Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 119


__ADS_3

Drtt….


Fatimah langsung mengambil ponselnya, saat melihat nama di layar tertera nama ‘Dinda’


“Halo, assalamualaikum..”


“Waalaikumsalam, Fati..!” teriaknya membuat Fatimah mendengus kesal karena sudah kebiasaan Dinda yang selalu teriak saat panggilan baru diangkat


“Din, kamu ini selalu saja teriak terus saat menjawab telpon..”


“Lihatlah anakku saja sampai bangun dari tidurnya..”


Saat ini posisi Fatimah telah berdiri untuk menenagkan anaknya yang terbangun dari tidurnya. Gara-gara suara cempreng gadis itu, tapi sekarang untung saja dia sudah memakai headset bloutode kalau tidak bisa-bisa bangun beneran anak gadisnya nanti


“He he, maaf Fat, tapi sekarang enggak jadi bangunkan anak aku..”


“Udah enggak, jangan asal bicara dia anakku bukan anakmu..” tegasnya membuat orang yang diseberang sana terkekeh


“Ih! Sensitif banget Nyonyanya Tuan Addry ini yah..!”


“Berhenti din, sebelum aku kesal karena kamu..” ancamnya


“Baiklah maaf deh! Jangan main ancaman sama ngambek dong..!”


“Katakanlah saja Din, aku tau kamu sepertinya sedang bahagia..” tebaknya , mata Dinda melotot tak percaya kalau sahabatnya itu tau. Apa maksud dari telponannya ini


“Baiklah aku akan mengatakannya. Habisnya kamu sudah tau apa maksudnya hi hi..”


“Dua minggu lagi aku akan menikah Fat..”


“APA!”

__ADS_1


*


*


*


Pagi hari yang begitu indah, matahari mulai menampakkan teriknya. Seorang wanita kini sedang sibuk memompa asinya untuk bayi gadis kecilnya nanti karena hari ini dia ada janji dengan sang sahabat yang tadi menelponya. Siapa lagi kalau bukan Dinda


“Bun, asi untuk Shaki sudah aku siapakan tadi..”


“Dalam kulkas, Nak..?”


“Iya Bun..”


“Baiklah, aku berangkat ya Bunda cantik. Salam sama Ayah. Assalamualaikum..”


“Waalaikumsalam..”


*


*


*


Mobil dengan warna hitam itu telah terparkir sempurna di salah satu restoran yang ada di kota ini. Seorang wanita dengan pakaian gamis berwarnah peach telah turun dari dalam mobil tadi


“Pak, terima kasih ya! Bapak boleh baliak duluan enggak apa-apa kok..”


“Tapi Neng, nanti Neng nya pulang naik apa..?”


“Aku bisa naik taksi atau ojek nanti Pak..”

__ADS_1


“Kalau begeti biar, Bapak tunggu di dalam sini saja..” tunjuknya dalam mobil membuat Fatimah dengan cepat menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan apa yang telah supirnya katakana itu


“Enggak ada penolakan Pak. Sudah ya Bapak pulang saja, soalnya aku lama kalau sudah ketemu dengan teman ku itu..”


“Assalamualaikum..” lanjutnya dan langsung mengambil langkah besar untuk menuju masuk ke dalam sana


Sang supir pun hanya bisa menjawab salam saja dan menurut apa yang telah majikannya katakana itu


*


*


*


“Bagaimana Tom, apakah sudah kau urus semuanya yang menyangkut dengan wedding organizer..? Tanya Addry kepada Tomi saat mereka hanya duduk berdua saja di dalam ruangannya Addry. Setelah mereka selesai makan tadi


“Sudah Pak, tinggal beberapa persen lagi agar semuanya sempurna..” jelasnya


“Bagus Tom kau selalu dapat di andalkan. Bulan ini kau akan mendapatkan bonus untuk mu..”


“Apa! Beneran Pak..?”


“Iya, kenapa kau meragukanku..?”


“Bukan begitu Pak, mana berani saya meragukan diri anda, tapi tadi saya hanya kaget saja. Seakan tak percaya dengan keajaiban yang datang menimpa dengan diriku ini..”


“Makanya kau harus terus bekerja dengan baik seperti saat ini..!”


“Iya Pak kalau begini terus saya bisa kaya Pak..”


“Dan juga enggak papa kalau Bapak mau putus nyambung nikah sama Nona Fatimah. Agar aku dapat-”

__ADS_1


“TOMI, aku tarik lagi perkataanku. Bulan ini kau tidak akan mendapatkan bonus..!” tegasnnya


__ADS_2