Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 81 - Lecet....


__ADS_3

Jantungku masih berdetak kencang akibat peristiwa itu. Mengapa hidupku tak tenang, sih? Aku salah apa? Kok bisa-bisanya ada orang yang ingin mencelakaiku. Kuhelas napas, mungkin inilah resiko menikahi Valko. Dia kan bisa dibilang pria yang mendekati sempurna. Dia sudah mapan, kaya dan ehm...tampan sih.


"Ini, Ta, minum dulu!" terdengar suara seseorang membuyarkan lamunanku. Nampak Ogi menyerahkan sebotol minuman teh rasa buah.


"Makasih!" kubuka botol itu lalu kuminum. "Pak Tua itu gimana, ya?" ucapku sambil menatap ke arah ruang Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit ini.


"Tenang, doakan saja yang terbaik untuknya!" Della memelukku.


"Tapi, dia luka karena aku, Del," ucapku lirih. Air mataku tak bisa lagi kubendung. Rasa bersalah di hatiku memuncak.


"Sudah, jangan menangis! Ini bukan salahmu!" Della menghapus air mataku.


"Tata!" terdengar teriakan menuju ke arahku. Nampak seorang wanita berjas putih berlari menuju ke arahku.


"Mama!" teriakku sambil menghambur ke pelukannya. Aku rindu Mama. Cukup lama aku tidak bertemu secara langsung.


"Kamu kenapa? Kata temenku kamu nganter orang luka. Kamu gimana? Kamu juga luka?" Mama nampak khawatir. Dia mengamati tubuhku terus-menerus.


"Aku nggak papa, Ma. Cuma kaget aja karena hampir ketimpa pot...." ucapku lirih.


"Apa ketimpa pot? Ya ampun! Kok bisa, sih?" Mama justru semakin panik. Dia malah meraba-raba kepalaku.


"Aku nggak papa, Ma. Cuma sedikit kaget aja sungguh!" aku berusaha menenangkan Mama. "AU!" ucapku spontan saat Mama menyentuh siku kananku.

__ADS_1


"Nggak papa, gimana?! Kamu juga luka, tahu!" Mama menarik tanganku. "Tunggu, di sini dan jangan bergerak!" Mama mendudukkanku ke kursi tunggu. Tak lama kemudian dia kembali dengan kotak plastik bening. "Nggak papa gimana? Kamu ini luka! Harus diobati! Kamu anak perempuanku yamg berharga! Aku susah payah melahirkan dan membesarkanmu. Kamu berharga kayak mutiara, pokoknya nggak boleh terluka bahkan tergores....." Mama menceramahiku sambil mengobati luka lecet itu. Meski terkesan lebay, tapi jujur aku rindu perlakuan penuh kasih sayang seperti ini dari Mama.


"ZETA!" terdengar teriakan dari arah lorong. Nampak seorang pria berjas berlari dengan panik menuju ke arahku. "ZETA!" dia langsung memelukku erat. Rasanya aku hampir tak bisa bernapas karena pelukan ini. Pelukan Valko sangat erat.


"Va...val....ko...bisa lepaskan aku? Aku nggak bisa napas!" ucapku.


"Gimana keadaanmu? Kamu terluka di bagian apa?" Valko tak kalah panik. Dia meraba-raba kepalaku. "Astaga! Kamu luka!" teriaknya panik.


"Aku nggak papa, Valko!" kupegangi kedua pipinya sambil menatapnya. "Aku cuma lecet aja. Lukaku udah diobati mamaku," ucapku sambil tersenyum.


"Syukurlah!" Valko memelukku lagi. "Aku khawatir!" ucapnya. Valko, tak bisakah kau tak melakukan ini di sini? Aku malu, tahu! Valko memberikan kecupan di seluruh wajahku berulang kali. "Aku benar-benar khawatir! May bilang ada insiden di mall. Dia bilang itu melibatkanmu!" Valko memelukku semakin erat. "Jangan khawatir, aku akan menyelidiki insiden ini sampai tuntas! Jika insiden ini belum tuntas, restoran itu akan tetap ditutup. Ceroboh sekali mereka, bisa-bisanya lalai hingga ada pot bisa melayang dan hampir mengenaimu. Kau juga!" Valko menatapku. "Aku sudah menyuruh para pengawal wanita berjaga di sekelilingmu tapi kau malah menyuruh mereka menjaga rukomu! Aku khawatir pada keselamatanmu, Zeta! Mulai sekarang, kemana pun kau pergi, kau harus selalu dikawal!"


"Tapi...." aku mencoba protes.


"Kau jangan khawatir! Vita sudah kulaporkan ke polisi karena berani mengganggumu!" ucap Valko. Astaga, Valko, kau secepat ini menangani semuanya. "Tak kusangka dia berani bersikap tak sopan padamu! Aku sudah melihatnya sendiri lewat rekaman CCTV yang ditunjukkan May. Jika dia yang terbukti membuat sikumu luka, aku takkan membiarkannya hidup dengan tenang!" Valko terlihat murka. Valko kenapa ya aku suka melihatmu murka karena mengkhawatirkanku? 😍


"Apa ini keluarga pasien?" ucap seorang dokter pria berjas putih. Dia keluar dari ruang UGD diikuti perawat.


"Orang itu penyelamat putriku, David," sahut Mama. "Gimana keadaannya, Vid?"


"Dia mengalami luka benturan di kepalanya. Memang sempat ada pendarahan tapi syukurlah sudah bisa di atasi. Aku harus mencukur habis rambut dan jenggotnya karena mengganggu proses pengobatan. Kondisinya stabil sekarang meski belum sadar."


"Ini tas ransel milik pasien," seorang perawat menyerahkan ransel lusuh milik Pak Tua itu.

__ADS_1


"Makasih, Vid. Kamu udah nolongin penyelamat putriku. Apa kami boleh menjenguknya sekarang?" tanya Mama.


"Tentu, silahkan masuk," ucap dokter itu.


"Jangan masuk semua, tiga orang aja!" ucap Mama.


"Aku dan Zeta saja," celetuk Valko. "Aku harus berterima kasih pada orang ini karena sudah menyelamatkan Zeta," Valko menggandeng tanganku.


Di ruangan itu nampak terbaring seorang pria yang masih tak sadarkan diri. Perban putih nampak mbalut kepalanya. Di hidungnya masih terpasang alat bantu pernapasan. Bajunya sudah diganti dengan baju pasien warna biru muda. Wajah Pak Tua itu terlihat jelas saat ini. Jenggot dan rambut panjangnya sudah dicukur habis. BRUK!!! Terdengar suara benda jatuh. Nampak Valko terduduk di atas lantai.


"Valko...." panggilku. "Ada apa?" tanyaku.


"PA...PA...." ucapnya lirih.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2