Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 138 - Hanya Mau Itu!


__ADS_3

"Bukan yang ini!" Kuletakkan lagi botol parfum itu. Tanganku bergantian mengambil botol yang lain. Sekretaris May menyerahkan botol parfum lain padaku.


"Bagaimana dengan yang ini, Nona?" tanya Sekretaris May.


"Bukan!" teriakku lagi.


"Ayolah, Zeta, Sayangku. Semua parfum ini sama saja, pilihlah satu dan aku janji akan selalu memakainya!" ucap Valko.


"Tidak mau! Kau hanya boleh memakai parfum yang waktu itu!"


"Kenapa? Semua sama saja. Sama-sama wangi," sahut Valko.


"Aku tak mau, tahu! Aku hanya suka wangi parfum yang waktu itu! Jika kau memakai parfum lain, jangan mendekatiku!"


"Ck! Kenapa sih tingkahmu semakin aneh. Aku sudah lupa, Honey. Parfum mana yang kupakai. Ayolah, pilihlah satu yang kau sukai dan aku akan selalu memakainya ...." ucap Valko.


"Aku hanya mau kau memakai parfum yang waktu itu! Aku tak suka yang lain! Titik!"


Aku tak tahu apa yang merasuki diriku, ini masih pagi tapi entah mengapa aku melakukan hal ini. Aku hanya ingin Valko memakai parfum yang dipakainya saat malam itu, saat datang ke pesta pernikahan Tyo. Aku tak menyangka jika ternyata Valko punya koleksi puluhan bahkan ratusan parfum. Dia sendiri bahkan sampai lupa memakai parfum yang mana. Ternyata setiap dia pergi, Valko selalu menyiapkan parfum di dalam tabung semprot kecil. Masalahnya dia hanya asal ambil sesuai keinginan hatinya dan selalu berganti parfum setiap hari.


"Dimana pakaianmu waktu itu? Pasti ada bau parfumnya kan? Aku lelah mencium bau parfum dari tadi! Semua tak ada yang enak. Hanya yang waktu itu yang baunya wangi!"


"Pakaianku sudah dicuci, Honey. Ayolah, pilihlah satu saja dan aku akan selalu memakainya. Aku benar-benar lupa memakai parfum yang mana malam itu," bujuk Valko.


"Coba ingat-ingat lagi! Aku tak suka jika kau memakai parfum lain! Pokoknya harus yang itu!"


"Astaga, Zeta! Lebih baik kau meminta barang mahal saja daripada hal konyol seperti ini. Aku benar-benar lupa, Honey, Sayangku ...."

__ADS_1


"Ya sudah, aku takkan pergi kemana pun sampai keinginanku terpenuhi!"


Kuambil lagi botol parfum yang lain. Aromanya tak enak. Entah kenapa aku hanya mau parfum itu. Jika dipikirkan memang konyol sekali, tapi mau bagaimana lagi seleraku yang sekarang hanya suka yang itu.


"May, mulai sekarang catat setiap hal yang kulakukan. Catat dengan detail. Aku tak mau hal seperti ini terjadi lagi di masa depan," perintah Valko.


"Baik, Tuan."


"Kau tak jadi pergi ke rumah orang tuamu? Kau menghentikanku memakai parfum. Ini sudah dua jam lebih, Zeta. Apa kau tak lelah mencium bau parfum terus menerus?"


"Tidak! Pokoknya jika parfum yang itu belum ketemu aku takkan pergi kemana pun!" Kuambil botol parfum lain. "Nah, ini yang kumau!"


Hidungku tak mungkin salah. Ini parfum yang dipakai Valko waktu itu. Baunya wangi dan segar tapi tak terlalu menyengat.


"Akhirnya ketemu! Sini!" Valko meraih parfum di tanganku.


"Biar aku yang menyemprotkannya!" Kujauhkan tangan Valko dari botol parfum itu.


Valko mendekat ke arahku. Dia duduk semakin dekat denganku. Tanpa pikir panjang kusemprotkan parfum itu. Ini memang parfum yang enak.


"Hubby!" Valko langsung kupeluk. Aku tak tahu perasaan apa ini tapi rasanya menyenangkan melakukan ini. Rasanya ingin memeluk dan dimanja oleh Valko.


"May, beli stok parfum ini sebanyak mungkin. Jika perlu beli pabriknya!" perintah Valko.


"Baik, Tuan," sahut Sekretaris May.


"Kau ingin terus memelukku? Aku tak keberatan jika kau ingin tidur seharian. Itu akan sangat menyenangkan untukku, Honey," bisik Valko.

__ADS_1


"Tidak, ayo pergi ke rumahku. Aku rindu makan masakan Mama!"


"Baiklah, ayo kita pergi! May, siapkan mobil!" perintah Valko.


"Baik, Tuan," sahut Sekretaris May. Dia memang irit bicara.


"Hubby, kau tak pergi bekerja hari ini?" tanyaku sambil menatap Valko.


"Apa kau lupa? Sekarang weekend, Zeta. Tentu saja aku tak bekerja saat weekend. Nah, aku mau ti ... hey!" teriak Valko.


Hihihi, Valko ingin tidur di pangkuanku tapi aku sudah mendahuluinya. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku, aku hanya ingin dimanja Valko. Pokoknya ingin dibelai terus. Jatah Valko tidur saat di mobil pun justru kugusur. Aku yang tidur di pangkuannya sekarang.


"Gantian! Elus-elus aku, Hubby," pintaku manja sambil menatap ke arah Valko. Valko nampak menghela napas.


"Baiklah. Aku akan menuruti keinginanmu, Honey. Sudah, tidurlah." Valko mulai membelai kepalaku. Mataku terpejam. Kurasakan mobil ini mulai bergerak.


"Zeta, bagaimana jika kita mampir ke rumah sakit dulu?" ucap Valko.


"Untuk apa? Aku sehat, Valko. Tenanglah, efek mabuk kapal itu pasti sudah hilang!" sahutku sambil menatap ke arah Valko.


"Aku ingin memeriksa kondisimu. Jangan-jangan kau ha ...." Jari telunjuk tangan kananku langsung menutup bibir Valko.


"Itu tidak mungkin! Sudah kubilang kan itu akibat mabuk ka ...."


Aku tak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja rasa mual itu kembali lagi. Sontak saja aku langsung bangkit. Tangan kananku berusaha membekap mulutku.


"Zeta!" terdengar teriakan Valko. "Kau kenapa? Kau mau muntah? May, kresek!" teriak Valko.

__ADS_1


Valko langsung menaruh kresek hitam tepat di depanku. Kurasa seluruh isi sarapanku keluar saat itu juga. Duh, aku kenapa, sih? Aku kan tak pernah mabuk saat naik mobil.


"May!" terdengar suara Valko. "Pergi ke klinik terdekat!" perintah Valko. "Bertahanlah, Honey!" Valko mengelus-elus bagian belakang leherku.


__ADS_2