
"Putraku...Valko!" terdengar seseorang memanggil dari arah belakang. Aku dan Valko pun berbalik ke arah belakang. Nampak seorang pria berdiri dengan kedua tangan siap memeluk Valko.
"Ayah Mertua!" ucapku spontan.
"KAU!!!!" teriak Valko kencang. Suaranya sangat menakutkan. "APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?!" teriak Valko lagi. Raut wajah Valko berubah drastis. Tatapan penuh kebencian terpancar dari kedua matanya. Kedua tangan Valko sudah terkepal.
Suasana acara mendadak berubah drastis. Acara yang awalnya penuh canda tawa berubah menjadi hening. Mata seluruh anak-anak mengarah ke arah belakang. Mereka fokus menatap ke arah Valko.
"KENAPA KAU BISA ADA DI SINI?!" teriak Valko. Dia melangkah dengan cepat ke arah Ayah Mertua. Tatapan mengerikan penuh amarah semakin terpancar dari wajah Valko. Aura kengerian sangat terasa.
"KAU...." teriak Valko sambil mencengkeram kerah baju Ayah Mertua dengan tangan kanannya. "AKU BENCI PADAMU!" teriak Valko. Tangan kirinya mengarahkan tinjuan yang akan diarahkan pada Ayah Mertua.
"VALKO! HENTIKAN!!!!" teriakku kencang. Aku langsung berlari ke arah Ayah Mertua. Diriku berdiri di tengah-tengah antara Valko dan Ayah Mertua. "HENTIKAN, VALKO! HENTIKAN!!!" teriakku kencang sambil memegangi tangan kanan Valko. Aku berusaha melepaskan cengkeraman tangan kanan Valko. "HENTIKAN, VALKO! KUMOHON HENTIKAN!" ucapku lagi.
"DIAM!!!" teriak Valko. "MENYINGKIRLAH, ZETA!!!!" teriak Valko lagi.
"VALKO!" teriakku tak mau kalah. "Aku yang mengundang Ayah Mertua kemari!!!" teriakku lagi. "LEPASKAN DIA!!!" kupegangi tangan kanan Valko lagi.
"Beraninya kau bohong padaku!" teriak Valko. Dia melepas cengkeraman tangannya pada kerah baju Ayah Mertua.
"Aku tak berbohong padamu, Valko...." sahutku.
__ADS_1
"Jika tak bohong lalu apa namanya?! Kau pembohong, Zeta!" teriak Valko sambil menunjuk ke arahku. "Kau bilang kau mengundang keluargamu! Tapi...."
"Ayah Mertua adalah ayahku! Dia adalah keluargaku, Valko! Aku tak berbohong padamu!" teriakku tak mau kalah. "Valko, ini adalah hari peringatan ulang tahun ibumu. Ini kesempatan untuk berkumpul dengan ayahmu lagi."
"Oh begitu rupanya! Kau lebih memilih membela dia daripada aku, suamimu! Kurasa aku terlalu lunak padamu, Zeta!" ucap Valko dengan nada meninggi.
"Valko! SAKIT!!!" teriakku saat Valko menarik tangan kananku dengan kasar. Dia menyeretku dengan kasar. "LEPASKAN, VALKO! LEPASKAN!" teriakku. Aku berusaha melepaskan cengkeraman tangan Valko. Valko sudah menyeretku hingga sampai di halaman lobi panti asuhan ini.
"DIAM!!!" teriak Valko. "Kau istriku, Zeta! Tugasmu adalah menurut padaku! Camkan itu!"
"Aku juga seorang menantu, Valko! Sudah tugasku berbakti pada mertuaku!" teriakku. Aku tak boleh kalah berdebat dengan Valko kali ini. "Ayahmu masih hidup, Valko. Dia yang sudah menyelamatkan nyawaku. Jika tak ada dia entah bagaimana nasibku saat itu, Valko," ucapku dengan lembut. Hubby...." panggilku dengan suara lembut. "Kumohon maafkanlah ayahmu...berilah dia kesempatan kedua...." ucapku dengan suara yang lembut. Valko justru mencengkeram tangan kananku dengan kuat.
Valko menyeretku sampai ke halaman panti asuhan ini. Suasana di sini teduh karena cukup banyak pohon besar yang sengaja ditanam. Pohon-pohon itu berukuran besar yang sudah nampak tua. Meski suasananya teduh tapi tetap saja amarah Valko tak kunjung padam.
"LEPASKAN!!!" teriakku sambil menghempas genggaman tangan Valko. "Bagaimana dengan kita, Valko! Bukankah aku dan kau juga adalah hasil kesempatan kedua!" teriakku. Valko nampak tertegun. Dia berhenti melangkahkan kakinya.
"Putraku!!!" terdengar suara teriakan. Nampak Ayah Mertua berlari ke arah Valko. "Nak, kumohon. Berilah aku kesempatan. Aku mengaku salah di masa lalu. Kumohon maafkan aku...." ucap Ayah Mertua. Air mata nampak mengalir dari kedua matanya.
Valko nampak tertegun. Kurasa dia sedang memikirkan ucapanku tadi. Hubunganku dengan Valko saat ini adalah hasil dari kesempatan kedua. Aku dan Valko sepakat untuk menutup masa lalu dan tidak lagi mengganggap pernikahan ini sebagai sebuah mainan. Jika hal itu bisa berhasil pada hubunganku dan Valko, bukankah berarti hal itu bisa berhasil juga pada hubungan Valko dan Ayah Mertua.
"VALKO!!!" teriakku kencang. Dia tiba-tiba menarik tangan kananku dengan kasar.
__ADS_1
"DIAM DAN IKUT AKU PULANG, ZETA!!!" teriak Valko kencang. Dia tak mempedulikan kehadiran Ayah Mertua.
"AWAS!!!" terdengar teriakan.
"AYAH!!!!" teriakku kencang.
Ada sebuah batang pohon besar yang jatuh ke arahku dan Valko. Ayah Mertua mendorongku dan Valko. Kejadian itu sangat cepat. Begitu aku tersadar, diriku sudah jatuh terbaring di atas tanah. Nampak batang pohon besar itu menimpa tubuh Ayah Mertua.
"PAPA!!!" teriak Valko.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
Thank you 😍
__ADS_1