Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 29 - Terbang....


__ADS_3

Kemana Valko membawaku pergi? Dia membawaku melewati area perkebunan teh dan perkebunan sayur. Tapi, mobil ini sama sekali tak berhenti di sana. Valko memangkuku sepanjang perjalanan ini. Kepalaku menyandar di dadanya. Kaki kananku lurus terlentang di sisi kanan kursi deret kedua mobil ini.


"Tuan...eh...maksudku...Cayang...." panggilku. "Kemana kita akan jalan-jalan?" aku menatap ke arahnya.


"Sabarlah, kau akan segera tahu!" Valko memelukku semakin erat. "Aku akan menjadikanmu tupai terbang!" bisiknya di telingaku. Aku jadi semakin penasaran tapi juga takut sih. Takut, jika dia hanya menjahiliku saja.


Nampak mobil ini sampai di sebuah area yang dikelilingi tembok putih yang cukup tinggi. Tingginya mungkin sekitar 5 meter. Di puncak tembok itu ada kawat berduri. Penjagaan di sini cukup ketat. Nampak lebih dari 10 pria berseragam serba hitam menjaga pintu gerbang ini.


Mobil ini memasuki area itu. Mobil ini berhenti dan pintunya sudah terbuka. Valko menggendongku kembali. Di dalam tembok itu ternyata adalah area lapang yang permukaannya dicor beton. Telingaku mulai menangkap suara suatu mesin.


"WOW!" aku merasa amat takjub. Di hadapanku hanya berjarak beberapa meter ada sebuah helikopter. Helikopter itu dicat putih seluruhnya. Ada lambang kepala serigala berwarna perak metalik di tubuh helikopter itu. Di bawah lambang kepala serigala itu ada tiga huruf kapital dengan cat emas bertuliskan 'VLK'.


"Apa kita akan naik ini?" aku mulai antusias. Valko menggangguk. Angin mulai terasa menerjang akibat putaran baling-baling helikopter itu. Nampak pilot dengan seragam hitam sudah ada di bagian kemudi helikopter itu. Ini jauh lebih menarik daripada mengunjungi kebun teh atau kebun sayur. Nampak pintu helikopter itu sudah terbuka. Aku antusias hingga rasanya ingin turun dan berlari ke sana.


"Hey, jangan bergerak-gerak! Diamlah!" protes Valko. Kurasa tubuhku sudah tak betah digendong lagi. Aku dan Valko sudah ada di pintu masuk helikopter itu. Valko masuk lebih dulu. Dia lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku masuk ke dalam. Aku sudah duduk di dalam helikopter. Diriku sangat antusias dan senang sehingga tak bisa berkata-kata. Bagaimana ya rasanya terbang di udara naik helikopter?


Seorang petugas memasangkan semacam headphone yang dilengkapi microphone di kepalaku. Headphone itu terhubung dengan kabel yang terhubung ke dinding bagian dalam helikopter ini. Kulihat Pak Pilot juga memakai alat ini. Valko sudah memakai alat itu secara mandiri. Tak berselang lama Valko dipakaikan sabuk pengaman oleh seorang petugas. Aku pun juga mendapat perlakuan yang sama. Pintu helikopter segera menutup.


Helikopter ini memiliki interior berwarna hitam. Ada dua deret kursi. Dua kursi di bagian depan dan tiga deret di bagian belakang. Kursinya berwarna hitam. Pak Pilot duduk di kursi deret pertama sebelah kanan. Di depan pilot ada dua buah layar dan satu tuas. Tuas itu pasti berfungsi sebagai kemudi. Untuk dua layarnya aku tak memgerti apa fungsinya.

__ADS_1


"Valko, ini untuk apa?" tanya ku sambil memegangi headphone ini. "Untuk memdengarkan musik ya?"


"Hahaha!" Valko justru tertawa terbahak-bahak. Apa ucapanku salah? Aku kan benar-benar tidak tahu.


"HUH!" aku membuang muka. "Tak ada belaian untukmu malam ini!" aku tak menatap ke arahnya. Mukaku kubuat cemberut. Kedua tanganku kusilangkan di depan dada.


"Hey...." panggil Valko. "Jangan marah, aku hanya bercanda, Tupai...." ia mencengkeram daguku lalu memutar kepalaku ke arahnya. "Ini alat untuk melindungi telinga kita dan sebagai alat untuk saluran berkomunikasi. Bunyi mesin helikopter ini sangat berisik. Suara kita tak terdengar dan telinga kita bisa bermasalah jika memdengarnya bunyi ini tanpa memakai alat pelindung...." ia melepaskan cengkeraman daguku. "Coba dengarkan! Suaraku terdengar kan lewat headphone itu...." aku mencoba mendengarkan suara Valko.


"Iya, benar!" aku takjub.


Helikopter ini mulai terbang ke udara. Dia terbang secara vertikal ke atas terlebih dahulu. Kurasa ini untuk mencapai ketinggian tertentu sebelum terbang melayang ke depan. Tak berselang lama helikopter ini mulai terbang melayang ke depan. Nampak helipad berupa tanah lapang yang bercor tadi mulai terlihat amat kecil. Aku tak bisa memalingkan wajahku dari kaca jendela helikopter.


Jadi, sayap yang dimaksud Valko adalah helikopter ini? Astaga, sebenarnya seberapa kaya sih keluarganya? 😮 Dia sampai bisa memiliki helikopter pribadi seperti ini. Kurasa keluarganya termasuk golongan crazy rich family.


"Kau benar-benar suka ya menjadi tupai terbang?" ucap Valko. Tupai terbang? Maksudnya aku yang terbang dengan naik helikopter ini. Aku tak mau kesenanganku terganggu jadi aku hanya menggangguk tanpa melirik ke arahnya. Ehm, momen ini spesial menurutku. Apa ini bulan madu yang dia maksud?


"Cayang...." panggilku. "Apa ini ehm...bulan madu yang kau maksud?" entah mengapa aku menanyakan hal ini. Tapi aku merasa penasaran.


"Kau mengganggap ini spesial?" aku menggangguk. "Bukan. Ini bukan bulan madu. Aku hanya mengajakmu mengunjungi keluarga ibuku saja. Oh, kau tak sabar untuk berbulan madu denganku, Tupai Kecil? Jangan khawatir, aku takkan lupa menyiapkan waktu untuk mencabik-cabikmu di tempat yang spesial, Tupai Kecilku," bisikan Valko lebih terdengar seperti ancaman daripada kata-kata romantis bagiku. Dia seganas apa jika memang hal itu sungguh-sungguh terjadi. Aku geli membayangkannya.

__ADS_1


Nampak sebuah komplek bangunan yang berada di tepi jalan raya. Bangunan itu dikelilingi tembok di sekelilingnya. Di belakang bangunan itu ada sebuah taman bunga. Jika dilihat dari udara taman bunga itu membentuk tulisan 'PARAMA GARDEN'. Parama? Bukankah itu ibunya Valko?


Nampak di puncak salah satu bangunan ada lambang huruf H di dalam lingkaran yang amat besar. Kurasa itu helipad. Helikopter ini akan segera mendarat kurasa. Tak berselang lama helikopter ini terbang vertikal ke bawah dan mendarat di helipad itu.


Seorang petugas memberi aba-aba kepada pilot. Saat helikopter menyentuh helipad, saat itu juga mesin helikopter ini mati. Pintu helikopter terbuka, petugas melepaskan headphone di kepalaku serta sabuk pengamanku. Valko menggendongku kembali.


Ternyata helipad ini terletak di puncak bangunan tertinggi area ini. Kurasa area ini adalah sebuah tempat rekreasi. Bangunan ini begitu ramai, nampak di bawah sana orang-orang berlalu lalang.


"Selamat datang di Parama Garden, Tupai. Ini tempat wisata yang dibangun oleh ayahku sebagai lambang cinta untuk ibuku!" ucap Valko. WOW! Kurasa liburanku akan bertambah menarik, hihihi 😆.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2