Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 58 - Pendamping.....


__ADS_3

Aku merasa senang sekali. Akhirnya! Aku bisa dapat judul skripsi juga. Ini adalah sebuah anugerah yang sangat aku syukuri. Hatiku bisa sedikit tenang sekarang, meski perjalanan wisuda masih anat jauh tapi setidaknya aku punya garis finish yang sudah mantap dan jelas untuk memulai perjalanan itu.


Aku senang, senang sekali, hatiku merasa lega dan berbunga-bunga kurasa. Ini bisa terjadi tak lepas dari bantuan Valko. Entah kenapa aku ingin terus bergelayut manja di lengan kanan Valko. Bahu itu kepegang dengan erat.


Begini ya rasanya punya pendamping yang bisa menemani berjuang dalam masa skripsi. Ternyata rasanya menyenangkan juga. Jujur, aku sering iri pada teman-teman yang kukenal. Tak jarang aku menjumpai langsung atau melihat di sosial media, para temanku sedang bimbingan atau mengerjakan skripsi ditemani pacarnya. Si cowok akan setia menunggu sampai bimbingan itu selesai atau saat di perpustakaan, si cowok akan menemani teman cewekku dengan setia. Aku iri! 😭 Aku juga mau ditemani dan disayang-sayang waktu baru pusing berjuang kayak gini! 😢


Meski dulu ada Kai tapi kan hubunganku dengannya secara long distance relationship (LDR). Tentu, jarang bisa bertemu langsung. Aku tak ada bedanya dengan seorang jomblo. Apalagi jika sudah angkatan tua sepertiku, sudah jarang bertemu teman seangkatan. Sering aku merasa saat pergi ke kampus itu seperti orang asing yang tak punya teman. Tapi sekarang ada, Valko. Kebetulan jurusan kuliah kita sama, jadi dia bisa jadi teman curhatku.


Kenapa ya rasanya aku ingin memeluk Valko lebih erat lagi? Apa aku sudah benar-benar menyerahkan hatiku seutuhnya padanya? Waktu dia marah dan memintaku untuk melupakan Kai, aku hanya menurut saja. Mungkinkah ini efek dari ungkapan itu :'yang ada di hati akan kalah dengan yang selalu mendampingi dengan pasti'. Entahlah, tapi sekarang aku merasa senang Valko ada di sini. Kutatap Valko sambil berjalan keluar dari gedung ini.


"Ada apa?" Valko membalas tatapanku. "Kau ingin sesuatu? Aku mulai hafal tingkahmu, Tupai! Jika kau ingin sesuatu pasti dimulai dengan tatapanmu yang memancarkan sinar aneh itu!" celetuk Valko. Valko, kau seserius itu ya mengamati tingkah lakuku. Kau sampai hafal perubahan pada diriku.


"Hubby!" panggilku manja. "Ehm...apa kau ada waktu?" tanyaku ragu.


"Jika aku bisa ikut mengantarmu berarti waktuku seharian ini hanya kuagendakan bersamamu, Tupai. Kau ingin apa sebenarnya, hah?" tanya Valko.


Valko, kau bisa nggak sih berkata manis sedikit gitu. Aku sedang ingin dimanja-manja saat ini, tahu! Kukira kau peka, ternyata dugaanku meleset.


"Hubby, bisakah kau menemaniku ke perpus? Aku ingin meminjam buku untuk membuat proposal," mata Valko kutatap dalam-dalam.


"Ehm...." sahut Valko. "Kau mau ke perpus fakultas atau ke perpus pusat tingkat univ?" tanya Valko. Memang sih ada dua jenis perpustakaan satu tingkat fakultas yang ada di masing-masing fakultas dan satu lagi tingkat universitas.


"Perpus pusat, saja!" sahutku dengan ceria. Aku mengajak Valko masuk kembali ke mobil.


"Dimana perpus pusatnya?" tanya Valko saat kami sudah ada di dalam mobil.


"Ada di dekat gedung rektorat. Parkir saja di parkiran dekat rektorat," ucapku sambil menutup pintu mobil.


Mobil mulai melaju pelan, tentu saja masih diikuti dua mobil pengawal Valko. Aku tak bisa menahan diriku untuk kembali bergelayut manja di lengan Valko. Apa aku sudah kecanduan memegangi lengannya ya? 😮


"Setelah ini kau harus membayar balas jasa padaku, Tupai!" celetuk Valko.


Uh! Valko! 😑 Tak bisakah kau tidak memanggilku tupai saat ini? Itu merusak mood-ku, tahu! 😑 Sudahlah, aku sedang tak ingin berdebat.


"Tentu, Hubby," sahutku sambil tersenyum. "Kau ingin apa?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Kau akan tahu, nanti, Tupai!" ucap Valko.


Mobil ini berhenti, pintu mobil sudah terbuka. Nampak sebuah bangunan berbentuk kotak setinggi empat lantai. Kaca-kaca yang seolah berwarna biru muda bening menjadi dinding-dindingnya. Ini adalah gedung perpustakaan tingkat universitas. Sudah lama aku tak kemari.


"Sebagian penjaga sudah menyamar dan masuk ke dalam perpustakaan, Tuan," ucap Sekretaris May.


"Ehm!"sahut Valko singkat. "Kau jalan duluan, Tupai!" perintah Valko.


Aku pun memilih melakukannya tanpa mendebatnya. Kami tiba di pintu masuk perpustakaan ini. Pintunya berupa dua buah pintu kaca yang bisa bergeser secara otomatis. Saat akan masuk ke dalam ruang perpustakaan mahasiswa harus men-scan Kartu Tanda Mahasiswa terlebih dahulu.


"Temanmu disuruh mengisi presensi dulu, Tata!" ucap petugas penjaga pintu. Dia menyerahkan buku tulis seukuran folio padaku.


"Saya suaminya, Pak!" protes Valko. Dia mengisi data diri di buku itu.


"Saya kira cuma temenmu, Ta. Ternyata suami kamu!" ucap petugas perpustakaan. Dia lalu menyerahkan tanda pengenal bertuliskan 'Visitor' pada Valko. Valko mengalungkan tanda pengenal itu di lehernya. "Dijagain yang bener Tata-nya. Jangan sampai lepas, dia banyak yang ngincer lho! Ratu teater cantik kayak Tata banyak yang suka," ucap petugas itu. Pak, tolong jangan ungkit tentang itu sekarang.


"Ehm!" sahut Valko sambil menggandeng tangan kananku.


Duh, gimana nih! 😣 Wajah Valko sudah cemberut. Valko, jangan marah sekarang, ya! 😢


"Kak Tata!" terdengar seseorang memanggilku.


Astaga, ada sekelompok mahasiswa cowok datang ke arahku. Duh, kok aku tadi nggak make masker sih. Aku lupa jika diriku mendapat julukan sebagai ratu teater kampus. Aku sering tampil di berbagai drama teater dengan penonton yang banyak. Aku cukup terkenal di kalangan kampus, bisa dibilang artis lokal area kampus sini. Teman-temanku bilang banyak orang yang sudah nge-fans padaku. Mereka bilang aku cantik dan aktingku bagus. Padahal kurasa kemampuan aktingku ada di level rata-rata. Wajahku juga tidak cantik-cantik amat, jika aku bisa dibilang cantik itu kan karena the power of make up.


Cukup dikenal di area kampus itu menyenangkan, tapi sisi yang tidak mengenakan saat ada orang semacam fansku yang mengenaliku seperti saat ini. Mereka meminta foto padaku setiap kali bertemu. Jika kutolak rasanya tak enak, karena itu aku hampir selalu mengiyakan ajakan itu.


"Satu...dua...." ucap salah satu cowok. Dia mengarahkan kamera depannya ke arahku.


Aku berpose di tengah-tengah gerombolan cowok. Ada sekitar tujuh cowok di sini. CLAP!!! Lampu blitz itu sudah menyala. Kurasa foto ini sudah selesai.


"Ayo, Zeta!" ucap Valko. Dia sudah memegang tangan kananku. Aku sudah merasakan aura mencekam dari wajahnya. Duh, dia pasti sudah terbakar api cemburu! 😣


"Tunggu, Kak!" celetuk salah satu cowok itu lagi. "Aku mau foto selfie bareng Kak Tata!" dia langsung memgarahkan kamera depannya ke arahku. Bahu kananku dirangkul begitu saja.


Dek, kamu nggak takut sama Valko? Valko, please, jangan mengamuk di sini, ya! 😣 Aku menatap ke arah Valko, dia membuang pandang sambil membelakangiku. Kedua tangannya nampak menyilang di dada. Untung saja! Untung! Kurasa Valko bisa menahan emosinya.

__ADS_1


"Kak, aku juga mau foto sama Kak Tata!" celetuk cowok lain.


"Aku juga mau! Aku juga mau!" anak-anak cowok yang lainnya juga ikut melakukan aksi yang sama.


Aku pun terpaksa meladeni mereka. Jujur, meski pun di dalam foto aku nampak tersenyum tapi sebenarnya itu senyum ketakutan. Bukan ketakutan karena reaksi Valko padaku nanti, aku lebih takut jika nanti akan terjadi perang dunia di sini!


TAK! KLETAK! Terdengar suara, kurasa itu suara dari bunyi pergerakan tulang di jari tangan. Aku menatap ke arah Valko. Ya ampun! Jantungku rasanya mau copot! 😭 Valko sudah meregangkan jari-jari tangannya. Dia terus menggerak-gerakkannya membentuk kepalan. Aku harus segera pergi dari sini. Aku harus pergi sebelum konflik pecah.


"Sudah ya, Dek! Kakak harus pergi mencari buku buat skripsian!" ucapku sambil melangkah menuju Valko.


"Kak Tata!" terdengar teriakan seorang cowok. Tiba-tiba di depanku ada seorang anak cowok. Dia bersimpuh sambil memegang setangkai bunga mawar.


"Aku sudah lama jadi penggemar Kak Tata. Tapi, aku tak bisa memungkiri jika perasaanku lebih dari sekedar perasaan seorang fans. Kak Tata, aku cinta padamu!" ucap cowok itu sambil menatapku.


Rasanya telingaku seperti kemasukan lebah. Jantungku rasanya sudah copot. Aku merasa sesak seolah tak bisa bernapas. Ya ampun! 😭 Kenapa sih ada fans yang senekat ini! 😭 Apa dia tak tahu jika Valko adalah suamiku!


"Dek, maaf...." aku berusaha melangkah pergi.


"Aku benar-benar cinta pada Kak Tata!" anak cowok itu meraih tangan kananku. Dia berdiri lalu menggenggam tanganku. "Tolong terima perasaanku, Kak!"


"Dek, maaf aku nggak bisa!" aku berusaha melepaskan kedua tanganku.


"Aku siap melamar Kak Tata hari ini juga!" teriak anak cowok itu.


WHAT! Aku benar-benar merasa tak bisa bernapas. Melamar? Dek, kamu tahu nggak sih kalo aku sudah menikah?! 😣


"Aku benar-benar cinta pada Kak Tata!" ucap anak cowok itu lagi.


Aku menatap ke arah Valko. Dia sudah berbalik menghadap ke arahku. Kedua tangannya nampak mengepal. Urat nadi di kedua tangannya bahkan terlihat sangat jelas. Please! 😭 Jangan ada perang dunia pecah di sini! 😭


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2