Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 49 - Pulang....


__ADS_3

"Hey, bangun!" tubuhku terasa diguncang-guncang. "Ayo, bangun!" suara itu terus berdengung di telingaku. "Kita sudah sampai!" ucap suara itu lagi. "Ayo, bangun, Tupai!" tubuhku semakin keras diguncang-guncang. Ehm...mataku rasanya masih terasa berat.


"Hoahm!" aku menguap lebar. Kabar dari Kai tadi malam di tambah lembur membuat draft semalam membuatku tak bisa tidur. Aku justru bisa tidur sebentar saat di dalam mobil ini.


"Lima menit lagi!" aku menolak bangun. Justru malah menyandarkan tubuhku di kursi sebelahku. Kurasa kursi di sebelahku masih ditempati Valko. Ehm...kurasa kepalaku menjadikan pangkuan Valko. Pangkuannya empuk juga.


"Ayo, bangun, Tupai! Bangun!" Valko mengguncang-guncang tubuhku lagi. "Nanti kita terlambat! Cepat! Bangun!" ucap Valko lagi.


Terlambat apa sih? Valko aneh sekali, dia membangunkanku sangat pagi. Katanya harus pergi ke suatu tempat. Dia tak menjelaskan secara jelas.


"Ini masih pagi! Mana ada kantor yang buka bahkan saat mentari belum terbit! Biarkan aku tidur lagi!" protesku.


"Ck! Dasar merepotkan!" keluh Valko. Tubuhku terasa terangkat. Kurasa Valko menggendongku lagi.


Biarlah, aku masih mengantuk. Mataku yang terpejam tetap merasa silau. Valko sebenarnya membawaku kemana sih? Kuputuskan untuk membuka mataku.


"WOW!" mataku terbelalak seketika.


Tepat di depanku ada pemandangan indah pegunungan. Matahari hari nampak mulai terbit dari balik pegunungan itu. Langit biru yang gelap mulai terang disinari oleh sang matahari. Siluet pepohonan nampak mulai terlihat hijau. Valko membawaku ke suatu tempat yang datar tapi dingin. Kurasa ini semacam puncak bukit.


"Bagaimana menurutmu? Kau suka?" Valko memelukku dari arah belakang. Kepalanya menyandar di bahu kananku. Aku tak menampik jika aku suka pemandangan ini. Apalagi Valko memelukku dari arah belakang. Ehm...aku jadi baper.


"Aku suka....ini...ehm...indah," ucapku malu-malu.


"Aku senang jika kau suka. Ehm...kita harus segera kembali ke kota lagi. Pagi ini, pagi terakhir kita di sini," ucap Valko.


"Tak bisakah kita tinggal lebih lama?" tanyaku spontan. Entah mengapa aku enggan beranjak untuk pulang dan mengakhiri liburan di sini.


"Kau suka berkunjung ke tempat nenek dan kakekku ini?" tanya Valko.


"Ehm...." aku ragu menjawab apa. Aku akhirnya hanya mengangguk-angguk.


"Kita bisa kemari lagi saat weekend. Aku harus menyelesaikan beberapa urusan perusahaan sesegera mungkin. Kau juga harus bimbingan skripsi kan? Jadi, kita memang harus kembali pulang hari ini," ucap Valko.


"Ehm...baiklah....," ucapku lirih.


Sebenarnya aku kecewa, aku masih ingin berada di sini. Di sini hawanya sejuk dan nyaman. Suasananya hijau dan tenang. Udaranya juga masih segar.


"Tupai!" panggil Valko. Ih, tak bisakah kau memanggilku dengan sebutan yang normal saat ini, Valko? 😣 Kau merusak suasana sunrise ini, tahu!


"Ada apa, Cayang?" sahutku lembut meski sebenarnya rasanya aku ingin menjitak Valko.


"Apa menurutmu aku pintar?" tanya Valko. Ini pertanyaan yang aneh sih. Ehm...mungkin maksudnya pintar dalam hal memilih tempat yang indah dan pintar dalam mengerjakan draft pra proposal seperti semalam.


"Iya, tentu. Kau sangat pintar, Cayang. Aku bahkan tak bisa menandingi kepintaranmu," pujiku tulus sambil menatap wajah Valko. Tangan kiriku membelai pipi kanannya.


"Yah, aku memang pintar. Bahkan lebih pintar darimu,Tupai Kecilku," ucap Valko. "Kau takkan bisa menandingi kepintaranku," ucapnya lagi. Ck! Dasar Tukang Pamer! 😑


"Iya, Cayang...." sahutku.

__ADS_1


Aku malas berdebat dengannya. Akhirnya, Valko berhenti berbicara. Kunikmati pemandangan indah dan syahdu ini. Matahari akhirnya terbit seutuhnya.


"Sudah, ayo kita pulang!" Valko menggendong tubuhku lagi. Pulang? Sekarang?


"Tunggu!" protesku.


"Ada apa? Barangmu ada yang jatuh?" Valko menatap sekeliling


"Bukan, aku ehm....bisakah kita bermain di kebun teh sebentar saja? Sebelum kita pulang?" aku menatap Valko dengan tatapan memohon.


"Kita memang akan mengunjungi kebun teh, Tupai," sahut Valko.


Mobil ini kembali melaju menuruni jalan berkelok-kelok. Di kiri dan kanan jalan nampak pepohonan yang masih rindang. Tak lama kemudian, nampak wilayah kebun teh yang hijau nan segar. Para pemetik teh nampak bersemangat memetik pucuk-pucuk teh itu.


"Sudah sampai, Tuan," ucap Sekretaris May.


"Ehm...." sahut Valko. Pintu mobil nampak dibukakan dari luar. Aku hendak melangkahkan kakiku keluar.


"Jangan ceroboh!" Valko langsung menggendongku. "Lukamu baru mengering. Belum sembuh seutuhnya!" ia menatapku dengan tatapan tajam.


"Selamat datang, Tuan Muda Jurangan," seorang pria berseragam hijau tozka menyambut kami. Dia memakai sepatu boots serta celana kain hitam. "Apa Tuan Muda ingin meninjau kantor?" tanya orang itu.


"Aku hanya ingin mengunjungi kebun teh sebentar saja. Tak perlu menyiapkan acara formal. Aku akan pergi setelah dia puas berfoto!" Valko menatap ke arahku.


"Baik, Tuan," ucap pria itu.


Mukanya nampak cemberut. Jika dia cemberut, bisa-bisa aku tak puas berfoto dong. Pasti sebentar saja Valko sudah menyuruhku pulang. Aku akan memakai jurus andalanku, hihihi 😆. Kucium lembut pipi kanan Valko.


"Terima kasih sudah membawaku kemari, Cayang," aku tersenyum pada Valko. "Kau memang suami yang pengertian dan baik hati," aku memuji Valko.


"Segeralah berfoto, setelah ini aku ada pertemuan bisnis. Kau harus menemaniku," Valko menatapku tajam.


"Tentu saja, Cayang," sahutku.


Cuma menemani pertemuan bisnis saja kan? Itu hal mudah. Paling aku tinggal duduk di samping Valko saja. Nampak Sekretaris May membawa sebuah kamera hitam beresolusi tinggi.


"Kamera sudah siap, Tuan," ucap Sekretaris May. Aku hendak turun dari gendongan Valko.


"Jangan turun, kita berpose seperti ini saja!"


Valko enggan menurunkanku dari gendongannya. Kalau seperti ini apa bedanya dengan foto waktu di taman bunga itu 😣. Valko tak mau melepaskanku. Dia terus berfoto dengan menempel padaku dalam berbagai gaya yang berbeda. Tentu saja bibirnya tak bisa berhenti menyerang wajahku. Cium pipi kanan, cium pipi kiri, cium dahi, cium bibir, peluk dari depan, peluk dari belakang. Astaga, Valko! Tak bisakah kau membiarkanku berfoto sendiri sekali saja? 😢


"Cayang...." panggilku manja. "Ehm....bolehkah aku berfoto sendiri? Ehm...kakiku sudah tak sakit untuk berdiri....."


"Tak boleh! Kakimu belum sembuh, Tupai! Aku tak ingin lukamu tambah parah. Kau juga tak boleh berfoto sendiri mulai sekarang! Di setiap fotomu harus ada aku! Aku tak ingin ada pria yang menggodamu akibat fotomu sendirian!" ucap Valko ketus.


Astaga, Valko! 😣 Kenapa kau sekarang semakin posesif, sih? 😭 Sudahlah, setidaknya aku sudah punya foto di kebun teh.


Matahari mulai meninggi, mobil ini masih melaju melewati jalan pegunungan berkelok. Aku cukup merasa segar setelah yah katakan saja berlibur. Tanganku sibuk membelai kepala Valko yang menyandar di pangkuanku.

__ADS_1


"Valko...." panggilku.


"Ehm...." sahut Valko.


"Terima kasih sudah ehm...mengajakku mengunjungi tempat kakek dan nenekmu. Aku merasa fresh dan siap untuk bimbingan skripsi lagi."


"Ehm....aku juga senang karena bisa bermain di bawah selimut bersamamu, Tupai Kecilku. Aku menantikan bermain bersamamu lagi saat di rumah," Valko tersenyum licik.


Astaga, kurasa Valko mulai ketagihan melakukan hal itu 😣. Tak bisakah kau tak membahas hal itu di sini? Aku malu, tahu! 😣 Ada Sekretaris May dan Pak Sopir.


"Kita sudah sampai,Tuan," terdengar suara Sekretaris May dari luar mobil. Dia membukakan pintu ini.


Valko merapikan jas biru dongker serta kunciran rambutnya. Tanpa basa-basi dia menggendongku keluar dari mobil. Di depanku nampak sebuah lobi hotel yang mewah. Nuansa hotel itu kuning cerah nan elegan. Karpet merah membentang dari lobi menuju pintu masuk hotel.


"Selamat datang, Tuan Valko," sapa seorang pria berjas abu-abu. "Silahkan masuk. Ruang pertemuan sudah disiapkan," ucap pria itu. Dia menuntun masuk menuju suatu ruangan di belakang lobi.


Nampak ruangan bercat putih dengan lantai batu marmer putih susu. Ruangan itu cukup luas tapi terasa aneh. Hanya ada empat sofa merah dan satu meja bundar yang nampaknya terbuat dari akrilik. Valko mendekat ke salah satu kursi.


"Valko!" panggilku. Dia tak mendudukkanku di salah satu sofa. Dia justru memangkuku di pangkuannya. "Biarkan aku duduk sendiri. Ini pertemuan bisnis penting kan?"


"Diamlah! Ini hanya pertemuan kecil. Tak perlu terlalu formal. Jadi, duduklah dengan tenang, Tupai Kecilku," perintah Valko.


"May, apa dokumen untuk pertemuan ini sudah siap?"


"Sudah, Tuan," jawab Sekretaris May. Dia dengan setia berdiri di samping Valko.


"Silahkan, Tuan," ucap seorang pelayan wanita. Dia menghidangkan teh dan juga beberapa kue-kue kering kecil.


"Suapi aku, Tupai...." perintah Valko.


Aku malas berdebat dengannya. Ini kan di dalam sebuah pertemuan bisnis. Setidaknya aku harus menjaga imej diriku. Kuambil biskuit bundar berlapis coklat itu dengan tanganku.


"Dia sudah datang, Tuan," bisik Sekretaris May.


"Ehm...." sahut Valko. Mulutnya lalu menerima suapan dari tanganku. "Suapi lagi!" perintah Valko. Bilang saja jika kau lapar, Valko! 😧 Aku pun menuruti keinginannya.


"A...dek...." terdengar suara yang amat familiar.


Aku menoleh menuju sumber suara itu. Astaga, bagaimana bisa dia di sini? 😱 Nampak ada seorang pria yang amat kukenali. Aku tak mungkin salah mengenalinya. Dia nampak membatu di pintu itu. Map dokumen terjatuh dari tangannya. Dia adalah Kai....


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2