
"Mengapa Si Tupai lama sekali?!" terdengar teriakan Valko. Jiwa missqueen-ku meronta-ronta saat melihat kendaraan di hadapanku. Apa benar ini mobil yang ada di film-film itu? Mobil Lim*usin? Mobil ini dicat dengan warna perak metalik sebagai warna dasar. Ornamen hiasannya berupa garis-garis memanjang yang jika diamati meninggalkan kesan seperti garis loreng harimau putih. Aku mematung memandangi mobil itu sejenak.
"Nona, cepatlah masuk! Tuan sudah menunggu Anda di dalam mobil!" Sekretaris May membukakan pintu mobil itu.
Saat pintu mobil di buka, interior di dalamnya seperti di film. Ada ruang kosong di bagian tengah mobil. Tempat duduk selain di depan tempat kemudi, ada pada bagian belakang. Interior di bagian dalam mobil bernuansa kuning keemasan yang terkesan glamour. Mataku tak nyaman menatap warna kuning keemasan itu. Di tempat duduk bagian belakang, Valko sudah duduk dengan angkuh. Matanya elangnya menatapku seperti menatap seekor mangsa. Kedua tangannya menyilang di dada.
"Apa yang kau lihat, Tupai? Cepat masuk!" perintahnya. Aku pun segera masuk dan duduk di pojokan. "May, cepat jalan!" teriak Valko.
Kurasakan mobil sudah berjalan, di depan dan bagian belakang kami nampak ada dua mobil pengiring. Kurasa mereka para pengawal Valko. Aku tak bergerak, Valko melihatku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jangan harap aku berdandan layak di depanmu, Valko! Aku sengaja mengepang rambutku menjadi dua seperti gadis cupu agar terkesan norak dan kampungan. Kaos hijau muda cetar model lengan pendek dan celana kolor warna merah tua sengaja kupakai agar tampilanku semakin membuat Valko menjauh. Aku juga hanya memakai sandal jepit. Aku juga selalu memakai kacamata lensa kosong dengan frame berbentuk bulat sempurna. Make up-ku sengaja kubuat untuk membuat wajahku semakin terlihat gelap. Bahkan sebelum menikah dengannya, aku sengaja memasang kawat gigi dengan karet warna hitam. Sehingga saat tersenyum membuat tampilanku semakin jelek. Aku harus melindungi tubuhku yang berharga dari Si Serigala Playboy !
"Tuan...." ucapku saat Valko mencengkeram daguku. Aku hanya tersenyum sambil memperlihatkan kawat gigiku. Menjauhlah Valko! Menjauhlah! Dia pasti jijik melihatku. "TU...AN..." astaga apa yang terjadi?! "TU...AN..." Reflek, aku hendak melawan. Reaksi ini benar-benar tak terduga! Valko justru memelukku dengan erat secara tiba-tiba. "TU...AN..." aku berusaha meronta-ronta agar lepas dari pelukannya. Dia menempelkan wajahnya ke pipi kiriku. Pipiku rasanya dicium dengan penuh hasrat olehnya. Apa yang terjadi?
"DIAM!!!" teriaknya sambil memelukku semakin erat. Dia membuat tubuhku terbaring di kursi di dalam pelukan tubuhnya yang ada di belakangku. WING!!! CTAR!!! Astaga, apa dia sudah gila?! Kacamataku dilepas paksa lalu dilempar ke sembarang arah. Tentu saja kacamataku pecah. Kacamata itu mahal meski lensanya kosongan. Apa yang ingin dilakukannya? Kedua kepangan rambutku dilepas secara paksa. Rambutku yang berharga itu dibuat terurai. Sekarang dia justru menghirup-hirup rambutku. Tubuhku dipeluk semakin erat, kaki panjang Valko menindih kaki mungilku. Mengapa justru dia seolah-olah tertarik dan ingin memangsaku? Hiks, apa yang sebenarnya terjadi? Gerakannya yang mengejutkan dan agresif membuat jantung mungilku seakan-akan ingin meloncat keluar.
Kulihat ke arah kursi depan. Hiks, di sana kan ada Sekretaris May dan Pak Sopir. Apa mereka melihat apa yang sudah terjadi saat ini? Aku malu. Dasar Serigala Gila! Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kurasakan gerakan agresif Valko berhenti. Dia masih memeluk punggungku. Tubuhku masih terjebak di pelukannya. Bisa kurasakan dengan jelas hembusan napasnya di leherku. Tunggu, apa dia tertidur? Dia tertidur? Yang benar saja! Dasar Serigala Gila pemalas! Ini masih pagi! Kau sudah tertidur saat orang lain masih bekerja? Kau baru saja bangun beberapa jam yang lalu! Aku berusaha melepaskan cengkeraman pelukan Valko. Sial, tubuhnya lebih besar dariku sehingga aku terjebak dan tak bisa berkutik. Situasi macam apa ini? Dia sekarang justru tertidur pulas.
"Tuan..." terdengar suara Sekretaris May. Dia nampak memandang ke arah belakang dengan takjub.
"Apa Tuan Muda benar-benar tertidur?" Pak Sopir nampak heran.
__ADS_1
"Kurasa iya, Tuan Muda sedang tertidur," Sekretaris May terlihat tersenyum.
"Syukurlah, itu suatu keajaiban!" Pak Sopir terlihat bahagia. Keajaiban? Keajaiban bagaimana? Hiks, kenapa dua abdi ini juga memiliki pikiran aneh sih tentang situasi sekarang.
"Biarkan saja Tuan Muda tertidur. Kita bangunkan beliau beberapa jam lagi!" Sekretaris May dengan santai menyandar di kursi.
WHAT? Apa mereka semua tidak waras? Mereka membiarkanku seolah menjadi bantal tidur bagi Valko? Mengapa ini terjadi padaku? Astaga, kurasa musik klasik yang membuat kantuk sengaja diputar. Tanpa sadar mataku juga turut terlelap.
"Tadi malam aku tak berbuat apa pun dengan Tupai ini, Dokter!" terdengar suara Valko. Aku berusaha mengumpulkan kesadaranku tapi tetap saja rasanya aku masih mengantuk. Telingaku masih bisa mendengar obrolan yang terjadi.
"Apa Anda meminum obat tidur yang kuberikan pada Anda, Tuan?"
"Sudah Dokter, tapi tetap saja resep itu tak berhasil membuatku tertidur pulas...." terdengar lagi suara Valko. Tunggu, dimana aku? Mengapa ada orang yang dipanggil dokter? Mataku berusaha kubuka secepat mungkin. Saat aku melihat dunia kembali....
"Tupaiku sudah bangun, Dokter...." ucap Valko dengan nada dingin sambil membelai pipiku. Mata dingin Valko menatapku sesaat, aku merasa terintimidasi. Dia kembali menatap Dokter. "Kulanjutkan ceritaku, obat yang kau berikan tetap saja tak bisa membuatku tidur pulas. Ketika aku terbangun, kulihat Tupai Kecil ini tertidur dengan nyenyak di sofa. Aku ingin menjahili Tupai ini sehingga berteriak dan tidurnya terganggu tapi saat aku memeluknya entah mengapa aku justru merasa nyaman dan tanpa sadar tertidur pulas, Dok. Apa ada penjelasan ilmiah untuk hal ini? Saat aku dalam perjalanan membawa Tupai Kecil ini kemari aku juga memeluknya tadi dan kurasa aku tertidur pulas sebentar. Kurang lebih tiga jam," ucap Valko.
WHAT? Tiga jam? Aku tidur dipeluk oleh Valko selama itu? Hiks, tubuhku yang berharga sudah disentuh oleh Serigala Playboy ini.
"Saya rasa Anda sudah menemukan suatu hal yang bisa membuat gangguan tidur Anda berkurang drastis, Tuan. Akan sangat bagus jika Anda bisa tidur pulas tanpa ketergantungan pada obat tidur lagi. Tapi tentu saja akan ada efek sampingnya, Tuan...."
__ADS_1
"Apa efek sampingnya? Cepat katakan!"
"Nona bisa cepat berisi, jika Tuan tanpa sadar mengajaknya bersenang-senang setiap malam, hahaha," Dokter itu tertawa. Pipiku memerah, apa Dokter itu sedang mengodaku dan Valko? Hiks, bagaimana jika tubuhku yang berharga benar-benar dimainkan oleh Valko seperti kata Dokter itu? Aku tak bisa membayangkannya. BRAK!!!Terdengar suara meja digebrak.
"HENTIKAN OMONG KOSONG INI!" terdengar suara menyeramkan dari Valko. Hiks, aku takut. "Aku tak pernah tertarik menyentuh wanita mana pun semenjak mengalami gangguan tidur terkutuk ini! Bagaimana bisa kau berkata lelucon sampah seperti ini ketika aku sedang serius berkonsultasi?!" kurasa Valko sedang murka.
"Ehm...mohon maafkan, sa...ya...Tu...an...." Dokter yang sudah uzur itu nampak ketakutan. Itu bukan dokter yang dipanggil ke rumah oleh Valko tadi.
"Jangan bicara omong kosong lagi di masa depan! Resepkan saja obat atau tindakan untukku!" Valko hendak bangkit. Aku ingin melepaskan diri dari pangkuannya sampai..."DIAM! ATAU KUJATUHKAN KAU!!!" dia menggendongku dengan erat. Suaranya yang keras, kasar dan dingin membuatku takut. Nyaliku untuk kabur jadi menciut.
Valko keluar dari ruang praktek dokter itu. Ternyata ini di sebuah rumah sakit yang mewah yang berada di sebuah gedung bertingkat. Aku masih pasrah dalam gendongan Valko.
"May! Pergi ke tempat itu!" perintah Valko saat kami tiba di mobil. Aku masih saja tertahan di pangkuannya. Kemana lagi Valko ingin membawaku pergi? 😢
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍