
"AAAA!!!" aku kaget. HUA! Mengapa jadi begini? 😭 Mengapa mulutku justru menempel ke bibir Valko 😭. Mengapa aku seolah-olah malah menciumnya sih? HUA! 😭
Bibir Valko sangat terasa menempel di bibirku. Aku hendak melepaskan bibirku itu tapi...HUA! 😭 Valko justru menekan kepala bagian belakangku dengan tangannya. Kurasa dia malah semakin ganas memangsa bibirku. Mataku melotot tapi mata Valko justru terpejam. Dia nampak menikmati hal ini.
Akhirnya, kuberanikan diriku melepaskan diri dengan mendorong tubuhku menjauh dengan memegangi bahu Valko. Mukaku juga kupalingkan ke arah depan.
Sial! Para koki nampak melotot dan tertegun melihat pemandangan ini. Astaga, jantungku rasanya ingin meloncat keluar akibat peristiwa ini.
"Aku suka kejutan darimu, Tupai Kecilku," bisik Valko. "Kau ternyata tukang modus, ya!" ejek Valko. HUA! 😣 Aku bukan tukang modus! 😭 Hiks, ini namanya senjata makan tuan 😢.
"Valko!" teriakku sebal. Sial! 😣 Valko mencium pipi kiriku. HUA! 😭 Sekarang mukaku benar-benar penuh dengan saus spaghetti.
DUAR! DUAR! terdengar suara petir disertai kilatan cahaya. BRASH!!!! Tiba-tiba hujan disertai angin kencang melanda. DUAR! DUAR! CTAR! Terdengar suara petir semakin bergemuruh. CTAR! Kilatan cahaya putih seperti akar dari perak nampak di langit mendung yang gelap gulita.
Pemandangan itu terlihat sangat jelas dari jendela kaca ruangan ini. Ruangan ini tinggi, entah di lantai tingkat keberapa. DUAR! DUAR! Suara itu terdengar berulang kali.
Aku langsung menggeser posisi tubuhku ke arah belakang. Kedua kakiku mengangkang. Kupeluk tubuh Valko dengan erat. Kepalaku bersembunyi di dadanya.
"Kau kenapa?" tanya Valko.
"Aku takut petir!" kupeluk ia semakin erat.
"Hey...." ucap Valko. "Petir takkan mengejarmu sampai kemari...." Valko melingkarkan tangan kirinya ke pinggangku. "Jangan takut! Petir tak mengejar sampai kemari!" tangan kanan Valko membelai kepalaku lembut.
"Aku takut! Takut!" aku tak peduli jika aku lebay dan cengeng seperti anak kecil saat ini. Aku benar-benar memiliki pengalaman buruk terhadap petir.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo pergi ke kamar!" ucap Valko lirih. "Bisa kau memposisikan kedua kakimu ke satu arah menyamping? Aku akan menggendongmu menuju kamar...." bisik Valko.
Kupindahkan posisi kakiku ke arah samping kiri. Mataku tetap terpejam. Aku tetap memeluk erat tubuh Valko. Kepalaku tetap bersembunyi di dadanya. Bisa kurasakan tubuhku terangkat.
"Jangan jahili aku!" ucapku. "Aku benar-benar ketakutan saat ini...."
"Yang mau menjahilimu siapa? Aku benar-benar akan membawamu ke kamar tidur kita...." sahut Valko.
Aku mengintip sedikit. Benar, dia membawaku berjalan menuju suatu ruangan. Nampak lorong dengan dinding warna kuning keju cerah. Lantai lorong ini dilapisi karpet merah. Nampak pintu-pintu coklat kayu tua mengkilap di samping kiri dan kanan lorong. Ada Sekretaris May di salah satu pintu.
"Kamar sudah siap, Tuan Muda!" ucap Sekretaris May sambil membuka pintu.
"Ehm...kau istirahatlah, May," Valko membawaku masuk ke kamar itu. "Agenda siang hari tertunda karena hujan deras ini. Ganti saja menjadi besok!"
"Kita sudah sampai, kau tak perlu mengintip, Tupai!" ucap Valko.
Aku pun membuka mataku. Kamar ini besar dan luas. Kamar ini dicat warna kuning keju cerah. Furniturnya sebagian besar berwarna putih. Ada satu tenpat tidur besar dengan sprei, bantal dan selimut warna putih. Lantai kamar ini dilapisi dengan karpet lembut warna putih. Jendela kamar ini sudah tertutup rapat. Jendelanya dilapisi korden warna putih tebal. Valko membaringkan tubuhku di ranjang itu.
"Cantik!" aku tertegun. Langit-langit kamar ini dihiasi gambar timbul bermotif berbagai jenis bunga dan kupu-kupu yang beterbangan.
"Kita akan menginap di sini...hoahm...." Valko berbaring di sampingku.
"AAA!!!" teriakku. "Pakai bajumu, Valko!" kututup mataku. Sial, kenapa Serigala Gila ini harus bertelanjang dada sih? 😣 Aku tak suka itu.
"Kaosku kena noda saus dari wajahmu, Tupai. Aku malas ganti baju," kurasakan ada selimut yang mulai menutupi tubuhku. "Aku ingin tidur siang!" ucap Valko. Aku segera membalik badanku membelakanginya. Mataku masih saja tertutup.
__ADS_1
DUAR! DUAR! Tiba-tiba terdengar suara petir itu lagi. CTAR! DUAR! Suara petir semakin menyeramkan.
"AAA!!!" teriakku.
Kubuka mataku lalu membalik badan secepat mungkin dan memeluk Valko lagi. Masa bodohlah, aku benar-benar takut petir. Masa bodoh jika harus memeluk Serigala ini, aku tak peduli. Di rumah biasanya aku pasti memeluk Mama 😢.
"Bilang saja kau ingin memelukku, tak perlu modus, Tupai!" ejek Valko. Dasar Serigala Menyebalkan! Aku tak modus! Aku benar-benar ketakutan, tahu! 😣
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1