
"Mas, kamu setuju sama perkataan Dinda tadi?" tanya Fatimah saat ketiganya telah berada dalam mobil yang ingin menuju pulang
"Kenapa Yang, kamu keberatan..?"
"Lagian juga, anggap saja itu sebagai lulucon saat berkumpul..!" terangnya
"Iya sih, tapi jika itu benar. Aku sih kurang setuju Mas.."
"Aduh, kamu kok jadi sensitif sekali Yang.."
"Ih! Kamu enggak berpihak padaku.."
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan yang sepi. Karena sudah memasuki larut malam
"Tuan, Tuan.." panggil Mang Diman
"Iy-iya, sudah sampai yah Mang..!" ucapnya dengan suara serak seperti orang-orang yang baru bangun tidur
"Iya Tuan.."
Lantas, pria itu melihat sekitarnya dan benar yang dikatakan oleh mang Diman. Mereka telah sampai, akibat Julang malam membuatnya tertidur pulas dalam mobil. Dia melihat kesamping, kedua wanita itu ternyata tak jauh beda darinya. Keduanya ikut tertidur pulas, tanpa tau kalau mereka telah sampai
"Iya Mang.."
"Yang, bangun yuk. Sudah sampai nih..!" ucapnya sedikit pelan tak ingin putri sulungnya ikut terbangun
"Yang..!" menepuk pelan wajah istrinya
"Hemmm..."
"Sampai ya..!"
__ADS_1
"He'em.."
Ketiganya telah keluar dari dalam mobil, Addry menggendong anaknya, mengantikan Fatimah yang masih mengantuk yang ada dalam gandengannya itu
"Ngantuk banget ya Yang..?"
"Iya Mas, enggak tau ini. Mataku pengennya nutup terus.." jawabnya lantas langsung tidur, tanpa mengganti pakaian lagi, Addry hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya seperti anak kecil saja
"Kak, malam ini kamu ditidurkan Ayah dulu yah! Bunda kayaknya capek banget. Jadi, kamu juga langsung bobok ya..!" ucapnya pada putri cantiknya yang tertidur juga
______
"Mas, bangun subuh yuk..!" kali ini Fatimah yang bangun dulu daripada Addry
"Iya Yang.."
Keduanya langsung melaksanakan salat subuh, setelah selesai membersihkan diri terlebih dahulu
"Mas.." panggil Fatimah dan mencium telapak tangan Addry, begitu sebaliknya. Pria itu juga ikut mencium kening sang istri sembari membaca doa
"Iya," jawabnya
"Pasti, kamu kesulitan ganti bajuku..?"
"Lumayan Yang..!"
"Mas, kenapa ya. Bangun tidur tadi perutku rasanya pengen mules saja..!" keluhnya pada suami
"Sakit, enggak Yang. ?" tanyanya dengan nada khawatir mendengar keluhan sang istri
"Enggak kok, cuma sedikit aja Mas.."
__ADS_1
"Kalau begitu, kita mending ke dokter Yang. Takut ada apa-apa sama kamu dan baby kita..."
"Tidak usah Mas 'kan cuma sebentar-sebentar saja sakitnya. Udah itu hilang kok..!"
"Maka dari itu Yang, kita periksa ya..!"
"Hem.." dengan cepat wanita itu menggeleng kepala tanda tak setuju dengan saran sang suami
"Yang.."
"Mas-" belum sempat wanita itu melanjutkan perkataannya, Addry dengan cepat memotong perkataan tersebut
"Iya-iya, Mas enggak maksa kamu, tapi jika masih sering sakit. Jangan pernah menolak kalau Mas dengan cepat membawamu ke dokter.." ucapnya dengan nada tegas
Fatimah mengangguk paham dan sekaligus mengiyakan perkataannya Addry
______
"Mas, tolong dong. Ambil dulu Galang. Dia nangis Mas..!" teriaknya saat sedang mengaduk masakannya
"Iya Yang.." jawabnya tatkala keras, berlari dari arah belakang menuju kamar mereka
Benar saja, putra nya itu telah bangun dari tidurnya
"Cup..Cup, putra Papa. Jangan nangis sayang! Sini sama Papa ya..!" ucapnya menggendong bayi mungil itu menuju dapur, dimana Dinda berada
"Yang, putra kita sudah bangun nih!"
"Lihat, dia nangis terus. Pasti pengen ASI kamu nih!"
"Iya Mas bentar lagi ya! Tunggu ini masak dulu.."
__ADS_1
Tak lama kemudian, hasil karya yang dari subuh tadi. Dirinya buat telah tersaji sempura di atas meja makan. Wanita itu tersenyum manis melihatnya, dirinya dengan cepat mencuci tangan
"Sini Mas..!" ucapnya ingin meraih Galang yang ada dalam gendongan Azmi, pria itu memberikan Galang untuk di beri ASI sama istrinya