
Pria itu Kai. Dia adalah Kai, kekasihku. Kai nampak masih membatu di sana. Meski dibalut dalam jas hitam nan elegan tapi tetap saja itu tak bisa menutupi wajah terkejutnya.
Astaga! 😭 Kenapa dunia kecil sekali, sih? Bagaimana aku harus menghadapi kondisi ini sekarang? Tunggu, apa jangan-jangan Valko sudah tahu hubunganku dengan Kai? 😦
"Ada apa, Tuan Putrakusuma?" tanya Sekretaris May.
"Cepat, bantu Tuan Putrakusuma, May!" perintah Valko.
Entah mengapa aku merasakan sinar dingin nan mencekam keluar dari tatapan Valko. Gawat! Gawat! Apa yang harus kulakukan sekarang? 😣 Kai benar-benar mengenaliku.
Tunggu, mengapa Valko bersikap baik-baik saja? Kai dengan jelas memanggilku dengan sebutan Adek. Kenapa Valko tak terkejut? Apa jangan-jangan dia sudah tahu? Apa yang harus kulakukan? 😭 Rasanya aku ingin benar-benar jadi seekor tupai saja lalu kabur lewat lubang ventilasi.
"Ini, Tuan," Sekretaris May membantu Kai merapikan dokumen dalam map itu.
"Terima kasih," Kai menerima dokumen itu. Dia lalu berjalan mendekat kemari. Jantungku rasanya benar-benar ingin meloncat keluar.
"Silahkan duduk, Tuan Putrakusuma," ucap Valko dingin. Valko seperti seekor serigala yang menatap makhluk kecil untuk dimangsa.
Apa jangan-jangan Valko benar-benar sudah tahu? Aku memikirkan segala kemungkinan. Astaga! Aku membekap mulutku. Aku teringat kata-kata Valko saat melihat sunrise tadi. Valko berkata jika aku takkan bisa menandingi kepintarannya. Apa jangan-jangan dia benar-benar sudah tahu hubunganku dengan Kai? Tidak, kurasa tidak. Dia memanggil Kai dengan family name, Putrakusuma. Kai memang bernama Kai Ava Putrakusuma. Kurasa Valko tak mengetahui hal ini.
"Terima kasih, Tuan Valko," Kai nampak tertunduk. "Maaf sudah membuat Anda menunggu," ucapnya lagi.
"Tak perlu minta maaf lagi. Kau sudah minta maaf tadi kan?" ucap Valko sambil menyeruput teh dari cangkir putih itu.
"Eh?" Kai nampak tertegun heran. Aku juga heran, Valko apa maksudmu?
"Kudengar kau sering keluar negeri. Mungkin kau terbawa suasana di sana hingga tak sengaja mengucap kata adek yang mungkin berarti permintaan maaf dalam bahasa asing. Bukankah begitu Tuan Putrakusuma?" tanya Valko.
Sungguh, aku merasa aura Valko benar-benar menakutkan. Wajahnya dingin seperti biasanya. Entah hanya perasaanku saja atau memang Valko mengeluarkan aura mengintimidasi.
"Ehm...i...ya, Tuan Valko," jawab Kai terbata-bata. Mata Kai masih tertunduk.
"Ehm...menarik," ucap Valko sambil menyeruput teh kembali. "Siapa sangka kata adek bisa berarti maaf dalam bahasa lain. Padahal aku tadi hanya asal menebak saja. Kau harus mengajariku bahasa asing itu," Valko menatap Kai. "Oh ya, silahkan minum tehnya terlebih dahulu, Tuan Putrakusuma. Aku ingin kau menenangkan dirimu dulu. Kau pasti memiliki banyak urusan. Aku memaklumi jika kau terlambat...." ucap Valko.
"Terima kasih. Maaf sudah membuat Anda menunggu, Tuan Valko," Kai meminum teh dalam cangkir putih itu.
"Tak masaah. Aku juga baru saja pulang dari liburan bersama istriku ini," Valko mencengkeram daguku dengan lembut.
Kulihat Kai, tangan kanan dan tangan kirinya nampak mengepal. Kai, maafkan aku. Aku tak bisa berdaya melawan perintah keluargaku.
"Kuharap kau maklum, Tuan Putrakusuma. Istriku tak bisa kutinggal. Kakinya sedang terluka. Jadi, aku harus terus mengawasinya," ucap Valko. "Oh ya, kita mulai saja pertemuan ini. Apa yang ingin kau bahas denganku, Tuan Putrakusuma?"
__ADS_1
"Perusahaan kami ingin mengajukan pinjaman untuk proyek baru kami, Tuan. Kami ingin memperluas jaringan usaha kami di bidang pariwisata," Kai menyerahkan dokumen yang dia bawa pada Valko. Aku tak tertarik membaca isinya. Mataku terus menunduk sambil sesekali menatap Kai.
"Wisata, ya? Menarik," Valko merangkul leherku. "Lihat tempat ini, Zeta," ucap Valko.
Aku melihat dokumen itu. Nampak rancangan gambar suatu tempat wisata. Jujur, aku tak terlalu tertarik pada isi dokumen ini.
"Bukankah terlihat indah untuk bulan madu," celetuk Valko.
Astaga! Aku hampir tak bisa bernapas mendengar ucapan Valko. Kulirik Kai, dia semakin tertunduk. Kedua tangannya semakin erat mencengkeram lututnya.
"Kau tahu, Zeta. Bulan madu di tempat wisata yang indah akan menambah permainan di bawah selimut yang kita mainkan jadi semakin menarik. Pasti menyenangkan jika kita bermain di sana seperti yang pernah kita lakukan," ucap Valko. Dia menempelkan pipinya ke wajahku.
Jantungku terasa bertambah sesak. Ucapan Valko terlihat seperti kata-kata mesra tapi bagaimana jika yang mendengar itu Kai. Dia pasti sangat terpukul mendengar hal ini. Hatinya pasti sudah hancur mengetahui hal yang sudah pernah kulakukan bersama Valko.
"Bagaimana pendapatmu?" Valko mencium pipiku. Kulirik Kai, kedua tangannya semakin mengepal kencang.
"Ehm...i...ya, me...na...rik," jawabku singkat.
"Baiklah, Tuan Putrakusuma," Valko meletakkan dokumen itu lagi. "Aku setuju memberi pinjaman pads perusahaanmu. May, kau bisa menyerahkan dokumen persyaratan itu."
Sekretaris May menyerahkan map yang dia bawa. Kai melihat dokumen dalam map itu. Kai membaca dokumen itu dengan teliti, kurasa ia sengaja menutupi pandangannya dengan map itu.
"Kuharap kali ini perusahaan keluargamu ini bisa bertahan, Tuan Putrakusuma," ucap Valko. Tunggu, apa maksudnya? Apa keluarga Kai sedang kesulitan?
"Sama-sama. Aku juga berterima kasih karena ayahmu telah membangun sebuah perusahaan besar di bidang konstruksi yang bagus. Aku jadi mudah dalam melakukan proses akuisisi," Valko menyeruput cangkir teh itu lagi.
Akuisisi? Berarti perusahaan keluarga Kai berpindah kepemilikan pada Valko? Astaga, sejak kapan ini terjadi? Kutatap Kai, dia nampak tertunduk. Tangannya terlihat gemetar saat memegang map yang diberikan oleh Valko.
"Aku baru mengakuisisinya beberapa hari yang lalu. Jangan khawatir, Tuan Putrakusuma. Aku akan menjaga perusahaan keluargamu dengan sepenuh hatiku. Takkan kubiarkan apa yang kumiliki direbut oleh orang lain! Aku akan menyerang sainganku yang berbahaya sebelum dia bisa menunjukkan taringnya padaku!" Valko menyeruput teh itu lagi.
Ucapan Valko membuat bulu kudukku merinding. Valko, kau membahas bisnis atau mengancam Kai? Entah mengapa dua kalimat terakhir dari mulut Valko terdengar seperti ancaman bagi Kai.
"Zeta," panggil Valko.
"I...ya...." kutatap mata Valko.
"Suapi aku lagi...." perintah Valko.
Aku pun mengambil biskuit berlapis cokelat itu lagi. Kai, maaf, aku tak sempat menjelaskan semuanya padamu. Kai nampak melirik ke arahku sekilas. Hati Kai pasti sangat sakit. Biskuit itu kusuapkan ke mulut Valko.
"Saya sudah selesai membaca persyaratan ini, Tuan Valko," ucap Kai.
__ADS_1
"Baiklah, silahkan tanda tangani," ucap Sekretaris May. Kai menandatangani dokumen itu. Valko bergantian menandatangani dokumen itu.
"Maaf, Tuan Valko...." ucap Kai.
"Ada apa?" Valko memandang ke arah Kai.
"Saya mewakili ayah ingin mengajukan permohonan perpanjangan waktu pembayaran jatuh tempo hutang bagi perusahaan kami di bidang tour and travel, Tuan," ucap Kai.
Astaga, Kai! 😢 Apakah keluargamu benar-benar sedang kesulitan saat ini? 😢
"Anda salah alamat!" sahut Valko dingin. "Kenapa kau membahasnya denganku, Tuan. Kau seharusnya menemui Kakekku Tercinta. Dia yang memiliki wewenang karena beliau adalah si pemberi pinjaman."
"Saya mohon bantuan Anda, Tuan Valko," ucap Kai. Dia menatap Valko dengan tatapan memelas. "Kami sudah mencoba menghubungi Tuan Wijaya tapi belum ada jawaban pasti. Saya mohon bantuan kepada Anda."
"Ehm...aku akan mempertimbangkannya terlebih dahulu, Tuan Putrakusuma. Kuharap Anda bisa sedikit bersabar dan maklum. Aku baru saja pulang honeymoon kecil bersama istriku," ucap Valko. Dia mencemgkeram daguku dengan lembut sambil menatap ke arah Kai.
Telingaku seperti terkena sambaran petir. Kata-kata Valko benar-benar seperti siksaan untuk Kai sedari tadi. Valko, sebenarnya apa maksudmu? Kau benar-benar bersikap mesra padaku atau sebenarnya kau sedang menyiksa Kai? Apakah kau sudah tahu hubunganku dengan Kai? Berbagai pertanyaan terus beterbangan di pikiranku.
"Terim kasih, Tuan Valko," ucap Kai lirih.
"May, simpan dokumen ini ke dalam tas di mobil!" perintah Valko. Sekretaris May meninggalkan ruangan ini.
"Sama-sama, kurasa pertemuan ini sampai di sini saja," ucap Valko. Kai hendak berdiri.
"Tuan Putrakusuma," panggil Valko. "Bisakah kau membantuku berfoto dengan istriku di sini? Ehm...ruangan ini desainnya menarik. Aku ingin mengabadikan momen ini," Valko mengeluarkan smartphone-nya.
"Tentu, Tuan Valko," Kai berdiri lalu menerima smartphone dari Valko.
"Tolong foto dengan efek bokeh, ya," perintah Valko.
Aku tak ingin melakukan ini di depan Kai. Tapi bagaimana lagi aku tak punya pilihan. Sudahlah, Valko pasti hanya meminta berpose dalam pose aku yang duduk dipangkuannya.
"Lihat ke arahku, Tupai," ucap Valko lirih. Aku pun menuruti perintah Valko. Valko mencengkeram daguku.
"Satu...dua...." terdengar suara Kai. Dia berdiri sambil bersiap memotret dengan smartphone itu. Valko! Apa yang kau lakukan? 😣 Valko mencium bibirku tepat di depan Kai.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍