Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 143. Bersama Kakak


__ADS_3

"Hati-hati di jalan, Bro. Terima kasih sudah berkunjung ke salonku. Kapan-kapan kemari lagi ya, hehehe." Terdengar suara Tyo, sahabat Valko. Dia mengantar kepulanganku dan Valko hingga halaman depan salon itu. Dari pintu mobil yang terbuka, bisa kulihat jika Tyo menahan tawanya.


"Ehm!" sahut Valko sambil menutup pintu mobil. "Sudah sana pergi! Sampe kapan kau mau berdiri di situ?!" Valko menatap tajam ke arah Tyo.


"Bentar-bentar aku belum memotretmu, Bro. Hahaha! Lucu! Istrimu nyidam pengen kamu ngecat rambut!" Tyo nampak mengarahkan smartphone-nya ke arah Valko. Segera kuhalangi usaha Tyo. Wajah Valko segera kututupi dengan sweater pink yang selalu kubawa.


"Dada, Kak Tyo! Kami pergi dulu, ya!" pamitku sambil menekan tombol agar kaca mobil terangkat naik. Mobil segera melaju meninggalkan halaman depan salon itu. Aku menghalangi usaha Tyo karena aku tak suka jika ada yang memotret Valko. Mungkin ini ya ungkapan kalo orang ganteng didandani seperti apa pun tetap saja memesona. Awalnya aku ingin jahil ke Valko dengan meminta dia mengecat rambutnya. Setelah prosesnya selesai kenapa malah hasilnya jadi begini. Dia malah makin tampan. Rambutnya jadi kuning keemasan ditambah lagi kulitnya memang putih bersih. Dia jadi seperti orang Eropa mungkin.


"Kau memelukku lagi?" Valko membelai kepalaku. "Aku sudah mengabulkan keinginanmu dan calon anak kita. Ini pertama kalinya dalam hidupku, aku mengecat rambutku. Rasanya agak aneh tapi bagaimana menurutmu?" Valko menatap mataku. Tangan kirinya mencengkeram daguku dan mengarahkannya ke arah atas. Mataku dan mata Valko saling bertatapan. Kujawab hal itu dengan memberi satu kecupan di pipi kanannya.


"Hanya itu?" Valko protes. Dia memang suka memanfaatkan keadaan. "Kau seharusnya memberiku di sebelah sini!" Dia menunjuk bagian bibirnya. Valko mengarahkan wajahku mendekat ke arahnya. Tunggu! Ini di dalam mobil. Ada Pak Sopir dan Asisten Valko di depan sana. Refleks aku langsung memalingkan wajahku.Terdengar suara dari dalam tasku di saat yang bersamaan. Dering tanda telepon masuk jadi penyelamatku.


"CK! Siapa sih yang meneleponmu?" keluh Valko. Siapa pun itu, dia menyelamatkanku dari momen yamg bisa saja jadi aneh.


"HAH! Kak Brian!" Nampak nama kakakku di layar smartphone itu. "Halo Kak!" Sapaku.


"May! Kembali pulang ke rumah baru!" Perintah Valko.


"HAH! AKU LUPA!" Teriakku kencang. "IYA, KAK! IYA! AKU SEGERA PULANG!"


"PAK MAY! PULANG KE RUMAHKU!"


"Ehm ...." Sekretaris May keliatan bingung.


"Hubby, aku pengen pulang ke rumah!" Kutatap Valko dengan tatapan andalanku. Tatapan penuh pengharapan dengan raut agak sedih.


"Iya, iya. Baiklah, baik! May! Turuti kata Zeta!" Valko menghela napas. "Di rumahmu sebenarnya ada apa? Kemarin bukan kah semuanya baik-baik saja?" Valko menatapku. Aku pura-pura tak mendenganya dan fokus memperhatikan smartphone. Jika kubilang alasannya sekarang, aku khawatir dia akan menolak bahkan mungkin menertawakanku.


"Sudah sampai, Tuan, Nyonya!" Pak Sopir memarkirkan mobil tepat di depan halaman rumahku. Tanpa pikir panjang aku langsung bergegas membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Semoga tak terlambat. Aku segera menuju ke ruang keluarga yang ada di belakang lantai satu.


"ZETA!" JANGAN LARI-LARI!" Terdengar teriakan protes Valko. Kurasa dia mengikutiku dari arah belakang.


"KAKAK!" teriakku. Nampak Kak Brian sudah siap dengan segala perlengkapan. Dia sudah menyiapkan semuanya.


"Akhirnya, kau datang!" Dia menarikku masuk ke dalam. Nampak beragam cemilan tersaji di atas meja. Lightstick juga sudah disiapkan olehnya.


"ASTAGA!" terdengar teriakan Valko. "Kau tergesa-gesa minta pulang ke rumah karena ini?" Valko nampak bingung. "ZETA! Jika kau ingin nonton TV di rumah kita juga ada!"


"SSSTTT!!! Hubby, ini momen spesial. Aku mau nonton bareng Final Survival Show bareng kakakku. Boyband idolaku dan kakak ada di sini. Mumpung Kakak di sini! Kita kan satu fandom!" Aku menyandar manja di bahu kanan Kak Brian.


"Maaf, tak membuatku khawatir, Valko. Aku tak bermaksud begitu. Aku hanya ingin menonton bersama adikku seperti dulu. Jika kau ingin marah, marahlah padaku. Jangan lampiaskan kepada adikku." Kak Brian menatap Valko. Valko meghela napas.

__ADS_1


"Sudahlah, tak perlu minta maaf. Yang penting Zeta senang." Valko turut duduk lesehan di atas karpet tebal. Dia duduk di samping kananku. Menonton sambil lesehan adalah posisi yang terbaik. Sofanya yang ada dimundurkan dahulu ke belakang.


"Apa mereka sudah tampil?" tanyaku pada Kak Brian.


"Belum. Setelah grup yang ini mereka tampil!"


Tanganku tanpa sadar mulai memakan cemilan yang ada di atas meja. Mataku fokus menonton ke arah flat TV itu. Untung Final Survival Show-nya ditayangkan secara live streaming global. Jadi fans internasional sepertiku bisa mengikuti dengan mudah. Video dimulai dengan menceritakan proses pembuatan lagu dan proses boyband idolaku berlatih keras. Mereka berlatih keras untuk menghapal korea yang rumit sambil bernyanyi.


"Wah, ternyata persiapannya rumit juga, ya!" ujar Valko. Dia mencomot cemilan dari tanganku. Ih, padahal kan tinggal ambil sendiri. "Aku baru tahu jika boyband K-Pop harus berlatih sekeras itu sebelum tampil. Perjuangan mereka patut diapresiasi."


"Bukan cuma itu, Hubby. Mereka itu berlatih selama bertahun-tahun lho, sebelum bisa debut. Mereka juga jadi trainee prosesnya juga tidak mudah. Harus ikut audisi dulu dari ribuan orang. Aku suka K-Pop karena menginspirasi. Aku ternspirasi oleh perjuangan keras para idolaku. Selain itu lagu-lagu mereka juga keren dan penuh motivasi. Motivasi untuk memperjuangkan impian di masa muda."


"Eh! Sudah mau tampil!" ujar Valko. Mataku kembali menatap ke arah layar TV. "Wah, kreatif idenya. Memadukan musik klasik dan juga K-Pop." puji Valko.


"Biasku itu spesial. Selalu membuat lagu yang luar biasa." Kak Brian menyahut.


"Koreografi yang sangat rumit. Pasti susah itu menari meloncat-loncat sambil menyanyi!" Valko kurasa mulai menikmati acara ini.


"AAAA!!!!" teriakku kencang di tengah-tengah penampilan mereka. Rasanya ingin meloncat. Aku sungguh-sungguh terkejut. Sang leader grup pamer roti sobek alias ABS. Dia sampai bertelanjang dada.


"Bagus juga tubuhnya. Pasti dia rajin olahraga dan diet." puji Valko dengan santai.


"Hubby!" panggilku. "Apa kau sakit?" Telapak tanganku memeriksa dahi Valko. Suhunya normal. Tidak demam.


"Aku baik-baik saja, Zeta. Sudahlah, fokuslah saat sedang menonton!" sahut Valko.


"Ta ... pi ...." selaku.


"SSSTTTT!!! Aku sedang ingin fokus menonton!" Valko menyuapkan cemilan ke mulutku. "Aku suapi."


Apa yang terjadi? Apa Valko salah makan? Apa kepalanya terbentur sesuatu hari ini? Kenapa dia tak cemburu saat aku berteriak tadi? Dia juga biasa saja dan santai. Apa jangan-jangan dia sangat marah? Oh, tidak. Aku lebih suka dia cemburu daripada dia diam seperti ini. Valko terus fokus menoton. Dia juga tanpa henti menyuapkan cemilan ke mulutku. Waktu pengumuman juara pun tiba. Aku deg-degan. Apalagi MC dan musiknya juga bikin tegang. Meski tak begitu paham bahasanya dan tak ada subtitle tapi aku bisa paham dari visual yang ditampilkan.


"YEEE!!!!" teriakku dan Kak Brian. "Mereka juara! Anak-anak idol kita juara satu, Kak!" Aku toss dengan Kak Brian.


"Iya, Dek. Nggak sia-sia kita berjuang vote dan streaming buat mereka. Berasa jadi bapak yang bangga liat anak-anaknya juara."


"Aku juga berasa gitu. Ngikutin mereka dari jaman survival sebelum debut sejak 3 tahun yang lalu. Berasa jadi emak yang bangga liat anaknya juara."


"Eh, sudah malam, nih. Kamu dan Valko lebih baik segera istirahat. Papa sama Mama baru pergi ke nikahan. Kalo lapar, Bibi dah masak kok. Kamarmu juga udah diberesin tadi. Apa mau pake kamar tamu?"


"Tidak, Kak. Pake kamar Zeta saja!" sahut Valko.

__ADS_1


"Valko!" teriakku. Dia tanpa basa-basi langsung mengendongku.


"Ayo, Sayang. Tupai Kecilku Tercinta perlu dimandikan!" bisik Valko.


Dimandikan? Sudahlah, bukankah ini sudah jadi rutinitas rutin. Saat pintu kamarku dibuka dan lampu dinyalakan, suasananya masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah. Warna pink dindingnya, perabotannya, bahkan stiker-stiker berbentuk bintang yang ada di plafon rumah pun masih tertempel rapi. Tanpa menurunkanku, Valko langsung membawaku ke kamar mandi.


"Wah, baju tidurku yang kutinggal di lemari masih muat!" Nampak bayangan diriku di cermin rias itu. Piyama warna pink ini masih muat kupakai. Berarti aku tidak bertambah gemuk. Hihihi, suatu hal yang menyenangkan.


"Berarti aku kurang banyak memberimu makan!" terdengar suara dari arah belakang. Tubuhku langsung berpindah ke pangkuannya. Valko, setidaknya sisir dan keringkan rambutmu dulu. Daguku sudah dicengkeram tangan kanannya.


"Kau mau apa? Keringkan rambutmu du ...." Mulutku langsung dibungkam. Kecupan mendarat di bibirku. Ingatannya memang kuat.


"Menyelesaikan hal yang tertunda! Sudah, ayo tidur!" Valko memindahkanku ke sampingnya.


"Sisir dan keringkan dulu rambutmu, Valko! protesku.


"Ehm!" Valko menyerahkan handuk, hairdryer dan sisir ke arahku dan dia membelakangiku. "Kau yang membuatnya, kau juga yang harus merawatnya."


Jadi, dia ingin aku jadi tukang sisirnya mulai sekarang? Aku menghela napas. Valko, jika kau ingin dimanja tinggal bilang saja. Tanganku mulai menyisir dan memgeringkan rambutnya. Sepertinya aku sangat jarang menyisir rambut Valko. Atau mungkin malah belum pernah. Dia malah jadi seperti tokoh film animasi berambut panjang warna kuning keemasan. Hihihi, mungkin next weekend aku bisa minta dia mencoba make up karakter.


"Kenapa kau tertawa? Hah?" Valko mencubit pipiku. "Kau berencana menjahiliku? Kau jadi tupai kecil yang nakal lagi ya?" Dia menatapku tajam. Apa sekarang dia punya kemampuan membaca pikiran?


"Ah, aku mau bobok!" Tubuhku langsung kututupi dengan selimut. "Valko!" Dia langsung menyusup ke dalam selimut. Kenapa dia hanya pakai celana panjang saja sih? Apa dia mau pamer roti sobek sepanjang malam?


"Pakai bajumu! Kau nanti kedinginan!"


"Kau pulang mendadak. Mana sempat aku membawa baju ganti!" Dia langsung memelukku. "Bukankah ini seperti nostalgia waktu itu? Waktu kau memeluk pungungku dari arah belakang?"


Duh, aku jadi malu. Kenapa dulu aku seperti itu sih. Kehaluanku membuatku memeluk Valko. Oh iya, aku kan punya itu. Jika tak salah ada di lemari bagian bawah, jadi satu dengan hoodie-ku.


"Kau mau mencari apa malam-malam?" Dia tak kuhiraukan. Mataku fokus ke arah bagian bawah lemari. Nah, sudah kuduga tak juga berubah. Koleksi pakaianku memang tak ada yang berani mengubahnya, hihihi.


"Nih, kau bisa pakai ini!" kutarik satu kaos warna biru.


"Kau menyimpan baju berukuran besar di lemarimu? Ini masih baru! Label harganya bahkan belum dilepas. Ini lumayan mahal, Zeta!" Valko menatapku. "Jangan-jangan ini dulu hadiah untuk mantanmu yang itu ya!" Dia menatapku semakin tajam.


________________________________________________


Maaf, baru bisa update 😭


Terima kasih bagi yang sudah setia membaca dan mendukung karya author 😄

__ADS_1


__ADS_2