
Benar saja saat Fatimah masuk, ia melihat Addry dan Bianca memakai pakaian yang telah rapid an tak lupa Addry yang membawa koper besar di tangan kanannya. Fatimah bingung ingin bertanya apa tidak. Tapi, lebih baik pikirnya ia memilih diam saja
“Mas, mbak makan dulu yuk. Sarapannya udah Fati buat tadi!” Fatimah mempersilakan Addry dan Bianca untuk makan, seperti Fatimah itu seorang pelayan yang mempersilahkan tuannya untuk menikmati masakannya
“Tidak, kau makan sendiri saja! Saya dan mas Addry mau berangkat. Jadi sana !” Bianca mengusir Fatimah dari pandangan mereka. Karena penasaran Fatimah pun dengan hati hati bertanya kepada sepasang suami istrinya yang terlihat mesra di depan matanya. Dimana membuat hati seorang gadis muslimah itu berdenyut sakit, melihat pemandangan yang sungguh menyesakan
“Hem, kalau boleh tau. Emangnya mbak Bianca sama mas Addry mau kemana?”
“Oh iya ya! Kau kan tidak tau kami mau kemana. Baiklah saya akan memberitahukan kepada kau. Kami mau pergi ke paris untuk melaksanakan BULAN MADU KAMI, IYA KAN MAS?”
“Hemm..” Addry hanya membalas deheman saja. Tanpa melihat kearah
Fatimah
Ya Allah mas, kamu pergi bulan madu sama maduku mas. Kamu sangat berlaku manis kepada maduku, tapi tidak denganku. Melihat saja kamu tidak mau apalagi meminta izin kepadaku.. mungkin itu hanya angan anganku saja yang ketinggian. Tapi aku akan tetap mempertahankan rumah tanggaku ini mas. Sampai hembusan napas terakhirku. Aku akan tetap menanti cintamu SUAMIKU
Fatimah tidak mengharapkan berliburan keluar negeri atau kemana pun. Cukup ia dicintai dan disayangi saja oleh suaminya, itu saja sudah membuatnya senang. Fatimah masih saja berdiam di depan pintu utama, lagi-lagi ia merasa sedih dengan keadaanya ini. Ia masih berharap besar, semoga suatu saat suaminya itu akan menerima keadaannya dan mencintainya dengan sepenuh hatinya nanti
*****
Di bandara, terlihat seorang pemuda tampan yang menunggu tuannya yang belum datang. Karena merasa bosan Tomi pun keluar dari mobilnya. Bertepatan mobil tuannya yang baru sampai. Lantas saja Tomi bergegas membukakan pintu mobil untuk tuannya itu
“Bagaimana apa sudah kau atur?...” ucap Addry yang baru saja keluar dari mobilnya
“Iya tuan semuanya sudah amanan..”
“Bagus kau memang dapat diandalkan..”
“Hati hati tuan, selamat menempu perjalan jauh..”
“Hemm, iya satu lagi. Mulai hari ini dan minggu depan kau yang menghandel semuanya selama saya belum pulang dari bulan madu..” setelah mengucapkan itu, Addry dan Bianca langsung memasuki pesawatnya. Sebenarnya bisa
__ADS_1
saja Addry menggunakan jet pribadinya, tapi ia urungkan. Ia tidak ingin menghilangkan nyawanya kepada papa dan mamanya itu
Sebenarnya Tomi ingin sekali protes, melihat kelakuan tuannya kepada Nyonya Fatimah. Pikirnya seharusnya Fatimah yang harus duluan di ajak pergi jalan jalan, bukannya Bianca yang merupakan perempuan yang tak pernah ia sukai. Karena memiliki kepribadian yang sombong berbanding terbalik dengan Nyonya Fatimah. Itulah pikiran Tomi. Tapi hanya bisa ia pendam saja didalam hati, lagi lagi ia berdoa. Semoga saja Nyonya nya itu nanti akan dilimpahkan kebahagiaan yang tiada tara
*****
Dirumah kediaman tuan Madri yang merupakan orang tuanya Fatimah. Letaknya ruangan tamu sekarang terasa hangat kembali. Semenjak kepergian anak tersayang mereka, ruang tersebut tidaklah hangat sebelum anaknya menikah. Tapi hari ini suasana itu kembali lagi kepada mereka
“Mama masak apa ma, wangi sekali. Fatimah jadi lapar lagi..” ucap Fatimah sambil memegang perutnya yang terasa lapar kembali. Karena sudah lama tidak memakan masakan sang mama tersayang
“Oh ini mama, masak makanan kesukaan kamu nak..” mama Lisa sangat senang atas kedatangan anak satu satunya ini
“Ah mama selalu ingat saja. Makanan kesukannya Fati..” Fatimah celingak celinguk melihat rumah kedua orang tuanya, tak ada sosok yang ia rindukan juga
“Kamu cari apa sayang?..” ucap mama Lisa, sejak tadi ia memperhatikan anaknya yang seperti mencari sesuatu yang tak terlihat olehnya
“Ah! Aku cari papa ma..papanya kemana ma?”
“Papa kamu diruangan kerja nak, biasa kalau liburkan beliau menghabiskan waktu melihat lihat laporan kembali..” lanjutnya
“Oh iya ya. Fatimah lupa ma hehehe..” Fatimah tertawa sambil memukul jidatnya, ia juga berpikir kenapa sekarang ia jadi orang yang kaku. Padahal dulu dia orangnya selalu memberikan suasana hangat kepada siapapun. Mungkin pengaruh hati yang sering tersakiti ya hahaha
“Ya sudah kamu panggil gih papa di ruang kerjanya. Ia pasti tidak tau kalau Fati, lagi di sini..” ucap Mama Lisa dengan tersenyum ke anaknya
“Oke mama, kalau gitu Fati keatas dulu ya!” Mama Lisa hanya menjawabnya dengan anggukan
Tak terasa jam sudah menunjuk pukul 5 sore. Fatimah segera berpamitan untuk pulang kerumah suaminya. Walaupun Addry tak ada dirumah, tapi ia harus tetap pulang kerumah mereka
“Ma, pa Fati pulang dulu ya! Kapan apan deh nanti Fati main lagi kesini..”
“Ya! Kenapa nggak nginap aja sih sayang, mama sama papa masih rindu ni..” ucap Mama Lisa dengan sedih. Memang semenjak Fatimah menikah, ia tak pernah berkunjung kerumah mamanya apalagi kerumah mertuanya. Tapi mereka tidak pernah tertinggal untuk menelpon walaupun hanya sekedar menanyai kabar masing masing
__ADS_1
“Kapan kapan ma, soalnya tadi Fati nggak izin ke mas Addry nya..” ucap Fati berbohong
Maafkan Fati ya ma, pa. fati udah bohongi papa sama mama. Tapi ini demi kebaikan kita. Agar mama sama papa tidak syok melihat bagaimana rumah tangga yang dibina oleh Fatidan juga Fati tidak mau mengumbar aib rumah tangganya Fati.
“Mama ini lupa apa bagaimana sih! Fati kan sudah menikah. Jadi ia harus nuruti apa kata suami ma..” ucap Papa Madri menasehati istrinya
“Iya mama tau pa, nak maaf mama mau nanya. Kamu belum ada tanda-tanda gitu..”
“Maksud mama?...”
“Itu hamil!..”
“Ah belum ma, mungkin Allah belum percaya kepada Fati dan Mas Addry. Makanya Allah belum ngasih rezeki kepada kami..” Fati dengan sedih, bagaimana tidak disentuh saja merasa jijik apalagi kalau berharap punya anak. Mungkin itu jauh dari kata iya
“Mama dan Papa do’a kan ya, biar Fati bisa secepatnya ngasih kalian cucu nantinya..”
“Aamiin, iya mama sama papa selalu mendo’akan yang terbaik untuk anak yang kami sayangi ini..”
“Ya sudah Ma, Pa. fati pamit ya. Assalamuallaikum..”
“Waallaikumsallam..” Mama Lisa melambaikan tangannya untuk Fati. Setelah anaknya tak terlihat lagi, Papa Madri langsung merangkul sang istri untuk masuk kedalam rumah
*****
“Mas, indah sekali pemandangannya disini..” ucap Bianca dengan mata berbinar melihat pemandangan didepan matanya. Sedangkan Addry tersenyum melihat tingkah istri tercintanya. Sebenarnya Bianca memang belum pernah jalan-jalan keluar negeri. Jadi wajar saja kalau ia sedikit agak tercengang melihatnya
“Mas, kapan kapan lagi kita kesini ya. Jalan jalan..” ucap Bianca dengan manja
“Iya sayang! Nanti ya. Ini aja baru kita baru sampai, kamu udah mau liburan lagi..” ucap Addry geleng geleng kepala sambil tersenyum manis kepada Bianca
“Haha, aku senang aja mas..”
__ADS_1