Della. Istri tercinta? Hiks, aku ini hanya bantal tidur yang selalu tertindas. Sudahlah lupakan hal itu sejenak. Lebih baik kugunakan waktu ini mempersiapkan sistem untuk upload foto produk di sosial media dan website. KRUK! Terdengar suara perut bernyanyi.


"Kau lapar, Del?" tanyaku.


"Iya, Ta. Aku sama Ogi belum sempat makan siang tadi," sahut Della. Aku merasa bersalah pada mereka.


"Ya udah, tunggu ya. Gue masakin sebentar," aku segera berlari ke dapur samping.


"Mau apa kau, Tupai?" celetuk Valko.


"Ya sudah, ambil sana. Jangan sampai kau merepotkanku karena kelaparan," jawabnya dengan cuek.


Aku langsung menuju ke dapur kecil di bagian belakang sebelah samping barat. Meski ruko ini tak terlalu besar tapi di dalamnya cukup lengkap. Bahkan di bagian tas, lantai dua, bisa untuk tempat nonton TV atau tidur. Segera kumasak mie instan ditambah telur, wortel, kubis serta potongan daun bawang. Mie instan memang makanan lezat di segala kondisi. Berapa mangkok yang harus kusiapkan ya? Sudahlah, siapkan saja empat mangkok. Jika Valko menolak memakannya biar aku yang melahap mie ini.


"Makanan sudah siap, gaes!" ucapku spontan dengan ceria. Kubawa nampan berisi empat mangkok mie. Kuhidangkan tiga di meja kerja. Satu lagi kubawa ke hadapan Valko. "Tuan, saya harap Tuan...." apa yang harus kukatakan ya.


"Ini...." celetuk Valko lirih. Ucapan itu mungkin tak terdengar di telinga orang lain tapi di telingaku itu terdengar jelas. Valko seolah tertunduk saat melihat semangkuk mie ini. Kurasakan pancaran kesedihan di matanya. Entah mengapa dia terlihat mematung melihat mie di hadapannya. Mengapa dia seolah menyimpan kesedihan yang dirahasiakan?


"Tu...an...." panggilku. Matanya yang tadinya sayu kembali terbangun menjadi mengerikan.


"Apa itu, Tupai? Masakan apa itu?" tanyanya dengan angkuh.


"Ini mie instan,Tuan...." aku tersenyum palsu. Jika dia bukan suamiku sudah kutumpahkan mie ini ke wajahnya.

__ADS_1


"HUH!" dengusnya. "Aku tak suka mie!" benarkan apa dugaanku. Aku beranjak untuk menyingkirkan mie itu. "Tapi...aku tak ingin usahamu sia-sia. Jadi, anggap saja aku berbaik hati mencobanya. Cepat, suapi aku!" perintahnya. Jika kau mau tak usah malu, Serigala Gila. Aku pun duduk di sofa sebelahnya, kusuapkan mie instan itu dengan sendok. Valko menerima suapan itu. "Kau juga harus makan! Cepat suapi dirimu!" perintahnya. Hiks, mulutku berbagi sendok lagi dengan mulut Valko. Mulutku, maafkan aku lagi ya.


"Tuan, Nona, sesi pemotretan produk sudah selesai!" Sekretaris May menyerahkan sebuah flashdisk ke hadapanku.


"Biar temanmu yang mengurusnya! Kau tetap menyuapiku, Tupai!" Valko meraih flashdisk itu dan melemparkannya ke arah meja kerja. Ogi dengan sigap menerimanya. "Ayo, suapi aku lagi!" astaga, Valko, apa yang kau lakukan? Mengapa kau menyandarkan kepalamu di bahuku sekarang? "Apa yang kau lihat, Tupai? Ayo suapi aku lagi!" kuturuti perintahnya.


"Sudah selesai, Ta!" celetuk Della dengan bahagia. Kulihat hasil foto produk itu. WOW! Memang bagus sih daripada yang biasanya. Produkku terlihat lebih berkelas dan mewah, hihihi.


"Ayo, pulang Tupai!" perintah Valko. Aku pun menurutinya.


"Aku pulang dulu ya, gaes!" aku pamit pada Ogi dan Della. Kulangkahkan kakiku dengan riang menuju mobil. Anggap saja ini berkah di balik pernikahan dengan Valko. "Terima kasih, Tuan," ucapku riang. Kali ini senyumku tulus.


"EHM..." dengus Valko. Ia kembali menyandarkan kepalanya di pangkuanku. "MAY! Kembali ke rumah Tupai...."


"Ambil rute terjauh!" sahutku. Aku mulai hafal perintahnya.


"EHM!" dengus Valko sambil menutup matanya. Karena aku merasa senang, perjalanan ini terasa singkat.


"Tuan Valko!" nampak seorang menyambut kami di depan pintu rumah. Kurasa dia menunggu sedari tadi.


"Papa!" aku langsung mencium tangannya. "Papa, Tata rindu!" kupeluk dia dengan manja. Papa bertubuh tambun jadi enak untuk dipeluk. "Lepaskan, Sayang. Papa ingin menjamu Tuan Valko untuk makan malam dengan kita. Mengapa kau tak bilang jika akan pulang? Lain kali kabari dulu jika ingin pulang!" bisik Papa di telingaku. HUH! Jadi, sekarang Serigala ini jauh lebih penting dariku 😡.


"Tuan, maaf sudah merepotkan. Terima kasih sudah menemani Zeta pergi," astaga, Papa apa kau takut terhadap menantumu sendiri? "Tuan, saya dan keluarga sudah menyiapkan makan malam. Mari kita masuk ke dalam..." ajak Papa. Valko dengan patuh mengikuti Papa. Di dalam ruang makan nampak telah tersaji berbagai hidangan mewah. Kurasa ini masakan western.


"Silahkan, Tu...an...." Papa menyiapkan kursi untuk Valko.


"AKU TAK MAU MAKAN INI!" teriak Valko dengan angkuh. "Aku ingin makan masakan Tupaiku!" dia melirik ke arahku. Astaga, Valko! Tak bisakah kau tak iseng padaku sejenak? 😣


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2