
Pesta pernikahan ya? Ini benar-benar pertama kalinya aku dan Valko menghadiri acara pernikahan bersama-sama. Mungkin bisa dibilang ini pertama kalinya aku pergi ke kondangan setelah menikah. Jantungku benar-benar merasa dag dig dug dari tadi. Seperti apa ya pesta pernikahan itu nanti? Pernikahan orang-orang kelas elit pasti meriah.
Kurasa aku merasa minder. Bagaimana pun aku tak berasal dari kelas yang sama dengan Valko. Meski pun keluargaku cukup berada tapi tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan Keluarga Valko. Aku bersyukur Valko memperlakukanku dengan baik dan juga menyayangiku. Tapi tetap saja aku merasa gugup. Bagaimana jika nanti aku mengacau? Bagaimana jika nanti aku membuat malu Valko? Mataku terus menatap ke arah jendela mobil.
"Zeta!" terdengar suara Valko. "Kau kenapa? Kenapa dari tadi diam saja? Apa kau tidak suka dengan gaunnya atau aksesorisnya?" tanya Valko.
"Eh...tidak. Aku suka dengan desain gaun ini. Sangat cantik. Aksesorisnya juga sangat bagus. Terima kasih, Hubby," ucapku sambil tersenyum.
"Lalu kenapa kau diam saja? Apa kau sakit?" Valko menyentuh dahiku. "Tidak panas kok. Kau kenapa?"
"Aku tidak apa-apa, Valko. Sungguh!" sahutku.
"Jangan bohong, Zeta! Aku sudah hafal setiap gerak-gerikmu, tahu! Ekspresimu menunjukkan jika kau sedang memendam sesuatu!" Valko menyentuh tangan kiriku. "Kenapa tanganmu dingin sekali? Apa kau benar-benar sakit?"
"Tidak, Valko. Aku tak sakit. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir, Hubby," ucapku sambil menarik tanganku.
"Kau marah padaku, ya? Aku salah apa, Zeta?" desak Valko.
"Aku tak marah padamu...." jawabku.
"Bohong! Sikapmu aneh sejak kita masuk ke dalam mobil. Kau pasti marah padaku!" ucap Valko sambil memegang kedua bahuku.
"Tidak, Hubby. Aku tak marah padamu, sungguh!" sahutku sambil menatap mata Valko.
__ADS_1
"Lalu kenapa? Aku tak suka jika kau menyembunyikan sesuatu, Zeta!" desak Valko lagi.
"Aku ehm...gugup dan ta... kut ...." sahutku lirih.
"Hah? Gugup dan takut? Kenapa? Apa yang kau takutkan?" tanya Valko.
"Valko, ehm... kau dan aku berasal dari kelas sosial yang berbeda. Kau dari kelas yang sangat elit sedangkan aku kelas menengah. Keluargaku tidak sekaya keluargamu. Lingkaran pergaulanmu pun pasti orang-orang kelas elit. Termasuk pernikahan yang akan kita hadiri. Sahabatmu Tyo pasti berasal dari kelas yang elit begitu pun tamu-tamu lainnya. Ehm...aku takut akan membuat kesalahan yang bisa membuat malu karena itu aku jadi merasa takut dan...." Valko menyentuhkan ujung jari telunjuk kanannya ke arah mulutku.
"Sst! Jangan bicara lagi! Kenapa kau harus minder? Kita menikah secara resmi dan dengan persetujuan kedua keluarga masing-masing. Apa yang perlu ditakutkan? Kau terlalu overthinking, Zeta," Valko mencubit pipi kananku. "Saat kita menikah itu artinya hanya ada aku dan kau. Hanya ada Valko dan Zeta saja. Masalah perbedaan kekayaan keluarga apa aku pernah mengungkitnya? Tidak kan? Sejak kita menikah bahkan saat hubungan kita masih seperti kucing dan tikus, bukankah yang selalu kuungkit hanya tentang diri kita saja kan? Sudahlah, jangan khawatir. Pesta pernikahan Tyo bukan medan perang yang akan membuatmu mati. Anggap saja seperti saat kau ikut aku ke reuni dulu. Bukankah teman-temanku juga tak berbuat hal buruk padamu kan?" ucap Valko. Benar juga, sepertinya aku yang terlalu berlebihan.
"Kau benar, Hubby. Aku yang terlalu overthinking," sahutku.
"Baguslah! Kurasa aku bisa tidur sebentar sekarang...hoahm...." Valko menguap. Dia membaringkan kepalanya di pangkuanku. Kepalaku mulai membelai kepala Valko. Valko sekarang sudah tak pernah lagi memanggilku tupai. Kenapa aku jadi rindu ya dipanggil tupai?
"Ehm? Ada apa?" Valko membuka matanya lagi.
"Hubby, Sayangku, aku rindu dipanggil tupai. Bisakah kau memanggilku itu lagi?" pintaku.
"Heh?" Valko tertegun. "Astaga, Zeta. Kau ingin membuat kita kembali ke masa-masa kucing dan tikus lagi? Sudah, lupakan. Aku tak mau melakukannya. Kau bisa meminta hal lain," tolak Valko.
"Ayolah, Hubby. Aku tak merasa tertindas jika kau melakukannya? Aku ingin mendengarnya. Ayolah, Hubby, Sayangku," pintaku sambil bergelayut manja di bahu kanan Valko.
"Baiklah, baik. Kenapa hari ini permintaanmu aneh-aneh terus sih, Zeta!" sahut Valko sambil menghela napas. Mobil ini terasa berhenti.
__ADS_1
"Maaf, Tuan, Nyonya. Kita sudah sampai," ucap Pak Sopir. Pintu mobil nampak dibukakan dari arah luar.
"Ayo, Tupaiku Tercinta," ucap Valko sambil memegang tanganku. Ih, kok rasanya senang ya. Padahal dulu aku benci sewaktu dia memanggilku tupai.
Mobil ini ternyata berhenti di depan sebuah lobi gedung yang sangat megah. Nampak dua orang pria dengan setelan jas warna hitam membukakan pintu masuk. Pintu masuk itu terbuat dari kaca. Valko menggandeng tanganku dengan erat.
Nampak deretan orang-orang berbaris untuk masuk ke ruangan tempat acara digelar. Ternyata orang-orang itu masuk untuk pemeriksaan dengan sinar X-ray seperti yang ada di bandara. Satu per satu tamu diperiksa dengan teliti. Duh, kok petugas yang memeriksa pria semua sih. Bisa gawat jika Valko nanti cemburu buta.
"Aku tak tahu akan bertemu denganmu di sini, Tuan Kai," terdengar suara seseorang dari arah belakang.
"Iya, aku mewakili keluargaku. Keluarga Putrakusuma," terdengar suara yang sangat familiar di telingaku.
Leherku langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Ternyata tepat di belakang sana. Ada seseorang yang sangat kukenali. Dia sedang berbincang dengan seseorang di antrian belakang. Tak salah lagi, orang itu adalah Kai....
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
__ADS_1
Thank you 😍