
Kupandangi wajah Valko. "Hubby, ayo main make up. Aku ingin merias wajahmu, hehehe."
"Astaga, Zeta! Kenapa permintaanmu makin rumit, saja!"
"Hubby, kau itu tampan. Kulitmu bersih dan putih. Seperti idolaku. Aku ingin make up-in kamu,Hubby. Boleh ya, ayolah!" Entah apa yang ada di otakku. Ide itu terlintas begitu saja. Hanya satu yang kuinginkan. Aku ingin mencoba merias Valko. Dia itu tidak dirias saja sudah tampan. Kulitnya putih, matanya cukup besar dengan tatapan sangar tapi memesona. Hidungnya saja membuatku insecure. Hidungnya mancung.
"Kau mau meriasku seperti apa?" Valko menatapku tajam. "Ini sudah malam, Zeta, Istriku. Sayangku. Kita main make up-nya besok saja ya. Lagipula, make up-mu kan di rumah...."
"Ini apa!" Segera kuambil tas selempangku yang kutaruh di atas meja belajar. Di tasku selalu kubawa pouch make up. Isinya tentu saja lengkap. Valko banyak yang mengincar dan dia punya posisi cukup penting. Aku tak mau penampilanku keliatan lusuh. Jadi harus selalu touch up. Segera kukeluarkan isi dari pouch make up itu. Mulut Valko nampak menganga. Hihihi, dia tak punya alasan lagi untuk menolak.
"Kau ingin mendandaniku seperti apa?" tanya Valko.
"Aku ingin mendandanimu seperti mereka!" Kutunjukkan foto idol kesayanganku. Make up natural dengan ombre lipstick pada bagian bibir adalah make up andalan para stylish mereka.
"Valko, kau tak mau memenuhi permintaan sederhanaku? Aku hanya melakukan make up ini saat kita berdua. Bukan di hadapan orang banyak."
Hihihi, berbicara dengan nada rendah adalah jurus andalanku dalam merayu Valko. Valko masih menatap foto di smart phone-ku. Dia menghela napas.
"Baiklah, baik. Lakukan apa yang kau inginkan. Nak, jangan meminta hal yang aneh-aneh lagi ya." Valko mengusap perutku.
__ADS_1
Hihihi, anakku. Jika kau ingin hal aneh lakukan saja. Sangat menyenangkan bisa menjahili ayahmu tercinta, hehehe.
"Sudah lakukan apa yang kau inginkan. Setelah selesai berjanjilah kau harus cepat tidur!" Valko memejamkan matanya. Astaga wajahnya yang bareface tanpa make up saja sudah seputih dan semulus ini. Kenapa aku jadi gemas ya? Spontan, kedua tanganku langsung menarik-narik pipi Valko.
"Ih, kenapa aku baru tahu jika kamu se-cute ini ya Valko!" pujiku. Valko hanya sedikit tersenyum tanpa membuka mata.
Tanganku mulai mengambil kuas make up dan memgoleskan eye shadow bernuansa orange peach ke kelopak mata Valko. Tak lupa kutambahkan eyeliner dan maskara. Rasanya menyenangkan seperti bermain simulasi jadi Make Up Artist Idol. Bagian pipi tak lupa kuolesi blush on tipis. Lipstick ombre di bagian bibir juga tak boleh lupa.
"Hey! Apa yang kau lakukan?!" Valko langsung membuka matanya saat tanganku mulai menyisir rambutnya yang terurai. Kukuncir rambutnya ke belakang sesuai gaya rambut idolaku. Kuikat dengan ikat rambut.
"Ah, sudah selesai!" Kutarik tangan kanan Valko menuju meja riasku.
"Ayo foto!" rengekku sambil mengambil smartphone. Valko hanya menurut saja. Beberapa kali kuambil gambar selfie setengah berdua dengan Valko. "Eh!" Valko merebut begitu saja smartphone dari tanganku. Dia langsung mencium pipi kananku sambil memotretnya. Ih, dasar jahil.
"Aku mau ambil hadiahku!" Valko menatapku dengan tatapan jahil.
"Hoahm! Aku ngantuk!" Langsung kuambil selimut lalu menyelimuti badanku. Valko sengaja kubelakangi. Dua tangan langsung melingkar di pinggangku. Embusan napas Valko berasa di punggungku. Haduh, bisa-bisa bajuku kotor kena make up nanti. Langsung kuambil micelar water dan kapas. Wajah Valko langsung kubersihkan dari make up.
"Dingin, Zeta!" keluh Valko sambil membuka matanya. Dia hanya berbaring sambil menatapku. Kenapa rasanya jadi aneh ya? Ditatap serius seperti ini.
__ADS_1
"Jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku merasa aneh, tahu!" ujarku sambil terus membersihkan wajah Valko.
"Aku senang bisa menatapmu. Senang karena kau ada di sini. Aku tak perlu khawatir lagi saat tidur. Aku beruntung dipertemukan takdir denganmu. Kau adalah putri kecil yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Maafkan aku karena pernah berbuat kasar atau membuatmu tak nyaman." Valko menatap Zeta. Tangan kanannya membelai pipi Zeta. "Aku benar-benar merasa buruk dan bersalah jika ingat sikapku di masa lalu. Kau diperlakukan dengan penuh kelembutan oleh orang tua dan keluargamu. Tetapi malah menemukan perlakuan kasar dariku. Aku benar-benar merasa buruk."
Ah, Valko. Aku sudah tak memikirkan hal itu. Tetapi perkataanmu ini kenapa ya berasa manis. Mungkin ibaratnya dia sudah berubah dari serigala galak menjadi puppy yang imut.
"Aih, jika kau seperti ini rasanya seperti puppy yang imut." Tanganku menarik-narik kedua pipi Valko. "Atau mungkin little kitty."
"Baiklah, untukmu aku memang bisa manus seperti puppy. Puppy juga butuh kasih sayang." Valko memelukku, kepalanya bersandar di dadaku. "Kau tahu, Zeta. Sebentar lagi kita akan jadi orang tua. Itu tanggung jawab yang besar. Kita akan jadi pendidik garis keturunan keluarga kita masing-masing. Bukan hanya ada kau dan aku, tapi ada si kecil. Rasanya aneh, nampaknya baru kemarin aku jadi anak kecil. Eh, sekarang akan menjadi orang tua. Ini tanggung jawab yang besar untukku. Kelangsungan garis keturunan keluargaku, ada di tanganku. Kita harus memperkuat komitmen kita, Zeta. Mulai sekarang aku akan berusaha selalu membuatmu nyaman. Aku tak ingin ada konflik konyol."
"Aku tak tahu, Valko. Aku belum kepikiran untuk jadi orang tua. Jujur, ini terlalu mendadak untukku. Kupikir mungkin setelah aku resmi wisuda, kita bisa merencanakan untuk punya anak. Tapi ternyata waktunya dipercepat oleh takdir."
"Jangan khawatir, Zeta. Aku ada di sini. Pasti aku akan membantumu menyelesaikan skripsi. Mari kita target saja. Pokoknya sebelum anak kita lahir, kau sudah wisuda." Valko menatapku lembut. Kubalas tatapannya dengan senyuman.
"Masih ada kurang lebih 9 bulan lagi. Kuharap tubuhku sehat sehingga bisa melewati semua ini."
"Kurasa lebih baik kau tinggal di rumah orang tuamu saja, Zeta."
"Hah?! Kenapa?"
__ADS_1