
Valko tetap memanggulku di bahunya. Para karyawan hanya berani mencuri-curi pandang saja. Kurasa aura Valko sudah membuat mereka takut untuk menatap secara langsung.
"Adek, ada apa?" terdengar suara dari smartphone-ku. Astaga, aku lupa jika video call-ku dengan Kak Brian belum terputus. "Apa kau bertengkar dengan suamimu? Handphone-mu nampak bergerak tak seimbang...."
"Tak ada apa-apa, Kakak Sayang. Tadi hanya...." ucapku sambil memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan siatuasi ini. "Eh!" tiba-tuba saja smartphone-ku direbut paksa.
"Terima kasih sudah menemani, Zeta, Kak," terdengar suara Valko. "Kenalkan aku Valko, suami Zeta. Sudah dulu ya video call-nya, ada urusan yang harus kuselesaikan bersama Zeta. Dia biasanya membuatku tak berkutik di siang hari seperti ini!" ucap Valko. Valko, maksudmu apa sih? Kau membuatku malu, tahu! 😣
TUT! Terdengar sambungan video call itu terputus. Valko menyimpan smartphone-ku di saku celananya. Apa dia tidak lelah, daritadi memanggulku seperti karung? Valko kembali berjalan dengan cepat. Aku hanya pasrah dan diam saja.
"Pergi ke mall! Cepat!" teriak Valko saat sudah sampai di dalam mobil. Kok wajahnya seram, sih? Aku kan cuma bercanda tadi. Diriku hanya duduk di pojok kursi mobil sebelah kanan.
"Va...val...ko...." ucapku saat tangan Valko mencengkeram daguku. Matanya sungguh mengerikan saat ini.
"Jangan pernah memanggil orang lain dengan panggilan sayang!" teriak Valko. "Hanya aku yang boleh kau panggil sayang! Aku tak suka jika orang lain kau panggil sayang, meski itu kakakmu! Ingat itu, Zeta!" teriak Valko lagi. Cengkeraman di daguku semakin kuat. Valko melepaskan cengkeraman di daguku.
"Va...val...ko...." ucapku saat dia memindahkan tubuhku ke pangkuannya.
"Diam!" ucap Valko. Dia mengeluarkan sapu tangan warna hitam dari saku jasnya. Sapu tangan itu digunakan untuk menutup mataku.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Kau mau membawaku kemana?" ucapku sambil berusaha menyingkirkan penutup mata itu.
"Diam!" teriak Valko. Dia memegangi kedua tanganku. Sudahlah, lebih baik aku diam saja! 😧
Mobil ini terasa terus melaju. Kalau tidak salah tadi Valko menyuruh pergi ke mall. Berarti kejutan itu ada di mall. Kira-kira apa ya yang akan dia berikan padaku? Meski tadi sempat diwarnai konflik kecil tapi tetap saja hatiku sekarang terasa berbunga-bunga. Mobil ini terasa berhenti melaju.
"Apa sudah sampai?" tanyaku penasaran. Tak ada jawaban yang kudapatkan. "Eh!" aku hanya bisa merasakan tubuhku terangkat. Valko sudah memggendongku. Kurasa dia menggendongku turun dari mobil. Kurasakan tubuhku sudah menyentuh tanah kembali. Penutup mataku dilepas oleh Valko.
"Apa ini?" tanyaku heran. Tepat di depanku ada sebuah kain hitam yang besar dan lebar. Kain itu menutupi sebuah area ruko yang berada di dekat pintu masuk mall.
"Coba tarik kain ini!" Valko memegang tanganku. Tangannya terasa lembut dan hangat. Kain itu kutarik dibantu gerakan tangan Valko. Begitu kain ditarik....
"Selamat datang!"terdengar suara yang familiar di telingaku.
Nampak tulisan 'D' Briallen Fashion Store' terpampang jelas di atas pintu kaca itu. Manekin-manekin nampak berjejer rapi di depan ruko ini. Manekin itu memakai gaun yang kurancang bersama Ogi dan Della.
"Kau tak mau masuk?" Valko menarik tanganku masuk ke dalam. Pintu kaca itu bisa bergeser otomatis.
"Canggihnya!" ucapku heran saat melewati pintu kaca ini. "WOW!" aku terpukau oleh keindahan di ruangan ini. Sebuah ruangan bercat putih. Lantainya dari marmer warna putih susu. Nampak gaun-gaun dari rukoku sudah tergantung rapi di lemari-lemari kaca ruangan ini. Beberapa manekin yang memakai gaun menghiasi salah satu sudut ruangan. Di sudut itu ada tulisan 'Welcone to D'Briallen Fashion Store'.
__ADS_1
"Lampunya bagus sekali!" mataku semakin terpukau saat melihat ke atas. Ada lampu gantung kristal berwarna pink. Lampu itu tingkat sepuluh dan digantung di tengah-tengah ruangan. Valko, kau menyiapkan semua ini untukku? Entah mengapa aku tak bisa menahan air mataku.
"Zeta!" panggil Valko. "Kenapa? Kau tak suka ya dengan desainnya?" Valko mendekat ke arahku. "Jangan menangis...jika kau tak suka aku...."
"Terima kasih, Hubby," Valko langsung kupeluk.
Rukoku yang lama rusak karena ulah peneror itu. Valko sudah memperbaikinya. Tak hanya itu, dia bahkan membuatkanku ruko yang bagus sekali sebagai kejutan untukku.
"Ze...ta...ehm...." entah mengapa aku langsung berjinjit. Tanpa pikir panjang kucium bibir Valko dengan penuh hasrat. Rasanya aku ingin memakan bibir yang terasa hangat ini.
"Terima kasih...." aku ingin menyampaikan ucapan itu lagi. "Valko, kau kenapa?" tanyaku bingung. Valko justru membekap mulutnya. Wajahnya nampak memerah. Dia tak berani menatapku.
"Aku harus kembali ke kantor...." ucapnya sambil pergi begitu saja. Astaga, apa dia malu karena aku menciumnya di depan Ogi dan Della? 😮
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍