
"Kak Varrel!" terdengar suara yang tak asing. Nampak seorang wanita memakai blazer warna merah mendekat ke arah Valko. Ih, kenapa Nenek Sihir ini ada di sini, sih? 😡
Kulihat Si Nenek Sihir itu. Ih, dandanannya menor dan norak. Lipstick merah cetar ditambah blush on pink yang mencolok. Eyeliner-nya juga tebal sekali. Nggak ada cantik-cantiknya. Dia mau apa sih kemari. Bikin badmood pagi-pagi aja.
"Kakak, aku sudah lama menunggumu!" ucapnya sambil berjalan mendekat ke arah Valko.
"Kau sudah datang rupanya, Vita," balas Valko. Ih, Valko kok kamu malah menyapanya, sih? Dasar Serigala Menyebalkan! 😡
"Hubby," panggilku manja sambil memegang semakin erat lengan kanan Valko. "Bukankah kau...." aku ingin menagih janji Valko malam itu. Aku tak boleh kalah dari Si Nenek Sihir ini.
"Aku harus membahas urusan bisnis dengan Vita, Zeta," Valko melepaskan cengkeraman tanganku. "Ayo, Vita, kita bahas di ruang meeting lantai satu," ucap Valko sambil menatap Vita. "May, antarkan Zeta ke ruang kerjaku!" perintah Valko. Dia sudah memasuki suatu ruangan di dekat lobi ini. Valko, kau melupakanku begitu saja? Kau bahkan melupakan janjimu tadi malam! Huh! Dasar Serigala Menyebalkan! 😡
"Mari, Nona, saya antar," ucap Sekretaris May. Dia menekan pintu lift itu untukku. Aku pun masuk, rasanya aku benar-benar kesal.
Valko, kau menyebalkan! Dasar Serigala Menyebalkan! CLING! Pintu lift terbuka. Aku segera masuk ke dalam ruang kerja Valko. Di sana sudah ada para penjaga wanita berpakaian serba hitam lemgkap dengan kacamata hitam. Ih, dia mengurungku di sini, sedangkan dia bersenang-senang dengan Nenek Sihir itu. Valko, kau menyebalkan! 😡
"Anda membutuhkan sesuatu, Nona?" tanya Sekretaris May.
"Tidak!" sahutku ketus sambil masuk ke dalam kamar pink itu.
Biarpun ruangan ini dingin tapi tetap saja hatiku rasanya panas membara. Aku kenapa, ya? Apa aku sudah benar-benar mencintai Valko dengan hatiku seutuhnya? Ah, sudahlah! Lupakan! Sebaiknya kulanjutkan mengerjakan proposal skripsiku. Kunyalakan laptopku, kubuka file proposal skripsiku. Ih, meski sudah memaksa tetap saja aku tak mood. Kejadian tadi membuat mood-ku benar-benar hancur. Kubuka smartphone-ku, ada sebuah chat yang menarik perhatianku.
"Kakak!" ucapku tak percaya.
Nampak chat dari seseorang yang cukup lama tak menghubungiku. Itu chat dari kakak kandungku, Kak Brian. Febrian Eka Nugraha, nama lengkapnya. Dia adalah kakakku yang tengah mengadu nasib di Eropa. Sejak aku menikah, sudah lama dia tak menghubungiku.
Ada chat dari Kakak, bunyinya : 'Adek, apa kabar? Apa kau sedang sibuk? Bisakah kita vidcall sekarang? Kakak rindu padamu 😢'. Nampak di aplikasi chat itu Kak Brian sedang dalam kondisi online. Tanpa pikir panjang kuambil headset-ku. Kubaringkan diriku di ranjang. Video call itu kumulai. Nampak seorang pria dengan jas lab warna putih sedang duduk. Dia berkulit putih, hidungnya mancung. Rambutnya dipotong cepak.
"Adek!" ucapnya.
"Kakak!" teriakku sambil menahan air mata.
__ADS_1
Aku benar-benar rindu pada Kak Brian. Pernikahanku cukup mendadak. Dia tak bisa datang karena jadwal kerjanya yang padat. Kak Brian bekerja sebagai dosen di kampus luar negeri. Jadwal mengajarnya amat padat.
"Adek rindu Kak...." ucapku sambil menitikkan air mata.
"Kenapa kau menangis? Suamimu menyiksamu, hah? Dia memukulmu? Apa kau mengalami kekerasan? Dimana dia? Biar kuhajar dia!" ucap Kak Brian. Kakak, kasih sayangmu tetap sama seperti dulu.
"Aku baik-baik saja, Kak," kuhapus air mataku. "Aku terharu karena merindukan Kakak. Bagaimana keadaan Kakak di sana?" tanyaku sambil menatap layar smartphone.
"Adek...." Kak Brian nampak berkaca-kaca. "Kakak juga merindukanmu. Maaf, jika tak bisa hadir saat pernikahanmu.
"Nggak papa, Kak. Yang penting Kakak sehat kan di sana?" tanyaku.
"Aku baik-baik saja. Ah, sudahlah sedih-sedihnya. Coba cerita tentang keadaanmu! Apa kau sudah menemukan judul skripsi? Bagaimana pernikahanmu? Apa kau...." Kak Brian tak berhenti bertanya.
"Aku...." aku mulai menceritakan keadaanku. Gelak tawa dari canda tawa yang lama kurindukan terjadi. Mungkin inilah yang dimaksud teknologi dapat mendekatkan yang jauh.
"Zeta!" terdengar suara masuk ke dalam kamar ini.
"Adek, ada yang datang!" ucap Kak Brian. Kurasa dia menyadari kehadiran Valko.
"Nggak usah dipedulikan, Kak. Kak, kamu masih ada waktu nggak? Aku masih rindu nih!" pintaku.
"Aku sedang nggak ada jadwal mengajar hari ini. Kamu tenang aja, Dek," sahutnya. Hihihi, ini kesempatan bagus untuk mengerjai Valko.
"Taeyang!" panggil Valko. Kurasakan dia berbaring di sampingku. Huh, jangan harap aku mengganggapmu ada.
"Kakak Sayang, bagaimana kondisi di sana?" aku pura-pura cuek. Kubalikkan badanku membelakangi Valko. "Di berita-berita yang pernah kudengar, katanya ada badai yang sedang merebak di sana. Kakak Sayang, kau baik-baik saja kan? Aku sungguh khawatir!" ucapanku sengaja kukeraskan. Sengaja kuberi penekanan pada kata 'Sayang'.
"Zeta!" Valko terdengar berteriak. "Kau video call dengan siapa?!" teriaknya lagi. Aku sebenarnya dengar tapi dia tak kupedulikan. "Jawab aku!" tangan Valko menarik-narik kemeja yang kupakai. Aku tak peduli, diriku tetap berbaring membelakanginya. Hihihi, rasakan, emang enak rasanya dicueki.
"Kak Brian," panggilku. Aku harus tetap menjaga citra diriku, bahwa aku tidak selingkuh dengan pria lain. Tujuanku kan hanya untuk menjahili Valko. Bukan untuk memantik api pertengkaran. "Kakak Sayang, kapan kau pulang? Mama dan Papa sangat merindukanmu!" ucapku sambil tetap menatap layar smartphone. "Kau saudaraku satu-satunya!"
__ADS_1
"Zeta!" teriak Valko tepat di telingaku. Duh, telingaku berasa berdenging. Huh, jangan harap aku menyerah begitu saja.
"Kak Brian, Mama rindu berat padamu! Bulan ini jika aku pergi menjengukmu bersama Mama bagaimana? Jangan khawatir, aku sudah membuat paspor sejak jauh-jauh hari...." tanyaku. Sebenarnya ini rencana lama yang belum terlaksana. Hihihi, tapi saat ini aku hanya ingin membuat Valko semakin kesal saja sebenarnya! 😂
"Zeta, kau mau meninggalkanku?" terdengar suara Valko. Kurasa dia khawatir, aku benar-benar akan meninggalkannya.
"Apa suamiku? Jangan khawatir, Kak! Dia sedang sibuk mengurus urusan bisnis. Dia juga punya banyak pelayan di rumahnya. Jika kutinggal pergi sebulan saja tak masalah. Jangan khawatir, Kak. Valko sedang mengurus urusan bisnis yang sangat penting bersama teman masa kecilnya. Dia pasti akan baik-baik saja jika kutinggal selama sebulan!" ucapanku sengaja kuperkeras.
"Zeta!" teriak Valko di telingaku lagi. Aku tetap cuek dan tak berbalik menghadap ke arahnya.
"Aku akan pergi secepatnya, Kak!" ucapku. "Valko sedang sangat sibuk. Jika aku pergi pasti akan menghemat waktunya. Dia tak perlu mengurusku selama sebulan. Apa, Kak? Kau setuju? Ah, kau memang orang yang paling bisa kuandalkan!" aku ingin tahu apa reaksi Valko. "Ah!" teriakku. Valko tiba-tiba saja memanggul tubuhku di bahunya. "VALKO!" teriakku. "Apa yang kau lakukan? Turunkan aku! Cepat!" ucapku.
Valko membawaku berjalan keluar dari kamar pink itu. Langkahnya cepat sekali sehingga saat ini sudah sampai di lorong kantor. Para pegawai nampak mencuri pandang ke arahku. Astaga, Valko, kau mau apa, sih? Ini reaksi di luar dugaanku.
"Valko! Turunkan aku! Kau mau apa?"
"Diam! Akan kutunjukkan jika aku bisa diandalkan dan memiliki waktu yang cukup untuk mengurusmu!" sahut Valko ketus. Hihihi, jadi dia sudah terpancing oleh kejahilanku! 😆 Tunggu, dia mau membawaku kemana? 😨
"Valko! Turunkan aku!" teriakku lagi. "Kau mau membawaku kemana, hah?"
"Menepati janjiku! Akan kutunjukkan jika aku orang yang bisa diandalkan!" sahut Valko. Hihihi, sepertinya usahaku kali ini berbuah manis! 😂
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1