Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 20 - Masih Polos....


__ADS_3

"Ehm...." dengus Valko. "Akan kubawa kau jalan-jalan setelah aku istirahat. Jadi, tutup mulutmu yang berisik itu!" Valko mulai tertidur pulas. Hihihi, kurasa rencanaku berhasil! 😆


Ehm, kemana ya Valko ini akan membawaku jalan-jalan? Aku tak sabar menantikannya 😆 Tak ada yang boleh mengganggu liburanku di sini. 😤


Kurasakan seperti ada angin yang menerpa wajahku. Angin atau mungkin udara itu berembus ringan tapi nampak terasa dekat. Aku sedang tidur bersama Serigala Gila kan tadi? Kubuka mataku perlahan-lahan. Astaga! Mata dingin langsung menyambutku. Ternyata wajahku berada sangat dekat sekali dengan wajah Valko. Kurasakan tubuhku masih di di cengkeramannya. Dia memandangku sejenak.


"Tu...an...." panggilku lirih. Kutatap matanya, apa dia ingin bersikap keras padaku untuk mendapatkan apa yang dia mau? Apa dia akan memcabik-cabikku saat ini juga? Bukankah di cerita novel dan film, pria suka memangsa wanitanya dengan paksa meski si wanita tidak mau. Ehm...apa Valko akan melakukan hal itu padaku sekarang. Kupejamkan mataku, aku tak mau itu terjadi!


"Aku bukan makhluk buas seperti yang kau pikirkan, Tupai...." terdengar suara lirih. Cengkeraman di tubuhku terasa lepas. Kubuka mataku, Valko memberi jarak pada diriku dengan memeluk bantal. "Apa yang ada di pikiranmu sekarang? Kau pasti berpikir aku akan memaksamu melakukan hal itu meski kau tak mau dan takut kan?" tanya Valko.


"Ehm...i...ya...." jawabku lirih tanpa melihat ke arahnya.


"Apa kau benar-benar berpikir aku ini makhluk buas yang hanya mementingkan keinginanku sendiri?" pertanyaan itu membuatku tertegun. Aku melotot sambil menatap sejenak ke arahnya. Aku bingung harus menjawab apa. Dia tetap saja pria kan? "Jawab aku, Zeta!" daguku di cengkeramannya.


"I...ya...Tu...an...." sahutku lirih.


"Dasar Tupai!" teriaknya. Dia melepaskan cengkeraman daguku. "Tidak semua laki-laki seperti itu. Meski aku kasar tapi aku bukan makhluk buas yang memaksakan kehendakku pada wanita lemah. Jadi, buang pikiran negatifmu tentangku mulai sekarang!" ia menyentil hidungku. Serigala aneh! Kau itu kasar tapi kau bilang jika kau bukan makhluk buas? Kau pikir aku akan percaya? 😒 Tapi...kata-katanya patut didengarkan juga. Papaku seorang pria dan dia selalu bersikap lembut dan sabar pada Mama. Meski Mama sedang sangat bawel atau mungkin ada masalah, Papa tak pernah memukul Mama. Paling hanya bentrok suara saja itu pun beberapa saat kemudian akan berbaikan dengan sendirinya.


"Tapi, Tuan...."kuberanikan diri bertanya. "Ehm...Anda tetap seorang pria...ehm...pasti punya nafsu yang ehm...besar...."


"Itu tergantung pada pengendalian diri sendiri, Tupai. Aku bisa mengendalikan nafsu dalam diriku. Pengendalian diri setiap orang berbeda-beda, itulah mengapa aku tak suka kau memakai pakaian minim. Pria yang terlihat baik sekalipun tetaplah bisa menjadi makhluk buas jika dia sedang kehilangan kendali. Jadi...." dia memeluk tubuhku. "Mulai sekarang jaga penampilanmu dan sikapmu agar tak memantik api. Kau paham?" tanya Valko. Dia menatapku dengan lembut. Astaga, tak kusangka jika Valko memiliki sisi lembut seperti ini.


"I...ya, Tu...an...." sahutku lirih. Apa ini sisi lembut Pangeran Bulan yang pernah diceritakan Kak Vio? Mengapa jantungku berdebar ketika Valko mengatakan hal lembut ini 😣


"Tupai...." panggil Valko lagi. Kutatap matanya lagi. "Apa kau sudah memasang pelindung pada dirimu?" tanyanya. Pelindung? Pelindung apa yang dia maksud? "Sepertinya kau tak sepintar yang kukira," Valko menghela napas. "Wajahmu yang bingung sudah menunjukkan jawabanmu, Tupai." ucap Valko.

__ADS_1


Tunggu, apa dia bilang jika aku ini bodoh? 😡 Bagaimana aku bisa menjawab dengan jelas Serigala Jelek! 😡 Pertanyaanmu saja tak jelas.


"Valko!" aku paling tak tahan jika ada orang yang bilang aku bodoh! Aku bangun dan menunjuk ke arahnya. "Aku bukan wanita yang bodoh! Pertanyaanmu tak jelas! Bagaimana bisa aku menjawabmu!" kumarahi Valko. Valko bangkit. Dia hanya menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tak kusangka wanita ini sepolos ini," ucapnya dengan nada kecewa. "May!" teriak Valko. Sekretaris May segera membuka pintu dan masuk. "Bawa dokter itu untuk memeriksa Tupai, sekarang!" perintah Valko. Dokter? Untuk apa? Aku kan tidak sakit.


"Untuk apa memanggil dokter? Aku baik-baik saja dan tidak sakit," protesku.


"Kau akan tahu nanti, Tupai. Kau benar-benar Tupai yang masih polos," ejek Valko. Sekretaris May masuk bersama seorang dokter wanita. Dokter itu membawa sebuah tas jinjing hitam. Sekretaris May berlalu pergi.


"Selamat pagi, Tuan Muda, Nona," sapa Dokter ini.


"Dokter, kembalilah! Saya tak sakit! Serigala ini saja yang mengada-ada!" celetukku sambil menunjuk ke arah Valko. Dokter itu terlihat bingung, dia menatap ke arah Valko.


"Tolong periksa Tupai Kecil ini, beri juga dia edukasi. Biarkan dia memilih pelindung yang dia inginkan," ucap Valko sambil berpindah duduk di sofa. Aku tetap duduk di atas ranjang sambil memasang muka cemberut. Valko membuang waktu liburanku dengan memanggil dokter untuk hal yang tak penting.


Ini saat paling memalukan dalam hidupku. Aku seperti orang yang sangat polos dan bodoh. Mau bagaimana lagi? Pernikahanku serba dadakan, mana ada waktu untukku mempelajari hal-hal ini? Mama juga belum pernah mengatakan hal ini padaku, dia mengganggapku masih terlalu muda. Ehm...sejujurnya aku juga belum pernah memikirkan hal seperti ini. Mendengarnya sekilas saja membuat telingaku geli 😣. Selama ini di otakku hanya ada K-Pop, usaha butik dan menyelesaikan skripsiku saja.


Dokter itu memberi edukasi padaku. Kurasa mukaku memerah sepanjang dia berbicara. Valko menatapku dari sofa di sudut ruangan. Kurasa dia menertawakan kepolosanku ini.


"Jadi, Nona. Apa Anda sudah mengerti?" Dokter itu tersenyum. Aku hanya menggangguk-angguk. "Em, jadi Nona ingin memilih alat yang mana?"


"Ehm...yang tidak menimbulkan rasa sakit...ehm...yang mana, Dokter?" aku menunduk malu. Akhirnya dokter itu memberiku obat berupa pil yang harus selalu kuminum. Tentu saja, Dokter. Jangan khawatir, aku pasti akan selalu ingat. Aku belum ingin segera dipanggil Mama.


Dokter itu berpamitan padaku. Valko mengantarkannya keluar dari kamar. Kubaringkan diriku di ranjang. Jantungku masih berdebar kencang akibat peristiwa ini. Baru kusadari jika edukasi hal seperti ini sebelum pernikahan itu sangat penting. Apa ini sisi lembut Valko? Dia begitu peduli padaku hingga tak segan memanggilkan dokter kemari hanya untuk hal ini. Ehm...jika itu Kai apakah dia akan peduli hingga sedetail ini?

__ADS_1


Jadi perkataan Valko pagi tadi bukan hanya omong kosong? Dia benar-benar ingin menunda momongan. Hatiku sedikit hangat mendengarnya. Tapi...dia berkata tetap akan menjadikanku mainan saat tidur 😣 Bukankah itu sama saja dengan memangsaku? 😢


Kulihat ke arah pintu kaca itu. Nampak hari sudah sore, matahari kurasa hampir terbenam. Sepertinya aku dan Valko tidur siang dalam waktu yang lama. Jalan-jalan itu tak mungkin hari ini. Padahal aku ingin jalan-jalan sambil hunting foto di sekitar perkebunan ini. Sudahlah, lebih baik kudinginkan otakku terlebih dahulu.


HAH! Berenang memang menyenangkan. Aku nekat berenang dengan memakai kaos dan celana jeans. Jika aku tahu ada kolam renang, pasti akan kubawa koleksi baju renangku. Aku berenang di kolam renang samping kamar ini. Nampak pemandangan indah sore hari.


Matahari hampir kembali ke peraduannya di sisi barat. Dia nampak seolah-olah ingin bersembunyi di balik pegunungan. Aura oranye lembut memenuhi angkasa. Sungguh indah. Diriku merasa lebih baik saat ini. Pemandangan ini indah, lebih baik kuabadikan. Kuambil smartphone-ku yang kubungkus plastik bening. Kuarahkan kamera belakang smartphone-ku pada pemandangan indah itu.


Apa ini? Tiba-tiba saja kurasakan pegangan di pinggang dan kecupan lembut di leherku. PLUK!!! Smartphone-ku terjatuh dari genggamanku. Tidak! Dia jatuh meluncur ke dalam kolam.


"Hati-hati, Tupai," terdengar suara dan tangan yang menangkap smartphone-ku. Tangan itu meletakkan kembali smartphone-ku ke tepi kolam. Astaga, sekarang bisa kurasakan pegangan di pinggangku semakin erat. Ada kepala menyandar di bahu kananku. Dasar Serigala Gila! Tak bisakah kau membiarkanku sendirian sejenak?! Aku hendak menggerakkan kepalaku. "Diamlah, Tupai!" protes Valko. Kecupan lembut terasa di pipi kananku. Mata Valko beradu dengan mataku sekarang. Jantungku berdebar kencang. Aku merasa ada magnet yang membuatku terus menatap ke arahnya. Rambut panjangnya yang basah ditambah wajahnya yang terkena pantulan sinar sore ini membuatku tak bisa berpaling. "Apa yang kau lihat?"


"Tak ada!" sahutku ketus. Aku memandang ke arah matahari yang hampir tenggelam itu. Suasana hening, Valko diam saja. Pinggangku masih saja dicengkeramnya. Kepalanya masih menyandar di bahu kananku. Embusan napasnya terasa di kulit leherku. Sekarang apa yang harus kulakukan?


Ehm...semenjak Valko menjadikanku bantal tidurnya hubungan kami aneh tapi kian dekat. Dia jadi suka menyentuhku secara langsung. Aku pun juga bersentuhan dengannya secara langsung meski terpaksa. Mulutnya memang kasar dan pedas tapi sentuhan darinya menunjukkan jika dia menaruh perhatian padaku. Suasana sangat syahdu sekarang ini. Matahari merah itu sebentar lagi akan kembali ke peraduannya. Ehm...mau bagaimana lagi, meski aku tak suka pada Valko. Tapi sekarang aku merasa jika suasana saat ini romantis nan menghipnotis.


KRUK!!! Terdengar bunyi perut yang keroncongan. Astaga, itu suara perutku. Aku memang belum makan sejak pagi tadi. Valko memandangku dengan tatapan tajam. Astaga, kenapa perutku harus berbunyi nyaring saat ini sih? 😣 Aku malu 😣


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2