
Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan. Sekarang kehamilan Fatimah memasuki bulan kelima dan perutnya sekarang lebih besar dari sebelum-sebelumnya
"Dek kamu makin cantik aja tau...!" ucap Addry sambil mengusap perut Fatimah dari belakang. Sedangkan Fatimah masih sibuk merapikan jilbabnya di depan cermin
"Mas nggak malu gitu. Secara kan aku sekarang gendutan mas.."
"Emm bagaimana ya!.." sambil berpikir
"Iya juga ya! Harus berpikir dua kali ini..." godanya
"Ah! Sudah sana masnya. Jangan dekat-dekat dengan aku..." Fatimah langsung ngambek mendengarnya
"Wow bumil marah. Jangan gitu dong bumil. Kasian sama baby-nya .." sembari mengelus perut Fatimah kembali
"Habisnya mas sih..."
"Mas kenapa..! He'em ..." sembari naik turunkan alisnya yang masih setia menggoda sang istri
Entah kenapa Fatimah merasa sangat kesal, karena sang suami masih saja betah menggodanya
"Ini pasti ulah baby kan yang muda buat Bunda marah..."
"Mas kenapa sih malah nyangkut pautkan anak kita. Apalagi anak kita masih dalam perut.."
"Justru itu sayang, karena dia masih dalam perut lah yang buat ulah. Liat kamu aja mudah sekali marah..."
"Mas mau teh atau apa. Biar Fati siapkan..!" ucap Fatimah mengalikan pembicaraan. Karena suaminya ini pasti tak akan habis-habisnya saat menggodanya
"Enggak usah dek, oh iya. Hari ini jadwal periksa kandungan kan dek??"
"Iya mas.."
"Ya sudah nanti mas ikut..."
"Tapi mas kan.."
"Sudah nggak ada yang lebih penting kecuali kalian dek..."
"Mulai gombal lagi..." memutar bola matanya dengan malas
"Ha ha ha, tau bener sih!"
...----------------...
"Din, semuanya sudah kamu selesaikan?" tanya Azmi yang masih sibuk melihat-lihat berkas hari ini
"Iya pak, semua sudah saya periksa dan semuanya selesai.."
"Bagus..."
"Hari ini bapak ada sidang.."
"Iya saya ingat..."
"Baiklah pak, saya permisi kalau begitu..."
"Tunggu Din..!" cegat nya
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu..?" ucapnya yang sudah berbalik badan menghadap Azmi kembali
"Maaf atas kejadian kemarin.." Azmi merasa bersalah terhadap Dinda. Sejak pertemuan mereka bersama sang Mama. Dinda lebih banyak diam
"Kenapa pak..!" kening Dinda berkerut bingung minta maaf apa itulah dalam pikirannya
"Soal kemarin itu.." tak meneruskan kalimatnya
"Oh! Kenapa bapak harus minta maaf kan nggak salah..." ucapnya sambil tersenyum. Tapi tidak untuk hatinya
__ADS_1
"Ya sudah pak, saya kembali ke meja kerja saya. Kalau bapak tak ada lagi yang ingin di sampaikan.." ucapnya ingin mengakhiri kecanggungan ini. Karena Azmi hanya diam
Jam sudah menunjukan pukul 12 siang. Hari ini Azmi mengajak Dinda makan di salah satu restoran termewah di kota. Setelah pulang dari sidang tadi
"Din, kita singgah makan dulu ya!"
"Baiklah saya ikut bapak saja.. !" ucapnya dengan mengalikan sebentar kepalanya. Setelah itu kembali fokus mengatur jadwal sang atasan
"Hufttt.." Azmi hanya bisa menghela nafasnya
Mereka berdua pun sampai di restoran yang dituju. Azmi memberhentikan laju mobilnya. Setelah sampai di tempat parkiran
"Kamu mau pesan apa Din..?" sambil melihat-lihat menu makan
"Saya pesan tiramisu saja dan jus alpukat.."
"He'em, mbak...!" seru Azmi memanggil pelayang yang menjauh sedikit dari mereka
"Iya tuan, mau pesan apa..?" tanyanya dengan sopan
"Saya pesan makanan pasta dan tiramisu. Minumannya jus naga sama jus alpukat.."
"Baiklah tuan, hanya itu saja..?" ucap sang pelayan memastikan kembali
"Iya mbak.."
"Baiklah tunggu sebentar tuan dan nona nya.."
"Iya.." Jawab mereka dengan serempak
...----------------...
"Ayo dek!..." kesal menunggu istrinya yang lama sekali turun
Masya Allah, istriku ini lama sekali dandannya. Tidak taukah dia, disini aku menunggunya sudah setengah jam. Hem nasib jadi cowok, selalu nunggu...
"Aku sudah selesai, mari mas!.." ucapnya tanpa merasa bersalah
"Ya Allah mas, Fati minta maaf deh. Habisnya hampir semua bajuku tak muat lagi di badan ku.."
"Jadi itu yang buat kamu lama Yang..?"
"Terus mas, mikir apa..?" bukannya menjawab Fatimah malah ngasih pertanyaan juga
"Hah! Kalau begini terus mana bisa sampai dek. ayo kita jalan...!" mengakhirinya. Fatimah pun hanya bisa menurut
Di perjalan menuju rumah sakit, Addry tak bosan-bosannya mencium tangan Fatimah sambil menyetir mobil
"Mas! Sudah. Kamu fokus dulu nyetir nya. Bahaya!"
"Enggak kok, mas lambat bawahnya.."
Krekk...
"Sebentar...!" ucap Addry menyuruh Fatimah diam di dalam dulu
"Silahkan Ratu hatiku..." ucapnya membuka pintu mobil dan sedikit membungkukkan badannya sembari memberi tangannya yang satu untuk di sambut oleh Fatimah
"Hihihi..." Fatimah tertawa geli melihatnya
"Terimakasih Raja hatiku..."
Mereka berdua berjalan menuju ruangan dokter kandungan. Sesampainya di sana, Addry menyuruh sang istri untuk duduk menunggu. Sedangkan dia menuju suster yang menjabat nomor antrian
"Atas nama siapa pak...?" tanya suster
"Fatimah Az-Zahra..."
__ADS_1
"Dan Bapak..?"
"Addry Barack..."
Wow ini bukannya Presdir yang pemilik perusahan yang terbesar di kota ini...
"Mbak..." Addry melambaikan tangannya di depan wajah sang suster yang kini dalam keadaan melamun
"Ah! Iya pak maaf. Baiklah tunggu antrian ya pak.."
"Tak masalah, makasih.."
Setelah itu Addry langsung berjalan menuju tempat tunggu. Dimana sang istri ada di sana
"Sudah mas..!"
"Iya dek..."
Akhirnya, kini giliran Fatimah dan Addry yang dipanggil
"Atas nama ibu Fatimah..."
"Ayo dek..!"
Di dalam ruang dokter
"Ada keluhan lain Bu..?" tanya sang dokter dengan ramah
"Alhamdulillah sekarang belum ada dok.." Addry hanya menganggukkan kepalanya. Menyetujui perkataan sang istri
"Wah! Berarti calon bayinya nggak rewel dong.." candanya
"Haha iya dok. Mungkin ikut ke ayahnya.." kali ini Addry yang membalas perkataan dari sang dokter. Dokter tersenyum mendengar canda sang Presdir yang sangat terkenal ini. Siapa yang tak tau Addry Barack sang CEO yang sukses di usia muda
"Ya sudah, mari kita periksa dulu Bu.."
Kini sang dokter sedang mengoleskan gel keatas perut Fatimah dan untung saja dokternya perempuan. Kalau laki-laki di jamin Addry pasti akan langsung mematahkan tang laki-laki itu
"Bagaimana dok..?" tanya Addry dengan sangat gembira dan itu juga dirasakan oleh Fatimah
"Waduh! Alhamdulillah bayi nya sehat Pak, Bu.."
"Apakah bapak dan ibu ini mau tau jenis kelaminnya..?"
"Jangan dok..!" seru Fatimah dengan cepat. Lantas Addry langsung bingung mendengarnya. Tapi dia tak mau mempertanyakannya di depan sang dokter
"Baiklah kalau begitu.."
...----------------...
"Din bisa keruangan saya..?" ucap Azmi dari telpon
"Baiklah pak.."
Tok tok...
"Masuk...!"
"Ada yang bisa saya bantu Pak.."
"Ini saya mau minta tolong ke kamu. Tolong jika ada yang mau konsultasi. Bilang dulu kalau saya lagi sibuk..."
"Kenapa pak...?"
"Saya mau pergi dulu sebentar...!" mengambil jas yang tadi bersandar di kursi kerjanya
Semoga kalian selalu di beri lindungan dan kesehatan dariNya.. Aamiin
__ADS_1
Jangan bosan-bosan ya untuk dukungan Author. Karena itu sangat berarti bagi Author. Apalagi Author masih pemula 🤭🤗😊
Dadah👋