Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 105 - Pengaruh....


__ADS_3

"Papa!!!" Valko memeluk Ayah Mertua. Syukurlah, semoga ini menjadi awal yang baru bagi hubungan Valko dan Ayah Mertua. Hatiku merasa bahagia melihat Valko bisa kembali bersatu lagi dengan ayahnya.


"Permisi!" dua orang nampak masuk ke ruangan ini. Ternyata itu seorang dokter pria dan seorang perawat wanita. "Maaf, Tuan. Mohon ijinkan kami memeriksa kondisi pasien terlebih dahulu," ucap dokter itu.


"Ehm...baiklah...." ucap Valko. Dia melepaskan genggaman tangannya dari Ayah Mertua. Dokter itu mulai melakukan pemeriksaan dibantu oleh perawat itu.


"Bagaimana keadaan Ayah, Dok?" tanyaku pada dokter itu.


"Pasien masih membutuhkan perawatan selama beberapa hari. Kondisinya saat ini cukup stabil. Kami akan terus memantau kondisinya," Dokter itu melepas alat bantu pernapasan di hidung Ayah Mertua. "Tuan Kenrick masih membutuhkan istirahat, tetapi alat pernapasannya sydah bisa dilepas. Kami undur diri dulu," ucap Dokter itu sambil bergegas keluar dari ruang perawatan ini.


"Ini salahku, Papa...." ucap Valko. Dia memegang tangan kiri Ayah Mertua lagi. "Maafkan aku...."


"Ini bukan salahmu, Nak. Sudah jangan salahkan dirimu terus ya," ucap Ayah Mertua sambil membelai pipi Valko. "Aku senang bisa melindungimu, Nak. Nyawamu lebih berharga daripada nyawaku sendiri. Aku salah di masa lalu. Aku merasa lega jika bisa melindungimu di masa sekarang. Aku bukan ayah yang baik untukmu. Wajar jika kau membenciku, aku tak marah karena hal itu. Tapi, Nak, bisakah kau memberiku kesempatan kedua? Maukah kau memaafkanku?" ucap Ayah Mertua.


"Papa...tentu aku memaafkan, Papa. Aku bukan anak yang baik. Seharusnya dulu aku mendengarkan Papa. Jika dulu aku tak nekat pergi berlibur bersama Mama. Mumgkin sekarang Mama masih....."


"Ssst! Jangan menyalahkan dirimu lagi, Nak. Yang patut disalahkan adalah aku. Aku tak punya waktu yang cukup untukmu. Aku yang salah karena gagal melindungimu dan ibumu. Aku terlalu egois dan memetingkan diriku sendiri. Aku egois karena menyalahkanmu. Maafkan, aku ya, Nak...."


"Iya, Pa. Ayo, mulai sekarang kita bersama-sama lagi," ucap Valko.

__ADS_1


***


Kubuka mataku perlahan-lahan. Kulihat jam pada smartphone yang tergeletak di belakang bantal dekat kepalaku. Sudah pagi rupanya. Aku tak bisa tidur nyenyak semalam. Mungkin ini pertama kalinya aku tak tidur dengan Valko. Kubelai bantal di sebelahku. Tidur tanpa ada Valko di sampingku rasanya aneh. Biasanya ada yang memelukku erat dan juga membelaiku.


Valko, kok aku kangen ya. Padahal baru semalam kita berpisah. Valko menyuruhku pulang ke rumah. Dia bilang aku harus mengurus rumah. Padahal tanpa ada kehadiranku pun rumah ini pasti baik-baik saja. Aku bangkit dari tempat tidur. Nampak ada foto Valko bersama aku di kamar tidur ini. Aku memilih tidur di kamar Valko. Kusentuh foto itu. Foto itu menunjukkan saat aku dan Valko sedang berpose di taman dengan gaun pink dan jas pink.


"Hubby...." panggilku tanpa sadar sambil membelai wajah Valko. "Aku kangen tahu! Kamu kok tega sih nyuruh aku pulang sendiri. Astaga! Kok aku jadi bucin banget ya! Ah! Tapi mau gimana lagi! Emang itu kenyataannya. Valko, kamu gimana tadi malam ya? Apa bisa tidur? Kau kan sulit tidur jika tak bersamaku. Aku khawatir...." ucapku sambil membelai foto itu.


"ASTAGA, ZETA!!! Kau kenapa sih? Ingat! Valko hanya di rumah sakit! Bukan pergi ke luar negeri dalam waktu yang lama!" ucapku sambil meletakkan kembali foto itu. Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Sebaiknya aku mandi terlebih dahulu. "Rasanya aneh...biasanya ada Valko yang menemaniku mandi. Sepertinya aku benar-benar buncin karena Valko," ucapku sambil memasukkan diriku ke dalam bathtub.


"Sebaiknya aku segera sarapan dan menyusul Valko ke rumah sakit pagi!" kulangkahkan kakiku keluar dari kamar. Setelah menuruni tangga, aku segera menuju ke dapur. "Enaknya masak apa, ya?"


Saat aku memasuki dapur nampak berbagai makanan sudah tersaji di atas meja. Para pelayan menyambutku. Meja itu disiapkan untuk satu orang. Kukira aku belum punya pengaruh yang kuat di rumah ini jika Valko tak ada. Ternyata para pegawai di rumah ini sudah benar-benar mengganggapku sebagai nyonya rumah ini. Ehm...tapi aku memang lebih suka dipanggil Nona sih daripads Nyonya.


"Silahkan, Nona. Sarapan sudah siap


," ucap Bibi Ann.


"Terima kasih," sahutku sambil duduk di meja makan itu.

__ADS_1


Ada berbagai macam lauk dan buah-buahan. Kurasa ini porsi yang cukup untuk lebih dari lima orang. Kuambil piring dan sendok. Nasi goreng di depanku nampak lezat. Saat aku hendak memasukkan makanan ke mulutku, nampak raut wajah para pelayan itu seperti menyimpan rasa khawatir. Ih, aku jadi risih jika di kelilingi orang banyak seperti ini.


"Kalian boleh pergi...." ucapku singkat.


"Nona, apa kami berbuat kesalahan?" celetuk seorang pria berpakaian koki. "Mohon maafkan kami, Nona. Jika ada kesalahan kami akan memperbaikinya. Tapi, tolong jangan laporkan pada Tuan Valko," ucap koki itu.


"Iya, Nona. Tuan Valko berpesan untuk menjaga Nona dengan baik. Jika ada kesalahan kami mohon maaf. Kami akan memperbaikinya, tapi tolong jangan lapor pada Tuan Valko. Tuan Valko berpesan akan memecat pelayan yang membuat Nona merasa kesal atau marah," ucap Bibi Ann. Oh, Valko, kau masih sempat memberi perintah seperti itu. Aku jadi merasa baper 😍.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2