Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 52 - Campur Tangan....


__ADS_3

"Kakek!" teriak Valko. Valko menurunkanku dari gendongannya. "Kakek! Kakek, ada apa denganmu?" Valko nampak panik. "KAKEK!" panggil Valko, ia nampak mengeluarkan air mata. "Aku akan memanggil dokter!" Valko segera berlari keluar kamar.


"Cicak! Cicak! Fajar, ada cicak!" teriak Nenek Vani. "Awas, dia merayap di tubuhmu!"


"Mana? Mana? Mana?!" Tuan Wijaya langsung bangkit dan berdiri di atas tempat tidurnya.


Astaga, ternyata dia baru saja melakukan prank 😑.


"Dasar Si Tua Pembohong!" ucap Nenek Vani. "Aku akan membuat perhitungan denganmu karena sudah membuat cucuku panik!" Nenek Vani keluar dari kamar itu.


"Jangan terlalu anggap serius hal ini, Zeta," Tuan Wijaya menggenggam tanganku. "Aku hanya ingin sedikit mencari hiburan di masa tuaku. Oh ya, bagaimana kabarmu? Apa cucuku nakal padamu?" tanya Tuan Wijaya. Bagaimana aku harus menjawabnya? Valko selalu menindasku di setiap ada kesempatan.


"Ehm...baik-baik saja, Tuan," sahutku sambil tersenyum.


"Jangan panggil tuan. Panggil saja aku dan Si Marmut Kecil itu kakek dan nenek saja," Tuan Wijaya tersenyum padaku.


"Baik, Ka...kek...." sahutku.


"Kuharap kau tak terbebani dengan pernikahan ini. Sebenarnya aku dan mendiang kakekmu membuat perjanjian ini untuk mengikat anak-anak kami kelak. Aku dan kakek dari jalur ayahmu adalah sahabat dekat sejak kecil. Kami sudah seperti kakak beradik. Jika dia kesulitan aku pasti selalu membantunya. Tapi, ternyata aku dan dia hanya punya anak lelaki. Aku senang tetap bisa menjadi saudara dan menunaikan janji itu dengan menikahkanmu dan Valko," Tuan Wijaya menatapku.


Justru karena Anda terlalu banyak membantu keluargaku, Tuan Wijaya. Keluargaku jadi merasa tak enak hati jika ingin menolak atau mengingkari janji itu. Papa juga sempat bilang jika keluargaku memiliki begitu banyak hutang budi pada Anda, Tuan Wijaya.


"Aku sebenarnya hanya ingin cucu tunggalku menemukan pendamping yang baik untuk menemaninya hingga hari tua. Harapanku, dia juga bisa merasakan kasih sayang dari ayah mertua dan ibu mertuanya sebagai ganti kasih sayang yang tak pernah dia dapat dari kedua orang tua kandungnya. Ehm...Zeta, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" tanya Tuan Wijaya.


Astaga, dia pasti akan mengingatkanku untuk segera memiliki anak. Aku harus jawab apa? Aku belum siap! Bukankah Valko sudah bilang jika hal itu ditunda dulu. Kenapa sekarang diungkit lagi sih 😣.


"Ehm...soal...anak...." aku berusaha menjelaskan.


"Aku tak ingin membahas soal itu, tenanglah, Nak!" ucap Tuan Wijaya.

__ADS_1


"Benarkah?" aku tertegun.


"Iya, Nak. Aku tak bohong," ucap Tuan Wijaya.


"Syukurlah," aku menghela napas.


"Tampaknya kau dan cucuku satu pemikiran, ya. Jika begitu aku tak bisa mengganggu waktu kalian untuk bermesraan. Apalagi kudengar dari laporan May, cucuku sedang senang bermain di bawah selimut serta berendam bersamamu setiap hari, hahaha," Tuan Wijaya tertawa.


Astaga, jadi Sekretaris May tahu apa yang kulakukan bersama Valko selama ini. Meski di dalam kamar sekalipun. Sudahlah, setidaknya Tuan Wijaya tak menuntutku untuk segera memiliki keturunan.


"Ehm...lalu apa yang Kakek minta? Kakek sudah banyak membantu kehidupan keluarga saya. Itu berarti hutang budi saya pada Kakek sangat banyak. Kakek tak pantas meminta apa pun pada saya. Kakek bilang saya adalah cucu Anda. Itu berarti permintaan Anda adalah perintah bagi saya," kutatap Tuan Wijaya sambil menggenggam tangannya.


"Bawalah Valko untuk tinggal di rumah keluargamu lebih lama. Buat dia merasa dikelilingi oleh keluargamu, Nak. Kasih sayang orang tua adalah sesuatu yang tak bisa kuberikan padanya meski pun kutukar dengan seluruh hartaku. Aku hanya ingin cucuku bahagia. Dia sudah mengalami hal berat selama masa remajanya," Tuan Wijaya menatapku tajam.


"Aku akan selalu menjaga cucuku agar selalu merasa bahagia. Jika ada yang ingin merebut kebahagiannya, aku pasti akan menghancurkan penghalang itu!" mata Tuan Wijaya melotot.


"Aku takkan menghancurkan penghalang itu secara langsung tapi aku akan menghancurkan lingkungan di sekitar penghalang itu terlebih dahulu sehingga penghalang itu merasa menderita! Ingat itu, Nak!" Tuan Wijaya menatapku tajam.


"Kakek...." aku harus menjelaskan hubunganku dengan Kai pada Tuan Wijaya.


Meski tak langsung keluar dari mulut Valko atau Tuan Wijaya, tapi dari apa yang kualami hari ini sangat jelas terlihat bahwa apa yang terjadi pada Kai melibatkan campur tangan keduanya. Aku harus melindungi Kai. Dia tak boleh menderita lagi karena aku.


"Kakek, bercandamu tidak lucu!" terdengar suara dingin dari arah pintu kamar ini. "Rasakan ini!" ucap Valko. Valko menarik kaki Tuan Wijaya.


"Hentikan, Cu! Hentikan!" teriak Tuan Wijaya. "Ampun, Cu! Ampun! Geli! Geli!" Valko tetap saja tak menghentikan aksinya menggelitiki kaki Tuan Wijaya.


"Sudah, aku mau pulang!" ucap Valko ketus sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. "Ayo Zeta, kita pergi!" Valko menggendongku dan membawaku pergi.


"Hey, bagaimana dengan laporan Parama Garden? Tunggu! Jangan pergi!" teriak Tuan Wijaya. "Valko! Kau belum melaporkan pertemuan pagi tadi! Berhenti, Cu!"

__ADS_1


"Tanyakan itu pada May!" balas Valko sambil menoleh sejenak.


Aku masih memikirkan kejadian yang terjadi hari ini. Apa pun kebenarannya, Valko dan Tuan Wijaya turut campur tangan pada hal yang menimpa Kai.


DRT! DRT! DRT! Nampak smartphone-ku bergetar. Ada suatu pesan dengan nama kontak Ogi. Pesan itu berbunyi : 'Bos, segera ke ruko kita. Ada hal gawat yang terjadi!'. Astaga, apa yang terjadi pada ruko mendiang kakek?


"Valko! Cepat pergi ke butik milikku! Ada masalah di butikku!" aku merajuk pada Valko.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Valko.


"Ayo pergi! Cepat, pergi ke sana!" aku menghiraukan pertanyaan Valko.


Jika sampai Ogi menghubungiku, berarti ada hal yang benar-benar gawat terjadi di sana. Mobil terus melaju kencang. Sampailah di area pertokoan di pinggir jalan. Nampak di ruko peninggalan kakekku, ada garis polisi kuning yang terpasang. Beberapa polisi nampak ada di sana. Aku pun segera melompat keluar dari mobil.


"Zeta!" panggil Ogi dan Della secara bersamaan.


"Astaga!" aku terduduk di tanah. Aku tak kuasa berdiri melihat keadaan ruko peninggalan kakek.


Ruko itu penuh coretan warna merah dari cat semprot. Kaca depan tempat memajang busana pecah dilempari batu bata dan batu yang besar. Terdapat coretan merah yang besar di dinding ruko itu. Coretan itu berbunyi : 'RUKO MILIK PELAKOR! RUKO MILIK PELAKOR! JANGAN BELI BARANG DARI PELAKOR!'


"Aku dan Ogi menemukan ini di salah satu batu bata," Della menyerahkan sebuah kertas putih yang tampak lecek.


Tulisan di kertas itu membuat jantungku seakan berhenti. Di kertas itu ada tulisan : 'JAUHI VALKO! DASAR PELAKOR! JAUHI VALKO ATAU KAU MATI'!


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2