
"Aku hanya ingin makan sendirian. Aku tak terbiasa makan dengan ada banyak orang di sekelilingku...." sahutku.
"Baik, Nona. Kami mengerti," ucap Bibi Ann. Dia memberi kode agar para pelayan lain pergi. "Ijinkan saya dan seorang chef menemani Anda, Nona."
"Boleh...boleh..." jawabku sambil mulai memakan nasi goreng itu. Rasanya enak seperti nasi goreng di restoran. "Rasanya enak, aku suka nasi goreng ini."
"Terima kasih pujiannya, Nona. Terima kasih. Saya senang jika Nona merasa puas. Saya pasti tidak akan memgecewakan Nona," ucap Koki itu.
"Ya, masakannya enak. Tunggu, aku belum pernah melihatmu...." kutatap Koki itu. "
"Dia adalah koki baru, Nona. Tuan Valko sengaja mempekerjakan koki dengan spesialisasi hidangan lokal khusus untuk memasak makanan bagi Anda. Hari ini adalah masa percobaannya, jika Nona puas makan dia akan bekerja di sini," ucap Bibi Ann.
"Aku puas kok. Rasanya enak. Memangnya jika aku tak puas apa yang akan dilakukan Valko?" tanyaku penasaran.
"Nona, jika Anda tak puas maka koki ini bisa dikembalikan lagi untuk bekerja di hotel milik Keluarga Wijaya," sahut Bibi Ann.
"Lalu apa bedanya dengan bekerja di sini?" tanyaku lagi.
"Nona, keluarga kami mengabdi secara turun temurun pada Keluarga Wijaya. Suatu kehormatan jika bisa masuk untuk melayani anggota Keluarga Wijaya secara langsung bukan hanya bekerja di usaha yang dimiliki," ucap Koki itu.
"Oh begitu, jangan khawatir. Santai saja jika bersamaku. Aku termasuk orang yang simpel kok. Asal kalian menurut dan memperlakulanku dengan baik. Maka akan kupastikan tidak akan membuat kalian susah. Anggap saja simbiosis mutualisme," sahutku sambil tersenyum. "Aku sudah selesai sarapan," ucapku sambil bangkit dari duduk.
__ADS_1
Sekarang apa yang harus kulakukan? Ini masih pagi, jam untuk membesuk di rumah sakit masih lama. Sebaiknya aku berkeliling rumah ini saja. Lucu, sudah beberapa bulan aku tinggal di sini tapi belum pernah menjelajahi sekeliling rumah ini. Itu karena Valko selalu membawaku kemana pun dia pergi. Kulangkahkan kakiku menuju halaman belakang.
"Wow, ternyata ada kolam renang di sini!"
Nampak kolam renang yang cukup luas. Kolam itu berlapis keramik warna putih. Di pinggiran kolam nampak kursi-kursi untuk bersantai. Kususuri pinggir kolam renang itu. Langkahku membawaku ke area halaman samping rumah. Rumah ini rupanya luas sekali. Halaman sampingnya terlihat luas. Rumput hijau nampak menghampar.
"Cantiknya!" ucapku saat melihat bunga di halaman itu. Ada berbagai macam mawar di tanam di halaman ini. Kebanyakan mawar yang berwarna pink. "Baunya wangi!" kuhirup salah satu mawar warna pink. "Kenapa Valko tak pernah mengajakku kemari,;ya? Apa ini kejutan yang belum dia tunjukkan padaku? Mawar kan bunga kesukaanku.
Halaman ini nampak sepi. Meski pun sepi tetapi nampak terawat. Aku tak menemukan daun kering di rumput hijau itu. Ternyata di halaman itu ada kolam ikan. Di dalam kolam itu ada ikan koi warna putih, ikan koi warna merah dan ikan arwana warna merah. Ikan-ikan itu nampak gendut-gendut.
"Wah, ini ikan mahal! Kayaknya kalo digoreng enak deh! Aku belum pernah makan ikan koi dan ikan arwana! Kurasa jika kuminta pada Valko pasti dikabulkan, hihihi. Eh, ada pohon jambu!" di pinggiran halaman itu ada pohon-pohon yang rimbun. Rupanya itu adalah ujung dari halaman ini. Di belakang pohon-pohon itu terdapat tembok yang tinggi. Ujung tembok itu terpasang kawat berduri.
"Ya sudah kupanjat saja!" ucapku sambil menyingsingkan celana panjangku. "Jambu tersayang, aku datang!" kupanjat pohon jambu itu dengan semangat. Entah mengapa aku ingin sekali makan jambu air di pohon ini. Padahal di kulkas pasti ada banyak buah-buahan.
"Huh! Capek juga!" kududukkan diriku di salah satu batang pohon. Di sekitarku ada banyak jambu air bertebaran. "Ah! Kau ingin kumakan ya? Dengan senang hati!" ucapku sambil memetik jambu air itu. Rasanya nikmat sekali.
"Satu lagi mungkin! Ah tidak, dua lagi mungkin!" tanganku terus memetik jambu air di sekitarku. "Makan langsung dari pohonnya memang lezat!"
"Nona!!!" terdengar teriakan seseorang. Rupanya itu Bibi Ann. "Astaga, Nona! Akhirnya ketemu juga!"
"Apa Nona sudah ditemukan?!" terdengar suara seseorang lagi. "Astaga! Nona, apa yang Anda lakukan di atas sana?!" teriak orang itu lagi. Kenapa mereka khawatir sekali sih? Aku kan hanya jalan-jalan di rumah suamiku sendiri. Memangnya aku salah,,ya?
__ADS_1
"Hay, Pak May," sapaku. "Apa kau mau jambu?" tanyaku dengan santai.
"ASTAGA!!! ZETA!!!!" terdengar suara yang sangat familiar di telingaku. "Bagaimana kau bisa di atas sana? May! Apa yang kau tunggu! Cepat cari tangga untuk menurunkan istriku!" teriak Valko. "Kau juga!" Valko menunjuk ke arah Bibi Ann. "Cepat, cari bantuan!" teriak Valko. Raut wajahnya nampak kesal.
"Hubby," panggilku.
"Tenanglah, Zeta! Jangan khawatir! Aku di sini menemanimu. Jangan takut! Kau pasti akan baik-baik saja!" ucap Valko. Valko, kau terlalu berlebihan 😓. Aku baik-baik saja sejak tadi. Sudahlah, lebih baik aku segera melompat turun.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Valko saat aku melompat turun. Aku mendarat dengan sempurna di atas rumput. Tentu saja dengan banyak jambu di genggamanku, hihihi 😆.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
Thank you 😍
__ADS_1