Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 27 - Ca...yang...?


__ADS_3

"Ini kunci cadangannya, Nak," Oma Wulan menyerahkan kunci itu padaku. "Tolong jaga, Parrel ya!" Oma Wulan beranjak pergi.


"Tuan...." panggilku dari luar. "Ini aku, Tupai. Istrimu, Zeta...." ucapku sambil terus mengetuk pintu. Tak ada respon dari dalam. Pintu ini cukup tebal, aku tak bisa mendengar apa pun. "Tuan, ayo buka pintunya. Ayo, kumohon keluarlah. Aku sudah tak marah...." ucapku sambil terus mengetuk pintu.


Tetap tak ada respon dari balik pintu. Apa terjadi sesuatu pada Valko? Apa dia berbuat sesuatu yang nekat sehingga dapat membahayakan nyawanya? Aku merasa semakin bersalah 😢....


Kumasukkan kunci itu ke lubang kunci. CLAK! Kuputar kunci itu. Pintu itu kubuka pelan-pelan. Aku berjalan masuk perlahan sambil tertatih-tatih. Mulai terdengar suara tangisan. Ternyata tangisan itu berasal dari dalam bathtub.


"Tuan...." panggilku lirih. Valko berbaring di dalam bak itu. Posisinya membelakangiku. Dia terus menangis tersedu-sedu. Kedua lututnya dia peluk. Hal ini mengingatkanku saat dia menangis akibat Kak Vio. Entah mengapa hatiku ikut merasa sakit saat dia seperti ini. Aku tak tahu jika dia ternyata amat rapuh. Dia terlihat kokoh tapi sebenarnya rapuh. "Val...ko..." kupanggil dia lagi. Kusentuh bahunya, "Valko...." kupanggil dia kembali. Dia menatapku sejenak lalu menghempas tanganku.


"Pergi...." ucapnya sambil menangis. "Aku pembunuh! Aku pembawa celaka!" ia menangis tersedu-sedu. Dia tak menatapku.


"Valko, maafkan aku...."


"Pergi! Pergi! Jauhi aku!" teriaknya. "Aku hanya membuatmu celaka! Aku pembawa celaka!" ia masih saja menangis. "Aku pembunuh!"


"Valko...." aku mulai merasakan kesedihannya. Kulangkahkan diriku untuk masuk ke dalam bak mandi itu. Kubaringkan diriku di belakang Valko. "Maafkan, aku..." kupeluk punggung Valko. Aku merasa bersalah sudah terus memakinya sebagai Serigala Gila selama ini dalam hati dan pikiranku. Rasa bersalah itu semakin bertambah saat teringat makianku tadi. Aku tak tahu jika Valko serapuh ini. "Maafkan aku. Kau bukan pembawa sial. Kau bukan pembunuh...." ucapku lirih. Dia tetap saja tak berbalik. "Maaf sudah berkata kasar...." aku berusaha menahan air mataku. "Aku baik-baik saja, Valko. Kumohon berbaliklah...." dia tetap tak berbalik.


Astaga, Valko! Bagaimana aku harus membujukmu agar mau mau berbalik dan memaafkanku? Mungkin ini kata-kata yang agak gila. Ini bukan kata-kata mesra dalam arti sesungguhnya. Aku sebenarnya tak ingin mengatakan hal ini tapi mungkin ini bisa dicoba sekarang.


"Valko, kau bukan pembunuh! Kau bukan pembawa sial! Kau adalah su...a...miku...." kueratkan pelukanku. "Ka...u su...a...mi ba...gi...ku, a...ku...." rasanya aku ragu mengatakan hal ini. "A....ku ehm....men...cintai...mu, Valko!" ucapku. Ayolah, Valko. Berbaliklah! 😣. "Kumohon, berbaliklah, Valko...."


"Maafkan aku...." ucap Valko. Dia menangis sambil bersembunyi di dekapanku. "Aku hanya ingin memelukmu. Aku tak bermaksud menyakitimu...." dia terus saja menangis. "Aku hanya ingin memelukmu, Zeta. Aku tak bermaksud membuatmu celaka...Jangan tinggalkan aku! Jangan pergi!" ucap Valko sambil terus menangis. "Kumohon, jangan tinggalkan aku sendirian lagi! Aku takut! Jangan pergi!" aku tak tahan melihatnya seperti ini. "Mama, Papa dan Vio sudah pergi! Aku tak mau sendiri lagi!" ia menangis semakin kencang.


"Sudah jangan menangis...." aku memposisikan diriku agar sejajar dengan wajahnya. Rambut panjang Valko nampak berantakan. Rambut itu sampai menutupi wajahnya. "Jangan menangis lagi, ya...." kuhapus air mata itu. "Jangan menangis...." kurapikan rambut itu.


"Berjanjilah kau takkan pergi meninggalkanku! Berjanjilah!" teriak Valko sambil menangis. Aku harus jawab apa? Aku selalu ingin dia lepas darimu. Aku berharap bisa pergi dari sisimu. Jika aku menjawab iya, maka sama saja membohongimu. Tapi, jika kutolak maka akan membuatmu semakin sedih. "Berjanjilah! Berjanjilah!" ia terus mendesakku.


"Iya, Valko. Aku janji...." sebaiknya kutenangkan dirinya terlebih dahulu. "Aku takkan meninggalkanmu sendiri lagi...." Valko memelukku erat. Aku lega dia sudah mau berbalik tapi aku jadi merasa tak enak. Apa aku bisa menjaga janjiku ini? Sudahlah, pikirkan nanti. Yang paling penting tenangkan dulu Valko. "Sudah, jangan menangis lagi ya...." aku mulai membelai lembut kepala Valko sambil memeluknya. Valko tak bergerak. Kurasa dia lelah menangis dan tertidur. Mataku kurasa juga ingin terlelap.


***


Kurasakan tubuhku tertidur di permukaan yang empuk. Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya ini di dalam bak yang keras? Kubuka mataku perlahan-lahan. Saat mataku terbuka ternyata aku sudah kembali di dalam kamar Valko. Tubuhku tertutup selimut tebal. Ketika aku bangun dan duduk, nampak keadaan kamar ini sudah rapi. Tunggu! Dimana Valko?


"Kau sudah bangun?" terdengar suara serak dari arah bawah. Mataku menatap ke arah bawah di samping ranjang.

__ADS_1


"Valko!" ucapku kaget. "Apa yang kau lakukan di situ?" Valko tidur di lantai tanpa alas apa pun. Baru kusadari ternyata pergelangan tangan kananku terikat sebuah pita merah. Pita itu ternyata dipegangi oleh tangan Valko.


"Ehm...." ia tak berani menatapku. "Aku takut menyakitimu lagi, Zeta. Aku tak ingin kau terluka lagi karena aku yang ceroboh ini...." jawabnya lirih.


"Kau belum memaafkanku? Kau masih marah terhadapku karena teriakanku tadi?" tanyaku sambil menatap ke arah Valko. Valko tak menjawab apa pun. "Baiklah...." kuturunkan kakiku ke lantai. "Jika kau tidak memaafkanku maka aku akan duduk bersimpuh di lantai. Aku akan duduk bersimpuh di lantai dengan alas kakiku. Aku akan duduk sampai kau memaafkanku!" aku hendak melangkah berdiri.


"Jangan!" teriak Valko. "Kakimu masih sakit! Apa kau gila!"


"Kalau begitu tunjukkan jika kau sudah memaafkanku! Naiklah kembali ke atas sini," perintahku sambil menunjuk ke arah ranjang.


"Baiklah...." sahut Valko lirih. Aku menggeser tubuhku ke samping kiri ranjang untuk memberi space tidur bagi Valko. Valko naik ke atas ranjang ini. Dia nampak takut mendekat ke arahku. "Jangan khawatir, kau tak akan membuatku terluka. Ayo, kemarilah!" aku berbaring menghadap ke arah Valko. Kubuka dekapanku. "Ini masih dinihari, masih ada waktu untuk tidur!"


"Ehm...." Valko akhirnya kembali memelukku. Dia menyandarkan kepalanya di dekapanku lagi.


"Sekarang, tidurlah...." kurapikan rambut Valko. Kukuncir rambut panjangnya yang berantakan itu dengan pita merah dari tanganku. Tanganku mulai membelai dahi dan tubuhnya. Matanya masih terbuka sedikit. "Sudah, ayo tidurlah...."


"Maafkan aku...." ucapnya lirih. "Aku benar-benar tak bermaksud melukaimu, aku hanya ingin memelukmu...."


"Iya, aku juga minta maaf sudah berkata kasar tadi. Sudah lupakan hal ini, ya...." kukecup dahinya.


"Tentu, kau boleh melakukannya. Tapi...jangan ketika aku sedang memasak, ya...." sahutku lirih. Dia menggangguk. "Sudah, kau pasti lelah. Sekarang, tidurlah...Tuan...."


"Jangan panggil aku tuan!" Valko menatap ke arahku.


"Lalu aku harus memanggilmu apa?" aku bingung.


"Panggil aku dengan panggilan mesra...."


"HA?" aku makin bingung. "Panggilan mesra?" astaga, apa ini efek karena beberapa hari ini aku memanggilnya dengan panggilan kesayangan. Aku memang tak memanggilnya dengan nama atau memanggilnya tuan.


"Panggil aku seperti kemarin. Panggilan tuan membuatku merasa tak dekat denganmu, Tupai!" ucap Valko.


Dia menyuruhku memanggilnya dengan panggilan mesra, tapi dia tetap memanggilku tupai. Aku menghela napas. Valko, kau memang menyebalkan!


"Baiklah, Tupai ini akan memanggil Tuan dengan panggilan Serigala Tersayang...." celetukku. Aku suka menambahkan kata-kata Serigala sebagai wujud pelampiasan kejengkelanku.

__ADS_1


"Terlalu panjang," protes Valko. "Panggil aku sayang!"


"Ca...yang...?" lidahku kelu karena terkejut. Memanggilnya Sayang? 😣 Itu seperti mengotori lidahku terus menerus.


"Cayang boleh juga," Valko tersenyum. "Cayang dari kata sayang," ia menatapku semakin dalam. "Panggil aku cayang mulai sekarang!" perintahnya.


"Ehm...i...ya, Tuan...ehm...maksudku Ca...yang...." lidahku terasa gatal setelah mengucapkannya. Kemarin aku memanggilnya sayang hanya untuk mengalahkan Nenek Sihir Merah itu. Tak ada maksud lain. Sudahlah, turuti saja 😧.


Aku merasa haus sekali. Kulepas pelukanku di tubuh Valko. Aku hendak turun dari ranjang.


"Kau mau apa?" tanya Valko.


"Aku haus dan ingin minum...." sahutku lirih. "Valko!" teriakku spontan. Valko tiba-tiba menggendong tubuhku. Dia mendudukkanku di sofa lalu mengambil tumbler berisi air yang tersimpan di kulkas mini. Dia menuangkan air itu ke sebuah gelas kaca bening lalu menyerahkannya padaku.


"Terima kasih...." aku meminum air itu.


"Kau ingin sesuatu lagi?" tanya Valko. Aku menggeleng. Tubuhku segera digendong kembali ke atas ranjang. Valko menyelimuti tubuh kami berdua. Dia sekarang memeluk tubuhku kembali. "Aku akan menjadi perawat bagi kakimu Aku akan menggendongmu dan menjadikan kakiku sebagai kakimu. Aku akan menjadi pelayan untukmu, Tupai!" ia memelukku semakin erat. Pelayan bagiku? 😦 Aku menghela napas 😧. Kurasa dia akan semakin protektif dan posesif terhadapku. "Oh ya, Tupai...." panggil Valko.


"Iya, ada apa?" aku mulai membelai kepala dan tubuhnya.


"Bagaimana jika besok kita jalan-jalan?" tanya Valko. Aku mulai tertarik dan antusias.


"Boleh, boleh...." aku menggangguk.


"Baiklah! Aku akan mengajakmu jalan-jalan dengan sayapku. Kau akan menjadi tupai terbang, hahaha," dia tertawa lalu memejamkan matanya.


Tupai terbang? Aku merasa sedikit takut mendengar ucapannya. Sudahlah, lebih baik aku juga tidur.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2