Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 47 - Selingkuh?


__ADS_3

Jangan! Jangan! Ah!😱 Gawat! Valko sudah menekan tanda accept pada layar untuk menerima video call itu. Gawat! Gawat! 😵 Tamat sudah riwayatku! 😱


"Halo Adek...." nampak wajah Kai ada di sana.


Aku ingin bersembunyi di dalam tanah saja rasanya. Hiks, tak bisakah aku hilang saja saat ini?😭. Valko masih memegang smartphone itu ditangannya. Jantungku rasanya berdebar kencang. Saking kencangnya jantung ini rasanya mau melompat keluar dari tempatnya.


"Kamu..." ucap Kai. TUT! Panggilan itu terputus.


"Baterainya habis!" ucap Valko.


BRUK!!! Aku langsung jatuh terduduk di tanah. Aku merasa amat takut. Takut sekali. Peristiwa ini sangat di luar dugaanku.


"Kau kenapa, Zeta?" Valko nampak khawatir.


Astaga, bagaimana aku harus menjelaskan hal ini? Aku tak mungkin berbicara jujur bahwa aku takut karena Kai melakukan video call. KRUK!!!! Terdengar perutku berbunyi amat nyaring. Ini memalukan tapi entah mengapa ini justru suatu keajaiban saat ini.


"Oh....kau lapar rupanya? Hahaha!" Valko tertawa terbahak-bahak. "Kukira kau terjatuh karena kaget selingkuhanmu menelepon, Tupai....." Valko mengusap kepalaku. Valko, kau tak punya kemampuan membaca pikiran kan? Astaga, memiliki dua hubungan itu tak nyaman. "Kenapa kau tertegun?" tanya Valko. "Kau benar-benar selingkuh, ya?" Valko mencengkeram daguku. Dia menatapku dengan tatapan tajam nan mengerikan. Hawa di sekitarku berubah mencekam seketika.


"Valko, aku...." bagaimana aku harus menjawabnya. Apa Valko sudah tahu? Jangan-jangan dia sudah tahu.


"Hahaha!" Valko tertawa terbahak-bahak.


"Apa yang kau tertawakan?" ucapku heran.


"Wajah ketakutanmu itu sangat lucu, Tupai...." Valko menahan tawanya. "Aku hanya bercanda. Apa kau mengganggapnya serius?" tanya Valko. Kai memang benar-benar kekasihku sebelum menikah denganmu, Valko. Bagaimana aku tak mengganggap ucapanmu serius? 😢


"Bercandamu tidak lucu," sahutku lirih. Aku tertunduk sambil berusaha berdiri.


"Aku hanya bercanda, Tupai Kecilku."


Valko membantuku berdiri. Dia menggendongku lagi, kami berjalan keluar dari area pemakaman menuju mobil yang terparkir tepat di depan pemakaman. Valko mendudukanku di kursi baris kedua. Mobil ini mulai melaju.


"Langsung kembali ke rumah Opa dan Oma, May!" perintah Valko. Dia meletakkan kepalanya di pangkuanku. "Pangkuanmu memang tak berubah kenyamanannya, Tupai," Valko menarik tangan kananku. "Belai aku! Apa beberapa hari saja kau sudah lupa?" ia menatapku tajam.


"Iya, maafkan aku, Cayang...." aku pun mulai membelai kepala Valko.


"Kita akan makan malam di rumah. Ada rekan bisnis yang akan datang setelah makan malam nanti . Kau boleh makan sepuasmu. Tadi kita belum sempat makan siang. Kau tak masalah kan? Aku takut tubuhmu jadi bertambah kurus hingga seperti lidi," ucap Valko.

__ADS_1


Valko, kau sebenarnya ingin mengejek atau memuji sih? Kurus itu bagus tapi jika kurus sampai seperti lidi, kurasa kau lebih cenderung mengejekku. Sudahlah, aku malas berdebat dengannya.


Kulihat ke arah kaca jendela mobil sambil terus membelai rambut Valko. Nampak hari sudah sore mungkin mendekati senja. Ck! Ternyata foto saja menghabiskan waktu seharian. Sekarang, pulang lagi ke rumah Opa dan Oma untuk membahas urusan dengan rekan bisnis. Tunggu, rekan bisnis?


"Au! Sakit!" teriak Valko. "Apa salahku? Kenapa tiba-tiba kau menarik rambutku?" protes Valko sambil memegangi kepalanya.


"Siapa saja rekan bisnismu? Apa Nenek Sihir Merah itu juga diundang?" tanyaku emosi.


Aku langsung membekap mulutku. Apa yang dikatakan mulut terkutukku ini? Mengapa aku jadi seperti wanita yang amat pencemburu sih? 😭


"Nenek Sihir Merah? Siapa maksudmu?" tanya Valko. Aku membuang muka.


"Bukan apa-apa," sahutku. "Anggap saja aku salah bicara," aku membuang muka.


"Oh, maksudmu Vita?" aku tertegun. "Kurasa benar, jika yang kau maksud itu Vita. Dia memang suka memakai baju warna merah karena itu warna favoritnya sejak dulu....." jawab Valko.


Kau bisa tahu warna kesukaan Nenek Sihir Merah itu tapi kau bahkan tak tahu dimana letak kampusku! 😡 Valko, kau menyebalkan! Aku langsung menjewer telinga kanan Valko.


"Hentikan, sakit!" Valko melepaskan jeweranku. "Kau ini kenapa? Kenapa telingaku dijewer? Salahku apa? Sakit, tahu!" Valko mengelus-elus telinganya.


"Vita tak diundang, rekan bisnis keluargaku bukan cuma Vita. Jadi, hentikan rasa cemburumu itu, Tupai!"


"Siapa yang cemburu? Aku tak cemburu. Aku hanya murka karena kau lebih mengenal Vira daripada istrimu sendiri!" aku langsung membekap mulutku pagi.


Apa yang kukatakan? Istri? Diriku tercinta kau ini kenapa sih? 😭 Kenapa kau mengeluarkan reaksi seperti wanita posesif yang amat pencemburu sih.


"Iya, aku takkan membahas Vita lagi. Zetaku Tercinta, jangan murka lagi ya," bujuk Valko.


"Ehm...." sahutku ketus.


Tak terasa kami sudah tiba di rumah Opa dan Oma. Di depan rumah itu sudah berjajar sekitar tiga mobil. Suasana di dalam rumah nampak cukup ramai. Valko, bangkit lalu menggendongku masuk ke dalam rumah.


"Wah, ini cucumu ya, Jeng Wulan!" ucap salah seorang wanita berambut putih. "Dia gagah, ganteng, romantis dan sayang istrinya banget," wanita itu mendekatiku.


"Jeng bisa aja," sahut Oma Wulan. "Maklum, Jeng. Pengantin baru, baru manis-manisnya, hahaha," canda Oma Wulan.


"Istrinya juga cantik, Jeng," wanita itu melirikku. "Siapa namamu, Nak?" tanyanya padaku.

__ADS_1


"Nama saya Zeta...." jawabku.


Dua wanita ini masih terus berbicara. Opa Dedy juga sama saja. Beliau juga masih sibuk berbincang-bincang dengan rekan bisnis itu. Untung saja Nenek Sihir Merah itu benar-benar tak ada, jika dia ada mungkin sudah kuberi pelajaran habis-habisan.


"Eh, ayo kita makan malam dulu aja," ajak Oma Wulan. Aku pun digendong Valko menuju meja makan. Astaga, semua makanannya nampak lezat. Ini semua makanan lokal kesukaanku.


"Silahkan nikmati hidangannya," ucap Opa Dedy. Segera aku menikmati makanan itu. Aku hendak mengambil ayam bakar yang nampak lezat di dekat Valko.


"Biar aku ambilkan!" Valko mengambilkan sepotong paha ayam untukku. Dia juga mengambilkan nasi untukku serta lalapan.


"Terima kasih," ucapku. Aku hendak mulai makan dengan sendok dan garpu yamg sudah kugenggam.


"Sini, aku suapi," Valko mulai menyuapiku.


Valko memotong ayam lalu mulai mengambil nasi. Satu suapan masuk ke mulutku. Aku hendak menyuapinya balik.


"Tak usah, biarkan aku melayanimu. Kau kan permaisuriku," sahut Valko.


Valko, ini di depan banyak orang tahu. Tetap saja aku merasa baper. Apalagi pandangan orang-orang menatap ke arah kami.


"Uhuk-uhuk!" aku sedikit tersendak.


"Ini, minum ini! Pelan-pelan, tak usah buru-buru," Valko memberikan segelas air putih yang ditambahkan sedotan. Tangan kanan Valko memegang sedotan dan tangan kirinya memegang gelas. "Makanya kalo makan jangan banyak berpikir. Ada noda di bibirku yang manis," Valko mengusap bibirku lembut.


Valko! 😣 Tak bisakah kau berhenti! Aku malu dan baper, tahu! Valko masih saja menyuapiku hingga makanan dalam piring itu habis. Saat itu tepat dimana semua orang sudah selesai makan.


"Saya mohon ijin dulu, Opa, Oma dan semuanya. Istri saya sedang lelah karena kurang tidur, dia terlalu sering bermain bersama saya di kamar," ucap Valko sambil menggendongku. Nampak orang-orang mulai berbisik-bisik. Valko, tak bisakah kau menyimpan cerita itu untuk kita saja? 😭 Aku malu tahu! 😣


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2