Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 124


__ADS_3

Benar saja tak sampai setengah jam Fatimah dan Dinda didalam butik, Addry telah sampai di sana dan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu


Pria tampan itu berjalan memasuki bangunan butik tersebut. Dia tak malu untuk masuk ke dalam sana. Walaupun banyak pasang mata yang memperhatikannya


Begitu banyak pelanggan yang ingin membeli pakaian disana. Kaki Addry masih berjalan mencari tempat pakaian yang di khususkan untuk pakaian pengantin


Hingga akhirnya, Addry sampai juga dan bertepatan dengan Fatimah yang bari saja terlihat di sisi pojok pakaian pengantin


“Assalamualaikum..”


“Waalaikumsalam, eh kamu Mas. Kok cepat banget sampainya?” uapnya kaget saat melihat addry yang datang sangat cepat dari perkiraannya


“Emangnya kenapa kalau Mas datang cepat..?” tanyanya dengan kening berkerut, pikirnya jika dia datang dengan cepat nanti Fatimah akan bahagia melihatnya, tapi harapan tinggal harapan. Wanita itu malah biasa saja


“Enggak ada kok Mas, aku pikir Mas masih banyak kerjaan dan enggak jadi kesini..”


“Iya memang masih banyak, tapi kalau untuk kamu. Mas akan tinggalkan semuanya..”


“Oh, iya kamu enggak mau beli baju Dek. Pilihlah biar Mas yang bayar nanti..” tawarnya kepada Fatimah karena dapat Addry lihat kalau wanitanya ini tidak memilih baju yang ada di sana


“Iya Mas terima kasih, tapi pakaianku masih ada yang belum terpakai..” tolaknya dengan halus agar addry tak tersinggung atas penolakannya

__ADS_1


“Hem, baiklah jika kamu tidak mau. Sahabat kamu mana Dek..” ucapnya dengan pasrah enggak mungkin kan dia memaksa Fatimah untuk memilih baju padahal wanitanya tak mau


“Oh, Dinda masih didalam kamar ganti Mas. Ganti baju..!”


“Oh..”


Pria tampan itu berjalan menuju sofa dan mendudukan langsung tubuhnya di sana. Sembari menunggu sahabat dari Fatimah yang masih berada di ruang ganti


“Dek, duduk dulu sini. Jangan keseringan berdiri nanti kaki kamu kesemutan..” ucapnya dengan penuh perhatian membuat Fatimah merasa sangat diperhatikan sekarang ini, tidak seperti dulu


“Iya Mas..”


Wanita itu berjalan mengikuti apa yang tadi dikatakan oleh Addry. Dia duduk di samping Addry, tapi masih ada jarak diantara mereka


“Katanya masih ada kerjaan di kantornya Mas. Jadi Dinda mengajak aku untuk menemaninya..”


Addry menganggukan kepalanya pertanda jika pria itu mengerti apa yang dikatakan oleh Fatimah


“Eh, ada Mas Addry toh..!” ujar Dinda yang baru saja keluar dari ruang ganti dan diikuti oleh seorang pelayan yang membawa gaun pengantin yang telah dicoba oleh Dinda tadi untuk di bungkus


“Iya..” jawabnya dengan singkat dan disertai oleh senyuman

__ADS_1


“Maaf ya Mas, aku pinjam sebentar kok wanitanya Mas. Enggak apa-apa ya!”


Mata Fatimah melotot mendengar apa yang diucapkan oleh Dinda


“Emangnya aku barang apa. Pakai pinjam-pinjam segala..” ucapnya dengan garang membuat kedua orang yang ada di hadapannya menahan tawa karena jarang sekali melihat wanita itu marah


“Tuh kan Mas Addry. Mas udah pikir matang-matang untuk menikahi sahabatku ini. Lihatlah betapa garangnya dia. Saranku sih, mending Mas pikir-pikir dulu deh daripada nanti men-”


“DINDA..!”


*


*


*


Sepanjang perjalanan Dinda selalu memohon untuk meminta dimaafkan oleh Fatimah karena ucapannya yang tadi, tapi Fatimah masih diam saja tak menghiraukan apa yang diucapkan oleh Dinda


“Mas Addry tolongin dong akunya. Tolong bujuk calon istrinya Mas, agar marahnya reda..” memohon kepada Addry yang masih fokus menyetir mobil


“Iya Dek, kasihan Dinda kalau nanti kamu tak memaafkannya. Sebentar lagi kan dia akan menikah..” tutur Addry sesekali menoleh melihat Fatimah yang masih diam membisu sedangkan Dinda mengangguk-anggukan kepala membenarkan ucapan dari Addry

__ADS_1


“Kasihan nanti jika kamu tak memaafkannya. Bisa jadi janda perawan-”


‘MAS ADDRY..!” pekik Dinda tak terima apa yang diucapkan oleh Addry sedangkan Fatimah langsung tertawa mendengar dan melihat keduanya bertengkar


__ADS_2