Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 80 "Mulai Terungkap"


__ADS_3

"Jangan sentuh aku..!"


DEG !


DEG !


"Kenapa Dek..?"


Fatimah memilih diam dan tak lama kemudian terdengar dengkuran halus yang keluar dari mulutnya. Addry dapat memastikan jika Fatimah telah tidur


Matahari pun berganti bulan dan bintang. Fatimah masih setia berbaring


Addry memilih keluar untuk membeli makanan untuknya dan Fatimah, sedangkan Fatimah memilih ke kamar mandi setelah Addry pergi. Dia belum mau bersentuhan dengan suaminya. Dia tau jika seperti itu adalah dosa, tapi bagaimana lagi hatinya terlanjur sakit


Fatimah langsung duduk di bangsal, dia hanya dapat memanjatkan doa kepada Sang Illahi. Meminta agar anaknya segera sembuh dan memohon ampun atas sikapnya kepada suaminya. Dia kembali meneteskan air mata


Setelah selesai, ternyata ponselnya berdering dan tertera nama sang Bunda


"Assalamu'alaikum Nak..!"


"Waalaikumsalam Bun, ada apa Bunda..?"


"Maaf yah, Ayah dan Bunda. Enggak bisa ke sana untuk malam ini.." ujarnya dengan rasa bersalah membuat Fatimah tersenyum dengan kekhawatiran sang Bunda


"Tidak apa-apa kok Bun. Aku kan bisa sendiri. Lagian juga ada Mas Addry kok..." ucapnya begitu berat


"Ah! Syukurlah jika Addry sudah ada menemani mu.."


"Ya sudah kamu pasti mau istirahat..."


"Hem.."


"Bunda tutup ya telponnya.."


"Iya Bundaaa.."


"Assalamu'alaikum.."


"Waalaikumsalam..."


Fatimah kembali membaringkan tubuhnya yang masih agak lemas. Tak lama suara pintu pun terbuka, tapi Fatimah tak menoleh sedikit pun kebelakang. Mungkin suster pikirnya


"Dek makan yuk..!"


"Aku enggak lapar.."


"Jangan gitu dong, kamu kan masih sakit Dek.."


*Kenapa rasanya sakit Dek, kamu giniin. Apakah sesakit ini saat aku bersikap dingin ke kamu..?


Jika iya, maafkan aku istriku! Atas sifat ku yang masih banyak kekurangan ini*


Tak mau meratap, Addry memilih masuk ke kamar mandi untuk membersikan diri. Dia berganti pakaian karena memang Addry sengaja membawa pakaian ganti untuk menemani sang istri


Kini kakinya melangkah menuju ruangan dimana anaknya di rawat.


Assalamu'alaikum, anakku


Maafkan Ayah Nak, rasa penyesalan ini akan selalu tertancap di hati Ayah. Jadi Ayah mohon Nak. Cepatlah sembuh dan Ayah bisa membalas semuanya dengan mengganti hari-hari mu dengan indah


Cepat sembuh anakku. Ayah harap kamu hadir di tengah-tengah Ayah dan Bunda. Agar Bunda tak marah lagi ke Ayah, Nak. Lihatlah sekarang Bunda nyuekkin Ayah, Nak. Mungkin Bunda marah ke Ayah karena semua keadaan ini diakibatkan oleh kelakuan Ayah


Ayah kembali yah Nak. Cepat sembuh ya! Ayah dan Bunda sangat mengharapkan kamu Nak


Assalamu'alaikum, putri kecil Ayah


Rasa tak sanggup kehilangan membuat Addry bimbang. Dia merasa gagal untuk semuanya


Addry masuk keruangan dimana Fatimah berada. Sampai di sana pria itu mendekati sang istri dan memperbaiki selimutnya agak melorot


Addry duduk di sofa. Dia memilih mendekatkan sofa ke arah dinding kaca melihat langit yang dipenuhi bintang dan bulan yang gemerlap menandakan betapa indahnya malam, tapi tidak untuk hatinya


Addry tersenyum masam


Melihat cahaya yang di tampilkan oleh bulan membuat siapa saja pasti terlena. Apalagi bintang-bintang yang mengelilingi bulan menambah kesan romantis malam


Addry kembali meneteskan air matanya. Entah kenapa melihat langit dia membayangkan. Keluarga kecilnya sangat bahagia

__ADS_1


Tak lama kemudian, Addry mengepalkan kedua tangannya saat mengingat satu nama yang membuat hidupnya kacau begini. Akibat ulah dan taktik yang di mainkan oleh mantan istrinya membuat dia begitu tega menuduh Fatimah walaupun tidak mengatakannya di depan Fatimah langsung


"Halo Mark..."


"Iya Tuan, ada yang bisa saya lakukan..?"


"Tolong kau cari wanita yang bernama Santi.."


"Santi!"


"Iya dia baru saja di kota ini.."


"Baiklah Tuan.."


"Maaf Tuan, jika saya boleh tau. Apakah anda bisa mengirim ciri-cirinya, atau kalau tidak fotonya saja..!"


"Baiklah.."


Addry mengirimkan langsung foto Bianca yang dia ambil dari laman media medsos. Karena di ponselnya tak ada lagi foto Bianca dan semua barang-barang Bianca pun sudah habis tak ada yang tersisa


"Nyonya Bianca, Tuan..?"


"Iya Mark.."


"Baiklah Tuan, akan saya kerjakan.."


"Oke, saya tunggu kabar baik darimu Mark.."


Panggilan berakhir, Addry meletakan kembali ponselnya di sakunya


*


*


*


*


*


"Bos...!" panggil seorang pria


"Ada kabar Bos..!"


Lantas mendengar itu William langsung memberhentikan kegiatannya menatap kearah Jery


"Apa..?"


"Coba anda tebak dulu bos.." tersenyum jahil membuat William berdecak kesal kepada sahabat sekaligus asisten pribadinya


Padahal dia sudah beberapa kali menyuruh Jery agar tak usah memanggilnya bos, tapi sepertinya Jery tak mendengar apa yang dia katakan


"Cepatlah Jer, ada apa..? Jangan membuatku penasaran oleh mu..!" kembali dengan urusannya daripada meneladani keusilan sahabatnya


"Ah enggak seru..!"


"Coba tebak dulu deh..!"


"Ya udah, aku akan mengatakannya..!" lanjutnya karena tak ada jawaban sama sekali dari William membuat Jery menyerah dan memilih memberitahukannya saja


"Fatimah masuk rumah sakit..!"


Jedar!!


"What..? "


"Jangan berbohong Jer.."


"Mana mungkin aku berbohong bos kalau tidak percaya ayo kita ke sana..!"


"Kenapa masuk rumah sakit.."


"Entahlah aku belum mencari apa penyebabnya, tapi yang jelas karena benturan akhirnya di dioperasi untuk melahirkan anaknya secara prematur.."


William terdiam


"Bagaimana apakah mau..?"

__ADS_1


"Tidak mungkin kita bertamu malam-malam begini Jer, apalagi dia ada suami.."


*


*


*


*


*


Fatimah terbangun waktu subuh. Dia masih berkewajiban untuk membangunkan Addry yang masih tertidur di sofa. Walaupun masih sakit hati, tapi dia tak boleh tidak membangunkan suaminya untuk melakukan kewajibannya


"Mas bangun, subuh..!"


"Hemmm.."


"Subuh..!" Fatimah berjalan mengarah pintu keluar dan memegang handle pintu


"Mau kemana Dek..?" ucapnya dengan nada serak khas baru bangun tidur


"Keluar..!" pintu pun tertutup, Addry hanya bisa menghela nafas secara kasar


Dia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri


"Anak Bunda, bangun dong Nak. Subuh loh ini!"


"Semoga kamu cepat sehat ya Nak..?"


Setelah lama bercakap-cakap kepada anaknya,, Fatimah memilih kembali keruangan inapnya


Dia memilih memainkan ponsel untuk mengusir kesepiannya. Addry, pria itu tak ada di ruangan entahlah dia kemana. Mungkin ke kantin rumah sakit. Pikir Fatimah


"Assalamu'alaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Fatimah langsung melihat kearah pintu, dia tersenyum lebar saat tau siapa yang menjenguknya


"Apa kabar mantu Papa.."


"Alhamdulillah Pa.."


"Apakah sudah enakkan..?" Fatimah mengambil tangan kanan Papa mertuanya untuk dia Salami


"Dimana Addry Nak..?"


"Mungkin ke kantin Pa..!"


"Dia enggak pamit ke kamu..?"


"Tadi aku ke ruangan cucu Papa. Mas Addry di sini dan setelah aku kembali. Mas Addry nya enggak ada.." Papa pun hanya menganggukan kepala saja


"Oh iya, Papa mau jenguk cucu Papa dulu ya.."


"Mari Pa, aku antar.."


"Eh enggak usah Nak..."


"Biar Papa saja. Kamu mending istirahat, biar nanti cepat sembuh.."


*


*


*


Addry kembali keruangan karena sudah ada dua kantong kresek berukuran lumayan besar untuk cemilan yang tentu nya baik untuk Fatimah yang baru saja operasi


"Assalamu'alaikum..."


Dia pun masuk, tapi Addry merasa aneh karena semua orang memandangnya dengan penuh kemarahan sedangkan Fatimah memandangnya dengan kekhawatiran


Tak memilih curiga Addry pun masuk kedalam dan meletakan kantong yang berisi makanan tadi ke atas meja dan membalikkan badannya untuk menghadap ke arah keluarganya


Plakk..

__ADS_1


Plakk..


Dua tamparan keras mendarat di pipinya membuat pipi Addry terasa panas dan kebas


__ADS_2