
Valko menggandeng tangan kananku saat melewati lorong kantor ini. Dia berjalan dengan tatapan angkuh tapi berwibawa. Para pegawai nampak melirik ke arahku sekilas. Dinding kantor ini terbuat dari kaca. Jadi, setiap kejadian di lorong terlihat dengan jelas.
Aku sebenarnya malu tapi juga merasa bangga. Ehm...mungkin rasa bangga ini datang karena Valko memggandeng tanganku dengan erat di depan para karyawannya. Apalagi di belakangku ada Sekretaris May dan dua orang pengawal Valko. Rasanya seperti orang penting saja! 😎
TRING! Pintu lift nampak terbuka. Valko memimpin masuk ke dalam lift itu. Sekretaris May dan dua orang pengawal itu tidak ikut masuk. Kenapa hanya berdua saja ya? Pertanyaan itu muncul di pikiranku.
"EH!" teriakku spontan.
Tiba-tiba saja Valko sudah memeluk tubuhku dari arah belakang. Pipi kananku dicium terus-menerus. Valko, kau ingin bersikap manis atau ingin memakan wajahku sih? Ciuman itu berlanjut hingga ke dahi dan tentu saja bibirku. Aku hanya pasrah dalam cengekeraman Valko.
"Kau membuatku takut, tahu! Kukira kau hilang karena diculik!" celetuk Valko.Tatapannya benar-benar menyiratkan rasa khawatirnya.
"Maaf membuatmu khawatir, Hubby!" kusentuh pipi kiri Valko dengan tangan kananku. "Aku tak mungkin diculik. Kita terpisah saat di depan lobi kantormu. Ini akibat karena aku lambat dalam berjalan. Mulai sekarang akan kupercepat langkahku...."
"Mulai sekarang, aku juga akan lebih ketat dalam mengawasimu, Taeyang. Aku akan mencarikan pengawal wanita pribadi untukmu!" ucap Valko.
"Tak perlu, Valko!" aku menolak.
Jika itu terjadi bisa-bisa kebebasanku jadi semakin sedikit. Saat bersama Valko saja, kebebasanku sangat terbatas. Jika ada pengawal wanita pribadi bisa-bisa aku jadi benar-benar gila karena terkekang.
"Jika aku bilang sesuatu maka itu adalah perintah, Zeta! Suka atau tidak, kau harus menurut! Keselamatanmu adalah tanggungjawabku! Paham!" ucap Valko dengan nada meninggi. Dia menatapku dengan tatapan tajam nan dingin. Duh, jika Valko seperti ini aku jadi tak berani mendebat balik.
TRING! Pintu lift terbuka. Nampak sebuah lorong menuju ke suatu pintu masuk. Pintu itu cukup besar, bahannya terbuat dari kayu yang dicat coklat muda. Sekretaris May dan dua pengawal itu sudah ada di depan pintu. Valko melepaskan pelukannya, dia kembali menggandengku.
__ADS_1
"Silahkan, Tuan, Nona...." ucap Sekretaris May sambil membuka pintu coklat muda itu. Di atas pintu itu ada tulisan 'Ruang CEO Valko Infinity Ava Company'.
"WOW!" ucapku kagum. Kulepaskan gandengan Valko.
Diriku terlalu sibuk mengagumi kemegahan ruangan ini. Ruang kerja Valko minimalis tapi masih terkesan megah. Ada sebuah meja kerja berwarna silver. Di belakang meja itu ada sebuah kursi kantor berwarna hitam. Sandaran kursi yang tinggi dan lebar nampak memberi kesan berwibawa dan penuh kuasa. Di belakang meja kerja itu ada sebuah jendela atau mungkin bisa dibilang dinding kaca. Dari dinding kaca itu nampak pemandangan komplek kawasan kantor ini.
"Pemandangan yang indah!" ucapku.
Mungkin aku terlesan norak, tapi aku tak peduli. Pemandangan dari sini nampak mengagumkan. Nampak gedung-gedung tersusun rapi, membentuk suatu formasi yang cantik. Wajahku samgat dekat ke dinding kaca itu sampai embusan napasku berubah menjadi uap yang membekas di kaca. Kedua tanganku juga menempel erat di kaca itu.
"Kau memang hebat, Hubby!" ucapku spontan. "EH!" Valko memelukku lagi dari arah belakang. Dagu Valko teras menempel di bagian atas kepalaku. Satu kecupan bisa kurasakan sudah menempel di bagian atas kepalaku.
"Aku suka jika ada yang memujiku dengan tulus," ucap Valko. "Aku tidak menampik jika aku rindu bahkan mungkin haus akan pujian, tapi aku ingin pujian yang tulus dari hati. Bukan hanya pujian untuk mendapatkan sesuatu seperti yang dilakukan para pacar sewaanku dulu. Mereka sering memujiku tapi kurasa itu hanya aksi untuk mendapatkan keuntungan lebih dariku," Valko menempelkan erat pipi kirinya ke pipi kananku.
"Zeta, bagaimana jika kita pulang saja sekarang...aku ingin bermain seperti tadi malam sambil dibelai dan mendengar pujian dari mulutmu!" celetuk Valko. Duh, Valko kurasa benar-benar sudah ketagihan untuk bermain di atas ranjang denganku.
Jangan sampai karena sudah menikah kinerja dan profesionalisme Valko dalam bekerja justru menurun. Itu tak boleh terjadi. Lagipula, aku juga butuh waktu untuk mengistirahatkan tubuhku sejenak.
"Kau sudah janji akan mengajakku berkeliling. Aku benar-benar ingin melihat kantormu. Apa kau mau mengingkari janjimu?" ucapku dengan nada memelas.
"Tentu, tidak, Zeta!" ucap Valko tegas. "Aku selalu memegang ucapanku. Baiklah, aku akan pergi meeting setelah itu kuajak kau berkeliling!" Valko menarik tanganku. Ada sebuah pintu berwarna putih di ruangan ini, dia membuka pintu itu. "Nah, kau tunggu di sini! Tunggu dan jangan pergi kemana-mana...." Valko berbicara panjang lebar.
Astaga, ini ruang istirahat Valko saat di kantor? Dia benar-benar membuat sebuah kamar tidur yang mewah! 😮 Kamar itu benar-benar dilapisi lapisan kedap suara. Ada semacam lapisan berwarna putih dengan lubang-lubang kecil. Lubang-lubang itu tersusun rapi di lapisan putih itu. Ini seperti lapisan yang digunakan pada auditorium kampusku. Kamar ini bernuansa pink. Kenapa aku merasa kamar ini lebih bagus daripada kamarku di rumah, ya! 😟
__ADS_1
Ada sebuah tempat tidur besar di kamar itu. Sprei, selimut, sarung bantal hingga sarung guling berwarna pink. Selimutnya berwarna merah tua. Kamar ini dilapisi karpet berwarna dusty pink. Bunga-bunga mawar berwarna merah dan pink ditenpatkan dalam vas kaca. Bunga-bunga itu menambah indah kamar ini. Ada juga TV layar datar menempel di dinding di depan tempat tidur. Ada sebuah meja kerja berwarna softpink lengkap dengan seperangkat komputer. Di kamar itu juga ada kulkas berwarna softpink. Dua buah AC terpasang di kamar itu.
"Ada apa, Zeta? Kenapa kau cemberut?" tanya Valko.
"Ehm...tak ada apa-apa...." sahutku lirih. Para pengawal Valko meletakkan barang-barangku di atas meja kerja itu.
"Ck! Kau ini kenapa? Cepat katakan!" desak Valko.
"Ehm...kamar ini lebih bagus daripada kamarku yang ada di rumah...." celetukku jujur. "Kau kan tahu jika aku suka warna pink, tapi...aku malah diberi kamar bernuansa putih. Sedangkan di sini, kamarnya justru sesuai seleraku...."
"Aku butuh waktu untuk menyiapkan kamar yang sesuai dengan seleramu, Zeta. Jangan cemberut!" Valko menarik kedua pipiku. "Aku butuh waktu untuk menemukan isi kamar dari produsen terbaik untuk dipakai di kamar pribadimu!" Valko membelai kepalaku.
"Benarkah?" ucapku lirih. Jadi, Valko berusaha memberikan hal paling baik untukku. Mengapa aku merasa senang ya mendengarnya! 😍
"Iya, kau akan kuberi kamar pribadi saat di rumah, tapi itu hanya untuk menaruh barang-barangmu saja! Aku memang akan tetap melengkapinya dengan tempat tidur, tapi ingat!" Valko menekan hidungku dengan jari telunjuknya. "Kamar tempatmu tidur tetap di kamarku, kau harus menemaniku setiap malam! Sudah, aku harus segera menghadiri meeting. Tetaplah di sini! Aku menempatkan beberapa pengawal wanita di luar. Jika kau butuh sesuatu bilang saja pada mereka! Jangan nakal, Taeyang!" Valko membelai kepalaku lagi.
Valko, bagaimana aku mau nakal? Kau mengurungku seperti burung dalam sangkar emas! 😧
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍