Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 115


__ADS_3

Semua orang tertawa saat melihat tingkah Dinda yang membuat Addry kesal dibuatnya. Azmi pun mendekati ketiga orang itu


"Yang kok kamu tega sih! Misahin mereka.." ucap Azmi menegur tingkah usil Dinda


"Belum muhrim Mas.." jawabnya


"Kalian juga belum muhrim. Dasar!" ucap Addry dengan nada sangat kesal


"He he, iya ya. Maaf deh Mas!.." jawab Dinda dengan menggaruk lehernya yang tak gatal


Sementara Azmi hanya tersenyum geli melihat ekspresi sang kekasih yang menjadi salah tingkah


"Sudah yuk, kita makan.." ajak bunda sambil menggendong Shakinah


Flashback On


Sebenarnya Addry pergi ke luar kota bukan hanya karena urusan kerja saja, tapi taktik Addry, Dinda dan Azmi saja karena mereka percaya kalau Fatimah mau menerima kembali Addry


Ternyata selang berapa hari, kejujuran terucap dengan jelas. Dinda mengatur pertemuannya dengan Fatimah ke kafe. Sesuai dengan rencana mereka. Setelah kafe itu di booking duluan oleh Addry


Sebelum mengajak Fatimah. Mereka semua telah menyiapkan nya dengan sangat sempurna, tinggal menyusun dan menabur saja. Jadi itulah kenapa susunan bunga dan taburan bunga agak kacau he he


"Memang iya, kami juga membantu sedikit Fat, tapi Mas Addrylah yang paling bersemangat dan paling banyak ide untuk membuat kamu bahagia di hari yang spesial ini.."

__ADS_1


"Benarkah.." ucap Fatimah tak percaya


Hati Fatimah berbunga-bunga saat mendengar sahabatnya itu menceritakan semua rencana yang telah di susun oleh Addry sebelum berangkat ke luar kota


Selepas pulang dari kafe, mata Fatimah tak lepas dari cincin yang tersemat di jari manisnya, tadi saat sempat Addry sematkan kepada jarinya Fatimah, saat mereka hanya berdua saja. Meninggalkan semua orang yang masih makan di dalam kafe


Shakinah yang ada didalam gendongan Fatimah, tertidur nyenyak didalam pelukan sang Bunda. Tanpa tau apa yang terjadi dengan dunia


"Aduh, serasa dunia milik diri sendiri aja ya Yah kalau lagi kasmaran.." sindir Bunda, tapi Fatimah masih tak mendengarnya


"Ah! Bunda kayak enggak pernah muda saja.." timbal Ayah


"Iya, Bunda juga pernah rasain, tapi sekarang enggak berasa.." jawab Bunda dengan asal, Ayah hanya geleng-geleng kepala


"Assalamu'alaikum.."


"Waalaikumsalam," jawab Fatimah yang baru saja membersihkan diri, sehabis dari luar tadi


"Ada apa Mas..?"


"Enggak ada Dek, Mas hanya mau tau. Apa kamu sudah sampai rumah..?" ucapnya dengan nada khawatir


"Alhamdulillah Mas, ini baru aja bersihkan diri.." ucapnya lembut

__ADS_1


Di ujung sana mengucap syukur mendengarnya, hatinya lega saat tau sang pujaan hati ternyata baik-baik saja


"Ya sudah ya Mas, aku mau tidur soalnya. Ngantuk banget.." ucapnya dengan beberapa kali menguap


"Baiklah Dek, tidurlah. Semoga mimpi indah ya! Besok Mas tunggu di kafe melati ya..!"


"Assalamu'alaikum.." ucapnya dengan cepat dan langsung memencet tombol mati, padahal Fatimah baru separoh saja menjawab salam dari Addry


"Waalaikumsalam.." jawabnya pelan dengan senyum geli, dia merasa seperti jatuh cinta untuk kedua kalinya kepada Addry


Begitu juga di seberang sana, malam semakin larut, tapi Addry belum juga dapat memejamkan matanya


Suasana semakin dingin, tapi berbanding terbalik dengan dirinya yang kini terasa panas. Pria tampan itu menyembunyikan wajahnya dengan bantal guling


Entah apa yang di lakukan nya, hanya terdengar suara terkekeh darinya


Addry membalikan badannya, kini wajahnya menghadap ke langit-langit kamarnya. Dia tersenyum membayangkan saat dia mengerjai Fatimah


"Ah, kenapa aku kayak ABG aja sih. Kayak baru mengenal cinta saja.."


"Masya Allah Dek, kenapa wajah cantik mu terus terbayang-bayang di depanku.."


"Bisa-bisa aku enggak bisa tidur sampai pagi. Ah! Wajahmu begitu manis sih, susahkan ngelupainnya.."

__ADS_1


Addry memejamkan matanya dengan senyum yang masih merekah di wajah tampannya dengan penuh konsentrasi. Akhirnya mata tajam itu pun tertutup dan suara dengkuran halus telah terdengar. Menandakan jika si empu telah tertidur


__ADS_2