Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 85 - Pengawal....


__ADS_3

Sudahlah, turuti saja, Zeta! Aku pun keluar dari mobil lalu melangkah menuju bus yang sudah terparkir di dekat pintu gerbang. Bus kecil ini berkapasitas penumpang sekitar 25 orang. Astaga, bus ini nampak dipenuhi oleh pengawal wanita berpakaian serba hitam, lengkap dengan kacamata hitam. Kenapa aku seperti akan pergi ke sarang penjahat saja, sih? 😦


"Silahkan duduk, Nona," ucap seorang pengawal wanita itu.


Aku pun duduk di kursi deretan bagian tengah. Aku duduk di bagian tengah, bukan di kursi yang dekat dengan kaca. Valko, aku tak menyangka kau akan memperlakukanku berlebihan seperti ini. Bus ini mulai melaju keluar dari area kantor.


"Nona," panggil pengawal itu. "Perkiraan waktu menuju rumah orang tua Anda sekitar...." ucapnya. Apa rumah orang tuaku? Aku ingin pergi ke rumah sakit, bukan pulang ke rumah.


"Pergi ke Rumah Sakit XYZ!" perintahku. "Aku ingin pergi ke Rumah Sakit XYZ bukan pulang ke rumah!"


"Tapi, Nona, Tuan Valko memerintahkan kami untuk mengawal Nona pulang ke rumah untuk menemui ibu Anda!"


"Tapi, ibuku masih ada di rumah sakit. Dia belum pulang dari rumah sakit! Sudah, cepat pergi ke Rumah Sakit XYZ!" perintahku lagi.


"Maaf, Nona, kami...."


"Kau berani melawan perintahku, hah?" ucapku sambil berkacak pinggang. "Kau tidak memgganggapku sebagai salah satu majikanmu, hah?!"


"Bukan begitu, Nona, tapi kami hanya menuruti perintah Tuan Valko saja...."


"Cepat pergi ke Rumah Sakit XYZ! Kalian tak perlu khawatir, urusan dengan Valko biar aku yang menjelaskannya nanti. Asal kalian diam dan menurutiku, aku takkan membuat pekerjaan kalian sulit!" ucapku tegas.


"Baik, Nona!" ucap pengawal wanita itu lagi.


Astaga, susah sekali sih mau pergi menjenguk Tuan Kenrick. Suasana bus sangat hening, para pengawal ini diam di tempat, tanpa bersuara sedikit pun. Astaga, lama-lama aku bisa gila jika situasinya seperti ini.


"Siapa namamu?" ucapku pada pengawal yang sejak tadi berbicara padaku.


"Nama saya Ninda, Nona," sahut pengawal itu.


"Sudah berapa lama kau bekerja di sini?"


"Saya baru sudah lima tahun lebih mengabdi pada Keluarga Wijaya," sahut pengawal itu.


"Oh, cukup lama juga. Menurutmu Valko orang yang seperti apa?" tanyaku. "Apa kau pernah mengawal pacar eh maksudku mantan pacar Valko?" entah mengapa aku ingin menanyakan hal ini.


"Maaf, Nona. Saya tidak berani berkomentar untuk menjawab pertanyaan, Nona. Unit pengawalan ini dibentuk untuk melindungi Keluarga Wijaya. Saya dan teman-teman sudah diperintahkan oleh Tuan Fajar Eka Wijaya untuk mengabdi pada Tuan Valko. Kami tak berani berkomentar atau membantah perintah Tuan Valko."

__ADS_1


"Apa kalian pernah mengawal wanita lain selain aku? Kalian kenal Nona Viorella? Apa kalian pernah mengawalnya?" tanyaku lagi. Entah mengapa aku sangat penasaran pada hal ini.


"Maaf, Nona, kami tak pernah diperintahkan untuk menjaga orang lain. Nona merupakan orang pertama yang kami jaga. Biasanya Tuan Valko hanya memerintahkan kelompok kami untuk menjaga area kompleks usaha miliknya saja," sahut Ninda. Jadi, aku wanita pertama yang dikawal oleh mereka di bawah perintah Valko? Oh, mengapa aku merasa senang ya mendengarnya! 😍


"Jika ada toko buah-buahan berhenti di sana ya!" ucapku.


"Apa Nona ingin makan buah? Jika Nona ingin makan buah di bus ini sudah tersedia kulkas mini berisi buah-buahan."


"Bukan untukku, aku ingin membeli parcel buah."


"Parcel buah? Untuk siapa, Nona?" tanya pengawal itu spontan. "Ah, maaf, Nona, seharusnya saya tak menanyakan urusan pribadi Anda."


"Tak masalah, santai saja. Aku membelinya untuk ehm...anggap saja untuk ayah mertuaku," sahutku sambil tersenyum.


"Ayah mertua, Nona?" Ninda tertegun. Para pengawal wanita di dalam bus juga langsung menatap ke arahku.


"Maksud Nona, Tuan Kenrick Wijaya?" celetuk seorang pengawal lain.


"Tuan Kenrick Wijaya sudah kembali?" tanya pengawal lain. Kenapa para pengawal ini menjadi sangat kepo sih.


"Syukurah, jika beliau sudah kembali lagi," ucap Ninda. Mengapa para pengawal ini terlihat sangat merindukan kehadiran Tuan Kenrick? 😯


"Memangnya kenapa? Kenapa kalian amat senang memdengar Tuan Kenrick sudah kembali?" tanyaku penasaran.


"Tuan Kenrick adalah orang yang sangat baik, Nona. Beliau sangat memperhatikan kesejahteraan bawahannya. Saya mengabdi di sini karena merasa berutang budi pada beliau," ucap Ninda.


"Keluarga kami mengabdi secara turun temurun pada Keluarga Wijaya. Dari semua tuan di keluarga ini, ehm...Tuan Kenricklah yang paling murah hati," celetuk seorang pengawal wanita lagi.


"Apa berarti Valko memperlakukan kalian dengan buruk?" tanyaku penasaran.


"Ehm...bukan begitu maksud kami, Nona," ucap Ninda. Dia tak berani menatapku.


"Tuan Valko juga memperlakukan kami dengan baik. Kami mendapat gaji yang besar dan fasilitas kerja yang bagus. Hanya saja, ehm...sifat Tuan Valko kadang membuat kami merasa tertekan...." celetuk seorang pengawal.


"Hush! Cindy!" teriak Ninda. "Mohon maafkan dia, Nona. Cindy masih anak baru. Saya akan mengajarinya lagi tentang etika berbicara nanti."


"Tak perlu, aku paham apa yang kalian maksud," sahutku.

__ADS_1


Valko memang tipe orang yang terlihat keras dan dingin dari luar tapi sebenarnya dia orang yang juga punya sisi rapuh dan juga lembut. Mungkin sifat keras dan dinginnya untuk menutupi kerapuhannya itu.


"Jangan khawatir, aku mudah lupa. Mungkin setelah sampai di rumah sakit, aku sudah lupa pada pembicaraan ini."


"Maaf Nona, kita sudah sampai di toko buah-buahan!" ucap Ninda.


"Ah, iya!" aku pun segera turun dari bus itu. "Apa yang kalian lakukan?" tanyaku. Para pengawal wanita ini sudah berdiri untuk turun dari bus.


"Nona, kami harus menjaga keselamatan Anda. Tuan Valko sendiri yang memerintahkan untuk selalu berjaga di sekeliling Nona. Beliau berkata Nona harus pulang dalam keadaan utuh, tidak boleh terluka atau tergores sedikitpun," ucap Ninda.


Astaga, Valko! Kenapa hidupku jadi ribet sekali sih sekarang? Sudahlah, lebih baik aku segera membeli buah-buahan. Aku pun memasuki toko buah-buahan itu. Semua mata pengunjung toko ini tertuju padaku. Kurasa penampilanku justru sangat memancing perhatian. Sudah memakai kacamata hitam, masker hijau, topi hijau ditambah kehadiran para pengawal wanita ini.


"Ada yang bisa saya bantu, Kak?" tanya pegawai pria toko ini. Dia nemakai appron berwarna merah.


"Aku ingin membeli parcel yang seperti ini," kutunjuk contoh parcel paling besar yang dipajang di sana. "Tolong pilihkan buah-buahan yang masih segar."


"Baik, Kak. Mohon tunggu sebentar," ucap pegawai pria itu. Dia dengan cekatan memilih buah-buahan yang masih segar lalu menyusunnya menjadi sebuah parcel. "Sudah siap, Kak," pengawai itu hendak menyerahkan parcel itu.


"Biar kami yang membawanya, Nona," ucap Ninda. Dia memerintahkan bawahannya untuk mengangkut parcel itu.


"Pembayarannya tunai atau non tunai, Kak?" tanya pegawai pria itu.


"Tunai saja," kukeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari dalam tas selempangku.


"Ini kembaliannya, Kak!" ucap pegawai pria itu sambil menyerahkan uang kembalian padaku. Tangan kananku secara tak sengaja menyentuh tangan kanan pegawai pria itu.


"Dilarang menyentuh tangan Nona kami!" teriak para pengawal wanita ini bersamaan. Aduh, kenapa mereka overprotektif seperti Valko, sih? 😭


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2