
Kini jarum jam telah berpindah menunjuk pukul duabelas malam. Membuat Addry berhenti bekerja. Padahal sedikit lagi, tapi dia tak ingin membuat wanitanya lama menunggu apalagi kini Fatimah telah tidur di sofa ya walaupun ukuran sofanya besar
"Hem, kenapa bersikeras ingin tungguin Mas.."
"Lihat kan kasian kamu tidur di sini pasti enggak nyaman.." memindahkan rambut yang menghalangi wajah cantik sang istri
"Baby Ayah mohon ya! Jangan terlalu menyusahkan Bunda ya Nak. Baik-baik di dalam sana.." sembari mencium perut Fatimah
Addry mengangkat tubuh mungil yang sudah berisi tersebut dengan hati-hati
Dia tak ingin jika sang istri nanti kebangun akibat dirinya. Saat keluar dari ruangan, Addry dapat melihat sepertinya Bibi Sum telah tidur. Karena di ruang dapur dan ruang keluarga sudah di matikan lampunya dengan penuh kelembutan Addry merebahkan tubuh Fatimah di atas ranjang
"Mas.." membuat Addry yang saat itu ingin ke kamar mandi menghentikan langkahnya berbalik badan mendekati Fatimah
"Ada apa Dek, apa yang ingin kamu mau..?" Mengusap tangan Fatimah menatap mata yang sedikit-sedikit terpejam itu
"Enggak ada Mas, kamu mau kemana..?"
"Aku mau ke kamar mandi dulu ya.."
"Iya Mas, jangan malam-malam. Tidur..!"
"Iya sayang..."
Addry yang baru saja masuk dengan cepat di
menuju WC untuk membuat hajatnya. Sebelum tidur dia selalu menunaikan kewajibannya sebelum tidur yaitu wudhu
Ceklek...
"Masya Allah Istriku sudah tidur lagi.." berjalan mendekat ke arah ranjang kosong sebelah sisi kanan Fatimah
"Kamu kayak hibernasi saja Dek.."
Tak butuh waktu lama, Addry pun langsung menyusul Fatimah yang lebih dulu di alam mimpi
...🥀🥀🥀🥀🥀...
"Hai, assalamualaikum.." panggilan masuk yang saat itu Dinda mau merebahkan dirinya di tempat tidur karena habis dari nonton drama kesukaan
"Juga, waalaikumsalam.."
"Belum tidur..?"
Aduh Azmi, kenapa kamu jadi bego gini sih! Tak iyalah dia belum tidur kalau dia masih balas berarti belum kan? Dasar bodoh. Ah sudahlah!
Apa-apaan ini dasar Pak Azmi. Kenapa sih akhir-akhir ini agak kurang..
"Belumlah Pak, kenapa juga saya masih menjawab telponan Bapak.."
"Ah! Iya-iya Din.." menggaruk pipi yang tidak gatal itu untuk memindai sifat groginya
"Udah makan Din.."
"Alhamdulillah sudah Pak.."
__ADS_1
"Oh syukurlah. Maaf ya kalau ganggu kamu Din.."
"Eh!"
"Assalamualaikum...!" Ucap Azmi langsung memutuskan sambungan telpon mereka
"Waalaikumsalam, hufttt"
Sebenernya Dinda mau bertanya kembali, tapi dia tak punya keberanian apalagi saat mendengar kalau dia mencintai seseorang
"Nasib-nasib, enggak pernah ada kemajuan. Selalu datar dan terkesan dingin Dinda dalam menghadapi aku. Apa aku salah sama dia..?"
"Mas bagaimana kalau hari ini Fati ke kantor Mas..?" Addry langsung menganggukan kepala dengan penuh semangatnya
"Iya jangan lupa bawa makanan yang enak-enak ya..!"
"Iya Mas.."
"Oh iya Dek! Mas mau mengatakan jika lusa Mas ada acara dengan tuan William. Apakah kamu mau ikut?"
"Apakah harus Mas..?"
Fatimah bukannya tak mau, tapi acara pasti malam dan berakhirnya tengah malam. Jika nanti dia ikut dan ingin cepat-cepat pulang, malah ganggu sang suami
"Boleh dong Dek. Mas tunggu kedatangannya..!"
"Nah sudah rapi dan sempurna Mas.." bangga dengan hasil buatannya
"Terima kasih Dek.."
Kini keduanya sedang menikmati sarapan roti yang sudah di olesi dengan selai kacang dan segelas susu yang sudah di hidangkan dari tadi oleh Bibi Sum
"Ya sudah Mas berangkat kerja dulu ya Dek..?" ucapnya sebelum berdiri mengambil tisu terlebih dahulu untuk mengelap sudut bibir takut jika masih ada sisa makanan yang melekat
"Hati-hati ya Mas..!" setelah mencium tangan Addry sebelum berangkat kerja
"Iya sayang.." membalasnya dengan ciuman setelah Fatimah selesai mencium tangannya
"Dah hati-hati..." Fatimah kembali masuk rumah setelah mobil yang di kendarai oleh suami tak terlihat lagi
Fatimah memutuskan untuk memasak kue saja karena dia ingin mencoba-coba masak kue kering untuk ia bawah ke kantor suaminya nanti
"BI, apakah masih ada susu bubuk dan keju?"
Kini dia mulai memisahkan beberapa bahan untuk membuat kue tersebut, saat melihat dengan teliti ternyata satu bahan yang kurang
"Sepertinya tak ada lagi Non, kalau begitu biar Bibi saja yang membelinya.."
"Enggak usah Bi biar Fati saja ya.."
"Tapi Non.."
"Sudah, nanti Fati di temani oleh Mang Diman kok.."
Sehingga membuatnya harus keluar untuk membelinya, tapi dia tak ingin jika yang membeli barang tersebut Bibi atau Mang Diman. Wanita itu dengan cepat menekan tombol dan menelpon seseorang
__ADS_1
Drtttt....
Bunyi ponsel Addry berdering, hingga membuatnya harus berhenti sejenak dan mengambil ponselnya yang terletak di dasbor mobil dan tertera nama 'Istriku❤️'
"Halo, Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam. Mas.."
"Iya Dek, ada apa..?"
"Aku mau minta izin keluar sebentar.."
"Mau kemana..?"
"Mau beli susu bubuk sama keju Mas.."
"Di rumah enggak ada persediaan lagi soalnya.."
"Ya boleh, tapi di temani oleh siapa..?"
"Sama Mang Diman Mas.."
"Ya sudah, hati-hati ya..!"
"Mas belum sampai..?"
"Belum Dek, sebentar lagi.."
"Ya sudah hati-hati ya Mas, jangan ngebut.."
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
Panggilan berakhir, Addry melajukan kembali mobilnya untuk segera sampai ke perusahaannya, sedangkan Fatimah naik ke atas untuk mengambil tasnya karena ingin pergi ke supermarket terdekat untuk membeli barang yang dia inginkan
"Mang mau enggak temani Fati ke supermarket..?"
"Mau kok Non, sekarang..?"
"Iya Mang.."
"Mang Diman siapkan mobil dulu ya.." dibalas anggukan oleh Fatimah
Kini Fatimah telah sampai di supermarket, wanita itu telah berkeliling mencari tempat dimana susu bubuk dan keju di pajang, tapi anehnya tempat itu telah terisi oleh deterjen dan lain-lainya.
Sehingga membuatnya berkeliling memutari setiap jualan, sedangkan Mang Diman tadi sebenarnya ingin menemani Fatimah, tapi langsung di cegah oleh wanita itu. Dia menyuruh Mang Diman untuk menunggunya saja di luar. Sesuai perintah sang majikan, Mang Diman hanya bisa menurut saja dan memantau nyonya ya di luar
"Aduh, dimana sih tempatnya..!"
"Mana kakiku pegal lagi.." lantas Fatimah berhenti sejenak dan duduk di kursi yang ada di dalam supermarket tersebut, dia memijit kakinya yang mulai membengkak karena kehamilan yang sudah besar itu
"Capek ya, ini.." ucap seseorang sambil memberikan sebotol minuman kepada Fatimah membuat Fatimah mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang memberinya minuman ini
Ternyata seorang pria tampan dengan setelan jas yang seperti dilihat harga jas itu bermerk. Berarti orang ini bukan orang sembarangan. Pria tersebut masih senantiasa memegang minuman yang belum di ambil oleh Fatimah
__ADS_1