Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
Makan Bersama


__ADS_3

Setiap hari pagi maupun sore, Addry selalu menyempatkan diri untuk main ke rumah putri kecilnya


"Mas, mari makan dulu!"


"Iya sebentar,"


"Sudah tidur?"


""Iya," jawabnya dengan pelan


"Sini Mas, biar aku bawanya ke kamar!"


"Tidak usah, biar Mas saja yang menggendongnya,"


"Masih kamar lama kan?"


"Iya Mas,"


"Baiklah, mending kamu cepetan dulu makan!"


Fatimah langsung pergi dari tempat itu menuju meja makan yang kini sudah siap semua


"Loh! Mana Addry nya, Nak?" tanya Bunda Lisa


"Lagi nidurkan Shaki ke kamar Bun,"


"Oh,"


"Sudah kita tunggu dulu Addry turun!" ucap Ayah


Kedua wanita itu mengangguk, baru beberapa menit akhirnya Addry turun dan langsung menuju meja makan

__ADS_1


"Maaf nunggu lama,"


Bunda mulai melayani Ayah, setelah piring terisi sesuai porsi. Bunda langsung memberikannya kepada suami


Fatimah dan Addry malah sedikit canggung, belum ada diantara mereka yang memulai duluan untuk mengambil nasi serta gulai


Addry berdiri mengambil nasinya. Dia tau tidak mungkin jika Fatimah yang melayaninya karena status mereka sudah tidak ada apa-apa lagi. Meskipun belum di resmikan


Mereka makan dengan penuh khidmat, rasanya perut Addry begitu kenyang. Sudah lama dia tidak memakan masakan Fatimah, semenjak hubungan mereka renggang dan sampai sekarang ini. Baru kali inilah merasakannya lagi


"Bunda, Ayah. Addry pamit pulang ya!"


"Iya Nak, hati-hati di jalan," jawab Bunda dan Ayah hanya tersenyum sedangkan Fatimah hanya diam saja di dekat pintu


"Oh iya, terima kasih banyak atas jamuannya tadi. Perut Addry sampai kekenyang begini," candanya sekalian mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Tuan rumah


"Iya, makanya kalau rindu masakan seperti dulu. Sering-seringlah datang ke sini!"


"Iya Bunda, insyaallah.."


"Kenapa!"


"Ada masalah di kafe Bun,"


"Oh iya, emangnya dimana Nak?"


"Di kota Bandung, Yah"


"Oh iya bolehkah, saya bicara sebentar dengan Fatimah. Ayah, Bunda?" ucapnya meminta izin


"Iya Nak, silahkan saja!"

__ADS_1


Kini mereka duduk di teras rumahnya Fatimah, setelah Ayah dan Bundanya kembali masuk kedalam rumah


"Ada apa Mas?"


"Mas, tunggu jawaban darimu setelah Mas pulang dari kota Bandung.."


"Kenapa, dua hari lagi Mas. Baru cukup satu minggu!"


Yah sudah lima hari setelah Fatimah meminta waktu untuk berfikir


"Iya Mas, tau kok. Mas akan menunggunya sampai pulang saja dari kota Bandung"


"Baiklah terserah Mas saja,"


"Tapi jika nanti pas satu Minggu dan keputusan mu jatuh kepada rujuk kembali jangan dirubah ya, nanti dikasih satu Minggu lagi. Malah berubah pikiran," godanya


"Itu tidak mungkin," jawabnya dengan tegas karena Addry meragukan pendiriannya


Addry semakin gemas dengan tingkah wanita yang tak halal lagi baginya, ingin rasanya Addry mendekap tubuh mungil itu dan menghujaninya dengan kecupan-kecupan di kening, tapi kini dia hanya bisa menikmati saja tanpa bisa menyentuhnya


Addry tertawa, dia dapat melihat perubahan sikapnya Fatimah. Wanita itu kini telah menjelma menjadi wanita yang tegas dan tak seperti dulu yang selalu lemah lembut dengannya


Mungkin karena pelajaran yang di dapat dari rasa sakit. Akibat perbuatannya, pikirnya


"Ada hal penting yang harus kamu tau!" ucapnya kali ini serius tanpa ada senyuman di bibir Pria itu


"Apa?"


"Sebenarnya, Bianca kini sudah di tahan di rumah Sakit jiwa!"


Deg!

__ADS_1


Author


Like, Vote dan komen. Serta jangan lupa dukungannya ya!


__ADS_2