
Dasar Serigala menyebalkan! Thai Tea-ku itu habis diminum oleh Valko. Rasanya hatiku kesal, aku sudah menuruti permintaan Valko, tapi Valko justru menghabiskan jatah Thai Tea itu.
"Taeyang! Taeyang!" panggil Valko. Aku tak menghiraukan ucapannya. Kulangkahkan kakiku menuju meja kerja itu kembali. Kunyalakan kembali laptopku. Lebih baik waktuku, kugunakan untuk mengerjakan proposal skripsiku lagi.
"Sana, kembali bekerja! Ini masih jam kerja! Jangan malas!" ucapku ketus tanpa menoleh ke arah Valko. Biar pun aku marah, tapi aku bukan cewek manja yang akan mengganggu kinerja seorang pria, hanya untuk meredam kemarahanku.
"Baiklah, tunggu aku ya, Taeyang!" Valko hendak mencium pipiku. Kujauhkan pipiku dari wajah Valko. Huh! Jangan harap bisa mencium pipiku.
"Sana, cepat pergi! Stafmu sudah menunggu!" ucapku ketus tanpa melirik ke arah Valko.
"Kau benar-benar marah, ya?" ucap Valko lirih. Aku tak menggubris ucapannya.
"Cepat, sana kembali bekerja!" ucapku dengan nada meninggi.
"Baiklah...." sahut Valko sambil berlalu pergi.
Sudahlah, sebaiknya kulanjutkan mengerjakan 'BAB 1' pada proposalku. Tanganku tak sengaja mengklik folder berisi drama korea. Ehm, kurasa menonton sebentar tak masalah. Kuputar episode pertama drama itu. Wah, ternyata seru juga ceritanya. Aku sudah men-download drama ini sudah lama sekali tapi belum sempat menontonnya.
"DOR!!!" terdengar suara mengagetkanku. Jantungku rasanya meloncat keluar dari tempatnya. "Hahaha!" terdengar suara tawa. Kulirik ke arah suara itu.
"DASAR MENYEBALKAN!!" teriakku sambil memukuli Valko dengan tas laptopku. "Rasakan ini! Rasakan!" aku terus memukuli Valko.
Tunggu, apa yang dia lakukan di sini? Bukankah dia seharusnya bekerja? Kutatap Valko dengan tatapan tajam.
"Apa yang kau lakukan di sini? Sana, kembal bekerja! Jangan malas!" teriakku sambil berkacak pinggang.
"Ini sudah jam pulang kantor, Zeta! Aku tidak malas, tahu!" Valko menyilangkan kedua tangannya di dada.
Kulihat jam tangan di pergelangan tanganku. Benar, ini sudah jam pulang kantor. Astaga, berarti aku terlalu asyik menonton drama korea. Sudahlah, setidaknya aku sudah mencicil Bab 1-ku.
__ADS_1
"Huh!" aku membereskan laptop serta barang-barangku. Kumasukkan laptop ke dalam tas laptopku. Kubereskan juga draft pra-proposal serta buku-bukuku.
"Perlu kubantu, Taeyang?" Valko mendekatiku. Aku tak menggubris ucapannya. "Kau masih marah karena Thai Tea tadi?" tanya Valko.
Aku hanya diam saja. Menurutmu aku marah karena apa, Valko? Kau menghabiskan Thai Tea-ku dan juga sudah membuatku kaget.
"Aku minta maaf...." celetuk Valko. "Ini untukmu, Taeyang Tersayang!" tangan Valko menyodorkan cup Thai Tea yang masih nampak utuh.
"Huh!" aku membuang muka.
Amarahku takkan mudah diredam hanya dengan segelas Thai Tea, tahu! Kulangkahkan kakiku berjalan keluar dari ruangan ini. Tapi, kenapa tenggorokanku merasa haus dan seakan ingin meminum Thai Tea itu sih. Ah, sudahlah, tak usah gengsi.
"Mana Thai Tea-nya?" kuminta Thai Tea itu. Valko memberikannya begitu saja. Kusedot Thai Tea itu. Ah, rasanya sungguh segar dan enak.
"Sepertinya aku harus memiliki stok Thai Tea dari brand ini. Jika kau marah aku tinggal meredamnya dengan Thai Tea, hahaha!" kurasa Valko mengejekku. Aku tak mempedulikan ejekannya.
"Sudah, ayo, kuajak kau berkeliling area kantor ini!" Valko menggandeng tanganku. Aku tetap membuang muka. Mulutku tetap menyedot Thai Tea itu. "Huh, katanya marah tapi mau menerima sogokanku!" ejek Valko. "AU! Sakit!" teriak Valko saat kucubit perutnya.
"Bagaimana menurutmu, Taeyang?" tanya Valko. "Bukankah mall ini sangat keren!" ucap Valko bersemangat.
Mall ini bukan hanya keren tapi juga megah. Bangunannya bernuansa kuning keemasan. Lantainya kurasa dari batu marmer warna kuning cerah. Dindingnya dicat warna kuning juga. Besi-besi pada pinggiran pembatas lantai atas, pegangan tangga, serta meja dan kursi untuk pemgunjung berwarna kuning keemasan. Langit-langitnya juga berwarna kuning keemasan. Mall ini terdiri dari empat lantai. Nampak ada tulisan dimana-mana berupa 'Valko Infinity Ava Company (VIAC)'s Mall'. Valko juga berhasil mendirikan sebuah mall. Pasti dia bekerja sangat keras. Hebat juga dia! 😮
"Iya, Hubby. Ini tempat yang menakjubkan! Kau memang hebat!" aku memuji Valko.
"Ya, aku memang hebat! Tapi, hal ini juga adalah anugerah dari Sang Pencipta serta berkat doa dan dukungan dari keluargaku," Valko tersenyum.
Ternyata, Valko rendah hati juga. Tak melupakan bahwa apa pun yang diraihnya adalah anugerah dari Sang Pencipta. Selain itu, meski bertentangan dengan kakeknya mengenai hubungannya dengan mendiang Kak Vio, tapi Valko tak melupakan jasa dari keluarganya.
Saat ini, aku sedang berjalan-jalan bersama Valko di salah satu lantai mall ini. Entah lantai berapa aku tak begitu memperhatikan saat naik lift tadi. Sejujurnya aku merasa risih, aku dan Valko berjalan dengan dikelilingi oleh pengawal Valko. Mataku tertuju ke arah suatu toko. Aku berhenti melangkah saat itu juga untuk mengamati toko itu dari kejauhan.
__ADS_1
"Ada apa? Kau ingin membeli sesuatu?" Valko ikut berhenti berjalan.
"Ayo, masuk!" kugandeng Valko masuk ke toko itu.
"Ini toko yang menjual produk kebutuhan sehari-hari. Mau apa kau kemari?" Valko nampak bingung.
"Belanjalah, kau pikir untuk apa?" ucapku sambil mengambil troli yang tersedia di pintu masuk. Aku segera masuk ke toko itu. Ini bukan toko sih, lebih tepatnya semacam swalayan di dalam mall.
"Dimana ya keperluan memasak?" aku mencoba mencari-cari bagian kebutuhan memasak. "Itu dia!" kudorong troli ini menuju ke area kebutuhan memasak. Ada berbagai macam sayuran, bumbu serta berbagai produk mentah bahan makanan di sini.
"Kenapa kau harus berbelanja, sih? Membuang waktu saja!" celetuk Valko.
"Memangnya kau tak pernah berbelanja keperluan bulanan? Lalu keperluanmu sehari-hari bagaimana, hah?" tanyaku ketus.
"Sudah ada May dan kepala pelayan yang menyiapkannya," sahut Valko dengan santai. "Apa kau harus benar-benar menghabiskan waktu di sini? Memangnya apa yang harus dibeli?" tanya Valko. Astaga, kurasa Valko benar-benar tak pernah pergi untuk berbelanja keperluan bulanan, ya? 😮
"Tentu saja membeli keperluan bulanan kita, Valko," ucapku sambil melihat-lihat bahan masakaan yang tertata rapi di rak. Kurasa ini pertama kalinya aku berbelanja keperluan bulanan setelah menikah.
"Sudah ada pelayanan yang mengurusnya, Zeta! Untuk apa kau turun tangan langsung? Sudah ada pelayan yang memasak serta mengurus keperluan sehari-hari. Ayo, kita keluar dari sini!" Valko menarik tanganku. Astaga, Valko, kau benar-benar menggantungkan segala keperluanmu pada orang lain ya. Kurasa hal itu membuat Valko kurang mandiri dalam mengurus keperluannya sendiri.
"Ya, sudah. Sepertinya para pelayan sudah mengurusmu dengan baik. Kalau begitu tak apa kan jika aku tinggal di tempat orang tuaku untuk sementara. Jarak rumahku lebih dekat dari kampus. Sepertinya tak masalah jika aku tinggal bersama orang tuaku sejenak selama skripsian. Karena sudah ada yang mengurusmu dengan baik, sepertinya peranku sebagai istri sudah tak terlalu berpengaruh dalam hidupmu. Kehadiranku meski ada atau tak ada di sampingmu, tak terlalu berpengaruh untukmu. Tak apa kan, jika kau kutinggal sebentar, Hubby?" ucapku sambil menatap Valko.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍